
Mereka meninggalkan sekolah Radit menuju restoran terdekat untuk makan siang.
Dalam acara makan siang ini, hati judeo kembali sedih melihat anaknya Radit yang sangat bahagia karena di ajak makan di restoran.
"asyik ya pa, restorannya bagus, pasti makanannya enak-enak" ucap Radit polos
"Radit belum pernah makan disini"
"belum pa, kan duit mama belum banyak"
"emang harus banyak duit baru boleh ke sini"?
"iyalah pa, disini mahal-mahal, orang dulu om Aldo ajak kita kesini bayar banyak banget, iya kan ma"? ujarnya serius seolah-olah dia yang paling ingat yang diangguki Ester.
"mama ngga pernah ajak Radit ke sini" tanya judeo
"dulu mama ngga pernah ajak kesini pa, kata mama itu hidup boros, nanti Radit ngga bisa sekolah dan Radit ngga bisa bangun panti kakek sama nenek"
Ya ampun anak sekecil ini sudah mikirin untuk membangun panti asuhan. Sementara aku yang sudah bergelimang harta tidak pernah terpikir untuk membantu panti asuhan, bahkan duitku sudah terlalu banyak aku hambur-hamburkan untuk wanita-wanita malam untuk hanya sekedar menemaniku minum, batin judeo.
"emanknya kamu ingin bangun panti kakek itu"
"iya pa, aku ingin membangun panti kakek nanti kalau aku sudah besar dan punya banyak duit"
"okelah, nanti papa bantu"
"benaran pa" tanya Radit antusias.
"hummmmm" ucapnya terharu melihat antusias anaknya.
Judeo sudah bertekad dalam hati akan membantu panti itu, panti yang sudah mengurus anaknya waktu kecil dan juga sudah memberi tempat anaknya untuk bertumbuh.
"sekarang kita pesan makan dulu, Ester ingin makan apa"? tanya judeo ke Ester.
"saya ngikut aja mas"
"ya sudah" ujar judeo ingin memesan makanan yang sama untuk Ester.
"Radit mau ayam goreng pa" ujar Radit sebelum ditanya.
"apa lagi nak"
"itu aja pa"
Akhirnya Jo memesan semua pesanan mereka. Setelah itu menunggu pesanan datang dia mengerjakan beberapa tugas yang bisa dia lakukan sekarang.
Setelah pesanan datang, mereka pun makan dengan lahap, begitu pun Radit.
__ADS_1
Akhirnya mereka sudah selesai makan siang, judeo ingin mengajak Ester dan Radit untuk belanja pakaian lagi. Tapi kali ini tanpa Jo, karena Jo punya kerjaan lain.
Menjelang magrib barulah mereka tiba di rumah baru.
"rumah siapa ini pa, ini rumah papa"?
"ini rumah kamu dit" jawab judeo
"apa?,, rumahku disana pa, ini mah bagus banget rumahnya" ujarnya kagum.
"ayo kita masuk" ajak deo
Mereka masuk ke dalam rumah itu, Radit sangat kagum sementara Ester sudah tahu karena sudah mengelilinginya tadi siang.
Baru aja mereka ingin duduk ternyata ada satu mobil masuk ke dalam pekarangan rumah itu.
Mereka semua melihat mobil yang baru datang, dan terlihat turun pak ganda dan ibu Silvia serta yang lain.
"kakekkkk" teriak Radit berlari kearah pak ganda dan Bu Silvia yang sudah merentangkan kedua tangan mereka.
"nenek"
"kamu jangan lari dit" ujar pak ganda sambil mendekat
"kok kakek sama nenek ada disini"
"oh iya, benaran pa" tanya Radit ke arah judeo yang menyusul radit
Judeo hanya mengangguk dan tersenyum.
"terimakasih ya pa, sudah undang nenek dan kakek ke sini" ujar Radit senang
"iya , sama-sama" ucap judeo sambil menyalami kedua orang tua itu. Ester juga menyalami mereka berdua dan mengajak masuk.
"rumahnya bagus banget dit" ujar kakek ganda
"iya kek, kata papa ini rumah Radit" jawabnya polos sambil melangkah masuk.
"kenapa kamu undang kami kesini" tanya pak ganda setelah mereka semua duduk di ruang tamu.
"mulai malam ini, Ester dan Radit akan tinggal di rumah ini" jawab judeo
"terus"
"aku mungkin akan pulang dulu ke Jakarta, aku sudah terlalu lama disini"
"ohhhh"
__ADS_1
"aku titip mereka" ucap judeo setelah menarik nafas panjang sambil menatap papinya dan juga Bu Silvia secara bergantian
"apa maksudmu"
"aku ngga tahu, tapi untuk urusan Radit aku takut, aku takut mami berbuat sesuatu. Cepat atau lambat mami pasti tahu, tolong jaga mereka" ucap judeo kepada papinya serius.
Pak ganda terlihat menarik nafas panjang.
"Deo, sejujurnya papi sudah sangat sayang sama Ester dan Radit. Tanpa kamu titipkan pun aku akan menyayangi mereka dan menjaga mereka lebih dari nyawaku. Tapi aku juga sama sekarang, sejak aku tahu Radit anak kandungmu, aku malah takut menghadapi citra. Aku cukup kenal siapa mamimu, dia ngga segan-segan melakukan apa aja yang dia anggap mengganggu rencanannya"
Judeo terlihat berpikir dan menyimak ucapan papinya. Benar memang, maminya orang yang pantang tersinggung.
"makanya aku mohon jaga mereka dari dekat, aku tidak bisa bersama mereka terus untuk saat ini, tapi dari jauh aku juga akan tetap menjaga mereka" mohon deo
"Berdoalah nak, tidak ada dalam hidup ini yang bisa kita jaga kalau bukan karena kehendak Tuhan" ujar pak ganda
"Deo, dalam hidup tidak perlu terlalu khawatir, pasrahkan semuannya sama Tuhan. Ester itu wanita kuat, bahkan dia sudah di buang di pinggir jalan dekat sungai tapi dia tetap bertahan hidup, begitu juga Radit anakmu, saat hamil muda Ester sudah di bius berjam-jam dan dilemparkan ke jalanan tapi dia bertahan hidup sampai sekarang. Jadi mereka itu orang-orang kuat, tidak perlu khawatir. pasrahkan saja" ucap ibu Silvia sangat lembut dan membuat hati judeo adem.
"iya, aku tahu" ucapnya pelan
"tapi kalau boleh kalian tinggallah di sini, panti biar dikelola orang-orang sana dulu. Nanti kita renovasi pantinya karena itu juga cita-cita Ester dan Radit." lanjutnya.
Pak ganda dan Bu Silvia saling pandang karena ngga nyangka mendapat tawaran seperti ini.
"aku ngga tahu cara meminta atau memohon, tapi kali ini tolonglah tinggallah disini" ucap judeo serius sambil menunduk.
"besok lusa aku sudah harus kembali dulu ke Jakarta, karena banyak kerjaan ku menunggu. Tapi aku janji aku akan datang secepatnya kesini, karena ternyata disinilah kebahagiaanku. Aku ketemu istriku, anakku dan papiku disini" ucapnya pelan
"Deo, untuk tinggal disini akan kami pikirkan dan rundingkan dulu dengan Aldo, karena dia juga sudah susah payah beliin kami rumah itu", ucap pak ganda
Pak ganda terlihat berpikir sebentar lalu melanjutkan ucapannya.
"Tapi kalau untuk menjaga Radit dan Ester beberapa hari disini ngga apa-apa, Aldo pasti tidak marah, karena dia juga sayang banget sama Radit dan Ester" lanjutnya.
Judeo sangat terharu ketika papinya dan Bu Silvia bersedia membantunya untuk menjaga Radit dan juga Ester. Dengan begini judeo akan bisa pulang ke Jakarta dengan hati yang tenang dan tidak khawatir.
Judeo merasa ada yang mengerti perasaannya, damai dan tenang hatinya. Biasanya isi pikirannya hanya mencari celah untuk menjatuhkan lawan, tapi hari ini dia melihat ketulusan papinya dan Bu Silvia istrinya.
Dari papinya judeo merasa bahwa bukan kekayaan membuat kita dihargai orang, tapi adat dan perilaku kita lah yang membuat kita dihargai atau tidak.
Hai readers
tetap dukung ya
Like, coment dan vote
Terimakasih
__ADS_1