ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 102


__ADS_3

Revi.


Butuh waktu dua Minggu bagiku untuk recovery tubuh sampai aku benar-benar boleh keluar dari rumah sakit.


Selama itu pula aku memikirkan bagaimana cara terbaik untuk memutuskan Dalilah tanpa menyakitinya.


Menyakiti perasaanku juga.


Namun tak ada alasan terbaik untuk memutuskan Dalilah, hanya ada alasan murni dariku.


"Ayo, pulang!" ajak mommy sambil tersenyum, menggandeng tanganku dengan lembut.


Aku mengangguk. Siang ini aku sudah boleh pulang setelah medical check up lagi.


Sepanjang koridor rumah sakit, aku hanya terdiam sambil memikirkan bagaimana keadaan Dalilah selama aku tinggal.


Apa dia tahu aku kecelakaan?


Apa dia setia?


Apa dia sedih?


Apa dia marah?


"Pergi!" pekikku sambil mengibaskan tangan saat Angel menyapa ibuku dengan ramah dan sok manis.


Nafasnya terengah-engah, seperti habis berburu dengan waktu.


"Rev!" tuntun mommy dengan sorot mata tajam.


Aku menggeram. Kenapa Angel tidak membiarkan aku mati aja biar aku gak perlu balas budi atas pertolongannya atau perasaannya.


Kenapa dia malah membiarkan aku hidup dalam bayang-bayang Dalilah dan dirinya yang menyelamatkan aku waktu itu.


Cerdik.


"Revi udah boleh pulang, Tant?" tanya Angel. Berjalan di samping ibuku.


"Puji syukur, sudah! Mommy bersyukur Tuhan masih baik dengan anak ini." Mommy mengeratkan genggamannya dengan senyum patah melengkung.


"Akhirnya ya, Tant! Revi bisa pulang." Angel bersorak gembira.


"Dia udah ketinggalan banyak pelajaran! Jadi aku udah fotocopy catatanku untuk dia baca! Mau belajar bareng, Rev? Bentar lagi ujian semester!" katanya sambil menoleh kepadaku sekilas.


"Aku masih ada, Reno!" jawabku dingin..


"Reno aja belajar sama kamu, Rev! Mengharap apa kamu sama dia!" timpal mommy galak.


Arghhh... Aku melepas tangan mommy dan masuk ke dalam mobil.


Angel yang membawa mobil sendiri terlihat mengikuti mobil mommy yang sudah melaju kencang di jalanan kota.

__ADS_1


"Mommy hanya mau kamu bersikap baik padanya sekalipun tidak membalas perasaannya, Rev! Mommy berhutang kepadanya!" tuntun mommy.


"Bukannya itu hanya memberinya harapan palsu! Mommy tahu itu!" sungutku kesal.


"Sementara waktu saja, Rev! Sampai kamu lulus SMA... Setelah itu pergilah ke luar negeri, begitupun dengan mommy dan daddy!" Mommy menepuk bahuku dan tersenyum lebar.


"Mommy tahu Angel menyukaimu, tapi bukan begitu caranya membalas nyawamu yang masih ada di tubuhmu!" Nasihat mommy.


"Setidaknya ia ada waktu kamu kecelakaan dan kecelakaan itu murni karena kelalaianmu sendiri!"


Aku membuang nafas kasar. Semua salahku.


"Aku butuh hp, Mom! Beliin..."


Mommy menyengir kuda dan menggeleng. "Kamu bisa menghubungi Dalilah dengan hp mommy, hanya untuk berpamitan dengannya!"


Akhirnya, aku terpaksa menjual jam Tag Heuer kesayanganku untuk membeli hp baru dua hari berikutnya setelah mommy sama sekali tidak membelikan hp baru untukku.


Aku juga sudah mulai sekolah lagi dan terpaksa harus menjadi teman Angel.


"Lo mau kemana, Rev?" tanyanya, terus mengikutiku kemanapun aku bergerak disekolah ini.


"Aku bener-bener terimakasih, kamu udah nolong aku! Tapi sampai kapanpun kamu paham aku gak bisa balas perasaanmu sekalipun aku dan Lilah putus!" ujarku menahan emosi.


Angel terlihat santai menanggapi pernyataan dariku.


"Gak masalah, yang penting Lo mau jadi temen baik gue!" balas Angel dengan tersenyum lebar.


"Bim!" panggilku kencang.


Bimo menoleh, ia mengernyit heran sambil membungkuk sopan.


"Iya mas." jawabnya dengan mata yang melirikku dan Angel secara bergantian.


Sial, ini cewek ngintilin terus kayak gak punya genk sendiri. Aku bahkan takut Bimo mengadu kepada Dalilah jika Angel menjadi temanku secara terpaksa.


Aku membuang nafas sambil tersenyum kaku menatapnya.


Dia tahu, aku pacarnya ndoro putrinya, dia tahu aku dan Devon yang membeli dagangan baju batiknya satu toko. Dia tahu kondisiku satu bulan lebih ini kenapa aku menghilang dari Dalilah.


"Bagaimana kabarnya?" Aku tersenyum kecil.


Bimo tersenyum hangat. "Ndoro putri pasti senang mas Revi sudah sembuh!"


"Kamu sudah memberitahunya?" Aku membulatkan mata.


Bimo sudah memberitahunya. Dia pasti khawatir denganku. Apalagi hpku yang lama sudah tidak ada. Entah kemana!


"Yup, setiap hari Bimo datang ke rumah sakit waktu kamu koma! Cewek Lo slalu video call dengannya dan gue juga ada disana!" timpal Angel. "Setiap pulang sekolah, ya gak, Bim?"


What the.... Aku menatap Bimo dan Angel secara bergantian. Bimo mengangguk kecil.

__ADS_1


"Kalian sekongkol untuk membuat Dalilah menjauh dariku, membuatku seperti si brengsek yang selingkuh denganmu?" Aku menunjuk Angel.


Angel mengerucutkan bibirnya. "Gue gak pernah menganggapmu selingkuh denganku, gue cuma jenguk Lo! Karena gue perhatian sama Lo!" sungutnya kesal.


Aku memukul tembok. Argh!


Aku mengibas-ibaskan tanganku dengan wajah yang menahan sakit.


"Sok-sokan!" cibir Angel.


Aku menarik Bimo menjauh darinya. "Aku minta nomernya, princess!" kataku pelan.


Bimo menggeleng pelan. "Ndoro putri sudah tidak bisa di hubungi lagi seminggu yang lalu!"


Aku menggeleng tidak percaya.


Bimo dan Angel.


Aku tahu, mereka mengharapkan kami berdua berpisah dan mereka dapat miliki kami sendiri-sendiri. Namun bukan begini caranya.


Bimo mengulurkan hpnya. "Setiap hari ndoro putri memang menghubungi saya. Mas Revi bisa membaca semua pesan darinya!"


Aku langsung menyaut hpnya. Aku menepi untuk menelpon Dalilah.


Panggilan tidak terhubung.


Panggilan tidak terhubung.


Aku mengumpat. Aku duduk di bangku koridor sekolah membiarkan semua siswa lain menatapku seperti orang frustasi.


Dengan seksama aku membaca satu persatu pesan Dalilah dan Bimo sejak tanggal aku pergi. Terhitung empat puluh enam hari yang lalu.


Mataku kembali menghangat saat Dalilah mengatakan bahwa dia memang hanya membuatku menderita dan tiba di suatu titik dimana aku kecelakaan kemarin membuatnya sadar untuk memilih pergi dariku tanpa kabar.


Karena pada akhirnya, sekuat apapun aku berusaha mengenggam hatinya, akan tiba hari dimana aku harus pergi dari mimpi indah ini. Karena aku tahu, aku dan mas Revi, kita berlari semakin jauh.


Aku mengangkat wajahku, menggerak-gerakkan rahangku sebelum mengembalikan hp milik Bimo.


"Thanks, udah jadi temen yang baik buat Lilah saat aku sedang berjuang keras untuk hidup lagi!" Aku tersenyum kecil dan tak kuasa menahan air mata saat Bimo menepuk pundakku.


"Terimakasih kembali atas kebaikan mas Revi yang sudah membantu keluarga saya! Saya harap, kalian berdua akan sembuh seiring berjalannya waktu."


Bimo kembali menepuk bahuku sebelum berlalu. Aku memegang kedua sisi kepalaku, bersandar di dinding. Aku mengerang dengan parau.


Dadaku sakit tak karuan, seolah ada taring tak kasat mata yang terus menghujam hatiku begitu dalam.


Tapi betapapun terlukanya aku, masih ada keluargaku yang mengkhawatirkan kondisiku. Mengharapkan aku baik-baik saja.


Aku tetap bernafas. Aku tetap hidup.


Namun sebagian diriku mati saat aku melepasmu, Dalilah.

__ADS_1


... Happy Reading...


__ADS_2