ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 85.


__ADS_3

Dalilah.


Aku tersenyum maklum saat mas Revi mendudukkan dirinya dengan tidak tenang di sebelahku. Aku bahkan harus mengusir mas Reno yang ditahan-tahan mas Revi untuk jangan pergi dari bangkunya.


"Jangan ngelawan ningrat, nanti kualat!" kataku menakut-nakutinya tadi. Mas Reno pasrah, ia pergi dan duduk disebelah anggota cheers leader berbaju merah.


Aku memasang sabuk pengaman sebelum pesawat take off. Disampingku mas Revi diam seribu bahasa, mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan tubuh tegang.


"Mas Revi mabuk udara?" tanyaku sambil menghembuskan nafas lega saat pesawat berhasil mengudara di langit Jawa.


Mas Revi menggeleng pelan. "Satu jam ini rasanya terasa penuh jantungku, Lilah. Aku benar-benar bisa mati muda karena jantungan saat ini!"


Aku langsung mencubit lengannya tanpa ampun. "Ralat gak ucapannya! Lilah gak suka dengernya!" Mas Revi meringis kesakitan saat aku memelintir lengannya dengan gemas.


"Sakit..." ujarnya dengan wajah tak karuan. Mau nangis tapi ia tahan.


"Diralat dulu ucapannya! Kalau gak aku panggilkan Suryawijaya dan eyang sekalian, biar mas Revi pingsan beneran."


Mas Revi langsung menggeleng cepat-cepat, ia menarik ujung jaket ku.


"Aku bisa sesak nafas! Please jangan..." ujarnya penuh harap. "Oke aku ralat." lanjutnya lagi sebelum menghela nafas kasar.


"Aku gak akan mati muda sekarang, aku mau duduk berdua dan menikmati keindahan awan bersamamu seperti janjiku tadi malam."


Aku tersenyum lebar. "Gitu dong! Harus positif thinking, harus semangat." Mas Revi berdehem dengan raut wajah penuh tekanan.


"Mas Revi mau minum?" tanyaku sambil memandanginya. "Mas Revi masih syok, masih mau pingsan?" tanyaku beruntun.


Lagi-lagi mas Revi menghembuskan nafas, ia menaikkan tubuhnya sebentar lalu duduk lagi. Aku pun begitu, mengarah pada apa yang ia lihat tadi.


"Mas Revi cari siapa?" tanyaku heran, entah kenapa aku jadi banyak tanya melihat mas Revi yang seperti ini. Aku tidak tega. Tapi aku juga tidak punya kuasa untuk melarang keluarga besar ikut dalam perlombaan kali ini.


Aku betul-betul butuh support system yang benar-benar menguatkan aku.


"Apa semua keluargamu sudah tahu jika aku pacarmu?" tanya mas Revi dengan lirih.


Aku mengangguk. Siapa yang tidak tahu pacarku. Seluruh penghuni rumah termasuk yang tak terlihat pun tahu cowok ini pacarku.


"Kenapa tanya begitu?" Aku merengut, ia pasti mau bicara aneh-aneh.


"Apa aku pantas bersamamu saat ini? Aku takut menimbulkan fitnah!" Aku langsung menginjak sepatu mas Revi, ia mendengus. "Jangan diinjak, mahal ini!"


"Lebih mahal mana sama harga sewa pesawat ini?" Mataku mendelik. "Ayahanda menyewa pesawat ini untuk privasi keluarga. Jadi Lilah harap mas Revi bisa santai karena keluarga Lilah juga sedang menerapkan protokoler istana. Jadi tidak ada yang akan marah-marah ataupun mengganggu kita." ucapku pelan-pelan diiringi deru mesin pesawat yang membuatku merasa sedikit aman dengan pembicaraan ini.


Otot-otot wajah mas Revi tampak mengendur saat ia berusaha tersenyum lebar.


"Aku hanya takut salah di mata keluargamu, Lilah. Aku berasa di keroyok secara massal di sini, sementara aku belum punya persiapan yang matang untuk ini."


Aku cekikikan. "Jangan risau wahai anak muda! Sebelum tua, keluargaku pernah muda, pernah di situasi seperti ini. Mereka bisa harap maklum kalau mas Revi mau pingsan!" Aku terbahak saat mas Revi menginjak sepatuku. Sepatu flatshoes yang ia belikan dulu.


"Jahat banget kamu, Lilah! Aku bener-bener syok dan pengen pingsan di toilet tadi! Aku gugup setengah mati, perutku keroncong, dan berasa mabuk udara."


Aku langsung memanggil pramugari. Pramugari tadi yang membantuku menahan senyum yang jelas-jelas kentara diwajahnya. Ia mengatupkan kedua tangannya seraya membungkuk hormat kepadaku.


"Ada yang bisa saya bantu tuan putri?"


Aku mengangguk dan mengatupkan kedua tanganku, membalasnya.

__ADS_1


"Tolong buatkan minuman hangat untuk mas ini, Mbak. Terimakasih." ucapku sopan. Sang pramugari mengangguk sambil lalu.


Mas Revi menarik ujung jaket ku lagi dengan muka terkesiap. "Kenapa repot-repot, nanti aku dikira yang nyuruh kamu!" katanya dengan takut.


"Aku kan sudah bilang, positif thinking!" tukasku sambil mendesis.


Mas Revi menghembuskan nafas. "Lagi perhatian sama aku? Apa cuma kasian?"


"Lilah kan memang mau perhatian dan ini perhatian paling sederhana yang bisa aku lakukan buat mas Revi!"


Mas Revi membelalak tidak percaya dan diam. Lima menit kemudian, pramugari tadi datang mendorong troli makanan seraya tersenyum ramah padaku.


"Silahkan dinikmati tuan putri. Ini juga ada beberapa kue jika hendak dinikmati."


Aku mengambil cup berisi teh hangat dengan aroma cinnamon dan dua kue untuk mas Revi.


"Terimakasih, Mbak." ucapku ramah dan mengatupkan kedua tanganku. Sang pramugari pergi menawarkan makanan dan minuman gratis untuk penumpang lainnya.


"Ayo dimakan, jangan malu-malu!" ujarku sambil tersenyum. Mas Revi tersenyum kikuk, ragu-ragu untuk menikmati teh kayu manisnya.


"Lilah masih puasa, but it's oke kalo mas Revi mau makan atau minum di depanku, itu lebih baik daripada mas Revi nanti sakit. Nanti Lilah yang khawatir dan pak Bambang muring-muring." Aku tersenyum dan pura-pura tidak melihat saat mas Revi membuka plastik yang berisi kue keju dan meminum teh kayu manisnya.


Aku membiarkannya menikmati makanannya sementara aku menikmati perjalanan ini.


Pesawat yang masih mengudara di atas langit. Cuaca pagi yang cerah dan awan terlihat benar-benar putih. Benar-benar sesuai ekspektasiku untuk berada di atas gumpalan awan putih bersama dia dan keluargaku.


Suasana di kabin pesawat juga cukup tenang. Aku tahu kenapa, karena keberadaan keluargaku tentunya.


"Lihat aku!"


"Udah kenyang?" tanyaku sambil menahan senyum. Mas Revi mengangguk malu-malu.


"Terimakasih..." katanya sembari menengadahkan tangannya. Aku menatapnya sebentar sebelum menautkan jari-jemariku. Kami berdua tersenyum dan itu tak berlangsung lama karena pesawat akan landing.


"Maaf udah bikin mas Revi serba salah!" kataku sebelum melepas jari-jemariku. Mas Revi menghembuskan nafas sebelum merapikan rambutnya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menyempurnakan hari ini?"


"Tidak banyak yang harus mas Revi lakukan. Cukup setia dan menjadikan Lilah perempuan paling terindah


untuk mas Revi. Itu sudah cukup membuat Ayahanda tenang." kataku ringan.


Mas Revi mengusap wajahnya kasar. "Itu mudah, Lilah! Tapi bagaimana aku harus menghadapi situasi ini? Apa aku harus pingsan saja saat bertemu eyang atau aku harus meminjam jurus jitu Naruto dalam menghilang tanpa jejak? Coba katakan idemu?" pinta mas Revi dengan nada maksa.


Aku mengulum senyum. "Kalau urusan dengan eyang Kakung, Lilah juga nyerah mas..."


Ya, Tuhan.


Mas Revi mengacak-acak rambutnya sendiri. Aku terkekeh.


"Mas Revi orang baik, jadi gak usah takut ketemu eyang kakung. Cukup sopan saja seperti saat mas Revi ketemu Ayahanda. Itu mudah, dan mas Revi adalah pacarku! Pacar Dalilah!"


Aku mendengar decakan dari arah belakang. Aku langsung menoleh.


"Ayahanda!" kataku kaget.


"Iya Ayahanda disini, princess."

__ADS_1


"Sejak kapan Ayahanda pindah disini?" tanyaku heran. Pasalnya tadi Ayahanda ada di barisan paling depan.


"Sejak pramugari mendatangi kalian! Kalian baik-baik saja? Atau pacarmu mau hoek-hoek seperti Pandu?"


Aku tersenyum lebar dan mengangguk. "Katanya tadi mau pingsan, Ayahanda. Kasian mas Revi!"


"Ibunda masih membawa minyak telon kalau pacarmu butuh."


Aku nyaris tergelak saat bersamaan dengan mas Revi yang menarik-narik ujung jaketku dengan kepala yang menggeleng cepat.


"Terimakasih Ayahanda... Sepertinya sudah membaik, iya kan mas?"


Mas Revi mengangguk malu-malu. Ayahanda mengulum senyum.


Pesawat berhasil landing dengan selamat di landasan pacu bandara internasional Soekarno Hatta. Seluruh penumpang mengemasi barang-barang bawaan mereka dan mengantri untuk keluar dari kabin pesawat.


Dalam benakku mungkin bukan hanya mas Revi saja yang tertekan karena kejadian ini. Beberapa siswa juga terlihat tak berdaya manakala keluargaku memang mendominasi pesawat ini.


Aku kasian, tapi beginilah adanya. Ada jarak yang membatasi antara kami, kaum ningrat dan kaum biasa. Tapi ini tak berarti apa-apa saat Ayahanda dan Ibunda dengan ramah menyapa mereka satu persatu seraya menyalaminya sebelum memasuki garbarata. Tangga penghubung antara pesawat dan ruang tunggu bandara.


Setibanya rombongan di aula Bandara kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama sembari menunggu barang bawaan kita dipindahkan dari bagasi pesawat ke bus pariwisata yang disediakan oleh panitia perlombaan.


Aku melambaikan tangan kepada mas Revi saat ia bergabung dengan tim basketnya. Ia tersenyum kecil seraya berjalan mendekatiku.


"Mau apa?" tanya Suryawijaya.


"Mau foto berempat dong, dia itu kakak kalian!"


"Siapa yang nyuruh?" tanya Suryawijaya dingin.


"Gak ada yang nyuruh, cuma maunya Mbak aja. Suryawijaya keberatan?"


Suryawijaya berdehem sambil menatap mas Revi yang berdiri di depanku.


"Ada apa, ndoro putri?"


Dih... Aku memanyunkan bibir.


"Foto sama adik-adikku!"


Suryawijaya dan Mas Revi saling bertatap-tatapan. Tatapan itu seperti mau adu jotos. Aku menarik keduanya, sementara Pandu asyik ngevlog di belakangku.


"Mbok yang akur! Orang janur kuning belum melengkung, kalian berdua udah senewen." kataku memegang lengan keduanya.


"Ndu, foto Mbak!"


Pandu yang asyik ini langsung berjongkok di depanku dengan senyum menawan.


"Senyum to mas! Ojo mecucu terus!" sela Pandu saat Suryawijaya hanya berwajah datar tanpa ekspresi.


"Senyum to, Sur! Biar enteng jodoh..."


Suryawijaya langsung berdecak kesal, ia meringis saat Pandu mengabadikan momen ini.


"Malah pamer untu. Jian... Kangmas'i kurang sajen! Guyu we larang banget!" gumam Pandu yang membuat Suryawijaya mendengus dingin seraya menarik kameranya.


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2