ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 11


__ADS_3

Revi.


Yang mengerti memang bisa memahami.


Yang tidak mungkin hanya bisa mencela.


Dan inilah hidup.


Bukan soal tidak bisa melupakan mantan.


Bukan pula soal merelakan.


Karena proses melupakan dan merelakan adalah pembelajaran.


Jika hati enggan, sampai kapanpun akan enggan.


Jika hati ikhlas, seorang gadis sudah menemaniku sejak dulu.


***


Aku memarkirkan mobil di pelataran parkir TK Aisha seraya melepas sabuk pengaman.


Mataku menangkap wajah princess yang cemberut saat aku melepas sabuk pengamannya.


"Cantik-cantik kok cemberut! Kenapa?" tanyaku heran.


Princess mengerucutkan bibirnya, ia menarik-narik kebaya yang ia gunakan untuk fashion show lomba kartinian nanti.


"Teman-teman pliincess ditemani mama, cuma pliincess yang ditemani papa!" ujarnya sambil mecucu.


Aku tergelak sendiri... Bocil ini juga belum mengerti bagaimana aku juga malu diantara ibu-ibu yang kadang menatapku heran, sedih, dan iba. Tapi namanya juga bocil, belum peka.


"Princess gak suka ditemani papa? Tadi papa sudah bilang sama bibi aja, tapi maunya sama papa saja!" kataku mengulang kalimatnya waktu di dandani oleh penata rias tadi.


Princess semakin memanyunkan bibirnya. "Terus kapan Tante jadi mama, pliincess, pa?" ujarnya penuh harap.


Aku tersenyum kecil. Bulan Februari, Maret, dan April kami tak bertemu walau sesekali kami saling membalas pesan. Dan janjiku pada gadis kecil ini adalah menjanjikan Dalilah menjadi ibunya jika ia tidak merengek meminta bertemu dengan Dalilah sepanjang hari.


"Masih lama! Tapi papa janji setelah papa selesai koas di rumah sakit kakek, papa akan membawa Tante ke rumah kita! Oke? Senyum ya biar nanti kita menang!" bujuk ku lagi, entah menang atau enggak yang penting fashion show.


"Janji?" Princess mengangkat jari kelingkingnya. "Ini jari kebaikan, papa!"


Aku menautkan jari kelingkingku di jari kelingkingnya. "Janji! Doain papa ya." pintaku, karena doa anak yatim pasti slalu mujur.


Princess mengangguk pelan. Aku tersenyum lebar. "Good girls!"


Aku turun dari mobil, memutari kap mesin, membuka pintu mobil dan menurunkannya dengan pelan. Benar-benar mirip tuan putri yang harus dilayani.


Aku menggandeng princess, mengajaknya untuk masuk ke dalam gedung pertemuan TK Aisha. TK sekaligus Playground ini membuatku dan bibi Tutik berterimakasih karena menjadi tempat penitipan princess selama setengah hari dalam kurun tiga tahun ini.


Aku mengangguk sopan seraya menulis daftar hadir. Membiarkan princess berkumpul dengan teman-teman mainnya.


"Mas Revi jadi ikut lomba fashion show bersama anak?" tanya bu guru.


Aku mengangguk. "Tidak ada yang perlu di rubah, dan saya merasa ibu-ibu disini akan salfok sama saya!"


Bu guru ini terkekeh kecil. "Baik mas, silahkan duduk di kursi yang sudah tertera di undangan!"


Aku mengangguk sambil mengambil jatah snack dan berlalu.


Benar jika kehadiranku di antara ibu-ibu yang memakai sanggul dan kebaya ini menyita perhatian. Aku tersenyum dan mengangguk sopan, berusaha tak acuh seraya duduk di kursi yang berada di barisan tengah-tengah.


Aku yakin kamu sekarang ketawa, mas.

__ADS_1


Putrimu benar-benar membuatku dewasa sebelum waktunya, terimakasih.


Princess duduk di sebelahku, ia menatap snack box yang aku bawa.


"Papa, lapar!"


Aku menarik nafas dalam-dalam, sambil membuka Snack box dan menaruhnya di pangkuannya.


"Jangan banyak-banyak, nanti kebelet eek! Papa repot kalau harus berurusan dengan toilet wanita!" ujarku sedikit panik.


"Kenapa?" ujarnya sambil mengunyah roti. Aku menggoyangkan jari telunjukku.


"Jangan bicara waktu makan! Oke! Princess tidak begitu." Nasihat ku.


Dia menurut, bagus! Aku lantas membuang nafas dan menikmati acara kartinian anak TK ini dengan bersuka cita.


Sampai giliran lomba fashion show orangtua dan anak dimulai. Aku mulai deg-degan yang tidak jelas.


"Papa, kenyang!" ujar princess sembari mengembalikan snack box padaku, aku menatap isinya.


Ya Allah, Prince! Anakmu.


Aku mengusap bibir princess yang belepotan makanan. Sungguh, bibirnya yang tadi di poles lipstik tipis sekarang sudah hilang tersapu oleh tissue.


Princess beranjak, mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kemana kemarin menemui teman-temannya sampai ia heboh sendiri.


"Tante!!!" Princess bersorak kegirangan melihat sesosok tubuh ramping memakai kebaya khas kerajaan diatas karpet merah untuk fashion show nanti.


"Dalilah!" gumamku tak percaya.


"Selamat pagi Raden Ayu Dalilah Sekar Kinasih!" sapa host dengan sopan dan riang.


"Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk menjadi juri di acara anak-anak kecil ini yang ingin mencontoh perilaku Raden Ajeng Kartini di masa lalu! Namun, berhubungan kota kita adalah kota istimewa dan memiliki seorang putri yang meneladani dan mencontoh perilaku Raden Ajeng Kartini. Anak-anak kecil ini bisa melihat contoh langsung seorang Raden Ajeng Kartini dimasa kini."


Aku tersenyum. Dia hebat dan seketika


punggungku merosot.


Fashion show di depan Dalilah ditengah ibu-ibu? Menangislah aku saat ini.


"Papa aku mau kesana, ke tempat Tante!" Princess menarik-narik ujung kemeja batik lengan panjang yang aku kenakan.


Aku menggeleng. "Tante baru menjadi ibu guru! Jadi jangan diganggu... Nanti marah-marah!" kataku menakut-nakutinya. Hanya karena aku tidak mau terjadi kehebohan disini.


"Oh... Seperti Bu Siska?" ujarnya sambil menunjuk gurunya. Aku menyeringai bodoh saat tatapan kami bertemu dengan gurunya itu. Terlihat jutek memang.


"Hush..." Aku menarik princess untuk berdiri di depanku seraya menunggu giliran. "Nanti senyum yang manis dan jalan yang anggun seperti Tante, bisa?"


Princess mengangguk pelan. Ia tetap bergerak-gerak untuk mencuri pandang ke Dalilah. Aku juga.


"Princess Aleta dan Bapak Revi Bramasta!"


Jakunku naik-turun. Aku gerogi namun tetap mengikuti Princess Aleta maju ke depan panggung.


Aku menatap Dalilah sebentar. Ia tersenyum lembut dan mengangguk kecil. Bahasa tubuh yang mengisyaratkan aku harus PD.


Oh Tuhan, Dalilah. Kamu memanglah satu-satunya wanita yang mudah menjungkirbalikkan diriku.


"Papa."


Aku menunduk. "Kenapa?" tanyaku.


"Pliincess malu!" jawabnya sambil cemberut lagi.

__ADS_1


Aku berjongkok dan merapikan kebayanya. "Tuan putri tidak boleh malu, tuan putri harus senyum yang manis seperti Tante! Biar terlihat manis."


Aku beranjak dan menggandeng tangannya. "Biar Tante senang melihat princess disini, dan princess menjadi pemenangnya!"


"Apa kalau pliincess menang, Tante mau jadi mama pliincess?" tanyanya dengan polos. Aku mengangguk dan tersenyum manis.


Princess menggandeng tanganku.


Aku menyelipkan tangan kiri ku ke dalam saku celana seraya berjalan di atas karpet merah dengan gaya cuek.


Namun saat melintas di depannya, aku mengulas senyum, menimpali ucapan princess yang memanggil Dalilah berkali-kali.


Dalilah melambaikan tangannya, princess langsung lepas dari genggamanku, berlari ke arahnya.


"Hei, belum sampai ke ujung karpet!" seruku menahan malu.


Orang-orang terkekeh geli. Aku mengendikkan bahu dan menyelesaikan fashion show ini pumpung ada kesempatan untuk menjadi model sehari.


Aku tersenyum getir dan menoleh ke arah Dalilah yang memangku princess sambil tetap menilai lomba ini.


Aku memilih bersandar di dinding, menikmati acara ini sampai selesai dengan mata yang tak pernah lepas dari mereka berdua.


Dalilah menggandeng princess ke arahku.


"Menyenangkan?" katanya dengan kilau geli di matanya.


"Menurutmu?" balasku sambil membuang nafas panjang. Aku mengambil alih princess yang ogah-ogahan jauh dari Dalilah.


"Sebentar ya, Tante hanya mau cuap-cuap sebentar! Nanti ketemu lagi dengan Tante!" ujar Dalilah menenangkan.


Princess mengangguk, aku memegang kedua bahunya supaya tidak kabur lagi. "Pergilah, selesaikan tugasmu!" kataku.


Dalilah mengangguk, lengkap dengan senyum menawan nan anggun yang ia miliki.


Kami berdua menunggu sampai satu persatu siswa mendapat piala lomba fashion show. Tidak ada yang menang, cuma apresiasi terhadap siswa-siswi agar percaya diri.


Aku tersenyum dan mengambil piala untuk princess Aleta.


Kamu harus bangga dengan putrimu, mas! Tenanglah di surga.


Aku menggandeng tangan princess keluar gedung pertemuan dan membantunya masuk ke dalam mobil.


"Tante mana, Pa?" tanyanya. Aku mengusap wajahnya yang berkeringat dengan tissue.


"Tunggu sebentar. Tante baru pamitan dengan Bu guru!" ujarku. Princess mengangguk, ia menguap.


Aku menunggu Dalilah di samping mobil, sambil mengirim foto-foto princess kepada mommy. Biar mommy tahu, cucunya sehat dan kuat.


"Maaf lama!"


Aku mendongak, Dalilah membawa banyak Snack box ditangannya, senyumnya mengembang sempurna di bibirnya.


"All you can eat?" ajaknya dengan jenaka.


"Dimana sopirmu?" tanyaku memastikan.


"Aku bawa mobil sendiri!" jawabnya, seraya tersenyum lebar. "Karena perempuan masa kini harus mandiri, agar tidak bergantung pada lelaki!"


Aku tergelak. "Aku tunggu di rumah. Hati-hati!"


Dalilah mengangguk, ia melambaikan tangannya ke arah princess sebelum pergi ke mobil Mini Coopernya.


"Pemilihan mobil yang tepat!" gumamku seraya membuntutinya dari belakang.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2