
Revi.
Aku bergeming sembari menatap
suka cita prom night malam ini dari luar cafe.
Meriah, semangat, penuh suka cita dan kebahagiaan.
"Sendal cewek Lo ada di mobil gue, Rev!" kata Angel. Malaikat jadi-jadian ini berdandan ala Putri Jasmine dengan pusar yang kelihatan sementara Reno harus menjadi Aladin yang gak punya karpet terbang.
Aku sendiri hanya memakai setelan jas hitam dan sneaker, karena prom night hari ini bukan perayaan kelulusan SMA yang membara.
Prom night hari ini adalah penentuan apakah Dalilah akan datang dan kami sama-sama sepakat untuk putus.
"Lagian udah copot, kenapa disimpan segala, dibuang juga gak ada yang mungut! Heran gue sama cewek Lo, Ren!"
"Katanya biar kayak Cinderella yang kehilangan sepatu kaca, Rev! Dahlah biarin aja. Lagian dia yang mau nyimpen sendalnya, buat kenang-kenangan kalau dia pernah buat salah sama the real princess!" sindir Reno diplomatis.
"Beib..." ujar Angel defensif. Reno tersenyum lebar, melingkarkan tangannya di pinggang Angel.
"Habis ini kita mau hangout, mau ikut?" tawar Reno.
"Gak usah! Ganggu dia nanti!" sergah Angel cepat.
"Aku nungguin Dalilah." jawabku lirih. Keduanya langsung diam dan menatapku.
"Dia akan datang kalau dia sepakat untuk putus denganku! Tapi ini udah jam tujuh, dia terlambat!"
Reno menepuk bahuku. "Udahlah, Rev! Memang sebaiknya kalian istirahat dulu. Dia masih terlalu kecil untuk bermain-main dengan dunia kita yang bebas ini. Ayo masuk! Having fun sebelum kuliah dan menikah!" ajak Reno sambil tersenyum padaku. Senyum yang mengisyaratkan penuh arti.
Aku menatap lagi jalanan di depanku, masih penasaran apa dia datang atau enggak, atau mungkin dia tidak peduli dan tidak diizinkan untuk keluar malam.
Aku mengacak rambut sebelum menghembuskan nafas kasar.
"Ayolah!" Aku tersenyum pasrah.
"Nge-band seru nih, Rev!" ajak Reno sambil merangkulku. Aku manggut-manggut seraya menoleh saat seseorang memanggilku dengan nama.
Revi.
"Dalilah." gumamku tak percaya. Dia datang, memilih untuk putus denganku.
Tapi kalau ini ujungnya, aku bisa apa? Selain kami sama-sama sepakat untuk saling melepaskan.
Aku tersenyum sambil menyambut kedatangan Kamboja-ku.
Dalilah dalam balutan gaun pesta berwarna putih dibawah lutut untuk menutupi lukanya tadi. Terlihat sederhana namun itulah dia, sederhana tapi menawan. Tapi ia mau membuat prom night malam ini terlihat sempurna dengan riasan wajah yang cantik merona, seperti bukan sebuah perpisahan demi masa depan.
__ADS_1
"Maaf aku terlambat, Ayahanda rewel!"
Dalilah menyunggingkan senyum.
Dan sungguh, aku tak rela. Dia bukan lagi milikku setelah prom night ini berakhir.
"Gak ada kata terlambat untuk pesta!" sela Angel, menarik perhatiannya. Dalilah nyaris menajamkan matanya namun sejurus kemudian ia hanya tersenyum dan mengangguk.
Angel dan Reno bergelayut manja dengan mesra di depannya, Dalilah menatapnya dengan heran.
"Mereka pacaran!" Aku mengulurkan tangan kananku. "Make tonight beautiful, like you!" lanjutku sambil tersenyum.
Dalilah menggenggam tanganku dengan ragu sebelum tangannya mengeratkan genggamannya.
Hingar bingar suara musik di dalam cafe perlahan redup saat aku dan Dalilah masuk ke dalam, membuat semua pasang mata melihat kami berdua. Heran.
Dan atensi kami langsung tertuju pada panggung hiburan saat kedua bucin itu pamer kemesraan dengan bernyanyi berdua.
Sungguh fals tapi terserah mereka, ini waktunya bersenang-senang. Bebas.
Aku tersenyum kecil saat Dalilah memasang wajah tanpa beban. Apa ia tidak membohongi diri?
"Kangen gak sama bucin legendaris sekolah kita!" seru Reno di atas panggung hiburan.
Lampu utama langsung mati dan sorot lampu berwarna putih dan merah menyoroti kami berdua. Dalilah tampak kebingungan namun aku juga bingung.
"Sebagai penghormatan terakhir kepada dua bucin legendaris sekolah kita, penari tradisional dan pemain basket yang udah bikin sekolah kita mempesona di mata pacar gue! Aku mau kita semua memberi kesempatan untuk mereka berdua dansa." seru Reno.
"Dansa?" gumamku dan Dalilah secara bersamaan. Sejurus kemudian Dalilah menggeleng. "Lututku masih sakit!"
Aku mengangguk paham, namun instrumen piano yang mengiringi dansa ini tetap di putar.
...Don't go tonight...
...Stay here one more time...
...Remind me what it's like...
...And let's fall in love one more time...
...I need you now by my side...
...It tears me up when you turn me down...
...I'm begging please, just stick around...
Aku menggenggam tangannya, meski tak benar-benar berdansa, kami berdua tetap bergerak.
__ADS_1
"Haruskah kita seperti ini?" bisikku ditelinganya.
Dalilah mengangguk pelan. "Sesuai kesepakatan karena kamu tidak ingkar janji!" jawabnya sambil merangsek maju lalu mendekap ku. Alih-alih nangis, dia malah begini, meninggalkan kenangan manis sebelum kami berpisah kembali.
Aku memegang kedua pinggangnya. Suara tepuk tangan membuncah suasana.
Lampu berubah menjadi temaram. Kami tetap bergerak dengan pelan, membiarkan waktu bergerak lambat.
"Aku akan berharap, Tuhan akan mengizinkan kita bertemu lagi disaat aku sudah jadi dokter dan kamu sudah menjadi wanita dewasa. Dan jika Tuhan kembali mengizinkan, aku dan kamu kembali jatuh cinta lagi dengan perasaan yang sama seperti sewaktu kita masih SMA!"
Entah karena apa penyebabnya, Dalilah masih nyaman mendekapku. Ataukah hatinya tak pernah berpaling, ia hanya perlu waktu untuk mendewasakan diri? Tapi yang aku tahu perlahan-lahan Dalilah bisa menguasai dirinya. Setelah menghirup nafas dalam-dalam, Dalilah menatapku.
"Maafkan aku, Rev! Kita harus berpisah hari ini." Dalilah menggenggam tanganku. "Maafkan aku sudah menyakitimu, menyakiti kita berdua karena aku memang berbeda, aku yang tidak bisa mengimbangimu dalam banyak hal yang bertentangan dengan peraturan keluargaku." Dalilah mengusap tanganku perlahan dan tersenyum lebar.
"Aku mau kamu mengajar mimpimu menjadi dokter karena cita-citaku adalah mempunyai suami seorang dokter."
Dalilah menyunggingkan senyum lembut dan melepaskan tanganku.
"Good bye my first love! Trust me, i still loving you all the time of my life!" Dalilah melengos pergi sembari melambaikan tangannya setelah mengelus rambutku sekilas.
Aku bergeming, oleh-oleh patah hati paling indah yang pernah aku rasakan dan
mungkin benar, dia mencintaiku dan memilih pergi dari hidupku adalah caranya mencintaiku. Agar kami tidak saling menyakiti dalam jarak dan aku menodai kemurniannya.
Ku tatap punggung yang kembali berbalik menatapku sambil tersenyum manis.
Bye, Revi.
Aku melambaikan tangan. Aku bisa tersenyum lega sekarang, dan membiarkan dia pergi bersenang-senang, menuntaskan masa remajanya, mengejar cita-citanya, berjemur di pantai dan segalanya yang membuatnya tenang. Sementara aku, aku akan mewujudkan cita-citaku yang tak salah pilih.
Dan semarak prom night malam ini berubah menjadi karaoke bersama-sama.
...Pergilah kasih kejarlah keinginanmu....
...Selagi masih ada waktu....
...Jangan hiraukan diriku....
...Aku rela berpisah. ...
...Demi untuk dirimu. ...
...S'moga tercapai....
...Segala keinginanmu....
...***...
__ADS_1
...TAMAT....