ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 60.


__ADS_3

...Asmaradana Putri Mahkota....


Asmaradana artinya kisah cinta yang bergejolak, seperti kisah cinta remaja ini. Banyak yang bergejolak dalam jiwa muda mereka. Jadi judulnya ganti, biar sesuai dengan isi cerita. Salam Rahayu 🙏


***


Revi.


Jadi disinilah aku sekarang. Di depan rumah princess bersama Reno. Tepat dipukul setengah delapan pagi.


Waktu terbaik untuk menikmati pagi di bawah pohon kamboja sembari menikmati teh hangat buatan princess.


"Sialan kamu, Rev! Pagi ini aku ada jadwal yang-yangan sama anak SMP! Lagi manja-manjanya lagi. Ini malah diajak kesini, kenapa lagi juga harus pakai baju batik gini. Bersama mau kondangan tapi gak ada hajatan pernikahan!" sungut Reno tadi saat aku menjemputnya dan mengacaukan tidurnya.


"Sahabat akan slalu membantu kan, Ren! Jadi bantu aku sekarang. Aku gak berani menghadapi adik princess sendirian."


Reno langsung tergelak dan melempar bantalnya padaku tadi. "Miris banget hidupmu! Jomblo ajalah, ribet banget hidupmu, Rev!"


"Jomblo? Sorry to say, Ren! Aku masih berjuang sampai Dalilah menyerah karena aku tahu pengorbanannya untuk memiliki pacar tidak mudah. Kalau dia sendiri yang menyerah duluan aku akan pergi dengan cara baik-baik."


"Kalau sebaliknya?"


"Belum aku pikirkan!"


***


Reno mengamati princess dengan heran saat ia menghampiri kami dengan senyum simpul malu-malu.


"Mas Revi. Mas Reno. Tumben main ke rumah Lilah?" sapa Dalilah dengan ramah.


Reno mengamati baik-baik princess dan aku. Ia mengernyit sembari menatapku penuh minat. "Jadi beneran mau kondangan, Rev? Ke tempat siapa?" tanya Reno dengan polos sekaligus bego.


"Otakmu isinya kondangan doang, Ren!" sahutku sambil memelototinya.


"Lah... princess pakai kebaya, kita juga pakai kemeja batik. Bukannya kalau begini tuh mau pergi ke kondangan?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Princess memandang geli Reno sambil menahan tawa. Batinnya mungkin Reno ini belum sarapan pagi jadi melantur kemana-mana karena butanya akan pengetahuan tentang pacarku ini.


Aku mengusap wajahku sambil menghembuskan nafas kasar. Aku sudah tidak sabar. "Princess memang begini kalau dirumah atau... Sayang, kamu mau pergi?" tanyaku pada Dalilah kemudian.


Princess menggeleng pelan. "Tidak, cuma hari ini Lilah harus ke museum depan untuk bertemu dengan wisatawan. Mas Revi kenapa pakai batik? Mau kondangan?" tanya princess lagi heran.


Reno menganggukkan kepalanya dengan tegas. "Aku pikir Revi emang mau kondangan, dek! Tapi mau ngapel dulu kesini. Bener gak, Rev?" tebak Reno.


Aku berdecak kesal dalam hati. Aku ke rumah princess sepagi ini untuk membuat princess terpesona karena kata mommy kadar ketampanan ku bertambah saat aku memakai batik. Ini malah dua-duanya mengira aku mau kondangan. Ke rumah siapa pula yang ada hajatan pernikahan. Teman aja masih sekolah semua?


"Sumpah ya, Ren! Apa harus kalau pakai batik itu pergi ke kondangan? Enggak kan! Pakaian ini bebas digunakan kapan saja sekalipun untuk ngapel!" sungut ku kesal, rusak sudah mood ku hanya karena Reno. Belum lagi menghadapi ndomas Suryawijaya.


Reno terkekeh seraya menepuk pundakku dengan wajah jenaka. "Oh... Jadi nyari simpati dari princess, Rev?"


"Kamu bisa gak diem aja, Ren!" gerutu seraya membuang nafas.


Princess tersenyum terus saat Reno berkelakar menyudutkan aku. Aku tersenyum masam seolah tidak ada alasan lagi untuk mengelaknya.


"Jadi mas Revi kesini untuk menagih janji Lilah kemarin?" tanya princess.


"Kalau begitu ayo ikut Lilah ke depan. Sepatunya juga di lepas ya mas, kita nyeker seperti biasanya." ucap princess dengan lemah lembut.


Reno menaikkan alisnya. "Jadi kamu ngajak aku kesini untuk menemanimu menjadi abdi dalem, Rev? Bener-bener saingan sama Bimo?" ucap Reno tanpa tedeng aling-aling.


"Bukan saingan, tapi mencoba untuk memahami bahwa menjadi abdi dalem tidak mudah. Sudah diam aja kamu, Ren! Lagipula disini harus sopan, gak boleh mengumpat sekalipun dalam hati!" kataku mengingatkan.


"Tapi kamu udah kan, Rev?"


"Udah apanya, Ren?"


"Mengumpat dalam hati!" ujarnya lalu tertawa renyah seraya mengikuti princess berjalan.


Reno... Reno... Pengen nyesel karena udah bawa dia kesini, tapi kalau enggak. Mati kutu juga menghadapi situasi sendiri.


***

__ADS_1


Dalilah tersenyum manis saat aku sudah memakai baju kejawen milik keluarganya. Bukan milik ndomas Suryawijaya. Bahkan saat inipun dia tidak terlihat, begitu juga Bimo.


Apa princess sengaja menyembunyikannya agar aku tidak perlu tahu kedekatan mereka saat di istana?


"Mas Revi ini Lilah perhatian dari tadi celingukan terus, cari siapa?" tanya princess heran.


Aku tersenyum kecil. "Katanya Bimo jadi abdi dalem, kenapa tidak terlihat?" tanyaku langsung.


"Bimo libur. Kemarin juga Lilah pulang bareng dia. Lilah sewa dia jadi ojek. Tapi Lilah belum bayar jasanya."


Aku menyengir kuda. Bukan karena apa-apa, tapi kepolosan yang princess miliki ini benar-benar membuatku semakin ingin memilikinya dalam waktu lama.


Dia jujur tanpa aku minta. Dan rasanya, mencurigai Bimo sangat tidak gentleman.


"Jadi apa yang dilakukan Bimo jika diistana?" tanyaku lagi, sementara Reno sibuk mengabadikan dirinya sendiri dengan ponselnya setelah bilang kalau dirinya sendiri makin keren. Sungguh narsis!


Princess duduk di atas kursi, sedangkan aku diminta untuk bersila diatas lantai saat kamu berada di depan sebuah beranda museum. Aku sempat canggung sesaat tapi langsung paham kalau ada perbedaan diantara kita.


"Diam saja menunggu perintah! Tapi beberapa abdi dalem memang mempunyai job desc sendiri-sendiri yang rutin jadwalnya. Seperti menari dan penabuh gamelan. Ada juga yang bekerja di bagian konsumsi, ada yang dibagian dokumentasi, pokoknya berbeda-beda. Tapi yang jelas semua bisa berkumpul saat menjadi prajurit di acara-acara tertentu. Terutama acara besar." urai princess lalu tersenyum.


"Maaf ya mas Revi, mas Reno. Kalau diistana memang harus begini. Ada kesenjangan tapi tidak begitu jauh. Mas Revi dan mas Reno tidak tersinggung kan?"


Aku langsung menggeleng cepat, tapi Reno ini malah menatap princess penuh minat.


"Auranya beda banget ya, Rev! Saat diistana atau di sekolah. Cantiknya alami, ada manisnya tapi gak bikin eneg." pujinya dengan lugas. Princess tersenyum dan menoleh.


Ingin sekali aku lenyapnya Reno dari sini.


Apa sekarang dia juga ingin mendaftar menjadi bibit sainganku? Bisa-bisanya memuji pacarku di depan orangnya langsung dan ku dengar begitu manis.


Aku berdecih seraya berkata. "Jangan di dengarkan rayuannya Reno, princess. Ceweknya banyak, tadi pagi saja dia tidak mau menemaniku ke sini."


Princess mengangguk. "Lilah tahu kok. Lilah juga tahu Mbak Prisia mantannya mas Revi."


Reno langsung cekikikan saat aku membulatkan mata seraya menoleh kepadanya. "Gawat, Ren!"

__ADS_1


...Happy Reading. ...


__ADS_2