ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 45.


__ADS_3

Dalilah.


Pagi ini udara dingin menusuk hidungku saat aku membuka jendela kamarku, terlihat rintik-rintik hujan kecil yang turun membasahi dedaunan dan bumi.


Bunga-bunga yang tumbuh di taman terlihat segar dan bergoyang-goyang diterpa hujan yang mulai lebat tak terelakkan.


Aku menunduk. Ku lihat seragam sekolah yang sudah aku kenakan sejak tadi.


Sejenak aku merasa ragu untuk kembali ke sekolah, meski semua sudah aku siapkan sejak semalam. Sejak Revi pulang dari rumahku dan mengatakan bahwa pagi ini ia akan mengajakku untuk sarapan bersama di salah satu tempat yang sering kami datangi berdua. Tapi mengapa rasanya aku enggan untuk beranjak sedikit saja dari kamarku setelah aku membaca semua berita gosip yang beredar di media sosial.


"Mbak..."


Aku menoleh. Ku lihat Ibunda membawa sebuah kantong belanja kain berukuran kecil.


"Bekal buat nanti disekolah." kata Ibunda sambil mengangkatnya keatas, lalu menaruhnya disamping tas sekolahku.


Aku menghela nafas, ku ambil hpku dari kantong rok sekolahku.


"Lilah gak usah pakai hp dulu, Bun." ujarku sambil mengangsurkan hpku ke tangan Ibunda.


Ibunda mengernyitkan dahi, lalu dengan bingung Ibunda membolak-balikkan hpku.


"Sudah rusak? Atau mau ganti model terbaru?" tanya Ibunda sambil melihatku dengan wajah bingung.


"Ada beberapa yang mengganggu pikiran Lilah. Ehm... Memang sebaiknya Lilah tidak pakai hp dulu!" kataku melas.


Sungguh kata-kata netizen yang paling benar membuatku terpojok, mereka jahat dengan kata-katanya yang menyakitiku begitu sadis. Padahal itu hanya hal wajar dan bisa dimaklumi. Bahkan kalau aku boleh bilang, ada Ningrat yang memiliki tatto, piercing, dan skandal lainnya yang tidak terekspos seperti kejadianku. Begini saja sudah heboh banget.


"Itulah sebabnya Ayahanda menyita hpmu. Karena Ayahanda tidak mau memberimu beban lagi yang akan membuatmu sedih karena berita-berita itu!" Ibunda mengelus rambutku, "Itulah pula alasannya Ayahanda juga meminta Bimo untuk menjagamu disekolah." Ibunda tersenyum lembut.


Aku langsung memeluk Ibunda.


"Lilah takut, Bun." ujarku dengan bibir yang bergetar.


Ibunda mengelus-elus punggungku, sampai punggungku terasa hangat karenanya.


"Ada mas Bimo yang menjaga Mbak Lilah disekolah. Ada mas Revi juga. Jangan takut, tidak apa-apa."


Aku mengangguk kecil dan Ibunda melepas pelukannya. Tapi jantungku masih berdetak kencang yang membuatku cemas.


"Hari ini spesial untuk Mbak Lilah karena Ayahanda yang akan mengantar Mbak sekolah."

__ADS_1


Ibunda mengambil tasku, memakaikannya di punggungku.


"Anggap saja Mbak sebagai siswa baru yang belum mengenal teman-teman disekolah." Ibunda tersenyum lagi dan lagi...


Aku tersenyum saat Ibunda mengedip-edipkan matanya.


Aku meraba-raba kantong sakuku, terasa kempes, "Bunda... Uang sakunya belum!" kataku sambil meringis.


"Mintalah Ayahanda!" Ibunda menunjukkan hpku yang beliau taruh di atas meja belajar, "Yakin Mbak tidak membawanya ke sekolah?"


Aku menggeleng sambil tersenyum kaku, "Sebentar!" Ku ambil hpku dan mengirim pesan untuk mas Revi. Sekalian juga aku balas ucapan cintanya kepadaku semalam tadi.


Me too mas Revi. Lilah sudah sekolah.


Aku mengangguk mantap. Ku taruh hpku dan menggantinya dengan bekal makan siangku.


"Lilah siap, Bun!" ujarku mantap.


Ibunda merangkul bahuku dan kamipun sama-sama tersenyum sambil berjalan beriringan menuju parkiran mobil.


Tak banyak inginku hari ini. Aku hanya ingin kembali sekolah, menikmati masa-masa itu. Masa-masa yang tak pernah terulang kembali dalam hidupku.


"Sepertinya kalian pantas menjadi kakak dan adik jika seperti ini."


"Ada apa tuan putri?" tanya Ayahanda bingung.


"My best father!" ucapku langsung.


Ayahanda mengecup puncak kepalaku.


Suryawijaya yang berada dibelakang Ayahanda mendesis lalu berkata dengan judes, "Satu kali kesalahan bisa dimaafkan. Dua kali kesalahan adalah khilaf yang disengaja!"


Aku mendongak menatap Ayahanda dengan mata iba nan manja yang sengaja aku buat-buat.


"Lilah sudah janji, tapi Ayahanda harus memberi keringanan untuk remaja seperti Lilah." rayuku pada Ayahanda.


Ayahanda mengangguk, "Ayahanda percaya Mbak Lilah bisa memegang janji yang sudah Mbak Lilah ucapkan." Ayahanda mencubit hidungku, supaya bangir katanya. Aku mengangguk, kamipun berjalan menuju parkiran mobil.


Setelah berpamitan dengan Ibunda.


Mobilpun perlahan bergerak keluar dari istana dan melesat di bawah hujan yang masih turun dengan derasnya.

__ADS_1


***


Aku menghentakkan kakiku berkali-kali saat mobil hampir ke dalam area parkir sekolah.


Tanganku basah penuh dengan keringat dingin. Berkali-kali pula aku menghela nafas dan berusaha menetralkan detak jantungku. Aku benar-benar cemas pagi ini.


Dan Ayahanda menyadarinya. Beliau memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah, lalu melepas sabuk pengamannya.


Seulas senyum manis beliau berikan seolah itu bisa menguatkan hatiku.


"No matter what happened to you, you still perfect to me my princess. Kuatlah seperti ibumu!" Ayahanda menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga sambil tersenyum terus.


Aku masih cemas. Ku lihat keluar jendela mobil. Banyak siswa yang sudah berada disekolah, Bimo pun sudah berdiri di koridor sekolah. Diam menatap mobil ini.


"Apa Bimo bisa diandalkan Ayahanda?" tanyaku ragu.


Ayahanda mengangkat bahu, "Bisa. Bekerjasamalah dengan baik bersamanya. Karena jika kamu berbuat kesalahan lagi, Bimo juga akan Ayahanda hukum!"


Aku mengangguk, lalu teringat dengan uang saku yang belum Ayahanda berikan.


Tanganku menengadah, sambil menyeringai lebar.


"Jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada Bimo ya Mbak. Kalau tidak ada yang menjemput Mbak Lilah nanti, sudah pasti Mbak Lilah harus pulang bersama Bimo! Itu juga sudah tugasnya!" ujar Ayahanda seenaknya.


Aku langsung membelalakkan mata dan meremas uang lima puluh ribuan yang diberikan Ayahanda.


"Kalau pulang bareng mas Revi?" tanyaku dengan nada sebal.


"Tidak masalah, asal mas Revi mau dibuntuti oleh mas Bimo! Hehe..." Ayahanda tertawa garing dan itu terdengar menyebalkan. Tapi, sudah lama juga aku tidak mendengar tawa Ayahanda.


Aku mendengus. Lalu, ku cium punggung tangan Ayahanda.


"Hati-hati Ayahanda. Jalanan sedang licin. Jangan ngebut nanti benjut!" Ayahanda menggeleng dengan senyum yang masih terlihat diwajahnya.


Aku menghela nafas sebelum membuka pintu mobil. Mungkin benar kata Ibunda, hari ini aku akan menjadi siswa baru yang berpura-pura tidak mengenal siapapun disini. Hanya bapak-ibu guru yang aku hormati dan mas Revi yang aku sayangi. Begitu juga bodyguard yang aku miliki.


Dan, saat aku membuka lebar pintu mobil dan menurunkan sebelah kaki kiriku. Sebuah payung melindungku dari tetesan air hujan.


Aku mendongak, seulas senyum ramah membuatku hampir pingsan karenanya. Sejak kapan dia mempunyai senyuman maut seperti itu. Ajaib sekali makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini. Bisa jutek, bisa ramah, bisa nyebelin, bisa bikin melting. Ah... Bimo. Kenapa harus kamu yang menjadi bodyguard ku. Ayahanda memang top-lah, yang beginian aku suka daripada diikuti oleh abdi dalem yang sudah tua. Hihihi...


"Payung siapa?" tanyaku heran setelah kami berdua berjalan cepat-cepat menuju menuju koridor sekolah saat hujan semakin deras. Padahal tadi dia masih berdiri anteng seperti cagak rumah.

__ADS_1


"Satpam!" jawabnya singkat sembari memberiku tissue untuk mengelap sepatuku yang basah. Aku mengernyitkan, sejak kapan dia bawa tissue ke sekolah. Cowok lagi, buat apa coba.


...Happy Reading 🄰...


__ADS_2