ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 41


__ADS_3

Revi.


Rumah sakit menyambut kedatangan Dalilah dan seluruh keluarga besar ku dengan harap-harap cemas. Apalagi saat Dalilah keluar dari mobil, seluruh atensi melihatnya dengan heran. Wajahnya sembab, tangannya tak lepas sedikitpun dari tangan Ayahanda. Ayahanda pun pasrah menemani putrinya yang takut melahirkan.


Ini lucu banget guys, melihat istriku yang berubah menjadi baby girl Ayahanda, dan Ayahanda yang pasrah saat Dalilah bilang.


"Pokoknya Lilah mau sama Ayahanda!" Dan tangisnya pecah saat beliau tidak mau karena aku lebih berhak menemaninya.


"Janji dulu tidak boleh pingsan di saat-saat melahirkan!" pinta Ayahanda.


Dalilah terpaksa mengangguk sambil menangis lagi. Dan istana geger karenanya.


Aku menahan senyum. Aku lega, iya, karena melahirkan adalah momen paling dramatis dalam hidup seorang wanita.


Beberapa wanita melahirkan yang pernah aku temui di ruang bersalin sungguh menyeramkan, liar dan hebat dalam satu waktu bersamaan.


Dan istriku justru meminta Ayahanda untuk menemaninya. Ini sejarah dalam kerajaan yang harus di abadikan dalam video kata Pandu.


Sejak tadi ia sudah ngevlog, sudah pasti video itu akan di unggah ke sosial media. Betapapun juga, wajah Dalilah pasti lucu dan ia pasti akan malu sendiri jika melihatnya nanti.


Di ruang bersalin, aku mengintip dari balik pintu. Aku tidak boleh masuk, sebab Dalilah tidak mengizinkannya. Ia tidak mau aku melihatnya yang sangat-sangat cengeng dan ketakutan.


"Minggir mas! Aku mau lihat Mbakyu lahiran." bisik Pandu di belakangku.


Sssttt...


"Aku juga mau lihat istriku!" ucapku tak mau kalah. Masih sambil mengintip.


Ini tontonan yang menarik guys, Dalilah masih menangis di pelukan Ayahanda.


Ayahanda menepuk-nepuk punggungnya. Mengucapkan kata-kata bijak dan menenangkan. Tapi yang namanya melahirkan, mau selembut apa saja kalimatnya pasti tetap aja takut, khawatir.


Aku meringis saat dokter yang menangani Dalilah membuka pintu ini lebih lebar.


"Ikut! Biar kamu tahu bagaimana harus bersikap saat menemui pasien bersalin diluar sana..."


Aku yang sudah mengenakan jas putih berjalan ke depan ranjang pasien. Ayahanda memejamkan mata. Terlihat kerutan di keningnya yang dalam, karena putrinya tidak mau ditinggal sama sekali, bahkan Ibunda tidak boleh ikut ke rumah sakit.


Ibunda kini dirumah untuk mengkoordinasi abdi dalem untuk menyiapkan sesajen brokohan.


Mommy dan Daddy di lobi rumah sakit untuk mengadakan konferensi pers.

__ADS_1


"Lilah, lihat aku!" kataku lembut sambil mengelus perutnya. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di lengan Ayahanda. Ayahanda mengusap rambutnya.


"Hanya sebentar sakitnya, Lilah!" ucap Ayahanda, sudah pasrah jika nanti Dalilah mulai teriak-teriak minta tolong.


Aku mengulum senyum dan menemui dokter untuk bicara tentang Dalilah.


"Sudah bukaan berapa, Dok?"


"Masih tiga, mas! Nanti kita induksi kalau air ketubannya sudah gawat."


Aku mengangguk paham, dan kembali menemui Dalilah. Ayahanda menunjukkan Dalilah dengan sorot matanya.


"Sayang... Ayahanda harus makan siang!" kataku lembut. Pandu langsung menimpalinya. "Iya, Mbak! Biar nanti Ayahanda tidak pingsan saat menemani Mbak Lilah lahiran, ini baru pembukaan awal. Kalau udah sepuluh, wah..." Pandu nyengir. "Bisa geger istana!"


Ayahanda mengulum senyum saat Dalilah melepas pelukannya, tapi wajahnya tetap saja murung dan ogah-ogahan jauh dari ayahnya. Aku maklum, dan akan slalu maklum jika Dalilah akan bersikap seperti ini.


"Pokoknya Lilah mau dijagain Ayahanda! Makannya di sini aja, biar Pandu yang beli ke kantin! Ayahanda gak perlu repot-repot ke kantin."


Sang dokter mengiyakan penuturan Dalilah. Ayahanda pun kembali mengusap kepala Dalilah.


"Ndu..."


***


Dua jam berlalu penuh drama, Dalilah semakin menggeliat, mengaduh sakit saat kontraksi semakin sering terjadi.


Aku yang tetap di ruangan ini hanya memantau Dalilah sambil bergeming di pojokan. Aku tidak berguna, hanya memantau perkembangan Dalilah.


Dokter yang menangani Dalilah kembali memeriksa kondisi air ketuban dan detak jantung bayi. Dalilah diminta untuk mengatur nafasnya sebelum dokter tadi menatapku.


Induksi persalinan dan pertempuran akan terjadi sebentar lagi.


"Dengar..." Aku menyuntikkan cairan misoprostol ke dalam infus. Dalilah hanya menoleh sebentar lalu menatap Ayahanda lagi.


"Aku mau kalian berdua selamat dan ikut merayakan kemenangan bersama-sama. Jadi apapun yang terjadi saat persalinan ini, aku mau kamu ingat perjuangan kita untuk bersama dari masa SMA! Kamu ingat?"


Dalilah mengangguk pelan. Dan reaksi dari induksi persalinan ini mulai bekerja. Dalilah mulai menangis lagi dengan ritme penyanyi rock n roll, pelan-pelan lalu menjerit histeris.


"Ayahanda janji tidak marah-marah kalau anakku nakal, tidak patuh dengan peraturan istana?"


Ayahanda menatapku, aku mengangguk saja biar semua beres. Bahkan Pandu yang masih asyik ngevlog hanya cengengesan sembari tersenyum lebar. Sumpah, itu anak juga excited banget untuk menunggu anak buahnya keluar.

__ADS_1


"Tarik nafas, Lil! Hembuskan. Tarik, nafas... Lepas, tarik nafas... hembuskan! Jangan berhenti di tengah jalan, oke! Nanti aku yang rawat kamu hanya lahiran, sekaligus untuk ujian praktek langsung." ujarku jujur. Biar saja, ini nilai plus, apalagi konsulenku tahu hari ini aku menemani istriku lahiran.


Ehmmmh, emmhhhh... Dalilah mengejan.


"Dorong, Gusti... Dorong yang kuat!!"


Ehmhhhh... Ehmmhhh...


Dalilah meremas lenganku dan Ayahanda kuat-kuat dengan wajah keras sekaligus berkeringat dingin sebelum suara bayi terdengar, oek... oek... Membuatku dan Ayahanda tersenyum lega.


Ayahanda mencium kening Dalilah serta memejamkan matanya. Dalilah terengah-engah, dan air mata mengalir dari sudut matanya


Sungguh, aku jadi sedih. Ayahanda dan Lilah seperti mengungkapkan perasaan yang begitu kentara. Rasa penyesalan, rindu, dan telepati antar ayah dan anak.


Aku membalikkan badan untuk memejamkan mataku yang menghangat.


"Mas, putranya di adzani dulu." ujar suster setelah membersihkan putraku. Aku mengusap wajahku dan tersenyum hangat. Hari ini aku benar-benar menjadi seorang ayah saat aku menggendong anakku tanpa rasa canggung.


Aku tersenyum hangat dan mengecup keningnya dengan lembut. Ia putih, seputih ibunya, bibirnya tebal seperti milik kami berdua, hidungnya juga bangir, dan yang membuat dia bakal mengalahkan segala ketampananku adalah lesung pipinya. Badai sekali, laki-laki ini nanti.


Aku mengadzaninya dengan lirih, penuh kehangatan. Aku bersyukur atas karunia Tuhan paling sempurna ini.


"Pa-pa..."


Aku tersenyum hangat sambil berbalik. "Sudah ngambeknya?" cibirku dengan sengaja saat Dalilah sudah bisa tersenyum lega, meski masih mengernyit sakit.


"Mau lihat dear baby." Aku menaruhnya di samping tempat tidurnya, Dalilah terpukau dengan segalanya yang ia temui hari ini dan yang paling tidak bisa ia hindari adalah menangis lagi. Menangis haru yang membuat putranya ikutan menangis.


"Coba IMD, bisa?" tanyaku memastikan sambil mengambil alih putraku lagi. Aku menggendongnya dengan luwes, berkat peran ketulusan yang pernah aku lakukan dulu.


Dalilah menggeleng dan tersenyum malu. "Belum keluar ASI-nya! Sekarang Lilah mau Ibunda atau mommy, Ayahanda boleh pulang, istirahat." ucapnya dengan halus. Padahal aku tahu, ia hanya malu menyusui di depan Ayahanda.


Ayahanda mencium puncak kepala Dalilah. "Biar Ayahanda bawa pulang ari-arinya. Kamu istirahat!"


Dalilah mengangguk dan tersenyum hangat. "Terimakasih Ayahanda. Love you full!"


Ayahanda mengangguk, menghela nafas lega sebelum bercakap-cakap dengan dokter untuk mengambil ari-ari bayi.


Dan Pandu yang sejak tadi ikut menikmati prosesi melahirkan yang penuh melodrama ini masih duduk termenung di atas lantai dengan wajah pucat.


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2