
Revi.
Musim hujan datang membawa keresahan. Terlebih bulan-bulan dengan akhir kata -ber,-ber,-ber ini sangat berrrr-at bagiku.
Aku menjalani kehidupan sehari-hari seperti kaktus. Dan di fase ini, aku sangat-sangat lelah. Emosiku tidak stabil.
Konsulen atau dokter pembimbingku selaku pengganti dosen di rumah sakit memintaku untuk melakukan laporan keseluruhan praktik koas-ku selama di rumah sakit sebelum menjalani ujian UKMPPD. Ujian-ujian teori kedokteran
dan ujian praktek langsung.
Sementara jadwal UKMPPD terjadi empat kali dalam setahun. Dan aku harus lulus semuanya, kalau tidak aku harus mengulanginya lagi. Setelah itu selesai, aku masih harus intership terlebih dahulu untuk mendapatkan surat ijin praktek sebagai dokter umum.
Kepalaku berdenyut nyeri sekali. Sejujurnya aku masih butuh waktu satu tahun lagi minimal untuk benar-benar menyelesaikan pendidikan ku sebagai seorang dokter.
Tapi janji tinggallah janji. Akhir bulan Januari aku harus melamar Dalilah, meski aku sudah melamarnya secara pribadi.
Sampai pada akhirnya, aku membawa princess ke rumah kakek-neneknya.
Aku menyerah menjadi seorang papa muda karena aku butuh konsentrasi tinggi untuk fase-fase akhir masa koas.
"Papa..." ujar princess dengan nada takut. "Kenapa pliincess kesini?"
Aku mengendongnya masuk ke dalam rumah, menemui mommy yang memainkan tuts piano dengan irama sedih, mendayu-dayu di ruang keluarga.
"Berhentilah meratapi kematian Prince, Mom!" teriakku sambil menurunkan princess.
Princess yang baru sekali mendengar ku berteriak bersembunyi di belakangku dan nyaris menangis.
Mommy menutup tuts piano dan menoleh.
Sungguh, ibuku sudah tua, sudah sepuh. Aku bahkan tidak tega jika marah padanya. Tapi aku juga butuh waktu, butuh istirahat sejenak dari rasa lelahku yang begitu merenggut pikiran dan tenaga.
"Kemarilah!" Mommy melambai.
Princess menggeleng kecil, masih takut dengan mommy karena penolakannya dulu.
Aku mengusap wajahku sebelum berjongkok menatap princess. "Salim sama nenek! Princess cantik harus seperti Tante! Harus sopan dan manis." kataku lembut.
"Tapi, Pa!" Princess merengek. Aku menggeleng menolak rengekannya. "Nenek baik!"
Aku menggandeng tangannya untuk mendekati mommy.
__ADS_1
Mommy berlutut untuk menyejajarkan posisi tubuhnya dengan princess.
"Peluk nenek princess Aleta!" kata mommy serak.
Princess menoleh ke arahku, aku mengangguk dan tersenyum lebar.
Dan pemandangan ini membuatku tidak kuat melihatnya. Aku memilih pergi daripada ikut menangis melihat mommy menyadari kesalahannya.
Di lantai dua, aku justru bertemu dengan Daddy. Si tega nomer dua.
Selama aku koas di rumah sakit, aku diperlakukan sama seperti dokter muda lainnya. Tidak ada yang spesial meski aku sudah menjadi relawan kesehatan yang tidak di gaji.
"Tumben pulang, Boy?"
Aku mengumpat. Jangankan datang ke rumahku untuk menjenguk cucunya, di rumah sakit Daddy sok-sokan jadi bos besar yang harus di hormati.
"Aku hanya memulangkan cucu kalian!" kataku ketus. Daddy tergelak dan merangkulku.
"Terimakasih sudah menjaga cucu kami, dan itu adalah ujian bagimu supaya kamu menjadi kuat sebelum masuk ke dalam keluarga calon istrimu!" Daddy merangkulku, menyeretku ke dalam ruang kerjanya.
"Selama ini Daddy dan mas Kaysan masih berkomunikasi dengan baik. Membahas kisah cinta kalian berdua, bisnis dan apapun itu yang berkaitan sesama pria-pria dewasa nyaris tua ini!" Daddy tergelak sendiri, seperti ada yang lucu. Padahal tidak, semua terasa tegang bagiku. Serius gak main-main!
Daddy memintaku duduk di sofa, sementara beliau mengeluarkan surat-surat dari dalam brankas besi.
Daddy menaruh surat-surat berharga di depanku. Aku membukanya satu persatu.
Aku menelan ludahku susah payah.
Harta ini benar-benar banyak, begitupun tanggung jawabnya.
"Aku harap Daddy masih berumur panjang!" Aku menutup berkas-berkas berharga ini dan menggeleng. "Aku belum siap! Tugasku masih banyak! Dan jika Daddy memang berkomunikasi dengan baik bersama Ayahanda Kaysan. Daddy sudah paham apa planning ku tahun depan!" ujar serius.
Daddy kembali tergelak. "Boy..., kalian sudah bernafsu untuk bercinta dan membangun rumah tangga?"
Aku berdehem. "Daddy kira berapa banyak laki-laki yang mengharapkannya? Sedangkan aku beruntung memiliknya sejak SMA! Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku mencintainya!"
Daddy mengangguk paham. "Seorang ayah bisa mengerti ketika seorang anak sangat mencintai seorang gadis pilihannya."
Aku berdehem, menunggu lanjutnya.
"Ibumu dan mas Kaysan sudah lama terikat janji kerjasama sejak kamu masih dikandungan! Dan, yang harus kamu tahu, boy! Kekayaan keluarga kita sebagian berasal dari ayah kekasihmu."
__ADS_1
Aku kembali menelan ludahku yang pahit. Menyadari bahwa selama ini, aku memanjakan princess dari uang yang Ayahanda Kaysan berikan pada ibuku. Aku hanya mengembalikannya dikit demi sedikit.
"Tenang, Boy... Ibumu akan mengurusnya nanti sebelum kalian menikah. Jadi Daddy harap, kamu bisa menafkahi keluargamu dengan jerih payahmu sendiri. Bukan seperti mommy dan Daddy!"
Daddy menepuk pundakku. "Mommy sudah membaik, terimakasih sudah menjaga princess! Sekarang selesaikan tugasmu dan berikan yang terbaik untuk kekasihmu dan kami!" Daddy tersenyum lembut.
Aku memandang beliau sebelum beranjak. Daddy mengangguk tegas.
"Princess akan Daddy rawat dengan baik, sumpah, Boy!"
"Janji?" pintaku galak.
Princess adalah anakku selama enam tahun ini dan meskipun aku tinggalkan bersama orangtuaku sendiri, aku tidak benar-benar meninggalkannya. Hak asuh anak pun akan menjadi milikku.
Daddy tergelak lagi. "Harta benda milik Prince cukup banyak, mau kamu ambil alih atau jual saja untuk tabungan princess?"
Aku mengibas-ibaskan tangan. "Harta yang paling berharga adalah keluarga!" teriakku sebelum masuk ke dalam kamarku semasa kecil.
Aku tersenyum kecil. "Ternyata anak mommy bisa mandiri juga, tapi Bi Tutik juga tidak boleh pergi dari rumahku!" Aku menguap, seraya memejamkan mataku dan terlelap sebelum pagi harinya rumah orangtuaku disibukkan dengan kedatangan pengacara.
"Tanda tangan disini pak Revi!" kata notaris PPAT.
"Papa Revi!" sergah princess. Mommy tergelak di belakangnya. Tawa yang kembali aku dengar setelah sekian lama. Ada kelegaan di hatiku.
"Aku gak siap menerima tanggung jawab sebesar ini, Mom, Dad! Ini terlalu banyak."
"Harus banyak! Karena istrimu punya lebih banyak darimu." sahut Mommy.
"Tapi dia sederhana, Mom! Dia cuma minta aku cepet-cepet menikahinya! Itu saja permintaan yang sebenarnya mudah tapi ternyata aku belum siap melakukannya!"
Daddy menggeleng cepat. "Kalian sudah cukup dewasa untuk memulainya dan laki-laki harus menepati janjinya! Siap atau tidak."
Aku menghela nafas berat dan mulai menandatangani surat-surat pengalihan harta benda milik Prince menjadi atas namaku selaku wali sah dari princess Aleta.
"Sudah! Sekarang apalagi?" tanyaku cemberut. "Laporan koas-ku masih banyak."
Mommy dan Daddy tersenyum lebar.
"Mengunjungi calon besan mommy dan Daddy dong! Perlu banyak persiapan untuk pernikahan kalian."
Aku menggeram frustasi. Kangen Dalilah tapi berat di koas. "Terserah kalian! Aku mau belajar dulu biar pinter terus jadi dokter!"
__ADS_1
Semua orang tergelak, menyadari aku benar-benar frustasi menghadapi pinangan ini.
...Happy Reading...