ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 19


__ADS_3

Revi.


Pagi hari dalam kediaman.


Kami sekeluarga dijemput oleh utusan dari istana untuk mendatangi bangsal kesatrian.


Di bangsal itu nanti aku dan keluargaku akan menginap untuk memulai segala prosesi upacara pernikahan yang harus di lakukan secara sakral, religius, dan syarat dengan nilai-nilai budaya.


Di bangsal kesatrian, suasana sudah ramai. Seluruh anggota kerajaan, pers dan semua orang yang terlibat dalam acara ini tampak bersuka cita menyambut hajatan besar ini.


Sepanjang perjalanan tadi pun aku tak luput dari perhatian masyarakat yang melihat kereta kencana yang ditarik oleh enam kuda putih.


Aku tersenyum hangat dan mengatupkan kedua tanganku seraya turun dari kereta kuda.


Jujur aku deg-degan banget, tapi bagaimanapun juga inilah prosesi yang harus aku jalanin dengan hati yang murni, dan tenang. Dan seharusnya aku terlihat bahagia dengan hari ini.


Aku di bawa ke dalam bangsal kesatrian untuk melakukan prosesi pengangkatanku sebagai abdi dalem, karena bagaimanapun aku adalah orang luar yang akan menjadi anggota keluarga ini begitu juga menjadi abdi budaya yang harus terlibat melestarikan budaya keluargaku.


Aku mendapat gelarJatiningrat sebagai namaku yang baru.


Kanjeng Pangeran Haryo Jatiningrat.


Selepas prosesi pengangkatanku sebagai abdi dalem, aku menjalani prosesi siraman yang di lakukan oleh Gusti Kanjeng Ratu Rinjani setelah acara siraman yang dilakukan Dalilah di bangsal kencana selesai.


Kami terpisah meskipun masih dalam satu wilayah.


***


Siang hari dalam bangsal kesatrian, aku mengikuti arahan dan tata upacara pernikahan sesuai tradisi yang ada di keraton bersama Kanjeng Harya tumenggung Susilo. Abdi dalem sepuh yang membantuku cara melakukan sowan dan sembah sujud


yang benar kepada ngarsa dalem menggunakan bahasa keraton, Jawa Alus.


Kejadian ini cukup menimbulkan gelak tawa karena aku masih belum lancar menggunakan bahasa jawa dengan benar.


"Maaf." Aku mengatupkan kedua tanganku seraya tersenyum malu.


"Ulang..."


***


The night has fallen.


Setelah seharian nyantri di kerajaan. Aku kembali menggunakan baju kejawen untuk melakukan prosesi Midodareni.


Tapi sebelum itu terlaksana, Ayahanda Kaysan menemani Dalilah menjalani prosesi Tantingan yang berupa pernyataan kesiapan Dalilah untuk pernikahan ini di bangsal kencana.


Dalam prosesi ini, Ayahanda Kaysan sudah ditemani kyai penghulu dan petugas KUA.


Baru setelah Dalilah menyatakan kesiapannya untuk menikah dengan Kanjeng Pangeran Haryo Jatiningrat---itu aku dan menandatangani surat nikah. Gusti Kanjeng Sultan Kaysan menemui calon besan untuk beramah tamah dan mengenal keluargaku secara pribadi dan personal.

__ADS_1


Meninggalkan gelar dan hanya menjadi seorang ayah yang hendak menikahkan putrinya, beliau sangat berbeda dengan kesehariannya sebagai seorang Raja. Beliau lebih friendly, santai dengan suasana hati yang bungah walaupun tetap berwibawa dengan kharisma yang kuat sekali.


Bagiku ini begitu extraordinary.


Aku tersenyum malu seraya menyerahkan


kotak musik dan bunga mawar putih sebagai simbolis seserahan malam ini, sedangkan seserahan yang sebenarnya sudah disimpan dalam ruangan.


"Pernikahan itu sejatinya untuk membangun balai somah, yang berarti rumah yang harus bisa membahagiakan isi keluarga di dalamnya!" ujar Ayahanda Kaysan sembari tersenyum hangat padaku.


"Dan saya sebagai bapak yang ingin melihat anakku bahagia bersama laki-laki yang ia cintai. Saya merelakan putriku kamu ambil!"


Aku mengatupkan kedua tangan dan mengangguk. "Nggih!"


"Nggih tok?" tanya Ayahanda dengan wajah jenaka.


Aku menyengir kuda dan suara tawa kembali terdengar lagi di bangsal kesatrian.


Suasana kembali menghangat saat ramah tamah antar keluarga kembali berlanjut, mommy dan Daddy juga rilex mengikuti setiap prosesi pernikahan ini.


Tak terkecuali princess, meski ia tak bisa melihat setiap step prosesi pernikahan yang aku lakukan, ia tahu Dalilah akan menjadi mamanya. Maka dari itu, ia menurut saja dengan perintah Bi Tutik selama aku menjalani step ini tanpa boleh tertinggal satupun.


"Saya harus kembali ke bangsal kencana untuk menyerahkan seserahan ini dan lamaran yang sudah saya terima!" ujar Ayahanda Kaysan seraya tersenyum hangat.


Kami semua mengangguk dan mengatupkan kedua tangan dengan hormat.


Midodareni berasal dari kata Widodari yang berarti bidadari turun dari langit. Dengan harap, bidadari tersebut meminjamkan kecantikannya agar mempelai wanita terlihat secantik bidadari.


Aku pun membayangkan Dalilah akan secantik bidadari.


Senyum manis menggoda, suara lembut membelai jiwa dan langkah anggun yang menggemaskan.


Aku tidak sabar namun juga masih deg-degan selama proses ijab qobul belum terlaksana dengan lancar.


Malam ini terasa begitu sakral dan penuh dengan nilai-nilai budaya yang baru saja selesai aku jalani.


Aku begitu takjub dengan kerajaan ini, dimana masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan menerapkannya langsung meski sudah ada beberapa yang di tinggalkan sebab tantangan zaman yang sudah berubah.


***


Selepas subuh berkumandang, dan sejuk udara pagi begitu menenangkan.


Aku kembali bersiap-siap untuk prosesi paling sakral dan religius di masjid kerajaan.


Prosesi ijab qobul yang menandai bahwa Dalilah benar-benar menjadi milikku.


"Sudah hafal, le?" tanya abdi dalem sepuh yang sejak kemarin mendampingiku selama menjadi santri kerajaan.


"Sampun, Pak." Aku tersenyum lebar.

__ADS_1


"Yakin?"


Aku mengangguk dan memakai blangkon.


Namun secarik kertas tetap aku bawa untuk hafalan dan contekan.


"Sarapan dulu mas biar tidak pingsan, karena setelah ijab nanti dandan lagi untuk resepsi dan kirab pengantin. Dari


Aku mengangguk patuh dan sarapan dengan malu-malu.


"Memang seperti ini awalnya, karena semuanya butuh proses panjang dan pembelajaran langsung! Yang terpenting tetap mematuhi dasar peraturan dan adab di dalam istana dengan baik. Karena sejatinya keluarga barumu juga melakukan 95% aktivitas di luar tembok istana seperti kebanyakan orang lain mas!"


Aku mengatupkan kedua tanganku dan mengangguk. "Nggih, Pak."


"Wes ayo ke masjid! Nanti yang lugas tapi tenang, ojo gugup lan grusa-grusu."


Aku mengatupkan kedua tangan dan mengikuti abdi dalem keluar dari bangsal kesatrian.


Di luar bangsal kesatrian, hilir mudik abdi dalem dan sanak keluarga besar terjadi begitu meriah dan khidmat.


Aku tersenyum hangat, mengangguk sambil mengatupkan kedua tangan saat beberapa orang menyapaku.


Pagi ini aku memakai baju kejawen berwarna putih tulang dan kain jarik. Dua melati terselip di masing-masing telingaku dibawah blangkon yang aku kenakan. Begitupun melati ronce yang tergantung di keris yang terselip di punggungku.


Aku benar-benar akan menikahi Dalilah Sekar Kinasih pagi ini. Terkadang, aku masih tidak menyangka bahwa ini benar-benar terjadi begitu nyata, bukan sekedar ekspetasi semata.


Aku mengikuti arahan-arahan sebelum masuk ke dalam masjid untuk melakukan ijab qobul.


Disana, di depan mimbar, Gusti Kanjeng Sultan Kaysan sudah duduk bersila untuk menjadi wali nikah putrinya.


Beliau benar-benar yang akan menikahkan putrinya langsung kepadaku.


Aku mengatupkan kedua tangan seraya duduk bersila.


Suasana menjadi religius disaat doa-doa dipanjatkan oleh pini sepuh pemuka agama sebelum prosesi ijab qobul.


Aku mengatupkan kedua tangan sebelum menggenggam tangan Gusti Kanjeng Sultan Kaysan untuk melakukan prosesi ijab qobul yang begitu sakral.


"Abdi ingsun, Kanjeng Pangeran Haryo Jatiningrat. Dina iki ingsun dhaupake sira kalayan putraningsun Putri Gusti Kanjeng Ratu Dalilah bakanthi mas kawin kitab suci Al-Quran sarta perangkat solat iki."


"Kula Abdi Dalem Kanjeng Pangeran Haryo Jatiningrat dinten menika ngestoaken dhawuh timbalan Dalem Ngarsa Dalem Kanjeng Sultan Kaysan kadhaupaken kalayan Putra Dalem Putri Gusti Kanjeng Ratu Dalilah, kanthi mas kawin kitab suci Al-Quran sarta seperangkat alat solat, Salajengipun nyadhong berkah pangestu dalem, Sembah nuwun."


Aku mengatupkan kedua tangan setelah penghulu dan para saksi mengucapkan kalimat sah dan doa-doa kembali di panjatkan.


Alhamdulillah aku lega. Dalilah dan aku resmi menjadi suami istri setelah ku tandatangani surat pernikahan ini dan melakukan sungkeman kepada ayah mertuaku.


Satu persatu pihak keluarga meninggalkan masjid ini untuk kembali melanjutkan prosesi pernikahan yang berada di bangsal kencana. Dan Ayahanda Kaysan adalah orang pertama dan terakhir yang berada di masjid ini.


...Happy Reading....

__ADS_1


__ADS_2