ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 64


__ADS_3

Dalilah.


Aku mengeluarkan baju-baju berpergian ku ke atas kasur. Ku lihat satu persatu blouse remaja yang slalu Ibunda beli dari store yang masih berdiri tegak hingga sekarang. Entah kenapa Ibunda suka sekali beli disana, bahkan sejak aku kecil. Tapi masalahnya bukan itu, kenapa baju-bajunya seperti ini semua. Tidak ada yang menarik sekali untuk malam Mingguan. Baju-baju ini terkesan formal, tidak kekinian.


Ku rapikan lagi baju-bajunya ke dalam almari sebelum keluar kamar. Aku hendak mencari Ibunda, mengajaknya belanja.


"Ndu, lihat Bunda?" tanyaku saat berpapasan dengannya.


"Di ruang keluarga!" jawabnya lalu melenggang pergi.


Aku mengendikkan bahu. Makin dewasa dia semakin sibuk sendiri dengan perkumpulan rahasianya. Perkumpulan para pengemar ilmu pengetahuan ke-gaib-an.


Di ruang keluarga, aku melihat Ibunda dan Ayahanda duduk bersama sambil menonton televisi. Gak biasanya mereka begitu, apa karena sedang dalam masa-masa santai?


"Bunda..." panggilku dengan lembut sambil tersenyum lebar. "Sibuk gak?" tanyaku seraya duduk disampingnya, membuat Ayahanda menatapku tanpa banyak tanya.


Ibunda menaikkan alisnya dengan heran. "Ibunda tidak sibuk, Mbak. Kenapa sih? Kalau begini pasti ada maunya." tebak Ibunda. Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil menyunggingkan senyum.


"Benar kan. Apa?" tanya Ibunda.


"Beli baju yang bagus, yang kekinian biar gak ketinggalan jaman." rayuku sambil memasang wajah manja.


"Ini yang paling bahaya dari anak kita, mas! Kalau ada maunya wajahnya bisa dibuat semanis mungkin. Benar kata Suryawijaya kalau Mbak Lilah ini bagusan jelek saja, kalau manis dan manja begini bahaya." ucap Ibunda kepada Ayahanda.


Ayahanda mengangguk setuju. "Besok kalau kuliah Mbak pakai saja tompel diwajah biar tidak diganggu oleh laki-laki." Aku dan Ibunda mengernyit heran dengan ide Ayahanda, Ayahanda mengulum senyum. "Hanya ide, biar anak Ayahanda tidak bingung menghadapi laki-laki yang mendekatimu."


Aku menatap Ayahanda dan Ibunda secara bergantian. "Punya anak cantik bingung, punya anak pendiam bingung, punya anak indigo bingung. Harusnya kami yang tanya, kenapa Ibunda dan Ayahanda bisa menurunkan semua ini kepada kita?"


"Itu anugerah Tuhan." kata Ayahanda.


"Kalau gitu kenapa Ayahanda memintaku memakai tompel! Itukan tandanya aku gak bersyukur mempunyai wajah cantik ini seperti Ibunda." Ibunda mengangguk setuju dengan ucapanku.


Ayahanda mengelaknya dengan dalih untuk antisipasi saja.


"Bunda, ayo beli baju untuk malam Minggu nanti." kataku lagi ke topik utama pembicaraan.


"Baju-baju dikamar kenapa? Bukankah jarang kamu pakai?" selidik Ibunda.


"Potongan polanya itu tidak kekinian, Bun. Terlalu flat meski masih baru." kataku sambil mengatupkan tangan. "Boleh ya, Bun. Satu aja buat nanti Malam Minggu pertama Lilah setelah hukuman dulu itu." rayuku lagi melancarkan aksi.


Ayahanda menghela nafas seolah merasa bersalah kalau mengingat kejadian tamparan keras itu.

__ADS_1


"Boleh mas?" tanya Ibunda kepada Ayahanda.


"Mau ngedate saja bingung, kalau Revi menerimamu apa adanya, ia tidak akan peduli dengan baju yang kamu kenakan. Sudah pakai baju yang ada." sahut Ayahanda.


Aku mendengus seraya menguwel-uwel baju Ibunda.


"Lagipula Bunda dulu hanya memakai kaos dan celana jeans jika berpergian dengan Ayahanda. Tidak memakai baju bagus. Itu sudah membuat Ayahanda jatuh cinta setengah mati dengan Ibunda." kata Ibunda menjelaskan seraya merapikan rambutku.


"Benar begitu, gak bohong?" tanyaku memastikan.


"Benar!" sahut Ayahanda lagi.


Aku berbisik di telinga Ibunda dengan lirih. "Ayahanda kenapa, Bun?" tanyaku.


"Biasa... Semakin kamu dewasa, semakin Ayahanda takut kehilanganmu." balas Ibunda dengan lirih sambil tersenyum.


Aku cekikikan. "Bagaimana kalau Lilah nikah muda? Ayahanda syok?" tanyaku lagi pelan-pelan.


Ibunda memundurkan kepalanya, lalu mengamatiku lekat-lekat dan menggeleng.


"Tidak! Harus kuliah dulu, minimal sudah punya gelar sarjana jika ingin menikah." jawab Ibunda terang-terangan.


Aku beranjak dari tempat duduk dan menghilang dari ruang keluarga sebelum Ayahanda membaca pidatonya lengkap dengan petuah-petuah hidup.


***


Sore harinya selepas aku hanya menghabiskan siang dengan berkirim chat dengan mas Revi. Aku bersiap-siap untuk mandi sebelum Suryawijaya memanggilku.


"Ada apa?" tanyaku sambil mengalungkan handuk di leherku.


"Ini!" katanya sambil menyerahkan paperbag. "Dari Bunda."


Ku lihat isinya. Sebuah baju kekinian dengan bentuk yang menarik. Aku tersenyum, tapi baunya masih bau toko jadi aku tidak bisa memakainya.


"Terimakasih, Bimo udah datang?" tanyaku seraya mengamati Suryawijaya. Dia juga sudah terlihat mandi, harum pula. Apa jangan-jangan... Dia juga mau malam mingguan?


"Mau kemana?" tanyaku langsung.


"Sesuka hati aku!" jawabnya lalu pergi.


Aku menyengir seraya menutup kamarku.

__ADS_1


"Apa Surya juga punya pacar? Wah dahsyatnya, cewek mana yang kecantol sama wajahnya yang dingin." gumamku sebelum masuk ke kamar mandi.


Setengah jam kemudian aku sudah bersiap untuk ngedate. Aku keluar dari kamar untuk mencari Bimo yang sudah mengirimkan pesan singkat kepadaku bahwa ia sudah di tempat biasanya.


Aku berjalan menuju taman, di dekat kolam renang.


Dari belakang, sudah kulihat dia sedang berdiri. Memakai kemeja batik lengan pendek dan celana jeans serta sepatu kets santai.


Aku tersenyum. Gak ada yang salah dengan dirinya. Hanya saja malam mingguan menggunakan batik itu sangat anti mainstream.


"Juragan batik perginya juga pakai batik ya?" kataku mengagetkannya. Bimo berbalik, menatapku.


"Iya." balasnya sambil tersenyum kaku.


"Gak masalah... kata Ayahanda, orang akan menerima kita apa adanya terlepas dari pakaian yang kita pakai."


"Iya." balasnya lagi.


Aku memanyunkan bibir seraya mengamatinya dengan seksama. Bimo terlihat kurang bersemangat sore ini, wajahnya seperti menyimpan beban berat.


"Kenapa? Baru ada masalah dirumah?" tanyaku.


"Tidak." jawabnya lagi sekenanya, seperti biasanya. Aku menggeleng dan melipat kedua tanganku di depan dada.


"Kalau kerja yang jujur! Kamu lagi ada masalah? Aku gak mau bersenang-sennag kalau kamu gundah gulana seperti ini." seruku galak.


Bimo menggaruk tengkuknya seraya menatapku. "Apa ndoro ayu terburu-buru untuk datang ke studio musik?" tanyanya pelan.


Aku melihat jam di pergelangan tangan, baru jam setengah lima. Ini sih belum termasuk malam Mingguan tapi Sabtu sore yang cerah.


"Kenapa, ayo bilang saja? Jangan menunda-nunda!" ujar ku.


"Saya harus ke rumah sakit sebentar, ayahku baru opname."


Aku mengangguk langsung. "Oke. Nanti mampir dulu ke toko buah ya, sekalian aku mau jenguk ayahmu. Boleh?"


Bimo mengangguk pelan sambil tersenyum simpul.


"Tidak merepotkan ndoro putri?"


"Tidak! Aku free hari ini, sudah dapat izin dari Ayahanda. Jadi ayo jalan sekarang. Lilah sudah pengen keliling kota!"

__ADS_1


Bimo mengangguk seraya memintaku untuk berjalan terlebih dahulu. Namun aku tetap saja berjalan disampingnya, mengamati baik-baik Bimo yang tidak baik-baik saja.


...Happy Reading...


__ADS_2