
Revi.
Takut-takut aku mendongak menatap paduka Raja. Beliau menunjukkan seulas senyum tipis yang mengerikan bagiku.
"Rilex, boy. Mommy ada buat kamu." ujar mommy santai, sambil mengulas bahuku, "Maafkan anak saya paduka raja. Satu bulan ini bukan hari-hari yang mudah baginya."
Paduka raja mengangguk, "Duduklah. Saya sudah menanti perjumpaan ini kembali."
Mommy mengangguk, "Sudah banyak perubahan yang terjadi selama tujuh belas tahun ini. Anda sedikit lebih tua dari terakhir saya lihat." Mommy tersenyum setelah kami duduk semua.
Paduka raja tersenyum tipis, sambil menatap mommy, "Begitu juga dengan anda, Nyonya. Sepertinya sudah tidak pantas saya memanggilnya anda dengan panggilan mommy."
Mommy tergelak sendiri, beliau mengelus pipiku dengan pelan. "Anda masih mengingatnya! Dialah janin yang saya kandung saat mencari informasi tentang ibu Lastri. Dia tumbuh menjadi laki-laki yang mencintai buah cinta kalian. Sekarang saya yakin, hanya jalan Tuhan yang mempertemukan kita kembali."
Susah payah aku menahan tanganku untuk tidak menggaruk kepalaku yang sangat gatal karena bingung.
Astaga... Pembicaraan mana apa ini! Kenapa hanya wajahku saja yang terlihat bingung disini, sedangkan semua orang tersenyum manis menatapku. Termasuk Prince. Aku yakin dia akan membuat hal ini sebagai ide untuk meledekku nanti.
"Maaf, kenapa?" tanyaku pada semua orang yang ada disini. Ibunda tersenyum ramah sambil meminta izin untuk menemui princess di kamarnya.
"Si gencar! Cerdik seperti ibunya, hanya sedikit licik sama yang ia lakukan selama satu bulan ini." kata paduka raja, diiringi senyuman miring yang membuat otakku tidak bekerja sempurna. Aku linglung.
Ku tatap mommy, beliau justru terkekeh geli saat menatap wajahku yang seperti kesetrum listrik.
"Apapun yang kamu lakukan untuk princess selama satu bulan ini, paduka raja tahu."
Paduka raja tersenyum dan mengangguk. Lalu, pikiranku melayang kepada isi-isi surat yang aku tulis untuk princess.
Dusta apa yang harus aku katakan lagi kepada paduka raja. Lagi-lagi aku sukses kalah.
"Saya tidak melarangnya, sebab saya tahu. Jatuh cinta tidak salah, tapi untuk Lilah putriku. Jatuh cinta membuatnya sedikit lebih memberontak terhadap peraturan kerajaan. Maaf, memacari putriku memang perlu extra sabar. Tidak cukup hanya cinta, coklat, surat atau rayuan."
Haruskah aku salahkan dunia sekarang. Atau, takdir Tuhan seperti yang mommy katakan tadi. Mencintai princess adalah kesabaran. Dan aku belum sabar-sabar banget menghadapi kemelut cinta ini.
"Cinta pertama... Slalu indah namun juga akan menyakitikan. Apalagi kalian masih SMA. Mommy yakin, besok saat kamu lulus SMA, Rev. Lilah bakal update status gini, 'Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu. Selagi masih ada waktu. Jangan hiraukan diriku.
Aku rela berpisah demi untuk dirimu
__ADS_1
Semoga tercapai segala keinginanmu'." kata mommy sambil bersenandung.
Semua orang terkekeh kecil mendengar mommy bersenandung. Seolah, mereka---orang dewasa juga mengalami sendiri saat sekolah.
"Legend banget ya, Mom, lagu itu. Tiap putus gara-gara lulus sekolah. Pasti itu yang dinyanyiin. Chrisye emang top!" timpal Prince.
Ckckck... Keluar juga suara Prince. Aku pikir dia hanya akan diam karena takut salah tingkah.
"Mungkin itu bisa jadi ide bagimu untuk membuat lirik lagu tentang perpisahan saat sekolah, Prince."
Prince tersenyum dan mengangguk, "Coba nanti, Mom, kalau Revi curhat!"
Mommy menyentil telinga Prince, "Doa yang baik buat adikmu!"
Prince terkekeh kecil, "Biasanya dari curhat jadi lagu, Mom!"
Aku mendengus kesal sambil menghentak-hentakkan kakiku berkali-kali, gelisah. Sudah dua kali minum teh manis yang disediakan paduka raja, tapi princess tidak juga datang. Mana grogi membuat perutku keroncong. Ku lirik arloji di pergelangan tangan kiriku.
"Sebentar lagi." batinku.
Hah... Kutarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Apa princess masih dandan Ayahanda raja?" tanyaku langsung.
"Ya..."
Waktu berjalan pelan-pelan diiringi obrolan panjang kaum orang tua. Tanpa sepenuhnya aku sadari, sepasang mataku semakin naik ke atas yang langsung membuatku membuat senyum asimetri.
Oh, Tuhan. Pacarku menunduk malu-malu sambil tersipu. Aku sontak berdiri dan memanggilnya.
Mataku bertemu dengannya sebentar saat ia menjawab panggilanku. Mata malu yang membuatku senang melihatnya lagi. Telah lama ku nantikan pertemuan ini, namun waktu ini tidak tepat untuk mengatakan rindu saat paduka raja berdehem seolah itu nada peringatan.
Aku tersenyum masam. Benar juga, apalagi ini dihadapan semua anggota keluarga lainnya. Tidak mungkin aku memeluk princess disini.
Daddy tersenyum simpul saat aku kembali duduk dan menatap princess yang hanya menunduk tanpa banyak suara.
Lagipula ini bukan mimpi, apalagi tragedi. Ini hanya pertemuan pertama setelah satu bulan princess di pingit. Semua terasa canggung walaupun aku tahu kami mempunyai rindu yang membara di dalam hati.
Paduka raja berkata setelah berbincang alot dengan mommy. Ya, Tuhan. Kenapa ibuku tidak takut sama sekali dengan paduka raja, mommy berujar seperti dengan teman akrabnya saja.
__ADS_1
"Hanya boleh tatapan mata selama lima menit!"
Aku terhenyak ditempat dudukku. Lima menit hanya untuk bertatapan! Sepertinya paduka raja sedang bercanda. Tapi tidak! Paduka raja benar-benar serius hanya memberikan waktu selama lima menit untuk menuntaskan rindu ini. Ini benar-benar syarat gila.
Princess tidak tinggal diam, ia langsung memintaku untuk menatapnya.
"Tatap aku mas Revi. Tatap aku selagi mas Revi bisa menatapku dengan jelas. Karena aku tidak tahu harus bagaimana lagi setelah hari ini."
Tapi kenapa princess? Tapi kenapa aku merasa itu adalah kalimat firasat, seperti sesuatu yang kamu sampaikan dan membuatku harus menjangkau sendiri arti kalimat itu.
Aku yang berada di seberang mejanya. Menatap matanya dalam hening yang mendayu-dayu. Semakin dalam menatapnya, semakin aku jatuh kepada netra coklat yang mengerjap pelan lalu memalingkan wajahnya.
Seulas senyum manis terbit dibibirnya yang sengaja digigit sedikit bagian bawahnya, membuatku semakin gemas dengannya.
Aku menunduk sambil menahan tawa.
Parah. Aku malah semakin rindu padanya. Namun apa dayaku, tanganku tak boleh menggapainya. Dan, aku menyesal kemarin tidak membalas pelukannya dan mengelus punggungnya.
"Sudah waktunya makan malam. Mari, saya akan sangat senang jika kalian akan menghabiskan semua makanan yang pelayan sajikan." Ibunda tersenyum setelah bertutur kata dengan lembut, seakan mengerti semua kacau karena tatapan tadi. Seperti badai rindu yang menghempas lagi dalam benakku.
"Memang harus dihabiskan! Jika tidak saya tidak akan membiarkan kalian beranjak dari istana saya!" Ancam paduka raja, "Ikuti kami." Perintahnya.
Keluargaku beranjak berdiri setelah keluarga paduka raja terlebih dahulu berjalan menuju ruang makan.
Aku menatap punggung princess. Rambutnya yang panjang, bergoyang mengikuti langkah kakinya.
Dia berbeda, betul kata paduka raja. Princess bersolek. Bibirnya semakin ranum, merona. Ah... Aku akan menunggu sampai dia merekah sempurna. Bunga itu pasti akan semakin indah dan wangi. Namun, akan sulit juga untuk mempertahankannya. Karena bunga itu sudah pasti akan banyak yang menginginkannya. Memiliki dan ingin merawatnya. Dan, bunga itu adalah kekasihku sendiri.
Tapi benar kata orangtuaku tadi. Lebih dari satu setengah tahun lagi aku sudah lulus SMA. Aku akan memilih universitas untuk mewujudkan cita-citaku. Entah diluar negeri atau di dalam negeri. Aku belum tahu.
Diriku jadi langsung bingung, apakah nanti aku dan Lilah harus bertengkar karena masalah itu juga?
Serumit inikah cinta anak muda?
...***...
...Happy Reading. Next. š„°...
__ADS_1