
Revi.
"SMA TIGA... MAJU TERUS!!!"
Gemuruh suara yel... yel... dan tepuk tangan dari siswa dan seluruh staf sekolah membuatku bersemangat. Kami bersorak sekali lagi sebelum masuk ke dalam bus. Tapi dari semua yang bersemangat hari ini. Princess hanya tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya di atas kepala seraya merapalkan sesuatu.
Satu hal yang baru aku mengerti saat ia tetap membawa warisan leluhurnya jika sedang menjadi seorang putri.
Aku menghela nafas sebelum menghampirinya. "Ayo masuk!" ucapku seraya tersenyum lebar.
Dalilah hanya menggeleng. "Aku berangkat sama sopir, mas!" jawabnya sembari menunjuk mobil hitam di belakang bus.
"Gak usah! Ikut sekalian aja ke dalam bus!" tanggapku sambil menarik tangannya. Dalilah mendengus kesal dan menghempaskan tubuhnya di atas kursi penumpang.
"Maksa!" gerutunya sambil merogoh tasnya. Aku tersenyum samar seraya duduk di sampingnya saat bus mulai bergerak menuju tempat perlombaan.
Princess mengetik sebuah pesan dengan wajah serius. Saat aku hendak melihatnya. Princess menarik hpnya ke depan dadanya, seolah sedang menutupi sesuatu.
Aku menghela nafas lagi, apa princess sedang main rahasia-rahasiaan denganku?
"Kenapa? Gak boleh ?" tanyaku. "Privasi!" jawabnya sembari tersenyum tipis.
"Oh privasi."
Aku pun mengambil hp ku dan memberikan padanya. Princess sempat mengerutkan kening dan bertanya kenapa dikasih ke aku?
"Buka aja kalau kamu mau lihat-lihat isi hp ku. Boleh kok, gak ada privasi diantara kita." sindir ku sambil mendengus kesal.
Princess terkekeh, ia malah membuka fitur kamera untuk mengajakku berfoto bersama.
"Ayo selfie. Pumpung Lilah baru cantik." katanya sembari membasahi bibirnya yang ranum.
Oh Tuhan! Aku benar-benar bersanding dengan seorang bidadari! Semoga aku tidak khilaf untuk menyentuh bibirnya yang sedaritadi tersenyum manis.
"Come on mas! Lihat Lilah jangan begitu, kedip dong!" godanya dengan nada manis. Aku menggedipkan mata sebelum tersenyum ke arah kamera.
__ADS_1
Princess menyandarkan kepalanya di bahuku sembari mengedipkan sebelah matanya dengan sengaja. Apalagi dia memakai filter-filter yang sok-imut yang gak pernah aku gunakan. Tapi entah kenapa semua itu jadi bagus sekali saat princess mengabadikan momen dalam bus ini dengan berbagai ekspresi wajah yang menggemaskan.
Aku nyaris tak bisa menahan senyumku yang benar-benar merekah sempurna. Kenapa jadi romantis gini sih, bisa-bisa aku lupa caranya mendribel bola dan hanya mengingatkannya.
"Jangan di upload ya! Disimpan aja di hp!" ujar princess sembari mengembalikan hp ku. Aku menerimanya sembari ku lihat-lihat lagi hasil foto kami berdua.
"Kenapa?" tanyaku tanpa menoleh.
"Biasalah, mas Revi kayak gak tahu aja."
Princess tersenyum, ia terlihat menggenggam tangannya sendiri seraya menatap keluar jendela bus. Dia tampak berbeda, bahkan tidak meledak-ledak seperti biasanya. Tidak menghiraukan ucapan-ucapan yang terdengar menyindirnya. Dia biasa saja, dan seolah sebulan lamanya dihukum oleh keluarganya sudah merubah jati dirinya.
Aku tersenyum kecil seraya menutup punggung tangannya dengan telapak tanganku. Princess seketika menoleh dan tangannya terasa dingin.
"Everything get better, princess. Just do it!"
Princess mengangguk dan tersenyum samar. "Jadi apa ketua OSIS ini bisa menjadi pemenang hari ini?" tanyanya dengan wajah jenaka.
Aku mendengus. Kadang dia terlihat manis terus terlihat gusar. Terus sok mesra. Ealah, kenapa gak konsisten aja sih princess? Kamu membuatku resah tau!
"Idih... Kita kan beda tempat. Mana bisa aku lihat kamu tanding nanti!"
"Kita emang gak bisa saling mendukung nanti! Tapi, ahayyy.. Kita bisa naik ke podium bersama, bawa tropi juara!" seruku sambil menepuk-nepuk punggung tangannya. Gembira sekali bisa melakukan ini walau pak Bambang sedaritadi melemparkan senyum peringatan.
Aku senyum sendiri saat princess menarik tangannya dengan cepat dan aku menyentuh pahanya. Oh my Goddess... Pipi Dalilah merona malu dan membuang muka.
"Sori!" ucapku sembari berdehem. Princess justru terkekeh. "Lain kali harus sigap ya!"
Aku mengangkat bahu. "Untuk apa? Aku gak sengaja tadi!"
"Untuk tetap menjadi pacarku."
Aku mengernyit dan aku sadari bahwa itu adalah sebuah firasat.
***
__ADS_1
"Semangat princess! Do the best! Kamu bisa!" ucapku setelah kami tiba di gedung olahraga dan bersiap-siap di lokasi yang sudah ditentukan oleh panitia.
Princess mengangguk, ia melambaikan tangan sebelum pergi bersama guru seni dan teman satu kelasnya ke lokasi lomba kategori kesenian di luar gedung olahraga. Sedangkan aku dan teman-temanku menunggu giliran bertanding dengan sekolah lain di dalam GOR.
Prisia... Ketua cheers leader yang memakai baju ketat dengan rok garis-garis berwarna kuning dan biru itu mendekatiku. Aku menoleh sembari mengambil air mineral yang ia ulurkan.
"Kalau menang nanti kita jalan-jalan bareng yuk!" serunya yang langsung mengambil atensi seluruh pemain basket dan cheers leader. Mereka setuju dan mau gak mau aku juga setuju karena itu yang biasanya kami lakukan.
"Menang dulu baru jalan-jalan! Gak menang bakalan di lirik pak Bambang sepanjang hari esok kita semua!" seruku yang disambut kekehan dari semua anggota basket dan cheers leader
"Haha... Mampus dah! Lagian, Rev! Kamu tahu kan, Bapaknya princess-mu itu jadi pembuka acara pagi ini?"
Aku berdehem. Jelas, Ayahanda raja ada disini. Di area parkir GOR tadi saja princess sudah menemui beliau untuk meminta restu. Dan sekarang, saat sambutan hangat dari beliau yang menggema seisi ruangan. Dadaku bergetar.
"Damage banget suaranya! Adem tapi tegas!" gumamku seraya menggeleng. "Benar-benar hot man in the world. But, i think is so sarcifies being a good man like that!"
"Kenapa, Rev?" tanya Prisia dengan mimik heran. "Ngomong sendiri kek orgil!" sindirnya.
"Menurutmu, aku bisa jadi seperti beliau gak?" tanyaku sembari menunjuk ayahanda raja.
"Gak bisalah! Beliau itu R.A.J.A! Kurang jelas gak aku ngomongnya?" sungutnya sebelum menyilangkan kakinya.
Aku berdecih dalam hati saat Prisia lagi-lagi mencibirku. "Lagian kamu ini anak dokter, anak mata-mata, mau jadi ningrat! Apa kabar? Yang ada jiwa adrenalinmu hilang karena tata krama yang harus kamu turuti!"
"Sialan kamu, Pris!" umpatku. "Aku butuh dukungan, bukan cuma serangan mental yang malah bikin aku insecure!" ujar ku bersungut-sungut.
Prisia terkekeh kecil lalu mengambil pom pomnya dan menggerak-gerakkan tangannya ke udara.
"Go... Go... Revi... Go... Go... Shoot, Bammm!" serunya dengan nada riang seperti dilapangan tadi.
"Aku mendukungmu dengan cara ini! Ngerti!" sungutnya sambil menjulurkan lidah.
Aku tergelak. Prisia, cewek periang yang mudah bergaul ini benar-benar menyenangkan. Cukup cantik dan tinggi, makanya ia masuk ke dalam tim penyemangat sekolah. Kami sudah akrab sejak tahun ajaran baru, dan kenapa Prisia tahu banyak tentang ku, karena Prisia adalah pacar pertamaku disekolah ini.
...Happy Reading đź’š...
__ADS_1