
Dalilah.
Pintu ruang ganti di ketuk dari luar. Aku beranjak dan langsung duduk di kursi dengan jarak aman antara aku dan cowok-cowok ini.
Pintu terbuka, aku menoleh. Ayahanda yang datang sambil menyipitkan mata.
"Apakah putriku mulai menggunakan otoritas untuk kepentingan pribadi?"
Aku mengangguk. "Sekarang Lilah akan berpikir positif jika apa yang Lilah miliki adalah keistimewaan yang menjanjikan apa-apa! Lilah akan menikmatinya tanpa meninggalkan protokoler istana dan menyia-nyiakan masa mudaku!" jawabku sambil tersenyum lebar.
Ayahanda mengamatiku lalu memalingkan wajahnya untuk melihat cowok-cowok yang masih terlelap ini.
"Apa yang putriku lakukan selama mereka tidur?" selidik Ayahanda.
"Mengamati!" jawabku sambil memasang wajah bercanda dan berkata ringan.
"Dengan bau badan yang menyengat seperti ini?" Ayahanda mendesah.
"Ibunda suka bilang kalau Ibunda suka dengan bau ketiak Ayahanda. Lilah udah nyoba tapi bau banget keringatnya mas Revi!" kataku sambil cengengesan.
Ayahanda melebarkan matanya sambil mengusap kepalaku.
"Sudah cukup! Ayo keluar! Mereka harus mandi dan siap-siap..." Ayahanda tersenyum hangat. Aku mengangguk namun sebelum keluar aku membangunkan mereka satu persatu.
Kebanyakan pada enggan untuk bangun apalagi Mas Revi malah menggeram kesal.
"Nanti, Mom!" sungutnya sambil membetulkan posisi tidurnya.
Aku menoleh ke arah Ayahanda. Ayahanda tersenyum lebar dan mengibaskan tangannya.
Aku mundur dan Ayahanda membangunkan mereka berenam dengan menepuk-nepukkan pundak mereka sambil memijit punggungnya.
Mereka mengerjap seraya menegakkan tubuhnya saat Ayahanda memantul-mantulkan bola basket di lantai.
Semua terbelalak melihat Ayahanda yang berada disini namun Ayahanda dengan manis memintanya untuk tenang saja.
"Satu jam lagi pertandingan final dimulai! Gunakan waktu ini untuk mandi, makan, dan stretching." titah Ayahanda sembari melempar bola ke arah mas Revi.
Untung dia sigap menangkapnya, kalau enggak. Kepalanya pasti berdentam-dentam dan malu.
Semua mengangguk patuh. Ayahanda menggandeng tanganku sebelum keluar dari ruangan ini.
***
Satu jam berputar begitu cepat. Suasana berubah menjadi serius saat pertandingan final di mulai.
Di menit-menit pertama, skor begitu jauh. Mereka begitu kewalahan menghadapi lawan.
Skor sempat imbang, namun kembali disusul oleh lawan.
Aku dan Pandu yang duduk berdampingan, terbelalak melihat mas Reno yang tersungkur di lantai.
"PELANGGARAN!" teriak penonton.
Mas Reno di papah ke pinggir lapangan. Ia dan wasit tampak bercakap-cakap sebelum tangannya diangkat ke udara.
Mas Reno menyerah, sisa tenaganya sudah habis.
"Three on Three!" sebut wasit.
Semua tim basket tampak berunding untuk menentukan siapa saja yang akan bertanding merebutkan gelar juara.
Kami ikut tidak tenang. Tapi Three on Three slalu mengingatkan aku pada waktu itu.
__ADS_1
Semoga semangatnya mas Revi masih sama untuk memenangkan pertandingan hari ini dan menang membawa pulang juara pertama dan hadiah.
Tujuan utama kami para siswa yang ikut lomba adalah piknik ke Bali gratis dari hadiah perlombaan. Xixixi.
Slalu ada pancingan untuk memacu semangat. Ya kan, anak muda gitulah. Harus diiming-imingi dulu biar optimis dan semangat.
Pertandingan di mulai lagi. Wajah kami semua tegang karena sisa waktu yang terus berkurang dengan skor yang naik-turun.
"Kalau kalah juga juara dua! Kenapa harus panik Mbak!" ujar Pandu santai.
"Kalah menang memang dapat juara. Tapi kalau menang juara satu itu lebih kelihatan unggul!" jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari lapangan.
"Halah! Mas Revi gak perlu unggul dalam prestasi, cukup unggul dimata Ayahanda dan Ibunda!" sahut Pandu.
Duh Gusti, bocah baru mau naik SMP kelas satu saja udah sok-sokan nasihati Mbakyunya.
"Kan mas Revi juga mau membanggakan dirinya sendiri, termasuk orangtuanya juga! Kok terus apa-apa harus unggul dimana orangtua kita! Weslah... r**a genah kowe ki!" sahutku sambil berdiri.
Skor berakhir imbang. Wasit memutuskan untuk pinalti sebagai penentu siapa pemenangnya.
Para pemain beristirahat selama lima menit. Selama istirahat. Mas Revi terus menatapku. Aku tersenyum lebar.
Paling gak senyumku sudah menyemangatinya. Hahaha.
Pandu menyenggolku. "Mbok sing waras, Mbak!" Aku mendengus.
Istirahat berakhir. Kami semua ketar-ketir dan berharap yang terbaik.
Pinalti terjadi tiga kali dengan skor masing-masing tiga poin jika bola masuk semua ke dalam keranjang.
Bola pertama meleset jauh.
Bola kedua masuk.
Kami semua menggeram. Skor hanya ada tiga.
Apa sekarang aku boleh doa yang jelek-jelek? Karena sejatinya doa bisa menjadi kebaikan juga bisa menjadi celaka.
Tapi aku cuma mau skor imbang lagi, jadi harus pinalti sekali lagi. Itu aja!
Tim lawan bersiap. Satu persatu dari ketiga pemain basket mulai memantul-mantulkan bola sebelum bola mereka menerjang ring basket. Namun hanya perlu enam poin untuk membuat mereka menjadi pemenang dan hasilnya.
Kami harus menerima kenyataan bahwa perwakilan tim basket dari kota kami tercinta hanya mendapat juara runner-up.
Ayahanda menepuk kedua bahuku dari belakang.
"Ajak mereka semua makan malam di istana!"
Aku mengangguk. Kami pun bertepuk tangan dengan riang saat juri menyebut nama kota kami tercinta sebagai juara kedua.
Tim basket membaur dengan kami. Mereka tersenyum minta maaf.
Gak ada masalah yang berarti. Inilah pertandingan, menang kalah sudah biasa yang penting sportifitas dan kerja sama.
Dan yang paling ditunggu-tunggu adalah pengumuman perlombaan seni budaya.
Aku justru deg-degan karena ini. Kalau kami kalah, wasalam...
Aku gak boleh pacaran.
Aku harus rajin belajar.
"Dan pemenang pertama adalah... kota... Banjarmasin!!!"
__ADS_1
Ha-ha-ha... Aku ketawa getir saat Ayahanda mencengkeram bahuku pelan.
"Pemenang kedua dibawa pulang oleh kota... Denpasar!"
Aku mulai tidak tenang. Kalau juara satu dan dua udah, berarti masih ada juara ketiga.
Aku harap cemas. Dan saat pengumuman juara ketiga aku langsung menunduk.
Gara-gara doa jelek tadi nih.
Aku jadi celaka sendiri.
"Wait... wait... wait... Tunggu dulu dong. Jangan bubar langsung! Kakak belum selesai nih karena kakak masih punya pengumuman yang tak kalah penting!"
Aku sudah pasrah menerima ini. Menerima hukuman. Tadi aku udah puas cium bau ketek mas Revi sampe mau pingsan. Sekarang kalau mau LDR boleh lah, buat uji coba.
"Sebelum adik-adik semua bubar jalan dan pulang ke kota masing-masing! Kakak Dewa akan mengumumkan juara favorit penonton dan juara kolaborasi paling spektakuler di ajang perlombaan seni budaya kemarin! Kakak bangga lho bisa melihat adik-adik yang sangat kompeten dan berbakat membawakan seni budaya dari kota masing-masing! Tapi yang paling mengejutkan bagi kami adalah kolaborasi paling spektakuler antara budaya Korea yang merambah negara kita dan budaya Jawa yang bisa di satu padukan dengan baik. Kami benar-benar terkejut melihatnya. Inilah keberagaman budaya dari berbagai negara yang harus kita hormati agar selaras... Jadi juara favorit dan kolaborasi paling spektakuler di samber oleh..."
Aku bersyukur. Aku gak jadi dihukum.
***
Sepulang dari Jakarta, kami mendapatkan libur di hari Kamis-Jumat. Aku menghabiskannya dengan beristirahat.
Di hari Sabtunya kesibukan terjadi di ruang makan. Makanan khas yang slalu disajikan di istana tertata rapi di atas meja.
Buah-buahan segar juga ada, bunga sedap malam pun iya. Harus ada, wajib di dalam vas bunga.
Aku juga sudah cantik, sudah pakai dress putih yang dibelikan Ibunda waktu kunjungan kerja ke Jakarta kemarin.
"Temen-temen belum datang, Mbak?" tanya Ibunda.
"Sebentar lagi, Bun! Baru on the way!" jawabku sambil melihat layar hpku.
"Mbak yakin rambutnya cuma di jepit?"
"Hu'umm!" Aku mengangguk.
Setengah jam kemudian, semua teman-temanku datang. Dengan kikuk mereka masuk ke ruang makan.
"Thankyou so much for coming." ujarku sambil tersenyum lebar.
"Terimakasih sudah mengundang kita ke dalam kediaman keluarga ndoro putri. Well, ini istimewa banget karena kami semua bisa berkumpul di sini setelah perjuangan yang panjang untuk bisa pulang dengan tenang. We know that!" ucap Fransiska.
Aku mengangguk. "Selamat menikmati jamuan makan malam bersamaku. Silahkan duduk..." ujarku sambil menarik kursi untuk aku duduki.
Ayahanda dan Ibunda hanya melihat dari kejauhan, membiarkan aku dan teman-temanku menikmati kebersamaan ini sebelum nanti kami sama-sama menghadapi ujian naik kelas dan tidak bisa ketemu lagi secara intensif seperti saat latihan dulu.
Mereka mengatupkan kedua tangannya sebelum dengan sendirinya mengambil apapun yang ingin mereka cicipi. Mereka tersenyum senang. Aku juga, aku punya banyak teman sekarang.
Makan malam selesai. Mereka berpamitan dengan orangtuaku sambil membawa oleh-oleh yang mereka beri.
Aku juga senang saat mas Revi memberiku bunga kamboja mini yang ia bawa sekaligus dengan potnya.
Kamboja mini yang sudah menjadi bonsai.
Ini mahal, bisa aku jual kalau butuh uang. Hehehe.
Aku menulis di buku diary ku yang bersampul merah muda sebelum menutupnya dan mengganti buku diaryku dengan sampul merah hati.
Kelas dua nanti kira-kira apa ya yang terjadi padaku?
...Happy Reading...
__ADS_1