
Akhirnya judeo dan rombongannya keluar dari gang sempit itu.
"kita mau kemana tuan" tanya Jo
"oh iya Radit sama Ester, kita mampir ke hotel bentar untuk ganti baju ya. Nanti kalian tunggu di mobil aja"
"iya pak" ucap ester
"Jo, kita ke hotel bentar, saya mau ganti baju" ucap judeo
"baik tuan"
Hotel tempat judeo menginap sangat dekat dengan rumah kost Ester. hanya keluar dari gang lalu masuk jalan raya sekitar beberapa menit melewati mall tempat Ester bekerja.
Begitu sampai lobby hotel, judeo dan Jo yang akan naik, sementara yang lain nunggu di mobil.
"Ester, Radit saya naik bentar ganti baju" ucap judeo. Tapi hal itu malah membuat Radit yang masih bocah dan serba ingin tahu ingin ikut naik.
"om, kita boleh ikut naik ngga, kita ngga ikut masuk kamar om deh, kita hanya ingin melihat pemandangan dari atas, boleh ngga om, please. kata temanku pemandangan di hotel itu bagus, aku lihat fotonya." ucap Radit memohon. Kembali hati judeo teriris mendengar permintaan anaknya, hanya ingin melihat pemandangan dari atas, sementara judeo sangat sering menikmati fasilitas hotel yang malah berpuluh kali lipat lebih bagus dari ini.
Ingin rasanya judeo langsung mendekap anaknya dan mengatakan nikmati sesuka hatimu, tapi itu tertahan karena Ester keburu bicara.
"ssstt Radit, ngga boleh sembarangan naik sayang" ucap Ester membujuk Raditya
"ohh begitu ya ma, ya udah deh ma" jawab Raditya menurut.
"Ester, kalau Radit ingin ikut ke atas ikut aja, ayo semua ikut ke atas dulu, pemandangan dari atas memang indah lho kalau sore" ucap judeo.
"benaran om" Raditya sangat antusias
"hmmmm, benar"
"ayo mah, mama juga belum pernah lihat kan" Raditya bicara sangat polos.
"iya, iya, ayo ikut" akhirnya lagi-lagi Ester harus mengalah demi anaknya.
beda lagi dengan judeo, dia merasa semesta sedang mendukungnya karena Radit ingin ikut naik.Tentu ini suatu keberuntungan untuknya, dia bisa membuat Raditya senang dan bahagia.
"ayo, kita naik semua" ucap judeo semangat diikuti oleh Jo.
__ADS_1
Ingin rasanya judeo menggandeng tangan putranya, tapi apa daya Radit selalu bergelayut ditangan mamanya.
Untuk sementara dia hanya bisa jadi penonton dari interaksi anaknya dengan orang-orang sekitarnya. Walau dari hati kecil judeo dia ingin memeluk Raditya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara untuk menunjukkan dunia.
Begitu sampai di lift Raditya mulai berceloteh dengan mamanya sampai akhirnya mereka tiba dilantai tempat judeo menginap, biarpun tidak sebagus presidential suite room di kota, tapi inilah kamar terbaik di hotel ini.
"wahhhh lihat ma, lampu-lampunya bagus banget" ucap Raditya begitu melihat kebawah karena hari sudah beranjak malam.
"kamu suka Radit"
"suka banget om"
"kamu mau kelantai paling atas, minta ditemani om Jo"
"emank boleh om"
"hmmmm, boleh, Jo bawa dia mutar-mutar"
"baik tuan" ucap Jo sambil melirik Ester seolah bilang nona tenang aja. Esterpun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"ibu, ayo ikut juga keatas" ajak Jo sama yang mengasuh Raditya.
"iya pak"
Sementara judeo dan Ester yang ada di bawah dilantai kamar judeo beserta pengawal Judeo menjadi canggung.
Akhirnya judeo mengajak Ester duduk dikursi kecil yang ada di balkon lantai itu.
"kita duduk dulu" ucap judeo lalu diikuti oleh Ester.
"Ester, boleh aku kasih tahu Radit kalau aku ini adalah papanya" tanya judeo serius.
Ester terdiam sementara, dia tidak tahu mau ngomong apa. Sebenarnya cepat atau lambat Radit pasti tahu kalau judeo itu ayahnya.
"silahkan" ucap Ester akhirnya pelan agak menunduk.
"apa menurutmu dia akan percaya dan mau memanggilku papa"
"ngga tahu" ucap Ester pendek
__ADS_1
"tolong bantu aku cerita" ucap judeo akhirnya, kata tolong akhirnya dia ucapkan kali ini karena dia tidak yakin dengan dirinya. Entah kenapa, berhadapan dengan Radit yang seorang anak kecil malah membuat nyali judeo ciut.
Ester hanya diam tidak mengiyakan dan tidak menolak.
"Ester, sejujurnya setelah kepergian mu dari apartemen aku berusaha mencarimu, bahkan aku sampai sewa semua kelompok preman yang aku kenal. Belum lagi aku melibatkan kepolisian, tapi hasilnya nihil" ucap judeo serius.
"Aku sama sekali tidak menyangka kalau kamu di buang sejauh ini, dan anehnya sudah dibuang sejauh ini kita masih tetap ketemu walaupun suasananya berbeda" ucap judeo sendu. Sementara Ester masih diam karena ngga tahu mau jawab apa.
"Ester, sejahat-jahatnya aku, aku tidak mungkin membuang kamu dan darah dagingku sendiri. Jadi aku mohon tolong jelaskan ke Raditya siapa aku sebenarnya"
"Dan mulai sekarang izinkan aku untuk terlibat dalam mengurus Radit minimal secara materi. Aku tahu aku bukan laki-laki dan seorang ayah yang memiliki banyak kasih sayang untuk Radit seperti kamu, tapi mungkin minimal aku bisa terlibat secara materi" ucap judeo.
"Kamu boleh memilih tinggal disini atau ikut ke Jakarta, tapi paling tidak biarkan aku terlibat mengurusnya" judeo dan egonya sudah kalah oleh cinta dan kasih sayang Ester. Bahkan menurut judeo sekarang seluruh harta kekayaan miliknya tidak bisa menyaingi kebahagiaanya mengetahui bahwa dia sudah punya anak.
"Oh iya Ester, aku barusan suruh Jo Carikan rumah yang lebih layak buat kalian, tolong jangan kamu tolak"
Ester masih diam karena bingung. Dia bingung harus bagaimana? karena Ester juga tahu seberapa nekatnya judeo kalau sudah memiliki keinginan dan sudah dipastikan ujungnya pasti Ester juga yang kalah dan mengalah.
"Ester, aku tahu kamu masih belum percaya sama aku. Kamu masih menganggap bahwa aku akan memaksamu. Itu tidak akan aku lakukan lagi, asalkan kamu mau melibatkan aku mengurus Radit, kita besarkan bersama-sama" ujarnya yakin
"sejujurnya aku ingin kalian ikut ke Jakarta, tapi aku juga tahu kamu punya trauma disana, jadi aku tidak akan memaksamu dan Radit kesana" ucap judeo memang takut Ester dan Radit membencinya.
"kumohon jangan bawa anakku ke Jakarta" akhirnya Ester bicara dan judeo sedikit lega.
"saya tidak akan membawa kalian kesana, tapi kenapa kamu tidak mau kesana apa karena mami"
"bukan,, bukan itu, disini kami sudah bahagia" ucap Ester membuat judeo sedikit terpancing ingin tahu.
"kamu bahagia disini"? tanya judeo sambil menatap Ester.
"iya pak, disini aku punya keluarga lagi. dan mereka sangat menyayangi kami. disini juga banyak orang yang menyayangi radit. bapak dan ibu panti serta Aldo sudah menganggap aku anaknya dan Radit cucunya, kami sangat disayang dan dicintai " cerita Ester
"siapa mereka"? sejujurnya judeo sedikit bangkit sifat arogannya tapi dia simpan.
"Mereka orang yang menolongku waktu itu. Aldo menemukanku di pinggir jurang pas pulang kerja, lalu membawaku ke panti milik papa mamanya. Radit sangat dekat dengan mereka. Jadi mereka adalah keluarga kami"
Hai readers, jangan bosan ya
Tetap like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih
I love you all๐๐ค