
Ester masih belum bisa menahan airmatanya dan juga curahan hatinya.
"Jika tuan tidak membiarkan aku hidup normal karena kesalahanku di masa lalu setidaknya lakukan demi Raditya. Walaupun tuan tidak menginginkannya tapi di dalam darahnya ada darah tuan. apa hati tuan tidak tergerak sedikit aja? kami tidak minta banyak, hanya lepaskan kami" ucap Ester masih berurai air mata.
"kamu bicara apa"? ucap judeo sedikit lembut.
"tolong jangan ganggu kami tuan, anggap aja ga pernah kenal dengan saya" ucapnya sambil memohon kepada judeo dengan menaruh kedua telapak tangannya didada tanda memohon.
Judeo terlihat serba salah, apalagi dia bukan laki-laki yang terbiasa merayu wanita. Dia bingung menghadapi wanita yang sedang marah apalagi sedih dan menangis. Biasanya dia menghadapi wanita-wanita yang hanya butuh belaian atau kemewahan alias wanita-wanita munafik.
Tapi ini beda, Ester hanya minta dilepaskan, tidak minta apapun. bahkan ternyata dia sudah punya anak dan Ester sama sekali ngga pernah mengeluh padanya. Entah perjalanan hidup seperti apa yang Ester tempuh begitu di buang oleh anak buah maminya, tapi yang pasti anaknya sudah tumbuh sehat dan besar tanpa harta kekayaan judeo dan maminya. Hanya kesederhanaan dan cinta tulus Ester.
Sekarang Ester memintanya melepaskan dan melupakan mereka, melepaskan mereka, lalu apa yang harus judeo lakukan. Pikiran judeo yang jenius mendadak blenk dan tidak bisa berpikir apalagi mengambil keputusan.
Dia masih bingung dengan hati dan perasaannya. Dia bahagia sudah memiliki anak tapi dia juga bingung gimana sebenarnya menjadi seorang papa. Tapi entah kenapa jauh didalam hatinya sangat jelas terlihat cahaya terang penuh harapan, walaupun tidak bisa ia tunjukkan lewat wajahnya.
Jo sebagai orang terdekat judeo faham dengan situasi bosnya. Karena dia juga tahu bosnya tidak akan bisa menyelesaikan masalah dengan wanita.
Tapi Jo juga tidak bisa ikut campur dengan urusan tuannya terlalu jauh, apalagi ini urusan rumah tangga, harusnya sangat pribadi. dan yang Jo lihat tuannya juga selama ini sangat kehilangan Ester. Apalagi sekarang ada anak ternyata.
Jo tahu sebenarnya tuannya sangatlah kekurangan kasih sayang yang tulus. kebanyakan yang menyayangi dia pasti punya alasan atau bahkan untuk bisnis.
"nona Ester, maaf saya ikut campur, tapi kalau boleh tolong dengarkan dulu penjelasan tuan judeo" ucap Jo takut-takut.
"penjelasan apa pak Jo, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. seharusnya yang lalu sudah lewat bersama saya yang dibuang kejurang itu. anggaplah sudah kelar. Aku yang sekarang hanya ingin hidup normal pak bersama anakku. apanya yang perlu dijelaskan" ucap Ester dengan sisa-sisa tangisnya.
"maksud saya..." Jo juga jadi bingung karena tuan judeo tidak segera buka suara malah terlihat masih seperti orang bingung.
"kenapa kamu ngga pernah bilang.." ucap judeo akhirnya memotong ucapan Jo walaupun gantung juga.
"bilang apa tuan"
"bilang bahwa kamu mengandung"
"saya sendiri tidak tahu tuan. Saya tahu hamil saat satu keluarga menolongku lalu membawaku ke puskesmas. begitu sadar aku baru tahu kalau aku lagi hamil. beruntung kehamilanku tidak apa-apa. Tapi waktu itu aku bingung, hidupku aja hancur, terus gimana hidup anakku nanti. Tapi ibu Silvia tetap menguatkan aku untuk merawat kandunganku sampai anakku lahir dengan sehat."
__ADS_1
"maaf" akhirnya kata itu terucap pelan dari bibir judeo.
"maaf untuk apa tuan, saya tidak menyalahkan tuan walaupun aku tahu dulu tuan ingin membuangku. Dulu aku hanya bertanya sama Tuhan kenapa perjalanan hidupku penuh dengan cobaan berat."
"aku harus terperangkap di pernikahan dgn tuan judeo, jauh dari orang tuaku, lalu aku di buang ketempat ini tanpa identitas selembarpun. belum lagi aku akhirnya tahu bahwa aku sedang hamil. aku sampe tidak bisa berbicara apapun dan mengeluhkan apapun. semua sudah buntu, pikiranku sudah blenk dan gada harapan. pasrah, mau dihina orang, mau dibunuh, terserah...waktu itu aku sudah sangat pasrah tuan" ceritanya sambil teringat kembali masa lalunya.
Judeo yang biasanya arogan dan tanpa perasaan ternyata bisa juga meneteskan airmata mendengar cerita Ester. Hatinya sangat tersentuh dan hancur, pada saat dia hidup foya-foya di club malam ternyata anaknya lahir dalam segala kekurangan fasilitas.
Matanya berkaca-kaca membuat Jo sang asisten merasa bahwa tuannya sangat berbeda hari ini. Mungkin benar kata orang ikatan darah itu bisa juga meruntuhkan segalanya jika penuh dengan ketulusan. Untuk sejenak mereka bertiga diam membisu walaupun didalam hati dan pikiran masing-masing terjadi pergolakan batin.
Saat mereka saling diam dengan pikiran masing-masing Raditya sebaliknya datang dengan segala keceriaannya khas anak kecil.
"mama, bisa beli koin lagi ngga, mau naik beruang ma, please"? ucapnya dengan kedua tangan dikatupkan didada layaknya orang yang memohon.
"nanti aku janji ngga minta uang jajan lagi ya ma, please" ucapnya lagi penuh harap membuat hati judeo makin hancur. Ingin rasanya dia memeluk anak ini erat dan berbisik ditelinganya' itu milikmu nak, gunakan sampai sepuasmu'.
Tapi semua tidak semudah itu, tidak segampang itu. Apalagi Raditya tidak tahu apa-apa. Tapi lihatlah Bahkan untuk bermain di arena permainan miliknya anaknya harus memohon-mohon sedemikian.
Apakah aku ini masih pantas untuk dipanggil papa, atau orang tua,? batin judeo
Judeo langsung menyambar handphone di depannya dan chat Jo, supaya tidak di dengar oleh Ester dan Raditya.
"Jo"
"iya tuan"
"jo, tolong atur permainan disini buat Raditya"
"baik tuan" Jo langsung bergerak cepat menghubungi pak Willy untuk mengatur semua permainan di mall ini bisa di jajal Raditya.
"tuan, untuk apa anda melakukannya, saya masih mampu beli coin untuk anak saya bermain"
"Ester"
"radit sama ibu ya, sana beli coin dulu Bu, nanti saya ganti di rumah duitnya" perintah Ester ke pengasuh Raditya.
__ADS_1
"iya Ter"
"Bu tolong Radit harus diawasi ya, jangan sampe lepas dari pengawasan ibu"
"iya Ter"
"kalau ada apa-apa langsung hubungi aku"
Judeo hanya melongo melihat dan mendengar pembicaraan mereka.
"kenapa Ter, kenapa kamu tidak mengizinkanku membahagiakan dia, padahal tadi aku ingin menyentuhnya",
"dengan membiarkan kami pergi, dia dan saya akan sangat bahagia pak, mungkin sentuhan anda akan memberi rasa sakit"
"Ester, tolong jangan begini"
"lalu aku harus bagaimana pak", teriak Ester keras."membiarkan anakku Mati ditanganmu atau orang suruhanmu begitu",
"kamu pura-pura mengajak dia main, lalu kalian celakain dia seolah-olah kecelakaan begitu, picik kalian", ucap Ester erapi-api.
Tapi melihat Ester berapi-api judeo malah terlihat tenang, dan itu membuat Jo khawatir.
'apa yang tuannya pikirkan, bagaimana kalau dia tersinggung'? batin jo
Dia takut tuannya tersinggung lalu benaran menghukum Ester.
"nona Ester tenanglah dulu" mohon Jo
"kenapa kamu berpikir aku akan membunuh anakku" tanya judeo tenang.
"supaya tidak mengganggu hidupmu dan hartamu"jawab Ester ketus
"kamu salah Ester, salah besar. kamu boleh mengambil semua harta itu, bawa sana pergi tapi tidak dengan anakku. Aku tidak akan tinggal diam, aku juga berhak membesarkan anakku. aku tahu aku bukan papa yang baik tapi paling tidak izinkan aku melakukan sesuatu untuk anakku." judeo bicara dengan serius membuat Ester juga berpikir.
"Ester, aku ingin anakku, aku ingin dia memanggilku papa" ucap judeo juga memohon. selama hidupnya mungkin baru kali inilah judeo memohon.
__ADS_1
Hai readers, jangan lupa like, coment dan vote ya
terimakasih 🙏🤗