
Dalilah.
Aku tersenyum lega saat mas Revi eh mas Jati sudah sah menikahiku di akhir bulan Januari.
Tidak ada kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan bagaimana perasaanku saat ini. Aku bahagia, aku terharu, dan aku bersyukur atas pernikahan ini.
Akhirnya dalam hidupku, aku bisa melewati fase ini dengan baik dan penuh perjuangan.
Mas Revi alias Mas Jati menjadi cinta pertamaku dan cinta terakhirku. Menjadi satu-satunya laki-laki dalam hidupku yang akan menemaniku belajar bersama-sama berolah rasa, menyamakan rasa agar selaras kedepannya.
"Sembah suwun, Ibunda." Aku mengatupkan kedua tangan seraya mencium kedua pipi Ibundaku.
Selama prosesi ritual mantenan, Ibunda adalah orang yang tak pernah jauh dariku dan slalu memastikan bahwa aku baik-baik saja.
"Sudah ayo siap-siap untuk menyambut suamimu."
Aku menghirup nafas dalam-dalam sebelum berjalan menuju bangsal kencana untuk menyambut iring-iringan manten lanang dari bangsal kesatrian.
Mas Jati mengatupkan kedua tangan seraya membungkuk hormat saat melihatku datang.
Aku mengangguk kecil. Mas Jati tampak gagah menggunakan baju basahan dengan banyak printilan-printilan emas yang menghiasi tubuhnya. Dia berkharisma, tampan dan uhuyyy. Badannya putih bersih.
Setelah upacara panggih atau pertemuan pertama setelah resmi menjadi suami istri adalah balangan gantal yang berarti saling melempar gulungan daun sirih sebagai cerminan suami-istri harus saling melempar kasih sayang.
Mas Jati empat, aku tiga.
Selanjutnya, adalah prosesi Wijikan atau membasuh kaki suami sebelum memecahkan telur.
Di upacara panggih ini, juga terdapat prosesi pondongan yang berarti mengangkat mempelai wanita yang dilakukan oleh mempelai pria dan saudara laki-laki yang dituakan oleh Ayahanda, yaitu om Nanang.
Prosesi pondongan dilakukan sebagai perlambang menghormati kedudukanku sebagai putri mahkota yang tetap harus disegani meskipun dengan suami sendiri.
Selepas upacara panggih selesai, aku dan mas Jati melakukan prosesi tampa kaya, dhahar klimah, dan kirab pengantin.
Di momen kirab pengantin ini, suasana iring-iringan kereta kencana menjadi daya tarik utama khalayak ramai karena disinilah menjadi momen langka yang ditunggu-tunggu masyarakat sebelum pesta rakyat dimulai.
Mas Jati tersenyum lebar untuk menyambut antusiasme masyarakat yang melihatnya. Aku tersenyum lega, tapi juga deg-degan. Nanti malam apa kira-kira sudah bisa hehehe...
Iring-iringan temanten anyar berserta sanak saudara tiba di bangsal Nirmolo untuk melakukan resepsi dan ramah tamah dengan tamu undangan.
Aku dan mas Jati saling bergandengan tangan untuk saling menguatkan satu sama lain karena seharian nanti hanya akan diisi penuh dengan prosesi mantenan sampai selesai prosesi akhir yang berupa pamitan kepada semua orang yang sudah terlibat dalam prosesi pernikahanku dan mas Jati yang berlangsung lancar, sakral dan penuh kasih.
"Terimakasih Ayahanda." Aku mengatupkan kedua tanganku seraya kembali melakukan sungkeman kepada Ayahanda. Tanpa beliau aku hanyalah gadis dua puluh lima tahun yang kepengen nikah tapi maju-mundur tidak yakin.
Apalagi mas Jati, bojoku yang belum juga lulus menjadi dokter muda. Bisa senewen saya kalau nikahnya masih tahun depan.
__ADS_1
Ayahanda tersenyum hangat dan menyentuh kepalaku. "Pulanglah."
Aku mengatupkan kedua tangan seraya menunggu mas Jati berpamitan dengan orangtuaku dan orangtuanya.
Hari sudah menjelang senja ketika mobil menjemput kami di bangsal Nirmolo. Aku dan mas Jati memang memutuskan untuk menginap di kamarku sebelum nanti kembali rembugan mau dimana kita tinggal setelah menikah.
"Mas Jati..." panggilku dengan lembut sembari berjalan memasuki rumah.
Mas Revi yang baru menyandang nama tersebut masih belum sadar jika aku memanggilnya.
Aku tersenyum maklum. "Mas Revi..." panggilku lagi.
Laki-laki ini meringis. Aku membasahi bibir dan ikut meringis.
"Aku harus memanggilmu apa, Lil?" tanyanya sambil menatapku.
"Dik Lilah!" jawabku. "Dan aku pun akan memanggilmu dengan mas Jati, nama baru yang diberikan Ayahanda untukmu, mas!"
Mas Revi mengangguk malu-malu. "Semoga aku sekuat pohon jati, Dik!" ucapnya penuh harap. Aku mengangguk.
"Iya..."
Beberapa abdi dalem yang sudah mengetahui bahwa aku dan mas Jati akan tinggal disini menyambut kedatangan kami di beranda rumah.
Mereka membungkuk hormat seraya membuka pintu dan mengantar kami ke kamar.
Aku dibantu oleh penata rias dan busana istana untuk melepas printilan-printilan yang aku gunakan, sementara bojoku malah mengamati kamarku dengan terpukau, heran dan bingung.
Aku tersenyum maklum, pokoknya harus maklum karena inilah pertama kalinya dia masuk ke dalam kamarku yang girly namun juga tetap menggunakan unsur Jawa.
"Mas Jati..."
"Hmm..."
"Kok hmm... kenapa?"
Mas Jati berbalik dan menatapku lekat-lekat.
"Hehehe."
Aku mengerutkan kening dan ikut hehehe, dan semua abdi dalem yang masih dikamar ku juga ikut hehehe karena tingkah mas Jati yang lucu.
"Sini dulu mas, biar dibantu melepas pakaiannya!" pintaku lembut.
Mas Jati mengangguk patuh. Aku pun menunduk malu saat satu persatu dari printilan-printilan yang menghiasi tubuhnya terlepas.
__ADS_1
Proses terakhir dalam pesta pernikahan ini akhirnya selesai. Aku tersenyum malu saat mas Jati keluar dari dalam mandi sementara sudah tidak ada orang di kamarku.
"Mana baju gantiku, Dik?" tanyanya pelan.
Aku menepuk keningku. Lupa baju gantinya masih ada di dalam lemari.
"Sebentar." jawabku seraya berjalan mendekati lemari yang sudah ada beberapa potong bajunya.
Aku mengambilkan celana kain dan kemeja batik karena nanti masih ada makan malam bersama keluarga inti. Tapi, pakaian dalam ini dan celana kolornya membuat pipiku tersipu malu.
"Ini mas, maaf lupa." Aku menyerahkannya lalu menunduk.
"Gantinya di kamar mandi ya, jangan disini." kataku lirih
"Kenapa?" tanya mas Jati. Handuk terlepas, aku menunduk semakin dalam ketika satu persatu pakaian ia pakai di depanku.
Gak punya malu, ish.
"Dik Lilah." panggilnya dengan merayu seraya memegang pinggangku.
Tubuhku merinding, aku membeku.
Aku mengangguk pelan tanpa suara.
"Lihat aku, Lil!" serunya lagi dengan maksa. Aku terkekeh kecil seraya mendongkak.
"Iya mas." Tawaku nyaris meledak, antar malu dan lucu dengan situasi mendebarkan ini.
Mas Jati berdecak kagum dan menarikku lebih mendekati, intim dan bersentuhan.
"Istriku."
Aku menyeringai lebar. "Mas Revi..."
Satu kecupan manis mendarat di keningku dan pelukan hangat membuatku haru.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaanku hari ini, Lil! Semua mengalir begitu saja sampai aku benar-benar terbawa kesini, ke dalam keluargamu."
Aku mengusap punggungnya. Punggung ini sudah pasti gerogi sejak kemarin. Tapi bagaimanapun juga, semesta sudah mengizinkan kita untuk bersama adalah proses dimana doa-doa kami sudah direstui pemilik semesta ini.
"Terimakasih sudah menjadi bagian dalam proses pendewasaan diriku dan setia untuk menepati janjimu dulu. Lilah suka, tapi Lilah bingung. Setelah ini kita ngapain mas?"
Mas Jati terkekeh geli, ia menempelkan keningnya di keningku dengan hidung yang saling bersentuhan.
"Kita tidur berdua."
__ADS_1
...Happy Reading...