
Revi.
Kehadiran Kendrick benar-benar tidak aku kira. Kalau saja dia sudah tua dan memiliki istri tidak masalah. Tapi Kendrick. Dia masih lajang, cukup dewasa, berbadan kekar. Salah satu detektif kesayangan mommy. Ganteng, tinggi, humble. Benar-benar definisi pria idaman wanita.
"Aku padamu, Rev!" selorohnya dengan alis terangkat sebelah.
Aku mendengus kesal, dia tidur di kamarku malam ini. Satu ranjang denganku! Menyebalkan, mengurangi privasiku untuk bersantai-santai dan memandangi foto princess.
"Rese!" balasku sambil memiringkan tubuh. Aku sedang berbalas pesan dengan princess. Dia bilang, mau duduk sama aku besok waktu naik pesawat.
Tapi... Besok kan pesawat komersial! Bukan pesawat pribadi. Mau berduaan pun rasanya tidak leluasa.
Ada bapak-ibu guru, ada bodyguard, ada penumpang lain, ada siswa-siswi lain dan parahnya lagi ada benteng tak kasat mata diantara kita.
Aku membuang nafas. Duduk sendiri-sendiri aja, Lilah. Tapi aku gak jauh-jauh dari kamu!
Aku mengernyit bingung saat ia tetep bersikukuh duduk di sampingku selama penerbangan ke Jakarta.
Iya... Iya... Kita atur besok. Lagian kamu kenapa sih jadi posesif gini?
Aku mengeratkan pelukanku pada guling dan tersenyum-senyum sendiri setelah Dalilah membalasnya dengan kalimat-kalimat rayuan yang menggelikan.
Lilah mau menikmati keindahan awan bareng mas Revi. Salah?
Ya Allah, aku jadi pengen terbang ke awang-awang sekarang. Tanpa sadar aku menggigit gulingku sendiri.
Enggak salah kok, yang salah itu kamu. Gemesin!
Aku menggeram saat Kendrick menoel-noel punggungku. "Ganggu, Ken!" kataku galak.
"Tidur, Rev! Besok bangun pagi!" katanya pelan, sok perhatian. "Mommy tadi bilang aku harus mengawasimu!"
"Dia mommyku, bukan mommymu!" koreksiku galak.
"Makanya tidur! Lagipula pacarmu kan harus tidur, jadi berhentilah membalas pesannya!" ujar Kendrick mengingatkan.
Aku langsung bangkit dan menatapnya tajam. "Pacarku itu urusanku! Jadi Ken, aku harap kamu hanya menjagaku dalam konteks tertentu, bukan mencampuri urusan pribadiku!!!"
Kendrick mengangguk paham. Ia lantas mengambil ponselku yang berada di bawah bantalku seraya tersenyum miring.
"Tidur gih! Mimpi indah, Rev!"
__ADS_1
Aku pura-pura muntah sambil menyaut selimut dan menutup sekujur tubuhku dengannya.
***
"Mom! Mom!"
Mommy menoleh dengan mata melotot.
"Udah gede masih teriak-teriak!" Mommy melempar serbet ke arahku. Aku menangkapnya dan menaruhnya diatas meja.
"Aku jijik sama Kendrick, Mom!" ujarku langsung. Mommy menyeringai lebar seolah sudah tahu dengan kejadian-kejadian aneh di kamar. "Dia emang begitu, Rev! Manipulasi diri biar musuh terkecoh dengan penampilannya."
Aku menggeram. "Tapi gak perlu dirumah juga! Cukup di luar aja! Dia seperti banci tau!"
Kendrick yang selesai menuruni anak tangga berdecak kesal sambil merangkulku. Aku mengurainya langsung dan bersembunyi di belakang mommy.
"Jangan-jangan dia gak normal, Mom! Aku risi, sumpah!"
Mommy dan Kendrick membuang nafas. "Pembawaannya emang gini, Rev! Dia begitu menjiwainya perannya sebagai cowok lemes. Tapi dia normal, suka cewek!" jelas mommy.
Kendrick berdehem, menegaskan suara basnya. "Santai, Rev! Aku normal, aku masih suka sama lubang kok bukan pentolan!" ujarnya sambil tersenyum mesum. Mommy terkekeh kecil dan menggeleng. Aku mendengus.
"Mommy bakal nyusul nanti malam, kalian berdua hati-hati!"
Saat kami tiba di Bandara, suasana pagi masih terasa segar.
"Thankyou, Dad!" kataku sambil tersenyum hangat. "Beri Daddy kabar baik! Oke?" Aku mengangguk. Kami berpelukan singkat sebelum aku berlari kecil menuju titik poin pertemuan.
Beberapa teman sudah ada yang nongkrong disini dengan raut wajah bosan---menunggu. Aku pun ikut-ikutan menunggu Dalilah dan Reno, sampai satu jam sebelum keberangkatan Dalilah tak kunjung datang.
Aku menggeram kesal. Dia kemana sih? Apa dia sakit karena puasa mutihan. Apa dia gak bisa berangkat karena ada kendala di rumahnya. Dia benar-benar membuatku tidak tenang, apalagi aku sudah membayangkan bagaimana rasanya terbang di atas awan berduaan.
"Sial." gumamku sambil mengangkat tas ransel besar berisi baju gantiku. Jika kami menang kami akan mendapat reward untuk jalan-jalan di Jakarta setelah perlombaan dan aku sudah mempunyai rencana sendiri untuk itu. Tapi jika tidak, O o... Paling-paling walikota yang pundung.
Langkahku melambat begitu meninggalkan titik pertemuan ini. Dalilah dimana?
"Santai aja, Rev! Kalaupun princess telat, dia akan menggunakan penerbangan selanjutnya." Reno menepuk bahuku, mengerti kalau aku sedang gelisah.
"Duduk yang manis, jangan tegang, nanti muncrat!" Kekehnya sambil duduk di sebelahku.
Aku mengepalkan tangan. Menarik nafas. Menghembuskannya. Berulang kali pandanganku mengedar keluar jendela pesawat. Tidak ada tanda-tanda princess datang. Aku mendesah. Keadaan ini masih mencekikku, membuyarkan ekspetasiku tentang awan.
__ADS_1
Langit biru tak terbatas, awan putih selembut sutra. Dan ia yang tersenyum lega.
Suara deru pesawat bergemuruh, aku semakin gelisah.
Dimana pacarku, Tuhan? Please, jangan di sembunyikan.
Aku beranjak, berminat turun dari pesawat tapi pak Bambang memintaku untuk diam di tempat.
"Dalilah belum datang, Pak!" ujarku ketus.
Pak Bambang tersenyum kecil, beliau membuang nafas sebelum serentetan kalimat membuatku tetap tidak tenang.
"Pesawat ini sudah di booking oleh Gusti Kanjeng Sultan. Jadi mau sampai nanti siang pun kalau Dalilah belum datang pesawat ini tidak akan terbang."
Bahuku merosot kebawah dengan lunglai.
Duhai Dalilah pujaan hatiku. Kekuasaan apa yang kamu miliki selain permintaan polos sekaligus konyol yang pasti aku yakini sebagai rayuanmu kepada Ayahanda raja.
Aku menarik nafas dalam-dalam, berkacak pinggang di depan pintu masuk pesawat sampai pramugari cantik yang berada di dekat pintu kesal sendiri.
"Sebentar lagi pesawat take off, mas! Silahkan duduk!" Aku menggeleng keras kepala. "Pesawat gak bakal take off, orang pacarku belum datang!" tukasku.
"Pacar Raden Ayu Dalilah Sekar Kinasih?"
Aku membusungkan dada dan mengangguk kuat-kuat.
"Saya pacarnya!"
"Selamat berkumpul dengan keluarga besar keluarga Gusti Kanjeng Sultan Kaysan Adiguna Pangarep."
Mataku langsung bergerak kesana kemari. Pantas saja sejak tadi tidak ada pengunjung lain yang masuk ke dalam kabin pesawat.
"Yakin Mbak? Seluruh keluarga besarnya ikut?" tanyaku dengan degub jantung cepat, mata yang melotot tajam.
Sang pramugari mengangguk pelan dan tersenyum hambar. "Sebentar lagi juga datang, beliau-beliau yang terhormat sedang melakukan doa bersama di aula Bandara."
Jantungku langsung salto... Jumpalitan gak karuan. Dahiku dipenuhi keringat dingin, mendadak aku kebelet pipis.
Aku langsung ke kamar mandi dalam pesawat. Sambil nunggu selesai buang air, aku membayangkan bagaimana satu pesawat dengan satu keluarga besar kerajaan.
Ayahanda yang diam-diam mencekam, Ibunda yang ramah tapi sentimental, Suryawijaya yang cuek bebek, Pandu Mahendra yang tengil sekaligus absurd, dan Eyang Kakung yang super duper galak. Belum yang lain-lainnya.
__ADS_1
Mendadak aku pengen ngumpet di kamar mandi saja selama perjalanan ke Jakarta.
...Happy Reading...