ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 96.


__ADS_3

Revi.


Tiga hari berlalu, tapi sikap Dalilah masih mengusikku. Dia masih diam saat aku bertanya bla...bla...bla dan lainnya.


"Dalilah tuh cemburu, Rev! Dibilangin pindah kelas aja kalau kamu mau dia lega!" sahut Reno mencurahkan isi kepalanya.


"Masa harus sampai pindah kelas hanya gara-gara cewek itu? Nanti aku dikira gak bener-bener cinta sama Dalilah dan gamang goyah menghadapi cewek sialan itu!" kataku malas sambil membuang pembungkus makanan.


Reno terbahak, terdengar mencelaku dengan tawanya.


"Gak gitu juga, Rev! Harus diingat lagi kalau Lilah itu lagi pacaran sekali, ada rasa baru yang baru ia ngerti sekarang saat cewek itu datang ganggu kamu!" timpal Reno mencerahkan harapanku yang sempat buntu.


"Jadi maksudmu Lilah benar-benar sayang sama aku?" tanyaku memastikan.


Buahahaha....


Reno kembali terbahak, ia menepuk-nepuk punggungku yang begitu payah menghadapi Dalilah.


"Baru cemburu aja udah panik, apalagi kalau sampe marah terus minta putus! Rev, Rev... sekalinya bucin tetap bucin!" ledek Reno. "Lagian setahun kemarin kalian ngapain aja sampai gak sadar kalau kalian ini saling sayang tapi banyak pantangan!" sambungnya lagi.


Aku menyesap rokok elektrikku dan menelengkan kepala.


Hari ini hari Kamis, aku berada di studio musik untuk latihan nge-band. Jadwal tetap yang sudah mommy tentukan.


"Setahun kemarin tuh rasanya aku sama Lilah itu cuma berkomitmen untuk bareng-bareng tanpa banyak kata cinta! Kamu tahu sendirilah, unek-unekku selama ini gimana. Cuma, dia itu manis banget, Ren! Dan polos. Aku suka!" Aku menghembuskan asap rokokku.


Reno kembali terbahak. Seneng banget lihat aku tersiksa.


"Ke rumahnya aja sono daripada kayak gini! Melas banget uripmu, Rev! Sekalinya serius pacaran cuma dibikin jumpalitan! Maju kena, mundur kena!"


Hahaha.


"Damn you, Ren!" celetukku sambil beranjak. Aku menyaut kunci mobilku sebelum keluar dari studio musik.


Well, kelas tiga aku boleh bawa mobil dan fasilitas ini bisa aku gunakan untuk ngedate sama Dalilah biar lebih privasi.


***


Sepanjang perjalanan menuju rumah Dalilah, aku sama sekali tidak menghubunginya meskipun ini sudah jam delapan. Satu jam lagi jam berkunjung tamu tidak berlaku.


Tapi aku berusaha gak peduli. Dan tetap bersikukuh ke rumahnya. Tak lupa boneka Teddy bear seukuran badannya aku beli tadi di toko istana boneka.


Aku memarkirkan mobilku di tepi jalan, di bawah pohon super rindang dengan cahaya temaram lampu jalan.


Aku pasti terlihat konyol sekali saat menggendong boneka ini.

__ADS_1


"Kulo nuwun pak!" ujarku kepada penjaga gerbang.


Related, penjaga gerbang melongok sambil tersenyum lebar padaku. Sudah hafal sekali jika ini Revi pacar ndoro putri.


"Tumben malam-malam, Mas! Ndoro putri sudah siap-siap untuk tidur jam segini!" cetusnya memberi tahu seraya membuka pintu gerbang.


"Hanya sebentar, Pak! Boleh saya masuk?" tanyaku sambil menatap ke beranda rumah yang bermandikan cahaya orange dari lampu gantung diatasnya.


"Saya hubungi pihak dalam dulu, karena beberapa hari ini ndoro putri jarang keluar dari rumah."


Aku menunggu sesaat sambil berpikir, Dalilah kenapa jarang keluar rumah. Apa dia ada masalah lain selain denganku?


"Monggo, langsung saja ke tempat biasanya!"


Aku mengangguk lega, ku bawa boneka ini dengan ringan ke tempat biasanya Dalilah dan aku ngobrol.


Aku menyematkan senyum saat ku lihat Dalilah juga berjalan dari arah lain untuk menemuiku.


Kami sempat berpandangan sebelum jarak langkah ini semakin mendekat.


"Buatmu..." kataku sambil mengulurkan Boneka kepadanya. Dalilah mengamatiku boneka yang aku beri sebelum menggeleng pelan.


"Cukup! Jangan terus-terusan ngasih aku barang!"


Dalilah berhasil membuatku mengeratkan cengkraman ku di boneka ini dengan kesal. Dia kenapa sih, kenapa jadi cuek gini sementara masalah cewek itu kan gak parah-parah banget.


bergeming menunggunya bicara.


"Karena aku gak mau!" jawabnya ketus.


"Please, Lil! Jangan childish! Ayo bicara baik-baik..." pintaku seraya mengangsurkan boneka ini lagi tangannya. Memaksa tangannya mendekap boneka ini. Biarpun gak hangat seperti tubuhku tapi lumayanlah buat dipeluk-peluk atau dipukul-pukul saat jengkel.


"Aku belinya cash, jadi tolong di terima! Kalaupun kamu gak suka, berikan kepada sepupumu yang mau!" kataku sebelum membuang nafas. Cukup bingung maunya gimana karena dia gak bilang apa-apa. Cuma diam, cemberut, buang muka, dll.


"Angel said, you're a goodboy and she wants to be your girlfriend, next!"


"Kapan kamu ketemu sama dia?" tanyaku menahan berang.


Angel bener-bener kuntilanak berwajah malaikat. Bisa-bisanya dia menyentuh Lilah tanpa sepengetahuanku. Mana Bimo gak berangkat-berangkat sekolah!


"Toilet!"


"Dan kamu juga yakin kalau dia akan menjadi pacarku selanjutnya? Atas dasar apa kamu yakin, apa karena kamu udah bosen jadi pacarku? Sama hubungan kita?"


Dalilah mendongkak, matanya perlahan melebar dan menggeleng.

__ADS_1


"Aku tahu kekuranganku dalam hubungan ini! Dan datangnya Angel di antara kita membuatku sadar kalau mas Revi memang terlalu baik buat aku. Dan aku gak bisa menjanjikan apa-apa untuk kita!"


"Kamu terlalu naif, Lilah! Berhentilah bersikap seperti ini karena aku sama sekali gak memandang Angel di sekolah. Aku bahkan males kalau harus berurusan dengannya! Please.... Princess, tahun ini kamu bakal punya KTP, jadi kamu bukan lagi cewek lima belas tahun yang aku kenal! Kamu udah gak sepolos dulu! Angel dan kamu beda, dan aku gak pernah membandingkan kamu sama siapapun!" uraiku panjang sambil was-was, takut ada yang denger.


"Tapi dia ganggu aku! Aku gak tenang!"


Astaga... Anak raja satu ini punya otoriter tersendiri meskipun hanya mengenai urusan perasaan dan terintimidasi oleh Angel. Tapi bagaimanapun, caranya cemburu itu lucu-lucu ngeselin.


"Jangan di respon!" pesanku sambil melirik jam tangan. "Udah ah aku mau pulang sebelum diusir dari sini!"


"Kok cepet-cepet! Padahal Lilah nungguin mas Revi datang walaupun aku gak minta!" ujarnya sambil mengeratkan pelukannya pada boneka itu lengkap dengan senyum manis mahadewi. Akhirnya.


Tapi mendadak aku iri dengan boneka ini. Dia menang banyak sementara aku baru sekali di peluk Dalilah dan itu menjadi boomerang bagiku sendiri.


"Boleh gantian?" Aku menarik boneka yang Dalilah bawa dan menaruhnya di atas kursi panjang.


Dalilah menatapku kikuk, dan malu-malu.


"Kangen gak?" tanyaku.


"Lumayan!"


"Gini nih yang bikin kamu ragu sendiri! Kalau kangen bilang kangen, jangan cuma lumayan!" sergahku cepat.


"Lumayan kangen."


Buahahaha...


Aku tertawa dalam hati sambil menganggukkan kepala.


"Aku pulang dulu, udah jam segini! Takut kamu dimarahin dan gak enak sama keluargamu."


Dalilah mengangguk. "Iya... Besok pagi Lilah tunggu di basecamp, mas Revi mau sarapan apa?"


"Apa ajalah asal kamu yang buat, jangan Ibunda! Jangan lupa pakai cinta biar enak!" sahutku sambil melambaikan tangan dan terkekeh.


***


Paginya... Dalilah membawa satu rantang susun berisi makanan buatannya. Aku terbelalak saat harus menghabiskan semuanya dengan dalih seperti ini.


"Ini permintaan maaf dari Lilah karena udah cuek sama mas Revi beberapa hari ini. Jadi tolong dihabisin kalau mas Revi tulus maafin Lilah!"


Ada yang mau bungkus?


Bisa deh datang ke sekolah sekarang.

__ADS_1


...Happy Reading...


...🤭🤣...


__ADS_2