
Setelah berbincang dari hati ke hati di sore hari itu, perasaan ibu citra sedikit lebih plong. Dia masih bisa berharap akan masa tua bersama anak dan cucunya. Dia tidak lagi merasa kesepian di tengah - tengah keramaian kota. Dan semua itu adalah berkat menantunya Ester yang membuka mata hati ibu citra bahwa harta bukan segalanya.
Keesokan harinya mereka semua sudah bangun subuh karena Ester sudah mengalami morning sicknes. Dia seolah memuntahkan semua makanannya yang dia makan tadi malam sampai dia terlihat pucat dan lemas.
Setelah sedikit tenang, mereka akhirnya sarapan bersama. Dan setelah itu mereka harus siap- Siap untuk kembali ke kota T.
"Kalian hati - hati di jalan, kasih kabar kalau sudah sampai" ucap ibu Citra ketika mereka akan diantarkan supirnya ke bandara.
"iya bu" ucap Ester sangat sopan lalu mencium tangan ibu citra.
"kami berangkat mi" ucap judeo juga jadi terbiasa mencium tangan maminya.
Setelah keberangkatan Ester dan judeo, sekalipun rumahnya sepi kembali tapi ibu citra seperti punya pemikiran yang baru. Dia punya keyakinan kalau judeo dan Ester akan menemaninya di hari tua.
Sementara Ester dan judeo sudah baru turun dari pesawat pribadi yang membawa mereka, yang di sediakan oleh ibu mertuannya.
Terlihat di bandara supir yang bekerja di rumah judeo sudah menunggu. Begitu judeo dan Ester kasih kabar supirnya langsung melaju ke bandara.
Syukurnya kehamilan Ester tidak terlalu ribet di pesawat. Padahal tadinya judeo sudah takut kalau sampai nanti Ester gimana - gimana di dalam pesawat.
Hampir tengah hari mereka sudah tiba di rumah judeo, dan Radit belum pulang sekolah.
"ibu bapak" teriak Ester karena terlihat lengang. Ternyata kedua mertuannya lagi sibuk membuat rujak karena tahu hari ini Ester akan pulang dan sekarang dia lagi hamil. Ibu Silvia sangat pintar kalau urusan buat rujak. Ester juga sangat mengakui itu.
"iya, kalian sudah sampai" jawab pak ganda keluar dari halaman belakang
"iya pak, kok sepi, pada kemana"?
"Radit belum pulang sekolah"!
"terus ibu"? tanya Ester ngga sabar
"nohhh lagi buatin rujak katanya, buat anak dan cucu tersayang" ucap pak ganda dengan dagunya menunjuk kearah pintu belakang.
"ohhh, asyik" ucap Ester senang sambil setengah berlari ke arah dapur setelah menyalami pak ganda.
__ADS_1
"hati - hati sayang" ucap judeo yang melihat Ester berlari ke dapur.
Pak ganda yang melihat itu hanya geleng - geleng kepala sambil senyum - senyum. Dia sudah tahu bagaimana Ester sangat menyukai rujak buatan istrinya.
"dia pasti suka rujak buatan Silvia, dulu waktu Radit hampir tiap hari buat rujak" cerita pak ganda
"ohhh iya"
"iya, dia itu dulu ngga rewel hamil Radit, tapi rujak itu harus dan yang lucunya aku dan Silvia dulu sangat semangat membantunya, ehhhh ternyata cucuku sendiri" ujar pak ganda senyum bahagia mengenang masa itu.
Judeo hanya bisa tersenyum hambar, karena lagi - lagi dia kehilangan satu moment penting kehidupan Ester dan anaknya Radit.
"Gimana urusan kamu di Jakarta" tanya pak ganda sambil mengajak deo duduk di sofa setelah melihat Ester menghilang di balik pintu dapur.
"Semua berjalan baik Pi, pertamanya mami memang sudah nekat menghancurkan CJ, tapi akhirnya dia urungkan setelah dia bicara dengan Ester." cerita judeo
"ohhh iya, berarti citra sudah menerima Ester"? tanya pak ganda setengah kaget.
"ucapannya sih belum, tapi aku lihat perbuatannya mengatakan iya"
"syukurlah" ucap pak ganda. "aku hanya ngga mau hidup Ester dan Radit itu sudah lagi deo, paling tidak jangan mundur lagi dari kemarin sebelum ketemu kamu" tuturnya serius.
"iya, papi setuju itu, kamu harus perjuangkan kebahagiaanmu, apalagi kalian akan punya anak lagi. jangan sampai kamu kehilangan moment penting di kehamilan Ester lagi"
"iya Pi"
"kamu harus cari tahu juga, apakah citra menekan Ester untuk bersikap begitu. Aku cukup tahu Ester, dia akan melakukan apa saja demi kebahagiaan orang lain, sekalipun menyakiti dirinya sendiri" ucap pak ganda datar tapi malah baru membuat judeo tersadar. Yah papinya benar, takutnya mereka sudah membuat kesepakatan dan Ester terpaksa menyetujuinya.
"iya ya, saya baru terpikir itu Pi. semoga saja mami tidak melakukan itu lagi. Semoga kali ini karena mami sadar. Karena kalau mami melakukan itu lagi, kali ini mami benar - benar berhadapan samaku Pi" ujar judeo.
"ya sudah istirahat dulu sana" ujar pak ganda
"iya Pi" ucap judeo, tapi sebelum beranjak dia lupa satu hal.
"oh iya Pi, menurut papi gimana kalau aku bawa Ester ke Jakarta, apa papi dan Tante Silvia keberatan"?
__ADS_1
Pak ganda terlihat diam dan berpikir. Kalau dia iyakan berarti dia akan jauh dari Ester dan Radit, tapi kalau dia larang itu pasti menghambat kebahagiaan mereka. Biar bagaimana pun mereka itu adalah satu keluarga, tidak bagus hidup terpisah.
"Bagaimana dengan citra, apa kamu bisa jamin dia tidak melakukan apa- apa"? tanya pak ganda akhirnya.
"mengenai mami saya ngga bisa jamin apapun, tapi yang pasti saya akan lindungi mereka dengan nyawaku Pi"
"kalau papi terserah Ester dan Radit mereka mau hidup dimana, tapi yang pasti mereka tidak boleh di sakiti lagi."
"iya Pi, aku setuju"
"satu lagi Pi, sepertinya aku yakin, asal Ester benar - benar mencintaiku dan mau memperjuangkan aku, Ester pasti bisa Pi, menghadapi mami" ujar judeo lagi.
"iya, semoga saja begitu nak" ujar pak ganda.
"papi memang sangat sedih kalau mereka pindah ke Jakarta, Silvia juga pasti sangat sedih karena dia sudah sangat menyayangi mereka. Tapi kami tidak boleh egois bukan, hidup mereka juga harus maju" ujar pak ganda.
"maaf Pi, bukan maksudku memisahkan mereka dari kalian, tapi aku juga harus mengurus kantorku yang di Jakarta. Dan sekarang Ester sedang hamil, seperti papi bilang, aku tidak ingin ketinggalan moment kehamilan Ester kali ini. Jadi aku akan bawa mereka ke Jakarta Pi"
"Kalau itu yang terbaik, papi setuju aja. kebahagiaan Radit terutama adalah yang utama. Dan mulai sekarang dia harus mendapatkan pendidikan terbaik. Kalian harus pikirkan itu" ujar pak ganda
"iya Pi, saya rasa yang terbaik adalah kami pindah ke Jakarta"
"apa kalian sudah bicarakan dengan Ester"
"sudah Pi, sebenarnya dia ngikut aku aja, tapi dia juga berat berpisah dengan keluarga di sini" ujar judeo.
"Baiklah, nanti aja lagi kita bicarakan. Sekarang kamu istirahat dulu"
"iya Pi, tapi aku susul Ester dulu ke belakang"
"ya sudah, ayo"
Pak ganda mengajak judeo ke arah belakang rumah dimana istrinya dan menantunya sedang menikmati rujak buatan ibu Silvia.
Hai semua, dukung terus ya
__ADS_1
like, coment dan vote
Terimakasih