ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 31


__ADS_3

Revi.


Aku mengatupkan kedua tangan seraya duduk bersila di hadapan beliau.


Tak aku pungkiri, aku kadang bingung harus memposisikan beliau sebagai seorang bapak mertua atau seorang raja.


"Sendiko dhawuh, Ayahanda!"


Ayahanda tersenyum samar dan diam mencermatiku.


Sungguh harus aku mulai darimana ini, aku deg-degan parah.


Tapi aku harus tetap bernafas saat ini. Aku tidak boleh terlihat konyol karena keadaan ini, bisa-bisa Bimo dan adik-adikku akan menertawakan aku.


"Ayahanda membutuhkan sesuatu?" tanyaku sambil mengatupkan kedua tangan. "Atau Ayahanda ingin periksa tekanan darah?"


"Bagaimana putriku?"


Aku menelan ludahku yang seret di tenggorokan. Pertanyaan ini sungguh ambigu. Jelas aku tidak mengerti apa yang dimaksud Ayahanda.


"Dalilah wangi seperti namanya!" jawabku jujur.


"Apa kamu memperlakukan putriku dengan baik? Apa dia menyusahkanmu?"


Jawab apa ya.


Dalilah memang menyusahkanku dengan permintaannya yang meresahkan. Aku bahkan heran kenapa ia bisa memiliki rasa penasaran yang begitu tinggi meski semua pendidikan ia telan dengan baik.


Tapi lagi-lagi hanya teori, belum puas kalau belum praktek! Dan wanita memang slalu begitu, ingin memahami sesuatu yang baru.


"Saya memperlakukan Dalilah dengan baik, karena ia pun juga memperlakukan saya dengan baik. Hanya saja, Dalilah


cukup menyusahkan saya dengan permintaannya yang aneh-aneh!"


"Kamu tidak menikmatinya?"


Astaghfirullah.


Aku ingin mengelus dada. Ayahanda dan putrinya benar-benar tidak mudah dipahami.


Aku mengatupkan kedua tangan. "Saya malu untuk membicarakan hal ini, Ayahanda."


Ayahanda menepuk bahuku, seulas senyum terbit di bibirnya.


"Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui."


...Pernikahan yang sukses tidak cukup hanya sekali jatuh cinta, tetapi berkali kali jatuh cinta pada orang yang sama....


Aku mengatupkan kedua tangan dan mengangguk, meski aku tidak tahu artinya apa, yang pasti itu pitutur luhur yang baik.


"Dalilah menuruni sifat ibunya! Jail, energik dan sering membuat saya pusing dengan keinginannya yang keras kepala seperti saya! Terimalah dia seperti itu, sebab dia hanya ingin menjadikanmu satu-satunya laki-laki yang berharga dan menerima segalanya yang ia miliki untukmu."


Aku mengatupkan kedua tangan dan mengangguk perlahan.


Jadi Ayahanda juga korban atas keisengan Ibunda. Astaga, sementara aku bisa menebak jika Dalilah mewarisi genetiknya Ayahanda yang hmm... Ber-libido tinggi.


"Pelayanmu akan membuatkan jamu setiap hari! Nikmatilah waktumu." Ayahanda menepuk-nepuk pundakku.


"Ayah." ucapku tanpa sadar.


Ayahanda menunduk dan menatapku lekat-lekat. Beliau lantas menyunggingkan senyum lembut.


"Saya adalah ayahmu ketika di rumah! Bersikaplah lebih tenang karena saya tidak gigit anak saya sendiri!"


Aku tersentak. Terdengar seperti gurauan, tapi tetap terdengar serius. Aku mengangguk dan beranjak mengikuti beliau ke dalam rumah.


"Dalilah sudah menjelaskan tentang kontribusimu di kerajaan ini! Kapan kamu akan memulainya?"

__ADS_1


"Setelah ujian UKMPPD, Ayahanda! Saya masih butuh waktu untuk belajar." ucapku jujur, aku benar-benar diburu waktu untuk mengingat kembali materi-materi pelajaran dari semester awal sampai koas ini, sementara si cantik menungguku di kamar, membuat konsentrasiku buyar.


"Bukankah hidupmu sudah bergelimang harta? Kenapa harus menyibukkan diri menjadi dokter, sementara dengan jelas kamu akan menjadi pemilik rumah sakit ayahmu!" urai Ayahanda, mengecoh keteguhan ku.


Aku mengerjap. "Saya tidak akan bisa menjadi direktur utama sebuah rumah sakit jika saya tidak memahami teknik dasar ilmu kedokteran, Ayahanda!"


"Bukan karena putriku menginginkan suami seorang dokter? Itu cita-citanya waktu kecil dan saya berharap ia akan menemukan suami yang sesuai harapannya!" sahut Ayahanda.


Aku melirik beliau sambil tersenyum. "Dalilah adalah alasan-alasan terbesar saya untuk menjadi seorang dokter!"


Ayahanda menepuk-nepuk pundakku, seolah bangga dengan jawabku yang kelewat jujur ini.


"Itu yang terpenting! Terimakasih, sudah mengambilalih tanggung jawab besar saya sebagai seorang ayah!" Ayahanda tersenyum lebar. "Jadikan dia semangatmu!"


Ayahanda menepuk bahuku lagi sebelum berlalu pergi. Aku terkesiap, jadi ini pembicaraan tentang apa to guys.


Aku mengusap rambutku dan berjalan menuju kamar. Aku tak habis pikir, Ayahanda senang sekali Dalilah aku ambil alih, apa begitu menyusahkan beliau saat muda dulu? Aku mengangkat bahu dan menyusuri koridor rumah.


Aku masuk ke dalam kamar, Dalilah menoleh, ia menyunggingkan senyum lembut sembari menutup laptopnya.


"Sudah mas?" tanyanya. Aku berdehem, melepas celana panjang ku, seraya menaruhnya di gantungan baju.


"Ayahanda rewel?" tanyanya lagi.


"Sepertimu!" jawabku. Dalilah malah hehehe. Benar kan dugaanku, Ayahanda dan putrinya ini satu server. Punya kekuatan telepati tanpa perlu berkomunikasi secara lisan.


Aku mengambil tas laptopku dan membukanya, sudah ku wanti-wanti istriku untuk jangan ganggu aku apalagi minta praktek malam ini.


"Mau kopi?" tawarnya. Aku mengangguk.


Dalilah keluar dari kamar, aku mengamati laptop dan hpnya yang tergeletak di atas meja kerja. Aku penasaran dengan isi chatting-nya dengan Arkananta, atau apapun hal yang mereka lakukan saat di Melbourne.


Dalilah pasti menyimpan banyak file di dalam laptopnya. Aku menatap ke arah pintu sejenak sebelum menghela nafas.


Ku buka laptopnya yang menampilkan lembar kerja Microsoft office dan macam-macam aplikasi yang ia buka tadi. Tapi tanganku tetap mencari file foto dirinya dan Arkananta.


Mereka terlihat dekat, seperti betul-betul sepasang kekasih yang bahagia.


Pintu berderit, aku tersenyum kaku dan melihatnya menyipitkan matanya.


"Lihat-lihat?" ucapnya, seulas senyum lembut ia berikan sesaat setelah menaruh secangkir kopi di atas meja.


"Duduklah." pintaku, Dalilah menurut. Ia duduk dengan anggun seraya menatap layar laptopnya. "Kamu penasaran dengan Arkananta, mas?"


Aku mengangguk. "Aku hanya ingin tahu kebersamaan kalian berdua! Mungkin ini berlebihan karena aku lancang melihatnya tanpa seizinmu."


Dalilah menyunggingkan senyum. "Kamu cemburu?" Ia menarik tanganku dan menaruhnya di pipinya. "Aku harap kamu cemburu!"


"Aku hanya penasaran sama sepertimu!" dustaku, padahal dadaku sesak karena kedekatan mereka berdua.


"Tidak cemburu?" tanyanya lagi dengan wajah memberengut.


"Apa harus?" Aku menarik tanganku untuk memencet tombol power dan menatap layar laptopku sendiri.


Dalilah menggeser fotonya bersama Arkananta, ia menggerutu sendiri.


"Dia bahkan cemburu saat aku memilihmu! Tapi kamu tidak! Bukankah cemburu tanda cinta?" ucapnya penuh tuntutan. Berharap aku cemburu dengan Arkananta.


Aku menarik jari jemarinya dan mengecupnya. "Aku cemburu! Dia tinggi, putih, matanya bagus. Aku kalah dalam segala hal dengannya, tapi karenamu, aku lebih unggul satu langkah darinya. Aku memilikimu, utuh!"


Dalilah tersenyum manis. "Terimakasih sudah cemburu, itu artinya kamu cinta sama aku!"


Aku mengusap kepalanya dengan gemas. "Tidak perlu ditanyakan lagi! Tidurlah, biarkan aku belajar dengan tenang..."


Dalilah menutup laptopnya, ia bahkan memberiku kesempatan untuk melihat isi hpnya sementara ia mengecup puncak kepalaku.


"Jangan malam-malam tidurnya, mas!"

__ADS_1


Aku mengangguk pelan. "Selamat bobok, sayangggg."


Dalilah pergi ke tempat tidur, ia tersenyum ke arahku saat aku melihatnya bersiap-siap memejamkan mata. Ia bahkan masih menatapku saat aku sudah serius membaca.


Aku turun dari kursi belajarku untuk mengecup keningnya. "Kenapa?" tanyaku heran.


Si cantik menggeleng pelan. "Cuma mau lihat kamu, mas!"


Aku tersenyum dan kembali mencium keningnya. Jika betul Dalilah jail seperti ibunya, sudah aku pastikan Ayahanda juga bakal merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Gemes-gemes kesal dengan sikap wanita ini.


***


Aku mengerutkan kening saat ujung hidungku di usap-usap pelan. "Bangun mas! Ini sudah pagi."


Aku berdehem, Dalilah si cantik yang semalam justru menungguku belajar sudah bangun lebih awal. Rajin sekali anak ini, suer, rajin juga menggangguku.


"Jam berapa, dear?" tanyaku tanpa membuka mata.


"Jam empat subuh!"


"Astaga, ini masih terlalu pagi untuk beraktivitas, Lilah "


"Hablum Minallah! Nanti tidur lagi boleh." ucapnya lembut, tangannya menepuk-nepuk pipiku pelan. "Ayo mas, ditunggu Ayahanda di masjid untuk sholat berjamaah!"


Aku bangkit dari tempat tidur secara otomatis. "Mandi pakai air hangat boleh, dear?" ucapku sambil berjalan dengan enggan ke kamar mandi.


"Boleh, mas!"


***


Aku dan Dalilah berjalan keluar dari serambi masjid yang berada di dalam istana, masjid yang menjadi saksi dimana aku menikahi wanita cantik ini.


"Ke rumah sakit jam berapa mas?"


"Jam tujuh, Lil! Kenapa? Ada keperluan?"


Dalilah menggeleng. "Ayo ke kamar lagi, sarapannya masih nanti jam enam."


Aku mengangguk cepat, aku masih butuh rebahan di kasur sebelum menghadapi hari ini. Namun baru beberapa langkah kakiku menuju kamar. Ibunda memanggil kamu berdua.


"Mau kemana Mbak, Mas?" Aku dan Dalilah menoleh ke belakang. Ibunda dan Ayahanda berjalan menuju kami.


"Ke kamar, Ibunda. Ada apa?" ucap Dalilah.


"Ke kamar terus, mentang-mentang pengantin anyar!" gurau Ibunda sambil menyikut lengan Ayahanda. "Ayo kita minum jamu bersama! Ibunda gak sabar kalian mencobanya dan merasakan khasiatnya."


Ibunda tersenyum lebar. Ayahanda mengulum senyum. Dalilah menganggukkan kepalanya.


Aku memegang cangkir yang berisi minuman berwarna hijau, beraroma daun sirih, merica dan bawang yang menjadi satu.


"Diminum mas, biar sehat."


Aku memejamkan matanya dan menenggaknya langsung.


Tenggorokanku terbakar, lambungku hangat, dan aku mual. Rasanya... Huhaaah... Aku tidak kuat, Dalilah langsung memberiku madu murni beberapa sendok dan menahan senyum.


"Jamu apa ini?" tanyaku heran.


"Itu kamu perkasa mas, hehehe!"


Mataku melebar. Aku menatap Ayahanda yang mengulum senyum seraya menikmati jamu yang aku minum tadi dengan santai.


Tanpa sadar aku mengusap tenggorokanku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi jamu ini nanti. Sungguh, aku hanya bisa bilang.


...Lututku lemas....


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2