
"oh iya Deo, walaupun saya tidak tahu bagaimana kalian bertemu dengan Ester, tapi aku berharap jangan sakiti dia lagi" ucap pak ganda
"saya tidak akan menyakitinya"
"papi pegang kata-kata kamu nak, karena seorang laki-laki harus bisa bertanggung jawab dengan ucapannya"
"itu bukan sifat saya"
"apa jaminannya" tanya Aldo agak kurang percaya
"saya akan menikahi Ester lagi"
"apahhh" Aldo kaget
"iya, saya ingin Radit tumbuh bersama kedua orang tuannya" jelas judeo
"papi ingin lihat dulu seberapa serius kamu" jawab pak ganda
"apa pa, dari tadi papi papi terus"? tanya Aldo bingung baru sadar kalau pak ganda memposisikan dirinya papinya judeo.
"do, sebe..."
"judeo itu kakak kamu do" ucap mama Silvia yang baru datang bersama Ester
"hahhhh apa mah"
"jadi judeo itu adalah anak papa yang pernah mama ceritakan dulu di ulang tahun papa"
"jadi"
"iya do, tanpa sengaja ternyata doa papa sudah terkabul, ingin memeluk dan memangku cucunya kelak. Radit itu cucu kandung papa, anak judeo"
"apahh, mana bisa'
"yah begitulah nak, kalau Tuhan yang mengizinkan, dunia jadi sangat sempit" ucap Bu Silvia sambil duduk dekat suaminya.
Judeo agak terkesima mendengar penuturan ibu Silvia. ternyata benar keluarga ini penuh keterbukaan. Mereka semua saling mengasihi dan terbuka tentang apapun.
"ter, benar dia ini yang sudah membuang kamu, lalu di kirim ke panti ini" tanya Aldo
"kak Aldo, aku tidak tahu apakah ini terencana atau bukan oleh mereka. Tapi aku sama Radit tidak tahu apa-apa"
"banyak banget kebetulan ya"
Jo yang yakin ini tidak terencana pun mencoba membantu tuannya.
"maaf mas Aldo, saya Jo asisten dari tuan judeo, saya yakin dan berani sumpah ini benar-benar kebetulan, karena saya yang menyusun semua jadwal kegiatan pak judeo" jelas Jo.
"mungkin inilah yang namanya panggilan jiwa dan kentalnya darah itu pak" tambah Jo
Sementara judeo hanya diam, bagi dia tidak perlu ada penjelasan atau apapun, karena percuma, biarkan saja.
__ADS_1
"kak Aldo, mereka kesini adalah dalam rangka kerja. Dan aku bekerja di mall milik pak judeo"
"apahh"
"iya kak, mall xx itu adalah milik pak judeo sekarang. dan mereka ingin kembangkan mall tersebut supaya tambah ramai" jelas Ester
Terlihat Aldo berpikir sejenak sambil melirik judeo. Pak ganda yang tahu ke khawatiran Aldo akhirnya menengahi.
"Deo, kamu ingin menikahi Ester lagi"?
",hmmm iya"
"Deo, bagaimana nanti kalau citra tidak menerima Ester dan Radit" ucapnya serius menatap judeo
"harus menerima" ucap Deo pasti
"pertanyaan ku adalah bagaimana kalau tidak menerima"
"harus menerima, karena ini pilihanku"
"tapi kamu tahu sifat mamimu kan"?
"tahu, aku bisa atasin"
"baiklah, coba kamu buktikan bisa melindungi mereka dengan cara apapun. karena papa tidak akan tinggal diam kalau citra mengganggu Ester dan Radit. Toh selama ini mereka juga tidak merepotkan kalian kan"? ucap pak ganda.
"satu lagi deo, apa ester sudah bersedia menikah sama kamu"? tanya pak ganda ke judeo lalu menatap ester.
Judeo melirik ester yang terlihat diam dan tenang dipojok bersama ibu silvia.
"ester, menurut kamu gimana, mau ngga menikah lagi sama judeo" tanya pak ganda
Ditodong pertanyaan begitu ester pastilah kalang kabut jawabnya. Dia takut bilang ngga mau, takut judeo tersinggung tapi dia tidak ingin juga menikah dengan judeo karena pasti rintangannya sangat berat.
Ester melirik judeo lagi yang sedang meliriknya juga.
"kamu ngga usah takut ter untuk bilang yang kamu ingin, kami pasti bersama kamu" jawab aldo menguatkan. Hal itu membuat judeo semakin berkecil hati, kalau mengikuti perilaku dia yang biasa, aldo pasti akan dia hancurkan sampai habis, tapi ini tidak bisa anaknya sangat sayang sama aldo.
Ester masih sangat bingung pastinya. Dia tidak bisa menjawab sama sekali. Dia hanya berdiri dan bengong menatap ke satu titik.
"sudah, sudah, tidak usah dipaksa. kasihan ester. Nanti aja waktu yang menjawab. Lebih baik sekarang kita semua tidur dulu." ucap pak ganda.
"loh ini baru dibuatin kopi, kirain tadi mau begadang main catur. Sekalian mumppung deo di sini Pa, kalian bisa cerita sepuasnya." ucap bu silvi.
"ya wes, ester kita mending main ular tangga. mana bedak kita ma" tanya aldo
"noh di dalam, minggu kemarin dicuci tuh tempat bedaknya sama ester" jawab ibu silvi
"ayo ter, berani ngga" ucap aldo tanpa beban. Padahal judeo jelas kurang suka kedekatan aldo dan ester.
"ayo, aku ambil dulu bedaknya" ucap ester berlalu ke dalam. Tidak lama dia sudah kembali dengan mangkuk bedak ditangan. Biasanya mereka akan mengusap bedak belepotan diwajah yang kalah.
__ADS_1
"ayo kak aldo ,disini" sambil menggelar karpet yang sekalian dia bawa tadi.
Main ular tangga memang lebih seru duduk dilantai daripada diatas meja.
"oke, ayo mama, jadi jurinya, soalnya ester suka tipu tapi sok jadi korban lagi. " ucap aldo asal sambil duduk ngedeprok di lantai.
"weweee enak aja, saya Tuh sportif kak aldo" ucap ester ngga mau kalah
"iya deh, yang sportif. biar kalau nyungsep ke bawah lewatin satu kotak. yeeeeee" lebih godain lagi.
"ngga"
"iya"
"sekali itu doank"
"tetap aja ngga sportif"
ester hanya memanyunkan bibirnya akhirnya karena malas berdebat.
Judeo melihat semua yang ada di depan matanya mulai sedikit merubah cara pandangnya kepada ibu silvi dan papinya.
'Kelihatannya mereka sangat baik kepada orang lain'
'Dan papi sangat disegani disini, bukan seperti dirumah besar kami, tidak ada nilai papi, karena dia tidak sekaya orang tua mami'
Judeo melihat hasil didikan mereka sama aldo dan radit. Terlihat sangat penuh kasih sayang.
"Deo, kalau kamu ingin istirahat tidur aja. Mereka main ular tangga bisa sampai larut. Nanti kamu pasti bosan lihatnya."ucap pak ganda yang mengira judeo diam bengong karena bosan, padahal karena judeo merasa iri.
Hidup seperti kebersamaan ini tidak pernah dirasakan judeo. biasanya dia selalu sendiri atau bersama orang-orang jenius yang memikirkan cara meraih untung sebanyak-banyaknya. Dan permainannya tidak pernah ular tangga tapi laptop atau gadget lainnya yang memiliki tekhnologi canggih.
"ntar aja" jawab judeo seadanya.
"apa tuan perlu sesuatu" tanya jo serius.
"tidak"
"kalau begitu kita main bertiga pak jo, mau ngga"? tanya ester sama jo.
"tapi nanti muka serius bapak dibedakin lho" ucap aldo nakut-nakutin.
"santai aja pak jo " jawab ester.
Jo melirik tuannya dulu lalu mengatakan.
"oke, siapa takut"
Hai readersku, terus ikutin ya
jangan lupa like dan coment.
__ADS_1
Terimakasih