
Dalilah.
Sabtu pagi yang dingin, aku dan Ayahanda duduk dalam diam sambil menyesap teh tawang buatan Ibunda di taman rumah. Ayahanda memandangku dengan muka keruh sejurus lamanya seolah tidak rela jika aku harus keluar malam. Lagi.
"Ayahanda kenapa?" tanyaku dengan alis terangkat.
Ayahanda mengangkat wajahnya dari cangkir teh di hadapannya, memandangku dengan mata bertanya.
"Kenapa?"
Aku mendengus. "Seharusnya Lilah yang tanya, Ayahanda kenapa?"
Ayahanda menghela nafas seraya memandangku dengan seksama. "Selama enam hari ini Revi sudah mendatangimu di rumah. Apa itu tidak cukup bagi kalian untuk bertemu?" tanya Ayahanda.
Aku tersenyum kecut. "Mas Revi memang kesini setiap hari Ayahandaku, tapi kan Ayahanda pasti tahu. Suryawijaya tidak tinggal diam. Dihari pertama saja ia sudah meminta mas Revi dan lainnya menari. Malamnya mas Revi bilang, kakiku pegel semua princess." kataku jujur. Ayahanda tersenyum.
"Di hari kedua lebih parah lagi! Suryawijaya meminta mas Revi untuk bertapa di dalam kamarnya ditemani menyan yang menyala. Apa gak pusing coba... Tapi pagi harinya ia tetap datang ke rumah untuk menemui Lilah, tidakkah itu sudah cukup Ayahanda untuk membuktikan bahwa mas Revi serius dengan Lilah?" lanjutku lagi sambil mencubit-cubit kursi busa seraya membayangkan bahwa itu adalah pipi Suryawijaya. Aku kesal sekali, baru jadi pacar aja uji cobanya sudah banyak sekali. Bagaimana kalau mas Revi gak betah denganku gara-gara Suryawijaya? Kan lucu, jodohku berada di bawah kekuasaan adikku sendiri.
Ayahanda tersenyum tipis. "Apakah Revi membenci adikmu sekarang?"
Aku mendengus dan menggeleng. "Mas Revi tidak membenci Suryawijaya Ayahanda. Tapi mas Revi mungkin kapok untuk mendatangi rumah ini setelah enam hari penuh tantangan. Belum lagi tantangan puasa mutihan yang Lilah gak tahu berhasil atau tidak!"
Ayahanda meminum teh tawangnya sebelum melambaikan tangan. Aku menoleh dan menghembuskan nafas panjang. Suryawijaya tampak berkeringat setelah melakukan olahraga pagi bersama Ibunda di lapangan.
"Baru juga dibicarakan sudah nongol itu bocah! Ayahanda... bisakah menasehati Suryawijaya untuk tidak macam-macam dengan teman laki-laki Lilah? Biar Lilah tidak jadi perawan tua!" kataku
"Hush!" seru Ayahanda penuh nada peringatan. "Jangan bicara seperti itu!"
"Habis... Baru pacaran sekali saja seluruh rumah sudah bingung dan ikut campur. Apa istimewanya Lilah coba. Lagipula, Lilah cantik kan? Itu yang bikin Lilah repot sendiri!"
"Percaya diri sekali!" timpal Suryawijaya sebelum Ayahanda bicara, ia duduk di sampingku dan menuangkan teh tawang ke dalam cangkir miliknya dan menyesapnya.
"Lihatlah bagaimana wajah Suryawijaya yang begitu semringah Ayahanda! Begitu puas dia memperlakukan orang lain dengan semena-mena." ucapku sambil menuding hidungnya yang bangir.
"Bagaimana kabarnya mas Revi? Sehat?" tanya Suryawijaya dengan mimik paling menyebalkan yang pernah aku lihat.
__ADS_1
Aku menatapnya. "Penting buatmu? Terus kalau sakit mau kamu periksain ke dokter?" ujar ku dengan nada menantang.
"Bapaknya dokter, untuk apa aku repot-repot membawanya ke rumah sakit!" jawab Suryawijaya dengan santai.
Aku mendengus. Ini anak bisa gini amat gayanya. Sok cool, sok paling benar, dan yang paling ngeselin dia sok cakep. Walaupun emang iya. Suryawijaya memang cakep.
Aku beralih kepada Ayahanda, berusaha membujuk beliau agar mengizinkan aku keluar malam nanti. Sebentar saja, karena aku juga ingin merasakan malam mingguan lagi walaupun harus membawa pengawal.
"Gimana Ayahanda, boleh ya? Sebelum jam sembilan aku sudah di rumah. Janji!" ucapku sambil mengatupkan kedua tangan.
Ayahanda melempar pandangannya kepada Suryawijaya.
"Kamu ikut Mbakyumu!"
Aku menggeleng cepat. "Jangan ndomas Ayahanda, Bimo saja yang menjadi pengawal ku malam ini, lagipula sekalian kami merayakan kemenangan bersama-sama. Ramai-ramai! Ada mas Derren juga kok untuk diskusi lagu!" sergahku sebelum Suryawijaya menyetujui permintaan Ayahanda.
Ayahanda mengamatiku baik-baik sebelum Suryawijaya menyetujui ucapanku.
"Pergilah bersama Bimo. Dan tepati janjimu." kata Ayahanda sebelum beranjak ke dalam rumah.
Aku tersenyum lega seraya mengambil ponselku. "Akhirnya... Bisa hangout juga." gumamku sambil mengetik pesan singkat untuk Bimo dan menyengir kuda kepada Suryawijaya.
"Adik..." balasku sambil mengedip-edipkan mata penuh jenaka.
"Apa!"
"Menurut kamu, mas Revi sama mas Derren gantengan siapa?" tanyaku dengan manja padanya.
Alis Suryawijaya terangkat, ia tersenyum samar lalu kembali menatapku dan menaik-turunkan alisnya. "Gantengan aku kemana-mana!" sahutnya dingin.
"Buahahaha..." Aku terbahak. Tahu Susur ini sepertinya sedang narsis, tapi ekspresinya begitu gak nahan. Sumpah, ia malah terlihat tidak narsis tapi terpaksa mengatakan itu agar tidak memilih di antara keduanya.
"Coba lihat mana yang ganteng." Ku tangkup wajah Suryawijaya dan menguwel-uwelnya dengan gemas. "Gantengnya adikku, ganteng banget." ujar ku sebelum mencubit kedua pipinya dan terkekeh.
Suryawijaya mengelus kedua pipinya sambil mencibirku. "Males banget punya Mbak yang usil!"
__ADS_1
"Yakin males? Besok Mbak mau kuliah di luar negeri, di Melbourne. Itu cita-cita Mbak, hidup jauh dari kerajaan. Hidup mandiri tanpa pelayan, dan yang satu aku ingin menghirup udara bebas." kataku, "Kalau kamu, Sur. Apa cita-citamu?" tanyaku.
Suryawijaya menghela nafas berat, ia menatapku sambil menggeleng. "Tugasku lebih berat daripada, Mbak!"
"Tapi cita-cita itu penting! Kamu harus mempunyai banyak pengalaman sebelum menggantikan Ayahanda. Kamu butuh perjalanan hidup di luar istana agar tahu bagaimana mengatasi masalah disaat tidak ada orang-orang yang membantumu. Apalagi kamu laki-laki!" urai ku panjang dengan nada sok bijak. Suryawijaya mendengus dingin.
"Aku sudah tahu, dan cita-cita Mbak itu hanya pelarian saja dari aturan istana!"
Aku terbahak lagi sebelum beranjak. "Sudah ah. Ngobrol sama kamu itu gak asyik, aku jadi tampak gak pinter."
"Memang iya!"
Aku menjep sebelum berjalan melewati belakang tubuh Suryawijaya saat ia menuangkan teh tawang lagi ke dalam cangkir. Aku menusuk sisi perutnya dengan kedua jari telunjukku seraya mengambil ancang-ancang untuk berlari saat Suryawijaya tersentak kaget seraya mendengus sebal.
"Awas kamu Mbak!" makinya sambil berdiri.
Aku terkekeh seraya mencari tempat persembunyian, namun saat aku menoleh sebentar untuk mengecek keberadaan Suryawijaya, aku menabrak seseorang.
Aku mendongak. Suryawijaya langsung memiting leherku. Membuatku harus mengendus aroma ketiaknya yang berkeringat dan bau.
"Sumpah, mambu banget, Sur! Aku mau hoek-hoek!" ucapku sambil terkekeh geli.
"Enak?" tanyanya.
"Enak banget, Dik. Enak. Sudah ya?" pintaku sambil memeluknya.
Suryawijaya melepas lengannya lalu menguap puncak kepalaku. "Jangan pergi jauh-jauh Lil sister!"
"Napa?" tanyaku menirukan suara Pandu yang terdengar menggemaskan.
"Istana ini akan sepi tanpa Mbak! Sedangkan Pandu, dia sibuk dengan teman gaibnya."
Aku terkekeh seraya mengendus keringatnya lagi. "Nyebelin! Bilang aja karena takut aku membuat ulah lagi kan?" tanyaku sambil menatapnya.
Suryawijaya tersenyum kecil. "Iya." jawabnya sambil menjentikkan jarinya di telingaku. "Untuk Mbak yang sudah membuatku capek mengurus laki-laki yang mendekatimu! Dan aku harap Mbak jelek saja daripada cantik-cantik menyusahkan!"
__ADS_1
Aku terperangah dengan kata-kata Suryawijaya yang melenggang pergi tanpa ingat dengan sifatnya sendiri. "Gak ingat seberapa menyebalkan dia kemarin!" gumamku sambil mendengus kesal.
...Happy Reading....