
Revi.
...Percayalah...
...Bahagiaku bersamamu...
...Dan itulah yang ku mau...
...Tetaplah denganku dalam gelapmu...
...Genggamlah tanganku percayakan aku...
...Tuk bawa dirimu kedalam duniaku...
...Yang kusebut bahagia bila kau mau...
...Percayalah setia ini selamanya...
...Yang kuciptakan hanya untukmu...
...Walau banyak hati ku tempuh...
...Meski takkan ku lupa...
...Hanya kau yang mampu membuatku lemah...
...Dari caramu memandang cinta...
...Semoga takkan pernah ku lupa...
...Kau dan aku berdua telah mengukir kisah...
...***...
Princess bertepuk tangan seraya tersenyum riang saat aku memandangnya sejak distorsi gitar mulai memenuhi studio musik ini.
Aku memandangnya dari kerumunan orang yang berjingkrak-jingkrak termasuk Prisia dan Genk SMA-nya. Berseru, meneriakkan namaku.
Revi... Revi... Revi...
Namun aku hanya fokus pada petikan gitar dan seorang gadis yang berdiri di barisan paling belakang. Terus tersenyum seraya memandangku terus-menerus.
"Huaa... Kamu slalu terbaik, Rev! Nyesel aku putus sama kamu!" kata Prisia sambil mendekatiku dan hampir saja memelukku.
__ADS_1
Alisku terangkat sambil menaikkan gitarku agar menghalanginya.
"Tapi aku ikhlas putus darimu, Pris! Gantinya benar-benar istimewa." kataku jujur. Prisia berseru. "Pacarmu kaku, Rev! Gak bisa diajak senang-senang."
Sorakan lagi-lagi terdengar, menyemangati Prisia. Reno yang paham betul dengan kondisi princess setelah enam hari menghabiskan liburan sekolah bersama ku di rumah princess mengambil stik drum yang Derren pegang lalu menodongnya ke wajah Prisia.
"Jangan cari masalah. Lagipula princess sudah tahu kamu mantannya, Revi! Jadi tuan putri sudah jaga-jaga kalau saja kamu bertindak seenaknya lagi."
Prisia menaikkan alisnya lalu menoleh ke arah princess.
"Marah gak kalau Revi aku cium?" tanya Prisia seraya tersenyum miring.
Princess membulatkan matanya, ia terlihat gusar. Ia menatapku lalu menggeleng pelan.
"Mas Revi gak akan mau di cium Mbak Prisia!" balasnya tenang di tengah pandangan mata teman-temanku yang memandangnya seolah makhluk asing yang datang untuk bersenang-senang sebentar lalu pergi tanpa meninggalkan kesan.
"Kalau aku maksa gimana? Revi juga pernah cium aku sebelum kalian pacaran. Jadi kamu dapat bekas ku!" kata Prisia dengan gaya sok.
Prisia benar-benar kelewatan, ia benar-benar membuatku jengah dengan sandiwaranya. Ia bahkan tidak malu mengubar privasinya sendiri. Teman satu Genk pun tahu aku dan Prisia pernah ciuman, jadi tidak penting sekali harus di pamerkan.
Aku melepas gitarku sebelum mendekati princess. Ia tersenyum jenaka. "Aku tahu kok. Lagian waktu itu mas Revi belum jadi pacarku, jadi aku gak cemburu. Lagu tadi juga buat aku. Iya kan mas?" tanya princess sambil mencermatiku.
Aku mengangguk cepat. "Well down! Yang mau nge-band, silahkan. Mau karaoke juga silahkan. Aku harus ngobrol dengan Derren dan princess di ruang mixing!" kataku di samping princess. Menyentuh jari jemarinya seraya mengenggamnya.
Aku menoleh, Dalilah memang terlihat seperti adik perempuan yang butuh dilindungi. Dia kecil, apalagi wajah polosnya. Namun, aku justru tergelak di buatnya.
Dia kecil... Astaga, pipiku justru merona secara tiba-tiba membayangkan yang kecil dan imut-imut. Dalilah ini mirip dengan Maudy Ayunda sewaktu remaja. Langsing namun bibirnya. Aduh... Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk mengecupnya. Pasti sangat penuh kejutan.
"Mas Revi..."
Aku tersadar saat merasakan guncangan di tanganku dan tersenyum lebar.
"Kok ngelamun sih?" sahutnya sambil mengerucutkan bibir. Kondisi paling bahaya dari bibirnya. Seksi... Orangtuanya jelas mati-matian menjaga putri mereka satu-satunya agar mendapatkan laki-laki yang tepat dan memiliki segalanya yang teramat istimewa.
"Aku mikirin kamu, sayang!" balasku lalu menariknya melewati Prisia. Prisia mendengus dingin sambil mengibaskan rambutnya.
"Cabut gays, kita jalan-jalan ke mall. Revi udah gak asik!" serunya angkuh.
Aku melambaikan tangan. "Hati-hati, jangan lupa belok kanan, jangan ngiri!" gurauku sengaja. Prisia menutup pintu studio dengan kencang setelah mengacungkan jari tengahnya.
Aku terkekeh kecil. "Ren! Happy-happy sama yang lain. Aku meeting dulu."
"Preet... Gayamu meeting-meeting segala!" seru Reno sambil mengeluarkan satu krat bir.
__ADS_1
Aku menutup pintu ruang mixing setelah Derren dan Bimo sudah berada di dalam. Jangan kira Bimo tidak ikut, ia bahkan mengamati tanganku dan princess sedaritadi saat bertaut.
"Jadi poin utama disini harus dari penarinya terlebih dahulu karena mereka yang ditonjolkan oleh walikota. Menggabungkan tarian tradisional dan culture korea yang betul-betul jadi menjamur di negeri ini." kataku saat kami sudah duduk melingkar seperti melakukan meeting beneran.
"Untuk mixing lagu K-Pop dan gamelan emang butuh ketelitian dari nadanya biar sinkron. Kalau keduanya sudah dapat, aku baru bisa cari gebrakan yang pas untuk mengiringinya." jelas Derren.
Aku mengangguk setuju. "Jadi, ndoro putri. Tarian apa yang mau kamu tarikan besok?" tanyaku pada princess.
"Tari serimpi." balasnya sambil mengetuk-ngetuk meja. Matanya terus melirik jam dinding. Lalu cemberut lagi.
"Mau pulang?" tanyaku.
"Harus pulang sebelum jam sembilan!" sergah Bimo langsung.
Aku berusaha tersenyum. Dalilah mengangguk pelan. "Biar diizinkan malam Mingguan lagi sama Ayahanda." jelasnya pelan.
"Kalau gitu pulanglah. Tapi aku gak bisa antar kamu sampe rumah." jelasku seraya mengelus bahunya. Hanya sebatas ini keromantisan diantara kami, bahkan Derren terlihat menahan tawa.
"Kamu tertekan berpacaran dengan tuan putri?" tanyanya saat princess sudah berpamitan denganku lalu menghilang dari studio ini.
Membayangkan Dalilah boncengan dengan Bimo, menikmati suasana malam Minggu. Menikmati lampu merah dan berharap mendapat menit paling lama dan berakhir dengan saling tersenyum seraya melambangkan tangan membuatku menghembuskan nafas panjang.
"Protokol-protokol istana akan menyelamatkan hubungan kami. Paling tidak, yah. Laki-laki tadi, si pendiam itu adalah laki-laki yang bisa aku kendalikan." kataku seraya membuka botol bir.
"Maksudmu?" tanya Derren.
"Dia butuh uang banyak untuk biaya pengobatan orangtuanya dan sekolah."
Derren menyengir kuda dan pintu terbuka. Reno masuk membawa uang hasil perlombaan kemarin. Sebagian sudah kami bagi-bagikan dengan pemain basket lain dan tim cheers leader. Sisanya milikku dan miliknya masih utuh.
"Aku pikir princess ada apa-apanya dengan Bimo. Tapi kalau tahu yang sebenarnya, emang sulit juga jadi Bimo." kataku sambil mengangkat botol bir dan menenggaknya.
"Jadi dia beneran jadi bodyguardnya pacarmu, Rev?" tanya Reno.
Aku berdehem. Reno terkekeh.
"Kacau juga kisah asmaramu, Rev! Pacar udah di jagain, dilayani banyak orang. Lah, elu gunanya apa?"
Kekehannya semakin membuatku jengkel. Tapi juga bingung, apa gunanya aku buat princess? Kalau cinta ia sudah banyak. Uang, takhta, gelar, bahkan skincare dia sudah punya, resep warisan dari leluhurnya.
Sialan emang Reno. Aku malah jadi kepikiran sekarang apa gunanya aku buat princess!!!
...Happy Reading...
__ADS_1