
Akhirnya malam itu mereka awali dengan berdoa bersama, dan ditutup oleh pendetanya dengan doa berkat untuk keluarga disana.
Judeo merasa sangat damai dan nyaman hatinya. Dia seperti orang baru, hati dan pikirannya seperti baru. Apalagi bapak itu berpesan kepada mereka semua yang disana untuk mengampuni kesalahan orang lain, jangan menyimpan kepahitan.
Setelah selesai berdoa tamunya pulang diantar oleh pak ganda ke depan. Sementara judeo sedang berbincang dengan Jo.
"tuan, anda harus segera balik, sudah banyak kerjaan kita yang tertunda"
"iya sudah, atur aja, besok kita pulang"
Judeo ingin segera pulang ke Jakarta untuk membereskan kerjaannya yang di pusat, untuk selanjutnya nanti dia akan lebih sering di daerah ini, karena disinilah cintanya dan juga kebahagiaannya.
Tapi judeo dan Jo belum menemukan cara untuk melindungi Ester dan Radit dari maminya jadi mendingan tidak usah di beritahu dulu.
Judeo sudah bertekad bahwa dia akan memperjuangkan pernikahannya dan juga anaknya.
"Papi, Tante, besok saya akan ke Jakarta, belum tahu berapa hari, tolong jangan tinggalkan mereka disini sampai saya datang" mohon judeo ke papinya dan ibu Silvia.
"iya Deo, tenang aja, bahkan selama ini Kamilah yang paling menyayangi mereka" ucap ibu Silvia
"iya aku tahu"
"Deo, belajarlah memasrahkan semuannya kepada Tuhan nak, biar bagaimana pun tidak ada yang bisa kita andalkan selain Dia yang Maha kuasa" ujar pak ganda.
"Aku akan berusaha" ucap Deo
"baiklah nak, jangan khawatir ya, kami akan menjaga Radit dan Ester."
"aku juga sudah tugaskan dua pengawal untuk mereka" ujarnya membuat pak ganda dan ibu Silvia saling pandang.
"apa tidak berlebihan itu nak, takutnya malah Ester ngga nyaman"
"nanti bentar lagi aku bicara sama dia"
"ya sudah, gimana baiknya aja, tapi jangan di paksa kalau mereka ngga nyaman"
"iya" jawabnya singkat.
"aku bicara dulu sama Ester dan Radit" ujar judeo sambil bangkit
"Iya nak, sana gih"
Judeo melangkah meninggalkan mereka menuju kamar Radit.
"kamar papi yang di situ, biar tidak usah naik tangga" tunjuk ya ke kamar utama yang sangat luas.
__ADS_1
"tidak usah nak, yang biasa aja, itu terlalu luas"
"ini rumah kalian juga, sudah sewajarnya di kamar itu, Dan lagi karena Radit sama Ester sangat menyayangi kalian" ucapnya sambil lanjut menaiki tangga.
Judeo langsung menuju kamar Radit. Disana dia melihat Ester sedang mengelus-elus punggung anaknya yang sedang tidur. Judeo sangat bahagia melihat pemandangan ini, Radit memang bersyukur memiliki ibu yang sangat perhatian seperti Ester. Apa kabar saya dulu, bahkan mungkin mami tidak pernah tahu gimana kebiasaan saya kalau mau tidur.
"ada apa mas" Ester mendengar langkah judeo mendekat.
"apa dia sudah tidur"
"sudah mas" ucap Ester sambil berbalik kearah judeo duduk di pinggir ranjang empuk itu.
Judeo terlihat menarik nafas panjang lalu mengelus kaki Radit.
"besok aku kembali ke Jakarta" ucap Deo pelan.
deggggg
Hati Ester seperti bergetar, entah kenapa sekarang dia malah kurang nyaman mendengar judeo mau pulang. Ada rasa kehilangan dalam hatinya.
"ohhhh" ucapnya berusaha tenang, berbeda dengan judeo sekarang dia menunjukkan bahwa dia berat meninggalkan mereka.
"kemarin di Jakarta banyak kerjaan yang aku tinggalkan, karena niatnya disini hanya beberapa hari, jadi aku beresin dulu di sana" ucapnya meyakinkan, entah Ester butuh penjelasan itu atau tidak yang pasti dia sudah ceritakan.
"iya" jawab Ester pendek sambil menunduk.
Ester terdiam, mungkin karena sudah tahu karakter judeo atau memang dia juga mencintai judeo hati Ester sangat berbunga-bunga mendengar itu. Tapi dia bisa menutupi hatinya dengan sikap tenangnya.
Sikap tenang Ester membuat judeo kurang yakin Ester bersedia atau ngga, karena dia takut Ester masih membencinya. Judeo juga tahu Ester bukan cewek matre yang kalau dikasih fasilitas langsung oke.
"Ester, gimana, kamu bersedia kan? kamu tahu aku bukan cowok yg pintar ngomong manis, tapi kali ini tolong jangan menolak, demi Radit" ucap judeo
"kalau hanya demi Radit, kita bisa kok bersama membesarkannya" ucap Ester akhirnya
"tidak, iya tidak juga," judeo jadi gugup. Seorang judeo Zack bisa juga gugup, padahal kalau memimpin rapat dengan pemerintah daerah juga tidak ada grogi atau gugup sama sekali. Tapi sekarang lihatlah berhadapan dengan Ester, dia seperti ABG.
"pokoknya kita harus menikah resmi" ucapnya akhirnya karena bingung mau ngomong apa lagi.
Dalam hati dia berharap semoga Ester bersedia, karena terus terang dia sudah kehabisan kata-kata.
Sebenarnya Ester senang juga dalam hatinya, bisa bersatu kembali dengan suaminya, akhirnya juga Radit diakui dan ingin diresmikan oleh papanya. Hanya saja dia tidak ingin terlihat terlalu antusias.
"semua mas Deo atur aja" ucap Ester
"benaran" tanya Deo senang banget sambil bangkit berdiri dan langsung memeluk Ester yang masih duduk.
__ADS_1
"iya, terimakasih Ester, kamu masih kasih aku kesempatan. Kita akan bahagia, kita harus berjuang bersama, mengenai mami itu urusanku"
Ester hanya mengangguk pasrah, karena dia juga cukup tahu judeo, gada gunanya menolak kalau sudah maunya.
"Besok aku pulang ke Jakarta, dan semoga kerjaanku bisa di kebut, aku akan langsung datang lagi kesini. Kalian harus tunggu aku"
"iya" ucap Ester lembut sambil mengangguk dan sudah mulai berani menatap mata judeo.
Tatapan yang dalam itu membuat jantung judeo detaknya tidak beraturan.
Jujur judeo sangat merindukan Ester, hanya Ester yang buat dia bahagia. Apalagi sekarang Ester jauh semakin cantik, karena pekerjaannya sebagai SPG mengharuskan dia untuk tampil rapi dan harus dandan.
Ingin rasanya judeo mencium bibir itu sekarang, tapi judeo takut, takut Ester tidak senang dan malah marah, apalagi ini di kamar Radit anak mereka.
Judeo memegang kedua lengan Ester dan juga menatapnya dalam.
"Ester, jangan pergi dariku lagi. Selama aku pergi ke Jakarta papi sama Tante Silvia akan tinggal disini. Biar kalian ada yang menemani" ucap judeo
"lho kok, terus panti gimana mas"
"di urus orang yang disana dulu, cuma beberapa hari"
"ohhhh"
"aku tidak mau kalian tidak ada yang jaga"
"emank kita anak kecil mas harus di jagain"
"iya, takutnya kamu kabur lagi" ujarnya sedikit lebih rileks.
"ya ngga lah mas, kabur kemana"?
"ya ngga tahu, kalau tahu bukan kabur tapi jalan-jalan nanti balik lagi atau di jemput"
"ahh mas bisa aja" ucap Ester tersenyum malu membuat judeo tidak tahan untuk tidak menyentuh bibir itu.
Tanpa sadar mereka sudah berciuman di kamar anaknya Radit. Untung aja cepat sadar tidak sampai ditonton anaknya.
"mas ada Radit"
"tidur kan"?
Hai readersku, dukung terus ya
Like, coment dan vote
__ADS_1
Terimakasih