
Dalilah.
"Mas..."
Percikan kenakalan menggodaku untuk menelengkan kepala. Melihat wajah mas Revi dengan mata yang menggelap.
Aku menelan ludahku dengan susah, mungkin ciuman ini tidak asing baginya. Tapi bagiku ini begitu mengguncang pikiranku.
Bibirnya menyentuh leherku dengan lembut, terasa hangat bagai awal musim panas. Aku membasahi bibirku saat menatap bibirnya penuh minat.
Mungkinkah kecupan dulu sewaktu SMA masih terasa begitu lembut di bibirku. Aku kembali membasahi bibirku.
Mas Jati tersenyum mesum. "Hei..." Ia membenamkan wajahnya di tengkuk leherku. "Geli ya?"
Aku mengangguk tanpa suara. Untuk waktu sesaat rasanya seolah udara bergetar di sekitar kami. Aku memandangi mas Jati, dari mulutnya yang lembut dan matanya yang gelap.
Mas Jati mengecup leherku lagi, ia memelukku lebih erat.
Kesunyian membentang diantara kami. Jauh di sana, banyak kalimat yang berkicau dan berputar-putar di kepala kami berdua. Keintiman ini benar-benar membuat kami canggung mengingat kembali bahwa kami berdua sama sekali tidak pernah sedekat ini.
Baiklah, waktunya untuk kejujuran yang gila-gilaan.
Aku sudah cukup umur untuk memulainya, melakukannya dan mengerti bahwa hal-hal seperti ini akan menjadi ritual khusus sepasang suami-istri.
Apalagi katanya pacaran setelah menikah itu malu-malu menggemaskan dan kesan pertama akan slalu dikenang sepanjang masa.
Aku rasa menjadi remaja belasan tahun lagi yang banyak ingin tahu cukup membuat suasana ini tak terlalu menegangkan.
"Mas Jati."
Sibuk dengan lamunan liarnya, mas Jati hanya berdehem. Aku kembali menelengkan kepala. Kami saling bertatap-tatapan, sebelum aku memecah keheningan malam.
"Mau jadi vampire penghisap darah biru? Atau memang leherku lebih menarik dari bibirku?"
Mas Jati mendesah lantas menyunggingkan senyum lembut. "Aku tidak bisa melakukannya jika belum kamu izinkan! Sebab bikin sesak nafas dan kamu tahu, semua tubuhku akan penuh."
"Lakukanlah." Aku mengangguk perlahan-lahan.
__ADS_1
Mas Jati pun ikut mengangguk, ia menundukkan kepalanya sebelum bibir kami melakukan kontak langsung.
Mataku terpejam menikmati sapuan lidahnya yang membasahi bibirku, terasa hangat, lembut dan aku benar-benar di buat sesak nafas olehnya. Oleh setiap kecupan yang mendamba dan keinginan untuk melakukannya.
Mas Jati mengecup bibirku sebelum wajahku tenggelam dalam pelukannya.
"Maaf."
Aku menggeleng pelan. "Istimewa, sedikit ada manis-manisnya!" jawabku jujur.
Dalam pelukannya, aku menggigit bibirku dan tersenyum senang.
Akhirnya, setelah sekian tahun aku penasaran bagaimana rasanya ciuman. Malam ini terjadi juga. Tapi tadi lupa belum niat ingsun.
"Mas Jati." gumamku. Mas Jati mengurai pelukannya, kedua tangannya menangkup sisi wajahku dan mengecup bibirku lagi sekilas.
"Kenapa? Kecewa dengan ciumanku yang payah?" selidiknya dengan dahi yang berkerut dalam.
Aku menyentuh dahinya yang berkerut dan menggeleng pelan. "Tidak kecewa, tapi mau diulangi lagi"
Mas Jati melebarkan matanya. Pasti kaget dikira aku pengen lagi, padahal iya. Kan baru pertama, masih mau coba-coba teknik dasar yang lain sampai jadi suhu.
Mas Jati terbahak kecil seraya menepuk jidatnya. "Aku lupa, Lilah. Maaf!"
Aku tersenyum maklum, memang kalau sudah dibutakan oleh nafsu pasti lupa untuk berdoa dulu. Soalnya aku juga lupa.
Mas Jati benar-benar setan yang menggoda iman.
Mas Revi memejamkan matanya. "Niat ingsun, aku abdi dalem kanjeng pangeran haryo Jatiningrat hari ini ingin memulai usaha untuk membuat calon regenerasi kerajaan ini. Mohon doa restu."
Mataku menghangat dan terharu. Mas Revi, si pengki yang dulu usil dan suka seenaknya sendiri. Sekarang, ia menekan egonya sendiri untuk bersanding denganku dan belajar menjadi laki-laki yang membawa tanggungjawab dari gelar yang ia miliki sekarang.
Bagiku itu adalah cinta. Dimana ia menekan segalanya untuk menjadi yang terbaik bagiku. Aku memeluknya.
"Love you, mas!"
Mas Jati balas memelukku. "Aku slalu mencintaimu, Lilah! Meskipun dulu waktu kita bertemu aku menganggapnya hanya obsesi semata. Tapi nyatanya tidak, aku jatuh terlalu dalam dengan caramu memandang cinta."
__ADS_1
Kami berpelukan cukup lama sampai aku menguap lelah. "Bobok yuk, mas! Beberapa tamu masih datang. Jadi mas Jati harus semangat, harus senyum dan ramah. Jangan tegang, pokoknya rilex apa adanya." ujarku mengingatkannya.
"Bobok aja? Aku gak dapet bonus?" pintanya sambil mengurai pelukan dan menatapku lekat-lekat.
"Iya, dapat bonus!" Aku mengalungkan tanganku di lehernya dengan malu-malu.
"Aku cupu lho jangan diketawain!" bisikku lirih.
Mas Jati mengangguk, iapun memejamkan matanya.
Aku memperpendek jarak diantara kami sebelum bibir yang masih tersenyum ini ku cium dengan pelan dan ragu-ragu.
Mas Jati terkekeh geli, ia membuka matanya dengan kilau jail yang membuatku mengerucutkan bibir.
"Kamu kira bibirku es krim? Hmm..." tanyanya sambil merapikan rambutku.
"Kan dibilang jangan diketawain, aku ngambek!" kataku sambil melipat kedua tanganku.
"Kamu lucu. Gimana gak ketawa sendiri aku! Hehehe... Coba lagi. Aku janji gak ketawa!"
Janjinya palsu! Mas Jati malah terkekeh lagi saat aku mencoba menciumnya dengan rilex dan hati-hati.
"Ngambek?" tanyanya saat aku sudah merebahkan diri diatas ranjang dan memakai selimut.
"Gak!" dustaku, padahal aku ngambek. Orang baru pertama ciuman diketawain, Kan gak ada yang lucu.
"Ah ngambek nih pasti." katanya sambil memelukku dari belakang. "Kamu lucu, gemesin, jadi aku gak bisa kalau gak ketawa lihat kamu tadi. Serius, Lilah! Katanya harus jujur apapun yang terjadi, dan aku berusaha untuk jujur lho." rayunya serius.
Aku masih mengerucutkan bibir seraya membalikkan badan. Ku tatap mas Jati dengan gaya jual mahal.
Mas Jati mengulum senyum sembari merapikan rambutku. "It's ok, dear! Kita sama-sama belajar. Malu, salah dan tertawa bersama itu bumbu rumah tangga---katanya, jadi jangan ngambek kalau aku ketawa lihat tingkah polahmu yang nakal-nakal gemesin ini." Mas Jati mencubit pipiku.
Dan kamipun justru terjebak dalam gagasan-gagasan baru di tengah malam pertama pengantin ini sambil menatap langit-langit kamar.
Aku tersenyum kecil saat mas Jati sudah mendengkur halus di sampingku dengan tangan kiri yang menutupi keningnya. Wajahnya terlihat lelah dan bibirnya agak merah.
"Hari yang berat ya mas." Aku mengusap pipinya dan membetulkan letak selimutnya. "Betah-betah ya sama Lilah. Lilah juga sedang belajar menjadi istri yang baik untuk memenuhi kebutuhan lahir dan batinmu."
__ADS_1
Aku mengecup pipinya sekilas sebelum ikut memejamkan mata. Berharap esok pagi semesta masih mempermudah kelancaran rumah tanggaku yang baru saja ku jalin bersamanya.
...Happy Reading...