
Dalilah.
Aku mengatupkan kedua tanganku dengan mimik wajah berharap.
"Boleh ya, Bim, aku ikut reuni! Please, aku kangen dengan teman-teman kita dulu!"
Bimo menyipitkan matanya. "Memangnya siapa temanmu saat SMA dulu? Bukankah hanya saya?"
Aku nyaris menangis kini. Bimo tahu banyak tentang aku. Terlalu susah memintanya izin jika begini.
Namun, sekelebat gelisah juga terlihat dari sorot matanya kini.
Bimo menggeleng keras kepala saat aku mengatupkan kedua tanganku lagi.
"Kamu hanya ingin bertemu dengannya, bukan menginginkan untuk reuni!" ujarnya dingin.
Seratus persen tepat tebakannya. Aku memang ingin bertemu dengan Revi, sebentar saja. Itu sudah cukup untuk sebagian jiwaku di masa lalu bahagia.
"Tapi kakak yang baik harus menuruti adik perempuannya! Apapun alasannya." kataku sambil tersenyum jenaka.
Keheningan kembali merayap saat Bimo diam.
Aku membatin. Bimo tetap harus patuh padaku, sekalipun dia sekarang adalah kakak angkatku. Tapi kondisinya tetap berbeda. Aku tetap ndoro putrinya yang patut ia hormati apapun pilihan dan keputusan-keputusan yang aku ambil.
"Lagipula aku bukan remaja lima belas tahunan yang harus di jaga setiap hari, Bim! Aku akan punya kehidupan sendiri nanti!" ujarku dengan kalimat-kalimat yang aku tonjolkan.
"Kamu memang akan mempunyai kehidupan sendiri, ndoro putri! Tapi sekarang ndoro putri masih sendiri!" ujar Bimo yang terdengar berkelakar di telingaku.
"Kamu juga masih sendiri, meski sudah dua puluh lima tahun lebih! Gak sadar?" balasku. Telak.
Bimo mengerjap, ia kehilangan kata-kata lagi. Aku tersenyum puas.
"Pokoknya nanti aku ikut reuni! Terserah kamu setuju apa tidak! Tapi aku pasti senang kalau mas Bimo setuju!" Aku cekikikan, senang sekali bisa menyudutkannya sebagai mas yang harus patuh dengan adik perempuannya yang rewel.
"Tunggu di kamar!"
Aku mengangguk, Bimo langsung melenggang pergi ke ruang kerja Ayahanda. Itu sudah pasti, karena ia harus meminta izin membawaku pergi ke acara reuni.
Bagi Ayahanda, Bimo adalah perantara kami berdua. Ayahanda yang sudah sepuh, sudah malas berdebat denganku yang pintar memelintir argumentasinya.
Jadilah, beliau menggunakan Bimo untuk mengawasi gerak-gerikku. Dan kesempatan ini ia gunakan untuk mendapatkan hatiku. Tapi bagiku Bimo tetap sama sejak dulu.
Seorang pengawal yang kini merangkap sebagai kakak angkatku.
__ADS_1
Sampai kapanpun, katup hatiku tertutup untuknya karena aku menghormati keteguhan hatinya selama mengabdikan dirinya untuk istana.
***
Di kamar aku sudah memilih baju yang akan aku gunakan nanti, termasuk Stiletto yang menambah tinggi badanku.
Aku duduk di tepi ranjang menunggu Bimo mengetuk kamarku. Aku harap ia berhasil membujuk Ayahanda.
Aku mendesah. Sudah seminggu lamanya Revi tidak mengirimku pesan.
Betapa anehnya pergumulan batin ini. Tujuh tahun aku sama sekali tidak ingin tahu kabarnya, tapi sekalinya dia hadir di hadapanku lagi. Aku jadi tidak tahu diri.
Pintu kamarku di ketuk, aku yakin itu Bimo.
Aku langsung membukanya. Ternyata Ayahanda. Nyaliku masih simpang siur kalau berhadapan dengan beliau.
Karena semakin tua, Ayahanda ini semakin serapuh porselen tua. Disenggol dikit langsung pecah. Sensinya, posesifnya, tidak terduga.
"Ayahanda ada keperluan dengan Dalilah?" tanyaku sambil tersenyum manis.
Ayahanda mengamatiku baik-baik. "Apa kepulanganmu ke rumah hanya untuk meninggalkan Ayahanda lagi?"
Aku mengerutkan kening. "Maksud Ayahanda?" tanyaku.
Aku tertawa kecil. Ayahandaku... sungguh membuatku gemetar-gemetar menahan tawa dan kesal.
"Ya, kami bertemu lagi! Pertemuan yang mengejutkan, dan Lilah rasa Ayahanda sudah tahu lebih banyak dariku. Benar?" kataku sambil tersenyum setenang mungkin.
Ayahanda tidak lagi memamerkan wajah suntuknya. Namun matanya malah terpejam.
Aku bergeming menunggu Ayahanda tidur sambil berdiri.
"Kamu akan menikah, namun tetaplah tinggal disini. Bersama Ayahanda!" cetus beliau tanpa membuka mata.
Aku tergelak singkat dan ikut bersandar di kusen pintu. "Ayahanda mau cucu berapa?"
Seketika mata itu membeliak,
aku menyeringai lebar. Ayahanda tersenyum tipis.
"Bawalah calon suamimu ke hadapan Ayahanda! Baru kau bisa menawarkan berapa cucu untuk Ayahanda! Mengerti?"
"Oke... Lilah cari dulu dimana calon suami Lilah berada! Tapi, aku berharap, Ayahanda membuat semuanya mudah, karena aku tidak mau menjadi perawan tua. It's not funny, you know that!"
__ADS_1
Ayahanda mengendikkan bahu, dan seulas senyum tipis terbit di bibirnya yang menghitam kebanyakan merokok.
"Ayahanda akan menjodohkanmu jika tidak ada laki-laki yang lolos seleksi calon menantu Ayahanda!"
Aku menghela nafas. "Karena Ayahanda yang mempersulitnya!"
Ayahanda menggeleng. "Ayahanda tidak mempersulitnya, Ayahanda hanya memilih yang terbaik untukmu!"
"Yang terbaik menurut Ayahanda, belum tentu terbaik untuk Lilah!" balasku.
"Please, aku sudah menerima Bimo sebagai kakak angkatku, aku sudah pergi sejauh mungkin dari sini hanya untuk meninggalkan mas Revi! Dan Lilah sudah kembali, itu artinya siapapun yang menemani kisah asmaraku Ayahanda harus legowo dan tidak perlu melakukan perjodohan! Itu terlalu old school and once again, Ayahanda pun tidak mau dijodohkan!" Aku menatap Ayahanda, beliau slash tingkah.
"Come on, Dad! Aku hampir dua puluh lima tahun, tahun ini! I'm not little girl again." Aku tersenyum lembut dan mengelus lengan Ayahanda.
Beliau hanya takut, itu yang terus Ibunda bilang mengapa bapakku ini posesif banget.
"Kau hanya perlu membawa calon suamimu ke hadapan Ayahanda!"
Aku cemberut. "Tapi bagaimana caranya Lilah mempunyai calon suami kalau setiap hari saja aku harus minta izin dulu meskipun hanya membeli bakso di luar istana!"
Ayahanda mengulum senyum, beliau mengusap rambutku. "Itu tantangan untukmu!"
Aku memutar bola mataku. "Begini saja, ayo kita buat kesepakatan bersama antara ayah dan anak! Ayahanda mau?" tawar ku sambil tersenyum penuh arti.
"Apa, katakan?"
"Berhubung Lilah hanya boleh kerja di istana atas perintah paduka raja, jadi setiap weekend menjadi waktu luang Lilah free tanpa pengawalan! Ayahanda setuju?"
Ayahanda menerawang ku, memikirkannya sampai kerutan diwajahnya terlihat kentara.
"Hanya dua hari dalam seminggu Ayahanda!" timpal ku lagi.
Ayahanda mengangguk pelan dan ragu-ragu. "Hanya dua hari, dan kamu bukanlah gadis kecil pembuat masalah lagi! Mengerti Dalilah Sekar Kinasih?"
Aku langsung mengangguk cepat dan senyum semringah. "Sip! kalau begini, Lilah mau siap-siap dulu untuk pergi ke reuni."
Aku mendorong tubuh Ayahanda dengan pelan menjauhi kusen pintu. "Terimakasih Ayahanda. Lilah mau mandi! I love you!" kataku sambil menutup pintu pelan-pelan.
Ayahanda berlalu, aku melongok sebentar ke luar kamar sebelum menjerit heboh tanpa suara.
Dua hari dalam seminggu untuk mencari calon suami? Waktu yang miris! Tapi aku sudah tahu kemana harus mencari calon suamiku.
Tujuanku masih sama, dan reuni nanti aku pasti bertemu dengannya.
__ADS_1
...Happy Reading...