
Revi.
Aku menotol-notolkan obat merah dengan hati-hati di lutut Dalilah.
"Udah to jangan sentuh-sentuh lukanya. Gak sembuh-sembuh nanti malah tambah sakit!" Dalilah mendorong bahuku dengan wajah kesal. Keras kepalanya tidak berubah, sungguh.
"Diobati biar gak infeksi! Bisa diem gak? Kamu tahu kan aku bawa pistol! Kalau gak diem aku tembak!" ancam ku sambil memasang plester di lututnya
"Pistol bohongan!" cibirnya sambil menggigit bibir bawahnya menahan sakit saat aku sengaja menekan lukanya.
Aku tersenyum miring. "Sakit?"
Aku berpura-pura, dia berdehem dengan otot-otot wajahnya yang menegaskan bahwa memang sakit goblok, gak liat pakaiannya sampe sobek begitu.
Itu kalau Angel yang bilang.
Aku menghembuskan nafas. Aku maklum kalau memang pertemuan ini menimbulkan rasa canggung baginya. Tapi aku cukup bersyukur sepanjang perjalanan menuju apartemenku, Dalilah cukup bijak untuk hanya diam seribu bahasa ketimbang mencakari wajahku karena marah aku menculiknya ke sini.
"Mau minum, Lil?"
"Gak, terima kasih!"
Aku menatap Dalilah dengan seksama.
Tidak mudah bagi kami untuk berkomunikasi dengan baik setelah melewati masa-masa paling melankolis di hidup kami.
Miris banget, anak SMA udah di uji coba dengan kisah cinta sepahit brotowali.
Aku penasaran, apa semua yang berhubungan dengan keluarga kerajaan akan mengalami kondisi seperti ini?
Mencoba menjadi superhero yang kuat, berani, bijaksana dan baik hati sekaligus diidolakan banyak orang.
"Kamu habis lari maraton dan kebut-kebutan dengan sepedamu, tapi gak haus? Kamu hebat ya!" pujiku sekaligus menahan tawa.
Dalilah memutar lehernya lalu menatapku dengan sinis. "Aku mau pulang!"
"Ya udah sana, aku cuma mau ngobatin lukamu kok! Soalnya aku perhatian, gak bisa lihat cewek-cewek cantik terluka." godaku lagi.
Dalilah mengerucutkan bibirnya, ia beranjak dengan tergesa sampai mengeluarkan suara erangan kesakitan.
Ia terpincang-pincang mendekati pintu keluar. Aku menyeringai lebar sambil mengikutinya dari belakang.
"Kuncinya ada di saku celanaku, mau ambil?"
Dalilah menegang, ia bergeming di depan pintu keluar.
Aku masih menahan tawa. Dia pasti kesal sekali sekarang. Apalagi dia tidak bawa hp jadi tidak ada yang bisa dilakukan selain merengek padaku.
Tapi saatnya bukan bergurau sekarang, saat hantu-hantu masa lalu telah kembali dan kami tidak bisa berlari lagi menjauh.
"Bukan begitu caramu." bisikku muram.
Dalilah berbalik tanpa bisa menyembunyikan sorot kecewa di wajahnya.
"Aku menghargai perhatianmu. Terimakasih sudah menolongku." ujar Dalilah lembut. "Tapi aku harus pulang sekarang, aku gak bisa lama-lama pergi dari rumah!"
__ADS_1
"Kamu mau pergi lagi? Dariku?"
Dalilah mendongkak, menatapku dengan tatapan sedih.
"Aku harus ke pasar, beli klepon! Ibunda menungguku..."
Aku tertawa penuh kegetiran dan menggeleng.
Tidak ada yang berubah darinya, masih sepolos dulu, bahkan untuk hal-hal sepele dia pasti jujur.
"Aku akan mengantarmu pulang, tapi duduklah dulu. Aku buatkan minum."
Dalilah terdiam lama memandangi tangan kananku yang terulur.
"Aku bisa jalan sendiri." Dalilah mengabaikan uluran tanganku, ia melangkah ke sofa hitam yang ia duduki tadi.
"Tunggu sebentar." Aku masuk ke dalam mini bar yang kerap menjadi tempat nongkrong bareng Reno dan Angel. Aku memang memilih tinggal di apartemen setelah kamarku hanya membuatku semakin galau karena dia.
Aku membawa dua teh manis ke arahnya yang sejak tadi mengedarkan pandangannya menatap apartemenku.
"Aku tinggal disini setelah kamu pergi meninggalkanku!" jelasku sebelum mengangsurkan gelas kepadanya. "Minum gih! Bibirmu kering."
Dalilah langsung membasahi bibirnya.
Aku menghempaskan tubuhku disebelahnya, Dalilah menggeser posisinya.
Aku tersenyum lebar saat ia hanya menggenggam gelasnya erat-erat.
"Mau pulang gak? Kalau mau, buruan dihabisi minumnya!" Aku memeluk bantal sofa sambil melihatnya menghabiskan teh manisnya langsung.
Ingin sekali aku tertawa melihatnya yang kikuk di sebelahku, seperti saat aku pertama kali mendatangi rumahnya kala itu.
Aku menggeleng pelan. "Kita bicara tentang hari itu." Aku menggenggam tangan Dalilah, ia berusaha melepaskan genggaman tanganku, tapi aku tetap bersikeras menggenggamnya erat-erat.
Dalilah melebarkan matanya. "Jangan seperti ini!"
Aku menggeleng. "Kita butuh bicara soal kita, Lilah! Bukan pergi begitu saja."
Dalilah tersenyum sedih. "Kita sudah usai berbulan-bulan lalu! Kamu harus melupakannya."
Wajahku memerah dan nyaris berteriak.
"Kita gak pernah usai! karena aku tidak pernah setuju kamu mutusin aku secara sepihak dan satu lagi! Apa masalahnya ada pada Angel?" Dalilah langsung menatapku tajam.
Angel. gumamnya tanpa suara.
"Oh Lilah... Come on, kita butuh bicara biar kamu tahu apa yang terjadi! Dan aku bisa tenang melanjutkan perjalananku!"
Aku melepaskan tanganku, Dalilah langsung menariknya dengan cepat, menyembunyikan di saku jaketnya.
"Penjelasan yang terabaikan, pembicaraan yang tertunda, kemarahan yang menyesakkan dan perasaan yang membunuh kegembiraan. Kamu harus tahu itu, Lilah! Berbulan-bulan aku hidup seperti itu!"
Aku menghela nafas. Dalilah menggelengkan kepala, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
"Silahkan benci aku dengan semua itu!" ujar Dalilah dengan wajah putus asa.
__ADS_1
"Sampai kapanpun aku tidak pernah membencimu, aku hanya mau tahu kenapa kamu pergi! Apa karena Angel!" Aku berteriak.
"Gak!" Dalilah balas berteriak. "Aku pergi karena aku sendiri, bukan karena siapa-siapa. Aku pergi karena aku gak mau kamu menderita karena aku dan keluargaku." Dalilah membuang nafas.
"Berbulan-bulan aku baik-baik saja tanpa kamu!" rintih Dalilah.
"Kamu keliru! Aku kecelakaan memang karena mabuk, itu pelampiasan ku saat aku setengah mati merindukanmu! Dan sekarang mungkin aku sudah tinggal di pemakaman jika Angel tidak menolongku malam itu. Tapi kamu justru ninggalin aku tanpa kepastian. Betapa sakitnya aku, Lilah! Aku justru menderita karena ketakutanmu sendiri, sementara aku dengan santai menjalaninya, aku menikmati setiap pertemuanku dengan keluargamu walau deg-degan. Tapi itulah proses..."
Dalilah mengusap air matanya yang tiba-tiba terjatuh dan mendekap dadanya.
"Maafkan aku. Aku memang tidak pernah bisa mengertimu."
Kami diam beberapa saat, hingga wajah cantik yang basah itu mengangkat wajahnya.
"Cukup... Aku mau pulang." ujar Dalilah dengan suara serak.
"Aku akan melepasmu jika kamu baik-baik saja tanpa aku, tapi datanglah nanti malam bersamaku untuk menemaniku promnight!" pintaku sambil merangsek maju. Dalilah menatapku, terlihat menyedihkan.
Sepandai-pandainya ia menyembunyikan perasaannya, aku tahu ia juga terluka karena ini. Kami sama-sama terluka dan aku terlalu mengenalnya.
Aku mengelus rambutnya. Dalilah tergugu, ia menangis hingga tersengal-sengal.
"Sudah baikan?" tanyaku lembut.
Dalilah menggeleng pelan. "Aku tidak bisa janji!"
Aku memahami raut wajah itu yang terlihat berpikir keras jika aku mengajaknya jalan-jalan.
"Kamu takut dimarahin Ayahanda? Kalau iya nanti aku yang akan meminta izin kepada orangtuamu."
"Jangan!" teriaknya langsung.
Aku tersenyum kecil. "Nanti jam setengah tujuh datanglah di cafe brick kalau kamu mau menemaniku! Dandan yang cantik, boleh pakai kebaya kalau kamu mau, Bebas! Sebebas anak SMA yang belum punya tanggungan keluarga." Aku beranjak.
"Ayo, aku antar pulang. Mampir ke pasar dulu juga boleh."
Dalilah mengangguk pelan, dia ikut beranjak.
Kami berdua saling menatap dalam keheningan.
Dalilah menyunggingkan senyum patah hati.
"Maafkan aku, tapi semoga kita dipertemukan kembali disaat aku dan kamu sama-sama sudah dewasa!"
Aku mengangguk sambil mengacak-acak rambutnya. "Gak cuci muka dulu? Keluargamu akan menganggapmu habis di rampok dan diculik kalau kamu pulang dalam kondisi seperti ini."
Aku mengantarnya ke wastafel, menunggu Dalilah membasuh wajahnya. Ia tersenyum menatapku sambil mengangguk.
Aku mengangguk. "Pakai sendalnya, aku antar pulang."
Kami meninggalkan apartemen ini dalam diam. Tak ada yang bicara. Aku dan Dalilah seolah larut dalam pikiran masing-masing.
Ketika akhirnya mobil yang aku kemudikan berhenti di gerbang rumahnya, kami lagi-lagi menatap dalam diam.
Dalilah menyunggingkan senyum lembut. "Terimakasih." Ia melambaikan tangan, dan lagi-lagi aku hanya bisa menatap nanar ketika Kamboja-ku menutup pintu mobil dan ia menghilang ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Apa kamu benar-benar akan datang dan melepasmu?
...Happy Reading...