
Hari-hari Ester lewati tanpa hambatan yang berarti. Walaupun tuan judeo selalu bersikap arogan, Ester sudah siap dengan semua itu. Hari ketiga Ester di apartemen, tuan judeo sudah menginap dirumah maminya, lanjut lagi akan pergi keluar negri selama beberapa hari.
Seminggu berlalu, Ester sudah terbiasa dengan keadaan apartemen. sore hari dia akan bekerja sebagai tukang cuci piring di warung lesehan dekat apartemen. Setiap hari Ester dikasih sepuluh ribu dan juga seporsi makanan.
Hari ini tuan judeo sudah akan kembali dari luar negri. Mendarat jam sebelas malam judeo langsung minta supir mengantarnya ke apartemen. Tapi Ester tidak mengetahui kalau tuan judeo tiba hari ini dan langsung ke apartemen.
Sementara, Ester Dengan semangat mengangkat piring yang sudah kotor diatas meja lesehan itu. Terlihat dia sangat bahagia. Karena ada mobil box yang menurunkan barang didepan, mobil judeo harus tertahan sebentar.
Tanpa sengaja mata judeo menangkap sosok Ester yang sedang melap meja kosong bekas makan, lalu berlalu ke belakang dengan piring kotor ditangan. Tapi terlihat dia sangat bahagia berjalan bolak balik dengan lap ditangan. Wajahnya terlihat senyum sumringah walaupun hanya bekerja sebagai pelayan.
"Jo" tunjuk judeo dengan dagunya kearah gadis itu.
"iya tuan"
"oh, dia kerja disini toh" ucap Jo seperti untuk diri sendiri.
"memangnya dia bekerja disitu"
"iya tuan, aku juga baru tau ini, tapi dia bilang sih sudah bekerja, cuma ngga bilang kalau dia jadi pelayan rumah makan, saya ngga nyangka didekat sini juga" tutur Jo sambil masih mengamati gerak gerik Ester.
"tapi dia sungguh terlihat sangat bahagia tuan"
"iya, sepertinya dia sangat bahagia" judeo senyum mengejek
"mungkin karena hidupnya sudah penuh tekanan tuan"
"apa maksudmu, maksudmu saya menekan dia"
"bukan begitu tuan"
"ada yang ngawasi dia kan"?
"ada tuan, tiap hari mereka kirim video kok"
"hmmm nyari kerja kok kayak begitu" cibir judeo merendahkan
"tapi dia terlihat bahagia tuan" ucap Jo
"orang kampung ya begitu, pelayan aja bangga" ucap judeo ketus, tapi dalam hati dia mengakui kalau gadis kecil itu terlihat sangat bahagia.
"maaf tuan" ucap Jo tidak ingin membantah.
Mobil judeo perlahan sudah bergerak menuju lobby apartemen judeo. Mereka bertemu dengan dua orang pengawal yang bertugas malam ini mengawasi Ester.
"malam tuan"
"malam, kok kalian disini"?
"kan sedang kerja tuan, noh ngawasin nona itu" menunjuk Ester dengan dagu mereka.
__ADS_1
"ohhh kalian lagi ngawasin dia"
"iya tuan, kami disini untuk menjaga jarak aman"
"ya sudah lakukan dengan baik"
"baik tuan"
judeo dan Jo langsung naik ke unit tuan judeo.
"tolong siapkan, saya ingin berendam, gerah"
"baik tuan" Jo langsung masuk kamar mandi tuan judeo yang sangat besar lalu menyiapkan aroma terapi di dalam bathup yang sudah diisi air oleh Jo. Setelah dirasa cukup Jo menuju ke sofa tempat tuan judeo duduk.
"sudah siap tuan, kalau begitu saya ke unit saya dulu tuan"
"hmmmm, sejam lagi kesini"
"baik tuan"
Jo langsung berlalu dari tempat itu, sementara judeo langsung berendam melepas penatnya dipesawat.
jam dua belas kurang Ester sudah masuk apartemen. Dia tidak tahu kalau tuan judeo sudah pulang. Dengan santai dia membuka pintu , dan dengan santai sambil menenteng seporsi makanan.
"bagus, kamu sudah seperti tuan rumah ya" ucap judeo yang duduk disofa dengan tenang tapi tajam.
glegggg
'Sepertinya melewati malam ini tidak akan mudah, bahkan mungkin sangat berat' batin Ester.
"kenapa kamu sampai mundur, kaget ya? hidupmu tidak akan setenang kemarin" ucap judeo tajam sambil bangkit berdiri
"maaf tuan, saya tidak tahu kalau tuan sudah pulang'
"oh ya, kamu berharap saya tidak kembali lagi ya" ucap judeo dengan tatapan tajam
"tidak tuan, inikan rumah tuan, jadi tuan pasti kembali" ucap Ester ringan
"dan kamu akan menderita lagi" potong judeo membuat Ester terdiam, tidak mungkin dia bilang iya, itu akan memancing amarah judeo. Tapi mengatakan tidak pun dia sepertinya enggan, akhirnya dia diam aja.
"jawab, kenapa diam. diluar kamu merasa lebih bahagia kan"? tanya judeo lagi
"iya, tidak tuan"
"iya..tidak, maksudmu apa"? jawab?
"maksudku dimanapun kita berada, kita harus berusaha bahagia tuan" jawabnya terbata-bata
"naif sekali hidupmu, sudah sengsara dan terkurung menjadi budak, masih berusaha bahagia! kebahagiaan macam apa?"
__ADS_1
"kebahagiaan itu dari seberapa besar kita bersyukur kan tuan"? ucapnya lagi polos.
"jangan mengajariku, busyit semua" ucap judeo menatap bungkusan yang dibawa Ester.
"bawa apa kamu, bawa sampah begitu" tanya judeo karena makanan Ester hanya dibungkus asal pakai kertas nasi lalu dimasukkan ke kantong plastik.
"maaf tuan, ini makanan saya" ucap Ester berusaha menyembunyikan kantong plastik itu dibelakangnya.
"sini lihat" pinta judeo
Dengan berat hati Ester mengulurkan kantong plastik itu dan juga duit sepuluh ribu yang lumayan lusuh yang dia pegang dari tadi.
"ini makanan apa, mau kamu makan ini, ini sampah tahu ngga" ucap judeo sambil ingin membuang makanan itu.
"jangan tuan, tolong jangan dibuang" bujuk Ester.
"ini bukan makanan manusia, ini makanan binatang." ketus judeo lagi.
'terserah anda tuan, mau mengatakan itu makanan hewan, tapi yang pasti itu membuatku kenyang dan tidak mati kelaparan. Dan mungkin benar bagi anda saya malah lebih rendah dari hewan tuan' batin ester
"memangnya kamu binatang" ucap judeo membuang makanan itu ke tong sampah.
Seketika hati Ester sangat miris dan sedih, makanan yang dia dapatkan dengan susah payah, dibuang begitu aja oleh tuannya
Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Airmatanya langsung banjir dipipinya.
judeo yang menganggap semua yang dia lakukan itu wajar cukup kaget juga melihat gadis itu sangat sedih hanya karena makanan sampah itu. Tadi dibawah saat bekerja, sekalipun pekerjaan berat dia sepertinya enjoy aja, malah senyum sumringah dan ceria. Masa sepenting itu makanan ini baginya.
"kenapa, sedih, makananya dibuang?" ucap judeo lagi menutupi rasa penasarannya, dia kembali dengan arogansinya.
Ester kembali mengangkat wajahnya, lalu dia mengusap wajahnya dari airmata yang tadi membanjiri wajahnya.
"tidak tuan" jawabnya singkat
judeo kembali bingung dengan perubahan sikap Ester yang cepat, dia kirain Ester akan makin sedih dan makin menangis, tapi ternyata tidak, dia malah berusaha tersenyum.
"tidak kamu bilang, tapi tangismu seperti kehilangan uang semilyar" todong judeo
"tadinya saya memang sedih tuan" ucap Ester masih ada sisa sesenggukan. "tapi saya sadar mungkin itu bukan rezeki saya" ucap Ester tenang membuat judeo makin kaget dengan jawaban gadis itu.
'Gadis ini bisa setenang ini setelah makananya saya buang, padahal mungkin dia ngga bisa beli lagi" batin judeo
"apa ada yang harus aku kerjakan tuan" tanya Ester agak menunduk
"tidak, pergi sana, saya muak lihat wajah kamu"
"baik tuan" Ester pergi dari tempat itu dengan membawa duitnya yang sepuluh ribu, upahnya hari ini. Dia ingin ganti baju terus tidur, dan yang paling utama jauh dari tuan judeo.
Hai readers, jangan lupa like dan coment ya.
__ADS_1
Terimakasih