
Setelah meninggalkan ruangan tuan Willy, judeo langsung buru-buru menuju escalator menuju foodcourt. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ester dan juga Raditya.
Saat judeo tiba disana, Raditya dan Ester sedang memesan es krim. Sementara pengasuhnya Raditya sudah pulang duluan ke kostan Ester yang juga sangat dekat dengan mall tersebut.
"hai Radit, sudah lama menunggu" ? sapa judeo ramah.
"belum om, aku lagi pesan es krim sama mama, nih" ucap Raditya sambil menunjukkan es krim nya.
"ohhhh oke"
"om mau juga" tanya Raditya serius
"emank enak ya"
"enak om, cobain deh"
"ma ,om itu boleh ditraktir es krim ga, uang mama cukup ga"? tanya Raditya agak pelan kepada Ester.
Ester hanya senyum mengangguk
Raditya terlihat sangat antusias untuk memberitahu judeo.
"om mamaku bilang bisa traktir om, om juga pesan aja, ditraktir",¹ ucap Raditya agak pelan membuat dia harus mendekat ke judeo.
"oh iya" ucap judeo senang karena bisa bicara sedekat ini dengan anaknya radit. Lain lagi pendapat Radit dia berpikir bahwa judeo senang karena ikut di traktir mamanya es krim.
"Radit, untuk merayakan pertemuan kita gimana kalau aku yang traktir kita semua" ucap judeo senang
"emang om banyak duit"
"hummmmm" ucap judeo mengangguk - angguk sambil melihat Jo asistennya.
Jo yang paham langsung menuju kasir menyodorkan satu kartu untuk kasirnya.
Jadilah mereka semua makan es krim masing-masing.
"nah sekarang Radit mau beli apa lagi, tinggal minta"
"benarkah"
"sure" sambil mengangkat jarinya berbentuk v.
"om banyak duitnya ya,"? tanya Raditya polos
"banyak"
"boleh mainan ngga om"
"boleh, pilih aja"
"benaran om" tanya Radit menatap Judeo serius.
"Radit, beli yang kita butuhkan aja ya nak, supaya kita tidak boros"potong Ester tanpa memandang judeo dan Jo.
__ADS_1
"aku ingin mobilan ma, mobilanku sudah rusak"
"nanti mama belikan"
"mama gajian langsung beli ya" ucap Raditya membuat perjanjian dengan mamanya.
"hmmmm" Ester mengangguk.
Melihat interaksi anaknya dan Ester judeo yakin kehidupan mereka sangat susah, setiap keinginan anaknya harus menunggu gajian dulu. padahal gaji Ester sebagai SPG senior pun hanya cukup untuk parkir judeo selama sebulan. Betapa menyedihkan memang anak orang kaya hidup susah, seperti tidak masuk akal tapi itulah realita, realita kehidupan.
"Ester izinkanlah dia beli apa yang dia suka, nanti saya yang bayar"
"tidak usah pak, saya khawatir nanti anak saya jadi terbiasa hidup boros membeli yang dia inginkan padahal belum tentu yang paling dibutuhkan"
"tapi paling tidak untuk saat ini"
" baiklah untuk saat ini boleh, Radit boleh pilih satu mainan yang Radit paling suka ya nak, setelah itu kita pulang"
"benaran ma"
"hmmmm" Ester mengangguk
"nah Radit, gunakan waktumu sebaik mungkin, minta pendapat om Jo, dia sangat ahli dalam hal mainan anak lho" ucap judeo melirik Jo yang kebingungan. bosnya ini membuat dia susah aja, mana ada dia tahu mainan bocah, dia aja tiap hari berhubungan dengan orang dewasa dan pencari proyek, mana mungkin faham dunia anak.
"ahhh iya,,iya,, Radit mau mainan apa, mobilan, pesawat ayo kita cari" ajak Jo yang ingin menjauh dulu dari bosnya supaya mereka bisa bicara.
"pesawat om tapi saya yang rakit ya"
"oke, ayo" ajak Jo.
Ester dan Judeo yang menunggu dilantai atas menjadi kikuk.
"Ester, sebenarnya dulu apa yang terjadi, boleh aku tahu" tanya judeo serius membuat Ester menatapnya curiga.
"terserah kamu percaya atau tidak, tapi saya mencari kamu sampai berapa bulan. saya kerahkan semua orang. tapi hasilnya nihil. terakhir aku dengar kamu meninggal dan mereka buang. karena orang yang membuangmu itu juga ikut hilang, jadi aku tidak menemukan titik terangnya"
"aku sudah tidak ingin mengingat hal mengerikan itu" ucap Ester sudah sendu
"baiklah, tapi paling tidak gimana hidup kalian"
"seperti yang bapak lihat, kami baik-baik aja"
"kenapa bisa sampai pergi sejauh ini"
"bukan aku yang pergi, tapi aku dibuang sampai sejauh ini"
"maksudmu"
"aku tidak tahu, begitu sadar aku sudah di panti asuhan karena ditolong orang. aku tidak memiliki identitas atau apapun"
Judeo sampai melongo mendengar cerita Ester.
"kata mereka aku ditemukan di pinggir sungai oleh Aldo saat pulang kerja. aku dirawat selama tiga hari baru aku bisa bicara. tapi seminggu kemudian aku pingsan, dan ternyata aku hamil" Ester terdiam mengingat semua itu lagi dengan airmata menetes.
__ADS_1
"awalnya mereka membujukku untuk bicara, mereka pikir anakku bukan dari hasil pernikahan, mereka tanya siapa yang sudah memperkosaku, karena mereka pikir aku korban perkosaan. Tapi setelah aku bilang ini bukan anak haram, ini hasil pernikahan mereka bingung juga"
"setelah aku ceritakan semuanya, awalnya bapak panti ingin menemuimu di Jakarta tapi aku bilang tidak usah.karena kamulah yang membuangku kesini. Aku tidak ingin kita bertemu lagi, dan lepas dari semuanya. Aku ingin memulai hidup baru, mereka sangat mendukungku sampai sekarang"
Judeo tidak bisa bicara apa-apa, mulutnya seperti terkunci rapat. Sebegitu hebatnya penderitaan Ester yang disebabkan olehnya, sementara dia di Jakarta hidup bergelimang harta dan kekuasaan sekalipun memang sangat minim kasih sayang.
"bapak tahu, yang paling menyedihkan waktu itu adalah saat tahu aku hamil. Sewaktu periksa ke puskesmas aku dimintain data diri. Aku seperti diketawai semua orang, untungnya bapak dan juga ibu Silvia selalu menguatkan aku"
"maafkan aku" ucap judeo sendu
"tidak sepenuhnya salah bapak, ini sudah menjadi jalan hidup saya pak"
"tapi semua itu sayalah penyebabnya"
"bapak hanya ikut berperan dalam episode kehidupan saya"
"Ester, kamu wanita yang kuat dan hebat"
"semua itu atas kehendak Tuhan pak"
"Iya, kamu benar. Tuhan mungkin sudah punya rencana untuk kita."
"Tidak ada yang terjadi dalam hidup tanpa campur tangan Tuhan pak"
"kamu tahu Ester, mungkin kalianlah yang memanggilku untuk mengambil alih mall ini"
"maksudnya"
"Tanpa sadar ikatan antara aku dan Raditya telah membuat aku ingin ke daerah ini. Padahal kalau secara bisnis, perkembangan daerah ini sangat lamban. Dan aku tahu itu, tapi aku ngotot ingin invest didaerah ini, entah dengan tujuan apa, apalagi ini sangat bertentangan dengan mami. aku ingin nunjukin ke mami bahwa dia tidak bisa lagi mendikteku."
"kenapa bapak ingin melawan nyonya"
"supaya mami sadar, banyak hal yang tidak kita dapatkan dari uang"
"bapak salah"
"kenapa salah"
"dengan uang kita mendapatkan banyak kemudahan"
"itu kalau kita bisa mengontrolnya dengan baik, kalau tidak kita akan terus diperbudak uang itu"
"tapi tetap melawan orang tua itu tidak baik"
"aku tidak melawan, hanya ingin menunjukkan kebenaran ke mami"
"maaf pak, kalau itu saya tidak bisa masuk terlalu jauh" ucap Ester.
Hai pembaca setiaku
Tetap dukung ya
Like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih