
Dalilah.
Aku tak mahir berpura-pura saat aku tidak baik-baik saja sesampainya di rumah.
Ada perasaan gamang sekaligus asing yang menyergapku sebelum aku turun dari mobil. Ingatan itu masih menyala di kepalaku saat laki-laki muda tengil mendatangi rumahku dua tahun lalu.
"Selamat malam ndoro putri!"
Aku tersenyum kecil. "Malam, Bim! Lembur?" tanyaku basa-basi sambil menarik beberapa tas bawaanku.
"Belum waktunya pulang!" jawabnya sambil mengulurkan tangan. "Biar saya bawa!"
Aku menggeleng. "Kau tahu, aku dituntut untuk mandiri selama di Melbourne. Jadi biar aku saja yang bawa!" Aku menyunggingkan senyum saat ini.
Bimo membungkuk hormat, seraya membuka pintu mobil lebih lebar.
Cukup betah juga ia menjadi abdi dalem. Heuheu.
Aku melenggang ke dalam rumah. Di ruang keluarga, keluargaku menyambutku dengan hangat.
Aku mengangguk hormat dan menyunggingkan senyum.
"Mbakyuku..." Pandu langsung menghamburkan pelukannya. Aku terkekeh kecil saat ia menepuk-nepuk punggungku. "Kangen, Mbak!"
"Mbak juga!" balasku sambil tersenyum lebar.
"Mana oleh-olehnya?" Aku menjep dengan sengaja. "Cuma nungguin oleh-oleh kan, bukan Mbak?" sindir ku.
Pandu cengengesan. "Dua-duanya, aku gak bohong!"
Aku tergelak singkat sambil menaruh tas bawaanku. "Ada di koper warna biru, tunggu aja!" jawabku sambil melirik sekilas Ayahanda.
Beliau masih sama, gengsinya kebangetan meski dengan anak sendiri.
Aku mendekat dengan gerogi juga masih ku ingat hampir sepuluh bulan yang lalu beliau melepaskan ku dengan pelukan singkat patah hati seorang ayah.
"Papa..." ujarku dengan manja sambil mengulurkan tangan.
Ayahanda melebarkan mata. Bibirnya nyaris tersenyum lebar saat beliau mengenggam tanganku dengan satu tangan mengelus kepalaku.
"Istirahatlah."
"Do you miss me?" tanyaku menatap dalam mata beliau sambil menahan senyum.
Ah! Mata sayu ini. Aku merentangkan kedua tangan, mungkin sebagai yang muda aku harus mengalah demi beliau yang gengsi ini.
"I miss you so bad, papa!"
Ayahanda membalas pelukanku, mengelus punggungku pelan seraya berkata. "I miss you too, princess!"
Princess.
Aku tersenyum dan mengurai pelukan.
"Gantian ya, Ayahanda! Ibundaku juga rindu."
Ayahanda mengangguk, namun juga enggan menjauh dariku.
Ibunda memandangku lekat. "Lilah, kulitmu sedikit menghitam, nak!" Ibunda tersenyum, mengelus pipiku, meski matanya merah karena menahan haru biru, Ibunda memelukku.
"Ibunda kangen banget sama kamu, kamu sehat? Kamu terlihat agak gemukan sekarang, are you happy?" urai Ibunda, mengeratkan cengkramannya di bahuku.
"All you can eat, Bunda!" seruku sambil menyeringai lebar.
Ibunda mengelus-elus lenganku, aku tersenyum hangat. Aku rindu mereka, tapi aku hanya disini dua Minggu sebelum kembali ke Melbourne lagi.
"Ibunda sudah masak makanan kesukaanmu. Ayo makan, setelah itu tidur!"
Aku menurut. Sejenak aku bersuka cita menikmati makan malam bersama keluargaku sebelum aku berbaring di tempat tidur. Menatap langit-langit kamar dengan kepala yang berlari liar menuju sekolah lamaku.
"Mbak..."
__ADS_1
Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka sedikit demi sedikit.
"Bunda."
Aku beranjak dan tersenyum, ibuku membawa segelas susu coklat hangat.
"Belum tidur?" tanya Ibunda sembari menaruh gelas diatas meja.
Aku menggeleng, aku tahu Ibunda hanya
basa-basi karena beliau pasti mau tanya ini-itu dan banyak hal yang ingin beliau tahu tentangku selama di Melbourne.
"Aku rock n roll, Bun! Jadi bunda jangan khawatir. Keluarga om Sadewa baik padaku!" jelasku sebelum Ibunda bertanya dulu. Aku mengambil gelas dan meminumnya.
Ibunda mengelus rambutku. "Bukan soal itu! Ibunda tahu kamu tahan banting! Tapi, bagaimana dengan hatimu?" Ibuku menekuri wajahku baik-baik.
Ah, aku benci tatapan ini.
Aku meringis. "Aku memang tidak ditakdirkan untuk mengisi masa mudaku dengan kisah cinta yang manis, Bun! Kisahnya terlalu gelap!"
Setidaknya itulah yang terjadi kemarin.
Ibunda kembali mengelus rambutku, tersenyum seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
"Boleh Bunda tidur disini?"
Aku mengangguk dan menepuk bantal di sebelahku. "Ayo! Besok Lilah mau jalan-jalan ke pasar, Bun! Mau cari klepon. Kangen..." Aku menyeringai lebar.
Ibunya ternganga begitu dramatis, sejurus kemudian Ibunda hanya mengangguk pasrah.
***
Aku mengayuh sepedaku dengan cepat menuju sekolah lamaku selepas sholat subuh.
Meski dengan izin mau jalan-jalan ke pasar seperti janjiku tadi malam.
Aku mendesah lega sembari turun dari sepeda. Peluh membasahi keningku dan bajuku, namun tak menyurutkan semangatku untuk menyempatkan diri membunuh rindu di sekolahku dulu.
Seulas senyum terbit di bibirku saat aku melangkah dengan sadar masuk ke dalam sekolah ini.
Aku menghiraukan ucapan satpam yang bingung dengan kehadiranku secara mendadak disini.
Bisakah aku ulangi lagi.
Aku menyusuri koridor sekolah, menyentuh dinding-dindingnya, menyusun puzzle-puzzle kenangan yang pernah terjadi disini.
Dan langahku berhenti di bawah pohon beringin di bangku taman tempatku sering menghabiskan waktu dengan si pengki. Dulu.
Aku menengadah menatap rindangnya dedaunan, membiarkan angin membelai rambutku.
Mampukah aku melupakannya, meski dengan sadar aku terus menginginkan untuk kembali ke ruang-ruang masa lalu.
Sudahkah ia melupakanku?
Gadis bau kencur yang berusaha mencintainya.
Ataukah ia justru semakin terpuruk dengan keputusanku.
Aku beranjak untuk kembali mengitari sekolah ini. Menuju kantin, basecamp, perpustakaan hingga pada akhirnya aku memilih bergeming di depan toilet.
Aku tersenyum miring.
Disinilah, titik dimana aku benar-benar berada di persimpangan dilema.
Antara pilihan terbaik dan pilihan terburuk terjalin begitu rumit di benakku.
Aku menghembuskan nafas sebelum kembali berjalan menelusuri koridor sekolah.
Aku berani kesini karena sekarang masih hari libur anak sekolahan. Jadi tidak mungkin ada siswa-siswa yang datang kesini, terkecuali.
Mataku membeliak saat tawa renyah mengisi koridor sekolah.
__ADS_1
Aku langsung bersembunyi, dengan degub jantung yang berdetak kencang.
Mereka melewatiku tanpa curiga dengan tawa yang masih memeriahkan suasana pagi ini.
Lulus juga gue.
Cap tiga jari nanti jam delapan.
Hmm... Terus konvoi kelulusan.
Malamnya promnight, gue bakal dandan cantik ala princess Disney.
Gak usah sok cantik!
Aku mengintip sekilas.
Semakin ku pandang batinku semakin tersiksa.
Mas Revi, Angel, Mas Reno.
Aku menelan pasir dalam tenggorokanku dengan susah payah.
Promnight?
Aku langsung berlari sekencang mungkin keluar dari sini. Aku mau menemui Bimo, aku mau tanya dimana mereka akan promnight!
"Woy, tunggu! Penyusup!" teriak salah satu dari mereka.
Aku tetap berlari, tapi sial! Sendal jepit ku malah copot. Aku langsung membuang semuanya dengan gerakan cepat sambil melirik ke arah mereka yang berteriak-teriak.
Ah, sial! Mas Revi melihatku, ia terdiam dengan bola mata yang nyaris keluar dari tempatnya.
Beberapa guru yang berdatangan pun melihatku dengan heran saat aku berlari melintasinya.
Di depan gerbang, sepedaku hilang.
Aku celingukan, oh sial. Sepedaku ada di parkiran, di dekat mobil mas Revi.
Aku bingung, mau ku ambil sepedaku tapi mereka sudah menemukanku lagi.
Ya Allah, gimana ini. Mana aku nyeker lagi! Aku tidak mungkin pulang ke rumah dengan kondisi terlihat habis di rampok begini.
"Diam ditempat atau aku bakal tembak kamu!"
Refleks aku mengangkat kedua tanganku saat mas Revi mendorong pistol ke arahku.
"Jangan tembak aku! Aku sudah mati berbulan-bulan oleh perasaanku sendiri!" teriakku ketakutan. Aku mundur, terus mundur sampai aku mendekati sepedaku. Sengaja, biar aku bisa kabur dari situasi genting ini dengan sepedaku yang gak bisa melaju cepat ini.
"Rev, udah! Lo bikin dia takut!" seru Angel sambil menarik lengan mas Revi.
Disaat mereka berdebat, aku langsung mengayuh sepedaku sekencang mungkin keluar dari sekolah. Mas Revi berteriak keras memintaku untuk berhenti.
Aku menggeleng cepat, dan tetap menggenjot sepedaku menjauhinya.
Sungguh aku gak menyangka harus bertemu dengan mereka disini sampai aku kehilangan fokus dan menabrak separator jalan.
Aku dikerumuni banyak orang yang menolongku ke bahu jalan.
Aku tersenyum menahan sakit dan menggeleng keras kepala saat aku ditawari untuk ke rumah sakit.
"Saya tidak apa-apa, sumpah! Saya cuma meleng kurang minum!"
Satu persatu dari mereka membubarkan diri saat aku tetap menolak bantuan mereka.
Aku tersenyum kecil sambil menatap darah di siku dan lututku. Jaketku robek, leggingku juga.
Sakit, Bun! Aku juga gak yakin kuat ngayuh sepeda sampe ke rumah. Belum beli klepon di pasar seperti janjiku tadi.
Aku menggeram frustasi sambil ku lihat sepedaku yang lepas rantainya.
Sudah ketiban sial, jatuh lagi. Nikmat mana yang aku dustakan?
__ADS_1
...Happy Reading...