AROGANKU & CINTAMU

AROGANKU & CINTAMU
PART 7 SEPAKAT


__ADS_3

Terlihat Jo serius telepon dengan seseorang, entah dengan siapa, tapi yang jelas setelah itu dia masuk lagi ke rumah Ester dan ingin bicara lagi dengan Ester dan keluarganya.


"nona saya sudah bicara dengan tuan judeo, nona harus ikut dengan kami sekarang. tolonglah nona daripada nanti keluarga anda ikut menanggung akibatnya ",tutur Jo yang memang bingung juga, secara manusia dia juga kasihan sama Ester dan keluarganya tapi disisi lain dia tahu bosnya itu jangan sampai terusik.


"pak, apa tidak ada cara lain menebus kesalahan anak saya" mohon ibunya Ester


"maaf Bu, ini bukan kemauan saya, tapi tuan judeo, karena yang nona Ester usik juga tuan judeo."


"tapi itu benar tidak sengaja pak" bela pak sarman


"tetap aja pak tuan Judeo merasa terusik"


"pak, gimana ini pak" tangis ibunya pecah bersama suaminya.


sementara Ester sendiri takut sebenarnya kehidupan seperti apa yang sedang ada dihadapannya besok.


"ya Tuhan, jika aku memang harus melewati semua ini tanpa terelakkan, berikan aku ketabahan dan kekuatan untuk menjalaninya" doa Ester berurai air mata.


"Tapi aku benar-benar tidak ingin mengusiknya, semuanya aku pasrahkan padamu Tuhan. Menghadapi orang baik aja mungkin kita kewalahan, apalagi orang Kaya dia" gumam Ester.


"pak Jo, sebelum saya berangkat saya ingin lihat surat perjanjiannya dulu, saya ingin kepergian saya ini menjadi budak pak JUDEO setidaknya memastikan pengobatan kedua orang tua saya dan juga renovasi rumah mereka"


"itu akan segera saya siapkan nona, nanti malam semua sudah beres, pengobatan dan renovasi rumah orang tuamu akan saya pastikan"


"baiklah, deal, saya setuju"


"pak, saya tahu bapak juga hanya menjalankan perintah pak judeo, saya tahu bapak belum tentu setuju hal seperti ini seratus persen, tapi bapak juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dan kalau kami mengadu kemana pun hanya akan makin menyulitkan kami. Tapi tolong pak, izinkan malam ini kami bersama Ester, bawalah dia besok pagi" mohon pak sarman.


Ester dan ibunya saling pandang lalu menatap bapaknya yang sedang memohon.

__ADS_1


"iya pak, kalau bisa saya dibawa besok pagi subuh aja setelah nanti malam kita urus semuannya perjanjiannya" ucap Ester. Terlihat pak Jo sedikit berpikir, tapi dia akhirnya setuju.


"baiklah nona, besok pagi supir yang akan menjemput nona. mohon jangan merepotkan, karena siang harinya pak judeo sudah pulang, jangan sampai tuan pulang nona belum belajar sama sekali seluk beluk apartemennya. nantinya akan memberatkan nona lagi, karena pak judeo tidak pernah ada pengampunan untuk kesalahan sekecil apapun" ucap pak Jo


"baik pak"


"pak Jo, apa kira-kira kami masih bisa ketemu anak kami nantinya" tanya ibunya memelas


"itu semua tergantung dari pak judeo Bu, saya hanya bertugas membawa nona Ester ke rumah tuan judeo" ucap Jo lugas.


"apa disana Ester hanya jadi pembantu"?


"sekali lagi, saya tidak tahu Bu, itu semua terserah pak judeo. tapi saya tidak menskut-nakuti, sebaiknya nona bersikap baiklah disana, jangan sampai menyinggung tuan judeo karena dia itu bahkan bisa mengambil nyawa orang dalam hitungan menit, dan urusan hukum, kalian tahu kan ? semua bisa mereka atur dan bolak balikkan" tutur Jo


"huk huk huk" ibunya Ester semakin menangis kejar.


"sudahlah Bu, jangan menangis lagi. anggap aja saya akan menghadapi hukuman tembak mati besok, tapi aku mohon bapak sama ibu jangan sedih terus. aku tahu bapak dan ibu sangat sayang samaku, tapi ini sudah takdir Bu, pak, tidak ada yang bisa kita lakukan, hanya bisa pasrah dan ikhlas." ucap Ester menghibur kedua orang tuannya.


"jangan suka saling menyalahkan Bu, percayalah Tuhan pasti punya rencana atas semuannya. toh cepat atau lambat kita juga dipanggil" ucap Ester yang juga sudah sangat takut akan hari esok. Tapi dia tidak ingin terlihat takut, dia tidak mau bapak dan ibunya tambah sedih.


"kalau begitu saya siapkan dulu nona Ester, nanti malam saya akan kembali. tolong jangan buat ulah aneh-aneh karena rumah ini sudah dalam pantauan kami" tutur Jo sebagai ancaman.


"iya pak, kami tidak akan macam-macam " ucap Ester tenang.


Pak Jo keluar dari rumah sederhana Ester, terlihat mereka naik ke mobil dan berlalu tapi masih meninggalkan dua orang penjaga yang sedang pura-pura main catur dihalaman rumah Ester.


Sebenarnya ada beberapa warga yang mengetahui kasus yang menimpa Ester, dan sejujurnya mereka sangat prihatin. Tapi jujur aja mereka juga masih menyayangi keluarganya. Karena dikampung mereka ini yang dekat dengan pabrik CJ Grup sudah terkenal bosnya yang sadis dan arogan serta tidak memiliki perasaan.


"pak buk, nanti kalian harus sembuh ya, setelah diobati pasti sembuh, kata dokter sakit paru-paru itu gampang sembuh yang penting rutin minum obat"

__ADS_1


"iya nak" ucap pak Sarman lemah


"maafkan bapak dan ibu ya nak" ucap ibunya yang matanya sudah sembab akibat menangis tiada henti.


"kenapa ibu minta maaf"


"karena bapak dan ibu tidak bisa menjagamu"


"Bu, ibu percaya tidak bahwa semua kejadian ini sudah direncanakan oleh Tuhan. Hanya karena kena benturan tas sekolahku, masalahnya jadi ribet. tapi mungkin inilah ketidak adilan yang harus kita alami Bu, pak, untuk mengurangi beban dosa kita, jadi jangan takut, percayakan sama Tuhan semuanya. Tidak ada yang bisa menolak atau meminta ajal Bu, itu datangnya tepat waktu" ucapnya tegas.


"Tapi kalau kamu nanti bisa cari solusi keluar...." belum selesai ucapan pak sarman sudah dipotong oleh Ester.


"coba lari maksud bapak, lari kemana pak. Kita lari kemana pun gampang bagi seorang judeo untuk menemukannya pa. Kita hanya bisa berdoa semoga hatinya dilunakkan, tapi itupun tidak mungkin, karena hatinya sudah hati setan bukan lagi hati manusia yang agak jahat. Kalau agak jahat, mungkin masih bisa dibenari dikit-dikit, tapi kalau hati setan sudah mentok" ucap Ester miris


Beberapa saat mereka bertiga terdiam tanpa bicara, tetapi menangis sesenggukan, bahkan Ester juga menangis sedih banget.


Setelah agak lama terdiam tanpa kata, Ester akhirnya pamit ke kamar ingin beresin bajunya.


Ester melangkah sangat lunglai bahkan terlihat sangat tidak bersemangat. Jika boleh meminta sama Tuhan lalu langsung dikabulkan, ingin rasanya Ester meminta kepada Tuhan untuk mencabut nyawanya sekarang, supaya masih bisa dikuburkan oleh kedua orang tuannya.


Tapi apa mau dikata, rencana Tuhan bukanlah rencana yang bisa dijangkau akal sehat manusia. Rencana Tuhan sudah harus berjalan dan kita jalani tanpa bantahan.


Begitu sampai kamar Ester melihat dan memandangi sekeliling kamarnya yang sangat sederhana. ada beberapa baju hari-hari Ester tergantung di dinding. Ada juga lemari kecil tempat pakaian dan buku-buku Ester.


"selamat tinggal kalian semua, barang kesayanganku, besok aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali" ucapnya pilu. Sementara tanpa Ester sadari ternyata kedua orang tuanya dari tadi mengikuti dia ke kamar dan berdiri di pintu kamarnya. Mereka tidak kuat dengan beban Ester. Tapi mereka hanya bisa berpelukan dan saling menangis.


Terimakasih ya


setia mengikuti

__ADS_1


tetap like, coment dan vote ya.🙏🙏🙏


__ADS_2