
Aku terpaku dan rasa cemas merayap di punggungku dengan cepat. Terasa nyata dan mencengkram begitu erat pada tubuhku.
Taruhan ini benar-benar tidak bisa lagi di hindari. Meskipun aku berlari atau bersembunyi di lubang semut sekalipun. Revi pasti akan terus mengejar ku atau menagih janji yang harus aku penuhi. Ia dan dua orang temannya bahkan sudah memakai baju basket kebanggaan sekolah, kini ketiga orang dengan tubuh jangkung itu asyik mendribble bola sembari berlarian di dekatku, sedangkan aku?
Aku hanya memakai baju olahraga bekas pelajaran olahraga tadi pagi. Bau, kucel, lengket dan tidak nyaman di pakai. Sungguh, ini sama sekali tidak menunjukkan citra seorang perempuan Ningrat yang harus wangi, ayu, dan bersih.
Tapi sebentuk tekad yang kuat sudah bersemayam di hati ku. Menang atau kalah dari Revi itu urusan nanti, sekarang aku hanya perlu menunjukkan bahwa diriku bukanlah pengecut di siang hari yang akan menjadi penentu bagaimana nasibku setelah hari ini berakhir.
"Jika dia begitu ingin menjadi pacarku, bukankah ia harus bertekuk lutut dulu di hadapanku dan keluargaku? Akan aku pastikan, meskipun aku kalah, dia tidak akan betah menjadi pacarku dan babak belur karena aturan dari Ayahanda!" batin ku menggerutu.
Belum pernah aku seyakin ini dalam hidup, bahkan aku tidak perlu puasa mutihan atau melakukan ritual khusus yang biasanya keluarga ku lakukan sebelum melakukan sesuatu yang bersifat penting.
Aku mengurai senyum. Lantas menghampiri Baskara dan teman sebangkunya yang aku ketahui bernama David.
"Kalian siap?" tanyaku sambil melinting lengan bajuku.
"Kamu bener-bener ngawur, Lilah! Aku gak ikut campur jika nanti kita kalah, kamu sendiri yang menanggung akibatnya." urai Baskara terdengar risau.
"Jadi udah gak setia kawan nih?" Godaku pada Baskara, bahkan tanpa ia minta pun aku sendiri yang akan menanggung akibatnya. Menjadi pacar si pengki dan menjadi anggota OSIS lagi.
Sungguh, membayangkan saja aku sudah mual. Setiap hari harus bertemu dengan laki-laki tengil yang gayanya sok-sokan seperti primadona sekolah!
"Woy... Jadi gak nih, keburu sore! Ntar dicariin emak kalau gak pulang-pulang!" ledek Revi.
"Kamu merasa terancam?" Kini aku mendekatinya tanpa Tedeng aling-aling.
"Kamu bukan ancaman tuan putri. Kamu adalah incaran!"
"Aku ancaman, Rev. Aku bakal menjadi ancaman buat hatimu. Hati-hati!"
"Hati?" Revi tertawa geli, "Kita buktikan saja siapa pemenangnya tuan putri. Lalu kita baru akan membicarakan masalah hati."
"Oke." sahutku, Revi kembali mendribble bola sembari menghampiri teman-temannya. Mereka tertawa kecil. Dia belum tahu saja aku juga punya rencana dibalik rencana yang akan ia lakukan.
__ADS_1
Dengan wajah yang keruh, Baskara dan David merenggangkan otot-ototnya.
Aku menghampiri keduanya, ikut melakukan pemanasan singkat.
"Main aja sebisanya, jangan dipikirin resikonya, Bas, Vid. Kita cukup menjadi tiga adik kelas yang berani aja!" ujarku menenangkan kedua laki-laki itu yang terlihat pucat.
"Jujur aku gak apa-apa kalau kalah, tapi kita tidak mungkin pulang kalau belum menyelesaikan pertandingan ini!"
"Aku gak tega lihat kamu jadi pacar ketua OSIS itu, Lilah. Kamu sahabatku, aku gak mau kamu jatuh cinta pada orang yang salah."
Aku tergelak, "Terus orang yang bener itu gimana, Bas?"
"Aku ini bener. Selama tiga tahun lamanya aku menjadi sahabatmu, masih saja kamu gak peka kalau aku ini suka sama kamu!"
Aku semakin tergelak sembari berusaha untuk kembali menata ekspresiku yang terkejut. Baskara suka sama aku? Jadi betul ia menaruh hati pada persahabatan ini.
"Kamu tahu kan, Bas. Bahkan aku tidak mau merusak persahabatan kita karena cinta. Aku pengen kita sama-sama tumbuh menjadi dua manusia yang saling mendukung satu sama lain. Tulus, ikhlas dan..."
"Iya aku tahu! Kita sahabat selamanya!" sergahnya cepat, "Lagian aku juga sudah ngincar Asih, dia lebih cantik daripada kamu!"
Bunyi peluit tanda pertandingan dimulai berbunyi nyaring di telinga. Matahari juga terlihat tertutupi oleh awan. Lumayan, siang ini tidak terlalu panas. Cukup otakku saja yang panas menghadapi pertandingan yang sudah mulai lima menit yang lalu.
Aku dan Revi saling merebut bola, ia slalu tersenyum lebar saat berhasil merebut bola dari timku. Sungguh, harus aku akui bahwa dia sangat mumpuni untuk menjadi tim inti anggota basket di sekolah.
Parahnya lagi, skor kami sangat jauh. Aku bahkan sudah yakin jika timku kalah dan aku akan menjadi pacar si pengki atas hasil taruhan.
Dan, kekhawatiran itu benar-benar terjadi. Sampai bunyi peluit tanda pertandingan berakhir, skor timku masih sama. Nol besar!
Baskara membanting bola basket dengan kesal. Raut wajahnya benar-benar tidak menunjukkan rona bahagia. Ia pasti kecewa. Aku pun juga.
"Aku cabut dulu, Lil. Kalau butuh apa-apa kamu tahu rumahku!" ujarnya sambil lalu menuju pinggir lapangan. Ia menyaut tas ranselnya. Sejenak, Baskara melihatku dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Sorry, ndoro putri. Aku gak bisa bantu banyak. Aku cabut juga ya." ujar David mengikuti jejak Baskara.
__ADS_1
Aku mengikat rambutku, lalu dengan langkah lebar mendekati Revi yang tersenyum penuh kemenangan.
"Selamat atas keberhasilanmu. Datanglah ke rumah, kita bicarakan masalah hati sembari menikmati teh manis hangat!" ujarku dengan malas.
Revi dengan tak tahu dirinya mengambil tissue, mengusap dahiku yang penuh dengan keringat.
"Cukup bagus untuk teknik main basketnya, pacar!" Ia menekan kalimat terakhir sembari terus membersihkan wajah ku dari keringat.
Aku sudah lelah, bahkan mendebat semua ocehannya aku sudah malas.
Aku berbalik, bahkan aku tidak peduli dengan sorakan dari beberapa siswa yang ikut melihat pertandingan ini. Heran, gosip ternyata begitu mudah tersebar meski dilingkungan sekolah.
Aku menyaut tas ku, dengan sikap angkuh aku mengangkat daguku sembari berjalan keluar dari lapangan basket. Lagipula aku tidak perlu bersedih hati karena kekalahan ini, aku hanya perlu menunjukkan bahwa aku Dalilah Sekar Kinasih cukup mempesona sehingga ketua OSIS itu harus bersusah payah membuat taruhan untuk mendapatkan hati ku.
Tiba di depan pintu gerbang sekolah, aku melihat mobil BMW hitam yang sangat aku kenali. Mobil itu adalah milik om Nanang. Bujang lapuk dengan ketampanan maksimal itu sedang bersandar di kap mobil dan tersenyum ke arahku.
"Om..." panggilku sembari merentangkan kedua tangan.
Om Nanang menahan kepalaku dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mengapit hidungnya.
"Bau! Asem!" ujarnya sambil tersenyum jenaka.
"Lilah butuh pelukan hangat!" ujarku penuh harap.
"Om sudah dari tadi disini, sampai lumutan nih! Lilah habis ekskul?" tanyanya sembari mengamati baik-baik diriku, "Kok cemberut? Kenapa?"
"Peluk dulu, nanti Lilah baru jawab."
Om Nanang tersenyum, ia menarik ku ke dalam pelukannya. Kata Om Nanang, hanya ada satu pelukan yang mengingatkannya pada seseorang, yaitu pelukan ku. Entah apa maksudnya aku tidak mengerti. Tapi, pelukan bujang lapuk ini menandakan bahwa ia membutuhkan pelukan hangat dari seseorang wanita yang sanggup meluluhkan hatinya yang beku.
"Sudah kan, ayo cerita!" pinta Om Nanang setelah kami mengurai pelukan bersama.
"Itu..." Aku menunjuk pada laki-laki yang sedang melajukan motornya ke arah kami. "Itu Revi, pacar baru Lilah!"
__ADS_1
Om Nanang membulatkan matanya, ia lantas menghadang laju motor sport yang Revi tunggangi. Dalam sekejap motor yang meraung keras itu berhenti di hadapan om Nanang yang mengeraskan rahangnya!