
Dalilah.
Hari itu, setelah jam istirahat berakhir. Aku sedang belajar mata pelajaran bahasa Indonesia. Pelajaran ini cukup mudah, yang tidak hanyalah tugas ini dikerjakan secara berkelompok.
Sontak saja, Bimo langsung menunjukku sebagai rekan belajarnya. Ia langsung menggeser posisi kursinya dan membuatku harus berhadap-hadapan dengannya.
Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan, kenapa harus aku gitu loh yang menjadi teman belajarnya. Bukannya ada temannya yang lain. Lagipula, aku sudah biasa sendiri.
"Soal apa yang tidak kamu mengerti?" tanyanya.
Ku lihat wajah Bimo. Terlihat santai dan tenang sedangkan seluruh siswa di dalam kelas ini menatap heran bangku kami berdua. Seolah aku dan Bimo ini adalah tontonan menarik. Sementara situasi di dalam kelas tidak terlalu formal karena Bu Diah termasuk guru yang gaul dan asyik.
Aku menyengir, tidak tahu dan tidak mengerti mana yang sulit. Bagiku sekarang yang paling sulit ada bernafas lega saat Bimo menunggu jawaban dari pertanyaan.
"Bim..." ujarku sambil memainkan pulpen, "Kalau seumpama nanti pulang sekolah aku ketemu sama mas Revi sebentar boleh?"
Bimo mengangguk, "Aku awasi!"
Aku langsung tersenyum lebar, "Gak masalah. Oh ya, nanti ada yang jemput aku tidak? Soalnya kata Ayahanda aku boleh minta diantar mas Revi pulang, tapi syaratnya kamu mengikutiku. Kamu mau?"
Bimo menaruh pulpennya setelah menulis beberapa kalimat di bukunya.
"Hanya sampai rumah?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
Aku mengangguk, "Kamu keberatan? Hmm... By the way, rumahmu di daerah mana, Bim? Jauh gak dari rumahku?"
Aku tanya karena aku penasaran, yakin! Karena selama ini aku tidak tahu dimana alamat rumahnya. Kalau jauh dari rumahku, kasian juga kalau bolak-balik hanya untuk mengawasiku. Kalau dekat, tebak sendirilah, Ayahanda pasti akan meminta Bimo untuk mengantar-jemputku sekolah.
"Ndoro ayu ingin tahu rumahku?"
Bimo tersenyum kecil seraya memangku dagunya dengan telapak tangan kanannya diatas meja.
Wajahnya yang tampan dan nyaris tidak ada satupun jerawat diwajahnya membuatku tersipu malu. Baru kali ini ia menatapku begitu intens, begitu dekat.
__ADS_1
Aku senyum, Bimo juga. Tidak ada kata yang keluar dari mulutku yang aku pastikan hanya akan tergagap menjawabnya.
"Rumahku dekat dengan pabrik pembuatan batik, kapan-kapan jika ndoro ayu minat. Aku akan mengajak ndoro ayu ke rumahku."
Tanpa sadar aku menepuk jidatku sambil tersenyum simpul.
Mati aku... Malah ditawari untuk main ke rumahnya segala. Mana bisa nolak, kan aku juga pengen tau. Kalau-kalau ada sesuatu yang urgent nanti, aku bisa langsung ke rumahnya. Hihi...
"Kapan-kapan ya! Sekarang ayo kerjain tugasnya dulu. Aku sudah banyak ketinggalan mata pelajaran karena waktu aku dihukum kemarin cuma aku baca gak aku resapi ilmunya!" Aku terkekeh kecil sambil membolak-balik buku paket.
Bimo mengangguk kecil, dengan teliti ia mengajariku beberapa materi yang kemarin sempat tertinggal olehku.
Aku mendengarnya dengan baik sambil memahaminya, namun lambat-laun aku malah terbuai dengan suara Bimo yang halus, tenang, seperti Ayahanda.
Aku tersenyum. Hingga suara ketukan pintu membuatku mendongkakkan kepala.
"Mas Revi!" gumamku.
"Ada apa Revi?" tanya bu Diah sambil menghampirinya.
Mas Revi dengan santai menunjukkan sebuah kertas sambil memasuki ruang kelas. Aku mengamatinya penuh minat, sudah lama tidak melihatnya memakai seragam sekolah dengan dasi yang mencekik lehernya dan senyum manis tanpa meringis yang nyaris sempurna di mataku.
"Biasalah, Bu. Informasi bagi seluruh anggota OSIS kalau nanti ada rapat darurat setelah pulang sekolah!" jelas Revi sedikit keras di depan kelas.
Rapat OSIS? batinku. Apa iya aku masih termasuk anggota OSIS setelah sekian lama tidak mengikuti kegiatan itu.
Aku langsung mengangkat tanganku sambil memanggil pacarku.
Revi bertanya kenapa sambil menghampiri tempat dudukku, seolah ia yakin Bu Diah tidak akan marah karena memahami situasi ini.
"Apa aku masih menjadi anggota OSIS?" tanyaku ragu sambil mendongak menatap Revi. Revi menggeleng, "Kamu udah dipecat dari anggota OSIS atas perintah dari kepala sekolah dan Ayahanda raja. I'm sorry princess, but i hope you understand."
Aku langsung mengerucutkan bibirku. Hilang sudah satu kegiatan yang membuatku bisa berlama-lama disekolah.
__ADS_1
"Tapi tenang, kamu masih ada di hatiku kok. Gak aku pecat, walaupun satu bulan gak ketemu!" gurau mas Revi yang langsung ditanggapi sorak-sorai dari teman sekelasku. Mas Revi menaruh kertas yang ia bawa tadi ke atas bukuku. Ku kira tadi surat pengumuman, tali setelah aku buka sedikit. Itu surat cinta dari mas Revi.
"Terimakasih bu Diah. My best teacher!" kata Revi dengan wajah penuh dramatisasi. Aku tersenyum karenanya.
Bu Diah melambaikan tangannya untuk mengusir mas Revi dari dalam kelas. Revi mengangguk patuh dan menoleh lagi ke arahku sambil berteriak, "Baca ya. Jangan tidak!"
"Dasar anak muda! Sudah-sudah, ayo kerjakan lagi tugasnya. Ibu tunggu lima belas menit lagi!" tegas Bu Diah.
Semua siswa langsung diam. Tapi tidak bagiku. Aku tetap membuka surat dari mas Revi dan membacanya sambil senyum-senyum sendiri.
Sorry princess. Karena tadi pagi hujan.
Rantangnya belum mommy cuci. Mommy juga bilang bakal susah bawa rantang sambil membawa motor sport di bawah guyuran hujan. Kenapa gak mommy antar saja ke sekolah?
Mommy males, Rev. Berangkat sendirilah pakai mantel hujan, jangan lupa pakai sendal jepit. Sepatunya ditaruh di tas!
Batal sudah rencana kita untuk sarapan berdua. Eh, mana tadi praktikum kimia diperpanjang lagi jamnya. Lengkap sudah penderitaan ini.
Tapi aku senang kamu sudah kembali. Betah-betah ya, aku ada buatmu saat dunia sedang berpaling darimu. (^_revi_^)
Aku buru-buru melipatnya dan menyembunyikannya ke dalam tasku. Aku langsung menoleh ke arah Bimo dan bertanya kepadanya.
"Bim... kamu ada kan saat ulangtahun Baskara? Kamu tahu kejadian setelah itu gak? Di sekolah juga. Apa yang terjadi?" tanyaku lirih.
Bimo menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. Matanya melotot seolah memberi kode bahwa aku harus diam sekarang juga karena Bu Diah sudah berdehem tidak jelas.
"Selesaikan tugasmu!"
"Tapi janji dulu!" paksaku sambil mendelikkan mata.
Bimo mengangguk mantap dan aku langsung diam.
...Happy Reading š„°...
__ADS_1