
"Thankyou, Bim." Ku terima tissue yang ia berikan dan mengelap sepatu dan betisku yang terkena cipratan air.
Setelahnya terdengar bel masuk berbunyi. Aku dan Bimo bergeges menuju kelas dengan jarak yang kita sepakati bersama.
Namun saat aku berbelok ke kanan dengan langkah terburu-buru dan tidak melihat situasi sekeliling, seseorang menabrak ku dan membuatku hampir terjatuh jika Bimo tidak segera menahan punggungku. Aku mengerjap, agak kaget dengan sentakan lembut dari Bimo. Ia menegakkan tubuhku sebelum berjalan mendahuluiku.
"Upsss... Sorry!" katanya sambil menutup mulutnya dengan bibir yang sengaja melongo.
"Asih..." gumamku.
"Apa kabar? Sudah lama sekali tidak bertemu. Habis darimana? Liburan atau di penjara dalam sangkar emas?" ujarnya dengan nada menyindir.
Aku tersenyum ragu, "Aku baik, Sih. Tapi maaf aku buru-buru ke kelas!"
Asih menahan lenganku saat hendak melangkah dan mencengkeramnya erat,
"You say we will be friends and bestie. But, your father make Baskara gone!"
Aku mengernyit bingung, "Baskara pergi? Kemana?"
Asih berdecih dan mengomel dengan logat bahasa Belanda yang tidak aku mengerti.
Ku angkat bahu saat ia malah meninggalkan aku yang terpaku memikirkan omongannya.
Ngomong-ngomong soal Baskara. Kemana dia? Kenapa selama aku dihukum oleh Ayahanda dia tidak datang menjengukku. Katanya sahabat!
Oh Tuhan! Ternyata memiliki pacar membuat lupa dengan sahabat sendiri.
Ku langkahkan kakiku lebar-lebar saat mengetahui sudah terlambat masuk ke kelas. Dan sambutan yang tak terduga begitu aku rasakan. Beberapa siswa melihatku acuh tak acuh, beberapa lagi membuang muka saat aku berusaha tersenyum ke arah mereka.
Samar-samar ku dengar kalimat yang akan membekas di ingatanku selamanya.
Anggota OSIS, telat, bikin heboh, sok-sokan pengen dikagumi dan dihormati tapi kelakuan gak mencerminkan kepribadian seorang anak Raja!
Aku menoleh ke arah manusia yang berbicara seperti itu.
__ADS_1
Senyuman tipis aku torehkan meski hatiku terluka karena.
"Di rumahku ada cermin. Setiap hari aku ngaca, tapi sayang cerminku bilang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Termasuk anak Raja! Pangeran Harry saja sampai melepas gelarnya hanya demi menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa. Coba tanyakan padanya, seberat apakah menjadi keturunan Raja? Kalau kamu sudah tahu jawabannya. Mungkin diam lebih baik!"
Seorang guru yang baru saja masuk ke dalam kelas langsung memukul-mukul papan tulis.
"Welcome back princess. Are you ready for studing?" seru Miss Kirana. Aku mengangguk, "Yes, Miss." jawabku sambil membuka buku pelajaran ku. Ku lirik Bimo dengan ekor mataku. Dia pindah tempat duduk, sekarang dia duduk samping meja belajarku, meski kami duduk sendiri-sendiri.
Miss Kirana tersenyum tipis, "Saya harap kamu tidak ketinggalan mata pelajaran bahasa Inggris karena beberapa Minggu lagi kita sudah memasuki ujian semester ganjil!"
Aku berdehem dalam hati. Ya walaupun aku sekolah online dan mempelajari semua mata pelajaran sendiri tanpa pembahasan yang lebih detail, aku cukup memahami bahasa Inggris. Maklum, Oma Laura slalu mengajakku berbicara dengan bahasa Inggris karena Oma tidak mau lupa dengan budayanya.
***
Jam mata pelajaran pertama sudah berakhir dan jam istirahat dimulai. Beberapa siswa sudah keluar duluan dari kelas.
Pagi ini aku berniat menemui Baskara sebelum menemui mas Revi untuk sarapan bersama. Aku kangen padanya, sebulan tidak bertemu dengan pasti dia juga merindukan aku. Sahabatnya yang paling menggemaskan ini.
Saat aku hendak beranjak berdiri, Bimo memanggilku.
"Apa, Bim?" tanyaku, ku angkat tas belanja kain berisi bekal dari Ibunda, "Mau ketemu Baskara dan memberinya sarapan ini."
"Hah... Kemana? Kenapa dia pindah sekolah? Sejak kapan?" tanyaku beruntun dengan nada gusar.
Ingatanku langsung melesat cepat mengingat pembicaraan Asih tadi pagi. Saat ia menabrakku dan marah-marah tidak jelas.
"Ayahanda yang membuatnya pergi? Tapi kenapa, Bim! Jawab!" cerca ku sambil menarik kursi dan mendekatinya.
Bimo menghela nafas, "Bukan aku yang harus menjelaskannya. Makanlah bekalmu, Ibunda ratu akan menanyakan padaku nanti apakah kamu memakan bekalnya atau tidak!" mintanya tegas.
Aku langsung menyerahkan bekalku ke tangannya, "Kamu yang makan! Aku mau sarapan dengan mas Revi!" kataku langsung berdiri, mas Revi pasti sudah menungguku. Kasian dia, kasian hati kami berdua yang sudah lama merindu.
"Kemana?" tanyanya sambil mengikutiku.
Aku menghentikan langkahku tepat di pintu kelas, berbalik arah saat kerumunan siswa berada di koridor sekolah. Bimo dengan cepat menghentikan langkahnya. Ia menatapku dengan gusar... Meski wajahnya datar, matanya terlihat penasaran.
__ADS_1
"Bim... Selama aku gak sekolah, mas Revi dimana, ngapain aja?" tanyaku penasaran sambil menyaut bekal yang aku berikan pada Bimo. Bimo terkesiap, lantas melongok sebentar keluar kelas dan menghampiriku lagi, "Kamu ke kantin saja sana, ada uang jajan gak?" tanyaku langsung. Mungkin melukai hatinya, tapi aku malas juga menjadi tontonan siswa lainnya saat ini. Biarkan mas Revi menghampiriku di kelas kalau aku tidak menemuinya di kantin.
Bimo mengangkat bahunya, wajahnya malah terlihat berpikir.
"Lama!" cercaku sambil merogoh kantong seragamku, "Sana ke kantin! Beliin teh manis hangat, kamu juga beli! Makannya batagor dua bungkus! Cepet!" paksaku sambil menyerahkan uang sakuku padanya.
Bimo melihat uang yang aku berikan, lalu menatapku heran, "Ndoro ayu sudah membawa bekal, untuk apa beli dua?" tanyanya.
"Nurut gak? Gak nurut aku pecat!" kataku galak.
Bimo mengangguk pasrah, ia menatapku sebentar seolah meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja.
"I'm oke, Bim." ujarku sambil tersenyum.
"Jangan pergi!" tegasnya sambil menunjuk bangkuku. Aku mengangguk. Lagian mau pergi kemana. Kedatanganku disekolah ini pasti sudah membuat kehebohan. Sudah ku pastikan jika aku berkeliaran di lingkungan sekolah. Siswa-siswi lainnya bakal menggunjingku lagi, dan aku belum terlalu siap untuk itu.
Ku buka bekal yang dibawakan Ibunda.
"Nyammmyyy..." seruku senang. Ibunda memang terbaik. Makanan kesukaanku ada di dalam sini semua. Mendadak aku merasa senang dan melupakan kejadian tidak menyenangkan disekolah ini.
Ku kunyah roti bakar dengan selai kacang sambil menatap nanar pintu ruang kelas, berharap mas Revi nongol dengan senyumannya dan rantang milik Ibunda.
Tapi kenyataannya, sampai Bimo datang membawa dua cup teh hangat dan batagor pesananku. Mas Revi tidak datang.
"Bim... Gak lihat mas Revi di kantin?"
"Kelas sebelas sedang praktikum kimia di lab."
Bimo menaruh cup teh hangat milikku di meja, begitu juga batagornya. Aku menyipitkan mataku, "Kembaliannya?" tanyaku.
Bimo tersenyum kecil, "Masih utuh. Pak Samsudin tidak punya kembalian uang pecah."
Aku menyipitkan mataku, "Jadi aku utang sama kamu nih?"
Bimo menggeleng, "Aku traktir. Anggap saja sebagai bentuk terimakasih ku karena Ndoro ayu sudah mengizinkan aku untuk menjagamu." Bimo tersenyum meski wajahnya tidak melihatku lagi.
__ADS_1
Lidahku mendadak kelu. Tak mampu lagi aku telaah kenyataan ini, jika Bimo senang menjagaku.
...Happy Reading š„°...