
Selama makan di food court itu Ester tidak merasakan kenyamanan. Dia seperti tahanan yang sedang di awasi. Dia tidak merasa nyaman sedikitpun. Bahkan makanan yang dia telan juga terasa hambar masuk melalui mulutnya, asal telan aja.
Setelah selesai makan judeo langsung mengajak Ester untuk ketemu anaknya.
"sekarang kita jalan, dan Jo aturkan izin Ester"
"baik tuan" ucap Jo langsung tanggap dan berlalu mengurus kerjaan. Dia juga ingin memberi ruang untuk Judeo bicara sama Ester.
"kita mau kemana pak"
"lho bukankah sudah kukatakan mau ketemu anakmu" ucap judeo datar.
"nanti aja kami temuin bapak, dia masih sekolah"
"kita tunggu di sekolahnya" ucap judeo
"maaf pak, saya lagi kerja. aku tahu bapak akan gampang membawaku keluar, tapi bagaimana pendapat SPG lain pak. saya harap bapak mengerti karena nama bapak akan jelek mengajak keluar seorang SPG" mencoba bijak.
"sekarang kamu banyak bicara ya"
"maaf pak, kalau bapak mau ketemu nanti anak saya akan kesini kok setelah pulang sekolah"
"jam berapa"
"jam dua an"
"baiklah"
"kalau begitu apa saya sudah boleh bekerja kembali pak"
"tidak, kamu tetap disini"
"baik pak" ucap Ester pasrah.
"saya masih ingin bicara banyak sama kamu"
"bicara apa pak" saat itu handphone judeo berdering dari rekan bisnisnya. Sehingga dia harus angkat sebentar.
"sebentar saya angkat telepon" ucap judeo sambil berdiri.
Ester langsung ambil handphone di sakunya dan chat yang momong Raditya untuk membawa Raditya ke mall tempat dia bekerja.
Setelah selesai angkat telepon, judeo langsung duduk lagi dihadapan Ester.
"jadi gimana , kita jadi ke sekolahan anakmu"?
" tidak usah pak, nanti anak saya pasti kesini, paling bentar lagi"
"kamu bilang jam dua an"
"saya sudah bilang langsung kesini pak"
"ya sudah," judeo langsung telepon Jo untuk datang ketempat mereka.
"iya tuan" ucap Jo masih ngos-ngosan.
__ADS_1
"kamu sudah atur izinnya" sambil dagunya menunjuk Ester yang duduk didepannya.
"sudah tuan"
"kamu sudah dengarkan" ucap judeo kearah Ester.
Tapi belum sempat Ester jawab handphonenya berdering dan tertera Raditya calling...
'halo sayang'
'mama aku udah di tempat parkir'
'ibunya mana, kasih handphonenya'
'halo ester' panggil ibu yang memang lebih tua dari Ester.
'bu, tolong bawa radit ke food court, lantai tiga ya. saya tunggu'
'iya es'
Judeo menatap Ester serius, judeo sudah menebak pasti itu anaknya Ester. tapi kenapa judeo deg-degan ya, apa hubungannya dengan judeo. Apa nanti justru benar anak ini akan buat Judeo tidak bisa memiliki ester mamanya anak itu.
Tidak berapa lama menunggu Raditya dan ibu yang mengasuhnya sudah sampai foodcourt.
"mamaaaaa" teriakan seorang anak membuyarkan lamunan judeo. dan sekejap berikutnya dia berbalik melihat anak yang berteriak itu.
"Radit" sambut Ester berdiri
Jedarrrrrrr
'kenapa anak Ester mirip banget dengan dirinya' batin judeo
Tidak kalah terkejut adalah Jo, dia yang sering wara Wiri kerumah nyonya citra sering melihat wajah ini di dinding rumah nyonya citra.
"tuan" ucap Jo sambil menatap tuan judeo
"mama, mama mau traktir kita makan di sini, emang mama sudah gajian, apa om Aldo ikut" celotehan Raditya menyadarkan judeo.
"sayang, nanti mama traktir makan disini. tapi sekarang ada yang mau kenalan sama Raditya, kasih salam bos mama" ucap Ester perlahan
"ohhhh" ucap Raditya langsung tanggap
"hallo om, kenalkan saya Raditya anaknya mama ester, nama om siapa" tanya Raditya sangat lancar untuk ukuran anak seusianya.
Judeo benar-benar terpana dengan anak ini sampai dia tidak bisa bicara. Dia malah bengong tidak menyambut tangan Raditya membuat Raditya melihat mamanya.
"pak judeo, ini anak saya namanya Raditya" ucap Ester menarik tangan anaknya karena dicuekin oleh judeo, tapi langsung ditarik lagi oleh judeo.
"ahhh iya, iya , saya om judeo" ucapnya buru-buru.
"saya Raditya om"
"om judeo kenapa bengong tadi, pasti om ingat anak om ya"? judeo hampir tersedak mendengar lanjutan ucapan Raditya.
"hehhhh" judeo masih terpana dengan keajaiban ini, ada anak yang mirip sekali dengan dia waktu kecil.
__ADS_1
Sementara Raditya bocah kecil, yang tidak tahu isi hati orang dewasa yang disekitarnya, merasa sangat bahagia aja ada di mall ini. Pasti nanti dia akan bisa bermain dan minum es krim.
"ma, aku sama ibu boleh main itu dulu ga'? tanya Raditya begitu melihat kuda mainan melintas di depan food court tempat mereka makan.
Ester yang gelagapan karena sempat terbawa perasaan dan berpikir' gimana ya kalau tuan Judeo tahu ini anaknya' batin Ester.
"ahhh iya nak, main dulu hati-hati ya" sambil mengelus kepala anaknya.
"Bu, aku mau naik itu" sambil berlari mengikuti kuda-kuda mainan itu.
"iya, ayo"
Ester masih bingung dengan isi hati judeo.
'apakah bapak judeo tega melenyapkan anak selucu raditya' batin Ester
Sementara judeo bengong memandangi kepergian Raditya. otaknya benar-benar blank tanpa isi. bahkan Ester sudah memanggilnya beberapa kali, tidak dia gubris dan ga dengar.
"tuan judeo" akhirnya Jo yang menyenggol tuannya judeo supaya sadar dari keterpanaannya.
"ahhh iya, iya" ucapnya gelagapan. Jo maklum dengan perilaku tuannya setelah melihat kenyataan wajah anak itu tadi. Jo mulai berasumsi kalau itu adalah anaknya tuan judeo, tapi dia takut mengutarakan.
"ester, anakmu sangat lucu"
"terimakasih tuan, dia memang lucu. dialah hidupku, perjuanganku"
"kemana suamimu"
"tadi sudah bapak tanya"
"ahhh iya, tapi tetap urusanmu denganku belum kelar, kamu belum bebas" ucap judeo mulai sok arogan lagi.
"tuan, tadi saya berharap begitu melihat anak saya tuan akan kasihan dan melepaskan saya, tapi ternyata saya salah tuan. jadi apalagi yang harus saya lakukan"
"itu anakmu bukan urusan saya, saya hanya ingin lihat"
Ester terdiam, sudah tidak ada celah untuk pergi dari Judeo sekarang. judeo tidak punya hati nurani.Tapi bagaimana nasib Raditya nantinya, batin Ester.
"tuan apa dihati tuan tidak ada belas kasihan sedikitpun, bahkan untuk seorang anak yang didalam darahnya ada darahmu" geram Ester setengah teriak sudah berpikir untuk melawan. kata orang kalau sudah mentok tembok besar, tidak mungkin lagi melarikan diri, satu-satunya harapan yang tersisa adalah mencoba melawan siapa tahu ada keberuntungan.
Judeo terhenyak begitu juga Jo. sekalipun dari tadi Jo sudah sedikit menebak, tapi dia belum siap dengan jawaban secepat ini.
Jo menatap Ester dan Judeo bergantian sementara judeo menatap Ester yang sudah kembali meneteskan air mata.
"Dulu bapak membuangku saat aku hamil kan, tapi hebatnya dia tidak gugur bahkan saya sudah dilempar ke jurang. " air mata Ester sudah mengalir lebih keras lagi mengingat masa lalunya.
"Dan sekarang setelah dia tumbuh lima tahun bersamaku, anda ingin menyiksa dia lagi dengan mengikat kami lagi dan membuat kami terkurung dalam lingkungan keluargamu yang tidak membutuhkan kami, atau bapak masih ingin melenyapkan dia" ucap Ester setengah teriak.
"aku yakin itu sangat gampang bagi kalian orang kaya, tapi ingat tuan Tuhanlah pemilik hidup. Dan apa ruginya bagi anda membiarkan kami hidup. kami tidak akan mengganggu anda tuan, anda bisa buat perjanjian, anda orang hebat, semua bisa anda atur bukan"? ucap Ester berurai airmata.
Judeo terdiam lagi mendengar penuturan Ester. kalau tadi dia terpana dengan wajah anak itu yang ternyata anaknya sendiri, sekarang dia terpana dengan semua ucapan Ester. Hati dan pikirannya blank tidak percaya, senang dan bahagia sudah menjadi seorang ayah.
Hai hai hai readers
Jangan lupa like, coment dan vote ya.
__ADS_1
terimakasih