
Dalilah.
Aku mengayuh sepedaku diakhir musim semi di daerah 104 Lygon street, Carlton, Victoria, Melbourne.
Daerah ini terkenal dengan restoran Italia dan cafe-cafe gelato.
Disinilah pelarian ku saat aku memutuskan untuk pergi dari mas Revi. Saat itu, saat aku tak bisa apa-apa, sementara Angel selalu berada di sampingnya.
Aku mengalah, tapi bukan berarti tidak ada sisa rasa untuk mas Revi.
Rasa itu masih sama. Cinta pertamaku.
Aku tersenyum dan mengangguk. "Thankyou, Mr."
Aku menarik es krim tutu warna-warni dengan banyak rasa untuk aku santap.
Aku slalu berselera untuk ini, setiap akhir pekan.
Aku bergeming setelah menyantap sesuap es krim dan waffle.
Hari ini adalah akhir bulan November. Jika di istana akhir November, hujan baru deras-derasnya mengguyur bumi. Berbeda dengan disini, awal musim panas adalah suka cita untuk liburan di tepi pantai.
Aku tersenyum lagi seraya menunduk untuk menghabiskan es krim tutuku.
Aku beranjak dan keluar dari cafe. Aku memang mendapatkan pengawalan dari Korps pengawal, tapi pengawalku disini tidak sedekat Bimo jika sedang bertugas. Mereka hanya mengawasiku dari kejauhan dengan peralatan yang lebih modern dan canggih, seperti detektif.
Aku kembali mengayuh sepedaku dengan santai sampai rumah. Sesekali aku memandangi langit Melbourne, cerah. Tapi mungkin tak secerah wajah mas Revi.
Dia pasti kecewa karena aku memilih mematikan hpku. Memutuskan komunikasi ku dengan semua orang yang ada di Jawa, termasuk dengan keluargaku sendiri. Walau om Sadewa masih melaporkan kegiatanku kepada Ayahanda.
Aku memarkirkan sepedaku di garasi. Si kembar menatapku heran.
"Kenapa?" tanyaku sambil duduk di kursi rotan sintetis.
"Dicariin ndomas Pandu! Dia marah-marah sama kita! Kita dituduh menyembunyikan Mbakyunya paling cantik disini!" sungut Arka kesal sambil melemparkan ponselnya. Aku menangkapnya dengan sigap.
"Telepon adikmu, Mbak! Kalau tidak, dia akan rusuh disini!" lanjut Arka lagi sambil mendesah.
Kedua pasang mata kita bertemu, bicara tanpa kata.
Aku mencari nomer Pandu Mahendra. Adikku yang paling biasa-biasa aja saat aku meninggalkannya. Tapi sekarang, kangennya kebangetan saat aku jauh darinya.
Aku menunggu, sampai di dering ketiga. Pandu berteriak keras saat wajahku berada di layar hpnya.
Aku tersenyum kecil. Ku lihat interior kamarnya yang membuatku kangen dengan kamarku diistana.
Mbak... Mbak, huhuhu. Napa hpnya mati, rusak?
Aku menggeleng.
__ADS_1
Terus Napa? Mbok di hidupin to biar aku bisa telpon-telponan sama Mbak!
Aku tergelak singkat sebelum aku tanya kabarnya, tanya kabar Ayahanda dan Ibunda.
Ayahanda pernah sakit, tapi udah sembuh. Ayahanda kangen sama Mbak, tapi gengsi.
Pandu menekuk wajahnya. Terlihat sedih.
Mbak kapan pulang?
Aku bergulat dengan pikiranku sendiri saat tahu Ayahanda sakit karena kangen. Heuheu. Ayahanda lucu juga.
Winter break tahun depan Mbak baru pulang. Mbak lagi seneng disini, bentar lagi musim panas. Mbak bisa berjemur di pantai, main air sesuka hati dengan si kembar. Pokoknya Mbak having fun disini!
Pandu mendengus kesal. Dia cemberut tak bisa seperti aku.
Aku udah SMP sekarang, Mbak! Mbok pulang secepatnya biar lihat aku pake seragam SMP!
Aku tertawa terbahak-bahak. Cuma Pandu yang sering mempunyai permintaan aneh.
Kirim foto ajalah, nanti Mbak juga bisa lihat.
Pandu menggeleng cepat.
Emoh, pokoknya Mbak harus lihat langsung!
Aku tergelak lagi.
Janjiku karena aku juga rindu rumah.
Ojo ngapusi, doso!
Sungutnya sebelum menatapku lekat-lekat dari layar ponselnya. Aku mengerutkan kening.
Mas Revi sering ke depan rumah buat nyariin Mbak, tapi slalu diusir abdi dalem. Mbak sama mas putus? Soalnya mas Revi punya teman cewek yang nemenin dia nunggu Mbak di depan pintu gerbang.
Aku mengangguk dan tersenyum. Berusaha untuk tidak menangis di depan adikku, karena dia pasti bakal rusuh dengan teman-teman gaibnya. Kasian mas Revi kalau sampe diganggu mereka.
Kok putus to? Padahal aku sama Bunda suka sama mas Revi.
Pandu kembali cemberut.
Udah ah, Mbak mau mandi! Mbak harus masak untuk makan malam.
Aku melambaikan tangan dan mematikan HP sebelum Pandu kembali berucap kata-kata yang membuatku melayang jauh ke sana.
"Makasih, Ar!" Aku kembali mengangsurkan hpnya.
Arkananta mendesah. "Masih patah hati?" tanyanya resah. Apalagi saat aku menjerit histeris empat puluh enam hari yang lalu.
__ADS_1
"Es krim tutu sedikit menyembuhkan lukaku!" candaku sambil masuk ke rumah.
Om Sadewa dan Tante Irene masih jalan-jalan entah kemana. Malam Minggu katanya biar awet muda.
"Mau makan apa?" tanyaku sambil membuka kulkas. Arkananta dan Mahardika hilang terserah yang penting kami bertiga makan.
Aku mengambil spaghetti dan pelengkapnya. Pokoknya yang gampang-gampang, yang penting makan.
Aktifitasku disini cukup membuatku sibuk. Tapi aku sekarang sudah pintar beres-beres rumah, sudah pintar jadi calon ibu rumah tangga baik.
Sayangnya Bapak rumah tangganya masih belum ada. Hahaha...
"Sister, are you crazy?" seloroh Arka. Aku menggeleng sambil tersenyum jenaka.
"Aku heran sama kamu, Ar! Kenapa kamu sering menyebutku gila? Apa aku benar-benar terlihat gila disini?"
Arkananta mendorong bahu kembarannya sambil terbahak-bahak. Mahardika tersenyum miring.
Aku menaruh dua piring spaghetti di depan mereka dengan kerutan di kening yang terlihat kentara.
"Apa sih?" tanyaku lagi.
"Bagi kami, Mbak ini adalah contoh nyata gila karena cinta! Kasian banget, jauh-jauh tinggal disini hanya untuk patah hati!"
Suara tawa membumbung tinggi, mengejekku lagi. Aku tidak mengelak.
Aku memang payah saat ini saat patah hati baru pertama kali aku rasakan.
***
Hari-hari berikutnya aku menghabiskan waktu bersama si kembar untuk menikmati musim panas.
Kami jalan-jalan di teluk Port Phillip, naik sepeda ke taman kota untuk membakar kulit dan kalori, belanja ke Queen Victoria market atau iseng-iseng lihat pasar Minggu di Victorian Arts Centre. Pada akhir musim panas kami menikmati angin sore St. Kilda beach.
Di musim gugur, aku memilih menyusuri taman dan kebun untuk menyaksikan warna-warni dedaunan yang berguguran di terpa angin.
Dan di musim dingin, saatnya pulang ke istana untuk melepas rindu dengan keluargaku apapun kondisinya.
Aku sudah lelah mencari pelarian, sudah waktunya aku memperbaiki hubunganku dengan Ayahanda. Bagaimana caranya, nanti aku coba.
Aku menyeret koperku menuju Bandara dengan kegetiran yang bertalu-talu di hatiku.
Sudah ratusan hari bergulir, berbagai kejadian sudah silih berganti.
Mas Revi mungkin sudah lupa dengan janjiku dulu karena tepat saat aku kembali winter break tahun ini, ia sudah lulus SMA.
Dia bakal kuliah di luar negeri dan kami pun semakin berlari semakin jauh, bahkan aku tidak bisa menerka sekarang dia ada dimana.
Mungkin dia sudah punya Angel, atau...
__ADS_1
Aku terdiam, menyaksikan gumpalan awan sendirian, dan mengudara selama sembilan jam sebelum aku kembali disini. Rumah.
...Happy Reading...