
Malam harinya Jo sudah datang dengan surat perjanjian yang lengkap bersama seseorang, ternyata notaris dari judeo. Dia sudah menyiapkannya dengan ssngat rapi.
Mereka terlihat berbicara serius ke pak sarman dan keluarga Ester. Ester yang takutnya nantinya bapak dan ibunya kena tipu punya ide untuk memanggil pak RT, yang merupakan tetangga rumahnya. Lalu Ester bergegas memanggil RT dikampungnya sebagai saksi setelah menceritakan masalahnya.
Terlihat disana angka yang dituliskan oleh pihak judeo yaitu 300 juta rupiah. Untuk biaya pengobatan pak sarman dan istrinya dua ratus juta, sedangkan untuk renovasi rumahnya seratus juta.
"Pak Bob, tolong bantu bapak dan ibu saya ya pak"
"iya es tenang aja" ucap pak RT.
"Baiklah Bu, pak, semua sudah aku serahkan, saya harus jalan dulu, dan ingat besok subuh saya tunggu di apartemen tuan judeo" tutur pak Jo sangat wibawa dan susah dibantah.
"baik pak"
Pak Jo pulang bersama orang yang dia bawa tadi. Tinggallah Ester bersama kedua orang tuannya dan juga orang yang bermain catur didepan rumahnya.
"Pak Bob, tolong titip ibu dan bapak saya ya pak, jangan sampai mereka dibohongi" tutur Ester
"iya es, sejujurnya bapak juga malu kenapa ada warga bapak yang diperlakukan tidak adil begini, tapi bapak tidak bisa berbuat apa-apa nak. Kamu tahu sendiri tuan judeo"
"iya pak, jadi lain kali semoga jangan berurusan lagi sama dia ya" ucap Ester
Hampir tengah malam pak RT baru pulang ke rumahnya. Setelah kepulangan RT, Ester dan ibu bapaknya tidak tidur sama sekali. Ester langsung menyiapkan tasnya, tempat baju-bajunya. Setelah itu membawa beberapa surat berharganya siapa tahu suatu saat perlu.
"Bu, tolong semua yang dikasih pak Jo ini disimpan supaya aman, jangan sampai ada yang manfaatin ya Bu," ucap Ester sama ibunya yang masih sedih.
"nak, apa kita pergi aja sekarang dari sini"?
"pak Bu, pergi kemana"?
__ADS_1
"kemana aja, yang penting kita jangan dipisahkan" ucap ibunya, sementara pak sarman yang lagi sakit sepertinya sudah tidak bisa berpikir lagi.
Ester bangkit berdiri dan memeluk ibu dan juga bapaknya.
"tidak ada gunanya kita lari Bu, hanya akan menambah masalah. satu-satunya cara kita hadapi. coba ibu pikir, kita lari sekarang, kemana? kemana kita akan pergi? Bahkan kita ngumpet dilubang semut pun dia pasti temukan Bu, pak! Nah begitu ketemu dia tambah murka, akhirnya bapak dan ibu malah dibuang kemana, bukankah menambah kesengsaraan Bu, sementara aku juga pasti akan makin dia siksa karena membantah, benar ga?" ucapnya jelas walau dengan bibir bergetar.
"Bukannya bapak dan ibu tidak sayang samaku, sampai aku dibolehin dibawa ngga jelas kemana, tapi mungkin dengan cara begini Bu, bapak dan ibu bisa sehat kembali. Kalau mengenai saya, bukankah bapak dan ibu hanya bisa berdoa. Seandainya pun aku disini kalau takdirku sudah hancur, dengan cara apapun pasti hancur Bu"
"Bapak dan ibu hanya perlu mendoakan aku Bu, biar Tuhan selalu menjagaku dari hal-hal yang buruk" tutur Ester masih memeluk ibunya.
"huk huk huk" kenapa jadi begini nak
"dosa apa yang sudah bapak dan ibu lakukan sampai harus begini"
"Bu, ibu tidak salah apa-apa. Justru ini Tuhan sayang sama kita semua, biar kita saling mendoakan Bu" ucapnya lagi.
"Sayang pergilah, kami akan selalu mendoakan mu. Kami pasti ingin yang terbaik untukmu walaupun kami tidak bisa memberi apa-apa tapi doa kami , kami pastikan untukmu."
Sepanjang malam keluarga pak sarman tidak bisa tidur lagi. Mereka hanya bertangisan dan kadang mereka berpelukan. Tengah malam Ester menemui pengawal Judeo yang berjaga di depan rumahnya, yang akan membawanya besok pagi.
"pak, besok pagi saya ingin kita keluar jam setengah empat. Saya akan buat bapak dan ibuku tertidur dulu" ucap Ester kepada pengawal itu saat dia pamit ke kamar mandi.
"baik non, kami selalu siap"
Ester kembali masuk ke kamarnya dan membawa air putih hangat dalam teko. Setelah itu dia ambil obat tidur bapaknya di lemari, itu hanya diminum kalau bapaknya susah tidur.
Ester bingung gimana cara ngasih obat itu ke bapaknya, makanya dia berpikir masukkan aja ke teko yang dia isi sedikit air minum.
Setelah sampai kamar Ester seolah-olah ingin tidur bentar.
__ADS_1
"Pak , Bu, ini minum dulu hangat, sudah jam satu mending kita tidur bentar karena jam enam aku sudah jalan" ucap ester menyodorkan air putih hangat itu ke bapaknya lalu diisi lagi buat ibunya.
Tanpa curiga sedikit pun mereka meminum air hangat itu lalu tidur di kamar Ester yang sudah berantakan. Ester pura-pura ngantuk lalu tidur disebelah ibunya. Ibunya masih menangis lagi sambil mengelus rambutnya.
Tidak lama kedua orang tuannya pun tertidur karena kelelahan menangis.
Ester segera bangun dan mengelus pipi ibunya lalu bapaknya. Lalu dia mengganti bajunya menjadi kaos dan celana Levis lalu menggunakan sweater tipis. Setelah dirasa cukup Ester mendekat kearah kedua orang tuannya dengan perasaan yang sangat susah dijelaskan lagi.
Cukup lama dia bengong, lalu dia bicara dekat kedua orang tuannya.
"pak Bu, Ester pamit ya, hanya dengan cara begini Ester bisa pergi. Ester ngga kuat kalau melihat tangisan bapak atau ibu saat aku pergi.
Kalian harus sehat dan bisa panjang umur. Doa kalian pasti akan menjagaku bahkan di lobang singa sekalipun. Ester pamit ya pak , Bu" ucap Ester sambil mencium pipi ibunya Lalu mencium punggung tangannya. Setelah itu Ester juga menyentuh telapak kaki ibunya. Begitu juga dia lakukan kepada sang bapak.
Jam belum menunjukkan angka empat subuh Ester sudah keluar dari rumahnya dan pergi dari tempat itu.
"Pak langsung jalan sekarang" ucap Ester masih menangis dengan wajah yang sangat menyedihkan.
"baik non" ucap salah satu dari mereka dan membuka pintu mobil.
Dalam hitungan menit, disaat semua orang tertidur lelap, Ester sudah dalam perjalanan menuju suatu tempat, entah tempat apa yang akan dia tuju. Ester hanya memasrahkan dirinya sekarang sama Tuhan, kalau memang ini waktunya dia mati, biarlah dia siap dan ikhlas. Atau kalau tuan JUDEO hanya ingin menghancurkannya dengan menjadikannya budak, ataupun yang lebih dari itu, Ester hanya bisa pasrah.
Mereka sudah keluar dari jalan perkampungan, sudah dalam perjalanan ke kota besar. Dengan naik Tol paling dua jam sudah tiba di apartemen judeo. Kedua pengawal itu sudah telepon pak Jo untuk menceritakan keberadaan mereka. Dan tuan Jo sudah menunggu di apartemen yang dimaksud.
Ester yang tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan tidak mau tahu dengan semuannya hanya diam dan menangis terus.
Bahkan saat direst area jalan itu mereka menawarkan makan minum dia tidak bergeming. Ester sudah tidak bisa berpikir dan bahkan sudah tidak bisa merasakan lapar.
terimakasih
__ADS_1
like, coment dan votenya
I LOVE YOU ALL🙏🤗