ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 58


__ADS_3

Dalilah.


Aku keluar dari ruang meeting setelah melakukan rapat dadakan yang bikin aku tambah pusing.


Koreografi macam apa yang harus aku siapkan. Otakku benar-benar tidak bisa bekerja dengan baik saat ini. Aku puasa dan sedang ribet dengan diriku sendiri. Belum lagi, aku malah menemukan sahabatku yang nakal.


Langsung saja aku menaruh semua barang bawaan ku di atas kursi dan meninggalkannya. Aku yakin, Bimo pasti akan menjaganya.


Dengan langkah terburu-buru sembari menarik kain jarikku ke atas. Aku mengejarnya sampai di parkiran yang masih penuh dengan orang yang berlalu lalang.


"BASKARA!" panggilku spontan saat aku berdiri tepat dibelakangnya.


Baskara menoleh, ia menatapku dengan pandangan bertanya seraya berangsur mundur. Matanya lantas menatapku lekat-lekat, seolah kehadiranku adalah momen yang ia hindari.


Baskara naik ke atas motornya seolah tak menghiraukan aku.


"Bas... Lilah mau bicara, Bas!" ujar ku lagi saat ia menghidupkan mesin motornya.


Aku berjalan ke depan motornya. Menghalanginya. Baskara mengumpat. Sampai aku mengatupkan kedua tanganku saat Baskara masih tak acuh kepadaku.


"Bas... Lilah mohon! Lilah puasa hari ini. Kamu tahu itu kan!" kataku mengingatkannya.


Baskara bergeming. Mungkin ia gak akan lupa bahwa setiap aku hendak mengikuti lomba, aku slalu puasa mutihan. Dulu sekali pun saat aku SMP dia akan menemaniku untuk puasa, walau aku tahu diam-diam dia jajan di kantin untuk tetap menghormatiku.


"Lilah tahu kamu marah, Lilah minta maaf!" ujar ku lagi sambil melihat ke arah matanya.


"Naik!" jawabnya dengan ketus.


"Naik? Ke motormu?" tanyaku bingung.


Baskara mengangguk. Aku gusar, takut kalau Bimo mungkin gak bisa mengikutiku karena aku pastikan dia ribet dengan barang bawaanku.


"Ehm... Ehm... Nanti Asih marah! Aku cuma mau bicara sebentar saja. Aku minta maaf sudah mengecewakanmu. Maafkan aku, Bas!" urai ku sembari mengatupkan kedua tangan.


Aku minta maaf karena Baskara mungkin gak akan menyebarkan video itu jika ia tidak kecewa padaku karena aku hanya menganggapnya sahabat.


"Jangan terlalu baik dengan siapapun!" ucapnya sambil menghidupkan mesin.


"Maksudnya gimana, Bas? Apa itu alasannya? Apa karena aku slalu baik padamu dan mengira aku perhatian padamu?" selidikku sambil menahan stang motornya. Aku harus waspada kalau saja ia tiba-tiba menggeber motornya dan meninggalkan aku.


"Aku emang perhatian sama kamu, karena kita sahabat dekat."


Baskara menatapku sambil menghela nafas. "Semakin aku mencoba untuk melupakanmu, semakin terbayang kedua matamu. Mata bening yang slalu mengisyaratkan kebaikan dalam dirimu."


Aku menggaruk wajahku. Aku bingung.


Baskara mematikan mesinnya. "Maafkan aku yang sengaja melakukan itu hanya untuk membuatmu paham kalau akan slalu ada orang-orang yang terlihat baik meski berhati buruk. Kamu hanya perlu lebih hati-hati, karena orang punya celah untuk menghancurkan semuanya meski dari kebaikan yang kamu lakukan."

__ADS_1


"Jadi kamu balas dendam karena aku menolakmu terang-terangan?"


Baskara tergelak. "Maaf ndoro putri, aku harus pergi. Karena sepertinya kamu sudah punya penjaga baru."


Aku langsung berbalik. "Bimo." gumamku. Lalu menoleh lagi.


"Bas... Aku masih butuh penjelasan tentang masalah kemarin?"


"Dan kamu sama sekali tidak marah padaku? Meski aku sudah membuatmu malu dan di hukum?"


"Kok tahu?"


Baskara tergelak lagi, ia menunjuk bekas luka yang ada di atas alisnya.


"Bekas ini aku dapat dari pacarmu. Dia marah karena aku membuatmu di hukum oleh Ayahanda. Dia marah karena aku menghalangi kalian untuk berpacaran.


Sebagai gantinya, Ayahanda menjadikan Bimo pengawalmu seperti yang Ayahanda minta padaku dulu."


Aku langsung berjinjit sembari melihat bekas luka yang ada di dahinya. Cukup besar. Aku pastikan mas Revi memukulnya dengan keras sekali.


"Sakit?" tanyaku.


"Lil... Please, aku melakukan itu tidak hanya semata-mata karena aku menjagamu. Meski salah. Tapi aku mau kamu bersikap keras terhadap dirimu sendiri... Maksudnya jangan gampang terpengaruh oleh keadaan! Apalagi, pacarmu tadi..." Baskara menghela nafas. "Kamu lihat sendiri kan?"


Aku mengangguk.


Dialog ini membuktikan bawah memang terjadi konspirasi antara Ayahanda dan Baskara.


Kenapa juga aku gak tahu sama sekali kalau Baskara juga diminta untuk menjadi pengawal ku oleh Ayahanda. Ayahanda juga, kenapa aku tidak diberi kebebasan di luar istana. Tapi untungnya Baskara orang yang menyenangkan. Kalau tidak, aduh. Menyebalkan!


"Ayo pulang!" kataku pada Bimo saat ia mendekatiku.


"Mau naik motor saya?"


"Alamak... Masa iya aku harus naik becak pulangnya! Tega kamu dengan tuan putri yang baru saja mengharumkan nama sekolah!"


Bimo tersenyum samar seraya menyerahkan barang bawaanku. "Selamat ya. Tapi saya ragu karena mas Revi masih di gedung olahraga ini! Bagaimana jika ia curiga tuan putri bersama saya." katanya pelan.


Aku mencari jaket ku dan memakainya. "Oh iya! Bagaimana kalau mas Revi tahu aku boncengan sama kamu! Kayak gini tuh bisa masuk dalam kategori selingkuh atau tidak?"


Bimo mengernyit bingung. Aku menepuk jidatku! Lupa, tanya kok sama jomblo. Jelas dia gak tahu!


"Ya sudah anggap saja saya ojek. Nanti ndoro putri bayar saya kalau sampai di istana."


"Minta saweran?" gurauku padanya. Bimo menggeleng sambil menaiki motornya.


"Yakin? Aku mau traktir makan bakso semua teman-temanku di kantin sekolah. Kamu koordinasikan ya? Hadiahnya lumayan ini, tapi kata walikota hadiah uang tunainya juga harus digunakan untuk prepare lomba di Jakarta. Padahal kan harusnya pake uangnya walikota!" ujar ku lirih.

__ADS_1


"Kalau begitu pilih saja yang terbaik." Nasihat Bimo.


"Yang terbaik sekarang adalah pulang. Ayo antar aku pulang ke istana. Aku mau istirahat sekalian WA-nan sama mas Derren. Teman baruku!" kataku riang sambil duduk menyamping di motornya. Motor bebek yang lebih nyaman daripada motor sport punya mas Revi.


Bimo menoleh dengan gerakan perlahan. "Ndoro putri paham batasannya WA-nan dengan laki-laki jam berapa?"


"Apa aku juga harus laporan isi chatnya, Bim... Bim! Mbokyo sing woles. Kaku banget koyo wesi!" gumamku.


"Wesi memang kaku, tapi juga kerangka yang menguatkan dalam sebuah bangunan. Apalagi saya laki-laki, harus menguatkan dan kuat demi diri sendiri!"


Aku tersenyum samar seraya membayangkan bagaimana Bimo dan Suryawijaya ngobrol. Serius seperti ini?


Tanpa sadar aku tertawa di tengah jalan saat Bimo sudah menggeber motornya di tengah jalan.


Bimo mengingatkan untuk diam. Tapi aku begitu menikmati setiap jalan yang kita lewati tanpa takut di tilang polisi karena aku spesial. Anti tilang-tilang club!


Setibanya di istana, aku menghela nafas lega. Aku turun dari motor setelah melepaskan jaket Bimo yang sedaritadi aku jadikan pegangan.


"Maacih pengawal ku." kataku tulus.


"Saya akan membuat grup WA. Pastikan nomer Darren ada di sana karena saya harus memantunya."


"Kamu posesif banget ya, Bim! Mas Revi aja enggak..."


Bimo melihatku seperti biasanya. Pandangan aneh yang membuatku sal-ting.


"Karena saya pengawal jadi harus memastikan bahwa ndoro putri tidak aneh-aneh dan terjaga"


"Oh... Aku kira karena kamu sayang sama aku." gurauku sambil terkekeh kepadanya.


Bimo melihatku dengan serius.


"Kalau iya?"


Aku langsung pergi sambil mengomel-omel sendiri. "Kalau iya? Ya masalah besar lah! Gitu kok pake tanya, Bim! Dasar jomblo!" gerutu ku sambil menoleh ke arahnya. Bimo melambaikan tangannya.


"Apalagi?" tanyaku heran.


"Ongkosnya?"


Aku menyeringai lebar. Ditagih juga sama ojek gadungan.


"Besok. Utang dulu! Kas bon! Catat di buku harianmu!" seruku.


Bimo menggeleng dan tersenyum lebar.


...Happy Reading....

__ADS_1


__ADS_2