ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 1


__ADS_3

...MEREKA, SETELAH TUJUH TAHUN BERLALU....


...***...


...Aku memandangi sepasang sepatu flat lusuh....


...Genap sepuluh tahun sepatu ini menemani setiap langkah kakiku yang kadang berlari, tersandung, tertatih dan terdiam....


...Aku tersenyum....


..."Terimakasih."...


...Aku memasukkannya kedalam box dan menaruhnya di atas tong sampah....


..."Pergilah, sejauh mungkin."...


...***...


Kebaya merah, kain jarik, stiletto dan rambut sanggulan? Semua sudah sempurna di posisinya.


"Bagaimana pendapatmu?" tanyaku pada Arkananta, ia membuang waktu dengan meneliti penampilanku secara seksama.


"Andai kamu bukan sepupu tertuaku, aku ingin menikahimu!" jawabnya lugas.


"Tidak papa izinkan! Sekalipun menikah sesama sepupu di perbolehkan!" timpal om Sadewa dengan tegas.


Aku tersenyum lebar. "Dengar!" Aku menunjuk hidung bangir Arkananta.


"Hubungan kita selama ini hanya sepupu, jangan mengharap lebih! Pakdemu, Yang Mulia Raja Kaysan Adiguna Pangarep pasti tambah rewel jika aku menikah denganmu!"


Arkananta memberengut sambil membuang nafas. "Aku terima kekalahan ku! Ayo." Arkananta menggandeng tanganku dengan ragu. Aku tersenyum dan menggenggamnya.


Tujuh tahun aku tinggal di Melbourne untuk menyelesaikan pendidikan ku sampai lulus pascasarjana dan sepupuku menyukaiku.


Meskipun begitu, tidak ada hubungan yang mengikat terkecuali hubungan darah yang sama. Darah biru.


Arkananta ada untukku disaat aku serapuh porselen. Aku ada untuknya sebagai kakak perempuan baik hati dan pintar yang membantunya belajar.


Namun yang membuat hubungan persepupuan ini parah adalah Arkananta menjadi pacar bohongku di kampus. Itu aku lakukan untuk meminimalisir pria-pria jangkung, berkulit putih, dan berjiwa bebas mendekatiku tanpa tahu siapa sesungguhnya aku.


Hari-hari ku jalani, begitu berwarna sampai tiba saatnya aku harus kembali ke istana setelah perayaan Graduate Degree hari ini.


Arkananta tersenyum tipis sambil mengemudikan mobilnya. Dia patah hati karena aku harus pulang lusa, meninggalkan rumahnya dan kenangannya bersamaku.

__ADS_1


"Kamu tahu kan bagaimana eyang jika marah? Itu salah satu alasannya kenapa kita tidak bisa bersama." ujarku lembut.


"Karena kamu juga tidak mencintaiku, Mbak! Kamu hanya mengingat cowok itu terus menerus!" sungut Arka.


Aku tetap tersenyum lembut. "Come on, Lil Bro! Kamu seusia Pandu, mana mungkin aku menikah denganmu! Udah ah kamu ini keterlaluan!" Aku menepuk bahunya. "Banyak cewek-cewek cantik yang bisa kamu dekati! Jangan galau!" gurauku.


Arkananta mendesah pasrah, ia membanting setir mobil ke arah kanan sebelum menancap pedal gas dengan cepat sampai ke kampus.


Arkananta memutari kap mobil sebelum membuka pintu mobil. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk membantuku berdiri.


"Thankyou, my cousin!"


Arkananta berdecak kesal sambil menutup pintu mobil dengan kencang.


Aku tersenyum maklum.


Tujuh tahun kami hidup seatap. Dalam kondisi apapun kami tahu, dari bangun tidur sampai tidur kembali kami slalu bertemu.


Dan yang paling aku sayangkan adalah ia slalu terlibat disaat aku ingin melupakannya.


"Ini pesta, jadi aku minta jangan cemberut! Bisa, Ar?" pintaku sambil mengalungkan tanganku di lengannya.


"Setelah lulus bachelor degree, aku akan kembali ke istana untuk memastikan kamu tetap sendiri!" katanya keras kepala dengan seringai terjahatnya.


***


Hari ini benar-benar datang. Aku harus pulang, mengudara lagi, melewati samudra yang menjembatani dua benua.


Mengikuti aturan, menjadi anak Ayahanda yang manis dan ceria.


Selama tujuh tahun, aku merasa baik-baik saja disini. Hidup bebas seperti manusia pada umumnya. Menjadi pelajar internasional yang mendapat mahasiswa, menjadi keponakan yang bisa diandalkan dan menjadi Kamboja yang tumbuh secara alami.


Aku menoleh kearah tangan yang merangkul bahuku. "Aku akan merawat pohonmu, pergilah!" kata Arka lembut.


"Tapi kamu membencinya, Ar! Pohon itu adalah Kamboja darinya."


Arkananta menggeleng. "Itu sudah milikmu! Pulang sana, sudah cukup kamu numpang di rumahku! Ngerepotin!" katanya sambil mendekapku. Bukan dekapan hangat seorang sepupu, namun dekapan seorang laki-laki yang mengharapkan aku.


"Aku benar-benar akan di bunuh kangmas, Ar!" sindir om Sadewa. Tidak terdengar bercanda. Arkananta menghembuskan nafas kasar dan melepasku.


"Papa... Tidak bisakah kau melihat cinta dari sorot mataku?" tanya Arka, om Sadewa menggeleng cepat.


"Terlalu banyak risiko!" jawabnya langsung.

__ADS_1


Aku menghampiri mereka sambil tersenyum kecil. "Sudah siap, Mbak?"


"Sudah Om!" Aku menatap om Sadewa. Tujuh tahun beliau merangkap sebagai ayahku. Banyak sekali yang beliau lakukan untuk menggantikan posisi Ayahanda yang tidak bisa melakukan penerbangan jarak jauh karena faktor usia dan pekerjaan.


Aku berhutang budi kepada Om Sadewa. Sungguh dibalik sifat usilnya, beliau juga tegas seperti Ayahanda. Aku yakin, pasti darah eyang kakung yang mengalir dalam tubuh mereka dan aku tidak bisa menyelesaikan kuliahku secepat ini jika beliau tidak sering mengingatkan aku untuk selalu taat dan tertib.


Om Sadewa merentangkan kedua tangannya. "Kemarilah, om adalah saksi dimana kamu dibentuk oleh kedua orangtuamu. Sungguh om tidak mengira jika ayahmu masih saja merepotkan Om untuk ikut membesarkanmu juga!" Om Sadewa tersenyum lebar.


Aku mendekapnya. "Terimakasih, Om! Sungguh Lilah tahu Ayahanda memang menyebalkan. Tapi dia tetap ayahku, aku merindukannya!"


Om Sadewa tergelak. "Salam untuk Ayahmu dan saudara kembar ku!"


Aku mendongak. "Om Nanang tidak?" tanyaku heran.


Om Sadewa kembali tergelak. "Dia sedang sibuk dengan istrinya, biarlah! Kamu tahu sendiri kan, sekalipun om mengirimnya ribuan pesan. Mas Nanang tidak akan membalasnya. Dia terlalu bahagia sekarang." Om Sadewa tersenyum bahagia.


Aku ikut tersenyum lega. Tujuh tahun kami semua melewatinya dengan suka duka. Eyang Putri sudah meninggal, eyang Kakung pun. Hanya tersisa opa Herman dan istrinya.


Om Nanang yang akhirnya menikah, Suryawijaya dan Pandu yang sudah kuliah. Ibunda dan Ayahanda yang menua bersama dan aku yang masih jomblo saja.


"Terimakasih Om!" kataku tulus. "Sudah saatnya Lilah pulang."


Om Sadewa mengangguk, beliau kembali memelukku. "Maafkan Arka."


Aku mengangguk, ku tatap lagi bonsai kamboja yang aku tanam di pekarangan rumah om Sadewa sebelum melenggang pergi. Bonsai itu tumbuh, menolak untuk kerdil dan bertahan hidup di negara empat musim ini.


***


Aku menarik koperku setelah memakai kacamata hitam dan topi jerami untuk menutupi wajahku.


Bandar udara Melbourne tampak ramai di penghujung tahun. Beberapa orang memilih kota ini untuk menikmati pergantian tahun.


Sementara mereka datang untuk bersenang-senang, aku harus meninggalkan kota ini. Terlalu banyak kenangan yang terjadi di kota metropolis ini. Terlalu banyak cerita yang aku miliki.


Aku berbalik untuk kembali menatap keluarga om Sadewa. Kakiku seolah berat untuk meninggalkan kebebasan di negara ini. Mereka mengibas-ibaskan tangan,


Aku menghela nafas panjang dan mengulas senyum sebelum kembali berjalan menuju landasan pacu bandara.


Disinilah awal dimana aku memulainya tanpa dia, dan disinilah akhir dimana aku harus kembali menghirup udara yang tak lagi sama.


...Karena aku tak mungkin melawan takdir yang mengalir dalam nadiku ini....


...Aku harus kembali!...

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2