
Aku mengendap-endap. Melewati gerbang istana yang bagusnya belum juga di tutup oleh penjaga. Dibelakangku ada Revi, ia bersalah karena kejadian sepulang dari mal. Ban motornya bocor! Maka yang kami lakukan setelah makan malam di restoran cepat saji adalah mencari tukang tambal ban. Revi yang kasian dan kelelahan mendorong motor besarnya. Aku yang haus karena harus menghiburnya sepanjang jalan.
Kami melewati jalanan konblok yang menjadi jalan keluar masuk dengan sangat berhati-hati, bahkan aku melepaskan sepatuku agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.
Aku mendekati jendela dan mengintip. Jendela ini terbuat dari ukiran kayu jati yang langsung terpasang di kusennya. Terlihat ada seorang pria yang sedang menghadap ke laptop, terlihat dari cahaya monitor yang berpendar. Kelihatannya Ayahanda sedang mengetik sesuatu.
Aku berbalik, "Pulanglah, biar aku saja yang menghadap Ayahanda." bisikku lirih.
Malam sudah terlalu lewat dari jam yang seharusnya aku sudah berada di kamar. Si pengki memanglah masalah bagiku saat ia menggeleng tegas tidak mau pergi.
"Biar aku yang tanggung jawab. Ini salah motorku."
Aku menepuk jidatku, motornya memang sumber masalah. Sudah bikin pegal-pegal, ditambah harus pegangan biar tidak terjungkal. Sekarang motornya menjadi kambing hitam karena masalah ini.
"Tapi jangan kapok kalau nanti kamu dapet wejangan dari Ayahanda! Janji dulu gak marah?" Aku mengangkat jari kelingkingku.
Revi tersenyum dan mengangguk, ia menautkan jari kelingkingnya.
"Janji juga jangan kapok keluar malam bareng aku." ujar Revi dengan binar ceria di matanya.
Ish... Bisa-bisanya ia mencari kesempatan ditengah detak jantungku yang tidak stabil. Baru kali ini aku keluar dari rumah sampai jam sepuluh malam.
"Udahlah, sekarang ada yang lebih penting. Nasib kita ada di dalam rumah. Ingat yang sopan!" Aku melepaskan jari-jari kami yang bertaut, kemudian aku mengetuk pintu dengan pelan.
Tanpa menunggu aba-aba dari Ayahanda untuk masuk ke dalam rumah, aku sudah berjalan sembari membungkuk hormat.
"Ayahanda." sapaku. Aku melirik Revi dengan ekor mataku, ia terlihat gusar namun juga dengan sikap sopan menyapa Ayahanda dengan panggilan paduka raja.
"Sudah pulang?" tanya Ayahanda. Ingin sekali aku menghamburkan pelukan hangat Ayahanda. Lalu mengadu kepadanya jika tadi Lilah jalan kaki jauh sekali. Sekarang kaki Lilah capek.
"Sudah Ayahanda." jawabku sambil menunduk.
"Temannya gak disuruh pulang Mbak? Ini sudah malam, kasian orangtuanya khawatir menunggunya dirumah."
Eh buset... Ini maksudnya Ayahanda sedang menyindir kami atau Ayahanda sedang membicarakan dirinya sendiri yang risau karena menunggu anak gadisnya pulang ke rumah.
__ADS_1
"Maaf paduka raja saya terlambat mengantar Dalilah pulang." ujar Revi dengan suara bergetar.
Aku memperjelas pandanganku.
Ayahanda tidak terlihat marah ataupun menunjukkan gelagat tidak senang. Ayahanda hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Beliau mengamati baik-baik Revi sebelum berkata, "Terimakasih sudah mengantar putriku tercinta pulang ke rumah. Sekarang pulanglah besok harus sekolah!"
Revi mengangguk paham, ia membungkuk hormat dihadapan Ayahanda lantas mencium punggung tangannya.
"Saya permisi pulang paduka raja."
Ayahanda berdehem. Lantas kembali fokus melihat layar monitornya.
Revi menatapku sejenak. Ia melambaikan tangannya.
"Aku balik dulu tuan putri. Mimpi indah ya." ujarnya lirih, aku langsung menunduk malu.
Dasar pengki! Bisa-bisanya berkata seperti itu dihadapan Ayahanda. Sekarang aku yakin sekali jika Ayahanda menyimpulkan bahwa kami berdua ada apa-apanya.
"Maaf Ayahanda. Tadi motornya mas Revi bocor jadi Lilah pulang terlambat."
"Iya... Ehm, kado untuk Baskara Ayahanda. Besok malam Minggu Lilah izin untuk datang ke rumahnya ya."
Ayahanda tampak berpikir sejenak, lantas mengangguk sambil tersenyum.
"Mas Suryawijaya tadi juga izin untuk datang ke ulangtahunnya Baskara, Mbak. Jadi kalian berangkat bersama!" ujar Ayahanda lugas.
Aku mengangguk untuk menyudahi perbincangan hangat ini. Lebih hangat dari biasanya dan agak menegangkan suasana.
"Pandu juga ikut Mbak. Jadi Mbak sudah paham bagaimana harus menjaga adik nanti!"
Si bengal ikut serta dalam perayaan ulang tahun Baskara. Ribet dah, ribet. Bocah SD kebanyakan tingkah itu pasti akan memecah suasana.
Aku cuma mengangguk, dalam hati aku yakin, bukan sifat Ayahanda yang mewarisi sifat Pandu Mahendra. Dan yakinlah, pikiranku tertuju pada Ibunda.
Apalagi rahasia yang tersembunyi di balik sifat liar yang diwariskan oleh Ibunda kepadaku dan Pandu Mahendra. Lain kali mungkin aku harus bertanya kepada Eyang Kakung dan Eyang Uti. Mereka jelas tahu sejak awal hubungan Ayahanda dan Ibunda.
__ADS_1
Aku menguap, pura-pura.
Ayahanda tersenyum, "Tidurlah, Ayahanda masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan."
Aku mengangguk, "Terimakasih Ayahanda. Jangan malam-malam tidurnya. Kantong mata Ayahanda sudah terlihat." ujarku lalu mencium pipi Ayahanda dengan gemas. Ayahanda menggeleng sambil tersenyum.
Aku menarik paper bag ku lantas pergi menuju kamar.
Tak hanya dari Ayahanda, pertanyaan lain pun aku dapat Ibunda. Wanita beranak tiga itu duduk di tepi ranjang sembari termenung.
"Ibunda belum tidur?" tanyaku heran. Aku menaruh paper bag ku dan mengeluarkan sepatu flat shoes dan ketsku ke rak sepatu.
"Baru?" tanya Ibunda penasaran. Aku mengangguk, "Apa Dalilah boleh menerima pemberian dari mas Revi?" tanyaku pada Ibunda.
Ibunda mengerutkan keningnya, "Jadi tadi belanjanya dibeliin mas Revi?"
Aku mengangguk sambil duduk di kursi belajar. Ibunda menatapku penuh minat, lantas menghampiri rak sepatu. Ibunda melihatnya sebentar lalu mencoba sepatunya.
"Cantik banget, Mbak. Kapan-kapan Ibunda boleh pinjem?" tanya Ibunda senang.
Aku hanya bisa tertawa rikuh, "Coba Ibunda tanya dulu sama Ayahanda. Apa Ayahanda mengizinkan? Kalau Ayahanda memperbolehkan, sepatu itu boleh untuk Ibunda."
Ibunda tertawa kecil, "Kamu seperti tidak tahu Ayahanda saja Mbak. Apa jadinya jika Ayahanda tahu Ibunda memakai sepatu yang dibelikan cowok lain. Ayahanda itu posesif. Ini saja kami berdua sengaja belum tidur karena nungguin Mbak pulang."
Tiga puluh menit berlalu. Ibunda masih asyik di kamarku, bertanya apa saja kegiatan yang aku lakukan bersama Revi sampai selarut ini.
"Asyik ya jadi Mbak, baru pacaran udah diajak belanja di mal. Dulu aja Ibunda kalau ngedate bareng Ayahanda hanya diajak ke pinggir tebing. Berasa mau diajak bunuh diri! Tapi itulah Ayahanda, slalu punya cara untuk membuat sebuah cerita yang tidak biasa." ujar Ibunda, aku menghempaskan tubuhku diatas ranjang. Ibunda ikut membaringkan tubuhnya. Kami menatap langit-langit kamar yang memiliki plafon jadul. Lalu tanganku dengan luwes memeluk Ibunda. Ibunda melirikku, "Tidurlah, biar Ibunda temani."
Aku tidak ingin bertanya perihal kenapa harus tebing tinggi yang menjadi tempat berkencan Ibunda dan Ayahanda ataukah ada perihal yang lain ingin Ibunda sampaikan melalui ceritanya. Aku menatapnya, wanita cantik yang mengelus rambutku pelan.
"Kamu harus siap dengan keadaan aneh yang akan menyapa hatimu." Ibunda lantas memejamkan matanya.
Malam semakin larut. Aku masih belum terlelap. Pikiranku melayang-layang entah kemana. Keadaan aneh apa yang akan menyapa hatiku. Aku tak habis pikir.
...Happy Reading š„°...
__ADS_1