ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 23


__ADS_3

Revi.


Masih jelas teringat ciumannya yang menghentikan waktu.


Sebuah ciuman pertama paling murni. Paling tulus. Ciuman yang dibalur rasa cinta, selama berbulan-bulan penuh ketidakpastian dalam hubungan kami.


Ciuman itu begitu luar biasa, karena segala sesuatunya kini terasa benar. Sentuhan lembut yang mengubah keadaan, mengikis jarak dan membenarkan bahwa aku dan Dalilah saling mencintai sejak dulu ketika aku dan dia masih ABG.


Akhirnya inilah karma paling indah dalam hidupku. Jatuh teramat dalam di kaki seorang Dalilah.


"Aku mencintaimu." bisikku lembut.


Dalilah tersenyum, ia merapikan baju kejawen yang aku kenakan hari ini sebagai baju kebesaranku nomer dua setelah jas putih kedokteran.


Awalnya... Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan semua rasa yang aku rasakan saat benar-benar masuk dalam keluarga ini.


Semua menghantamku dari segala penjuru. Membuatku hanya bisa mengalir dan pasrah dengan apapun yang harus mengalir disini.


Dalilah menyemprotkan parfum beraroma kayu cendana di bajuku sebelum ia benar-benar menghela nafas lega.


"Sudah." katanya lantas duduk kembali di meja riasnya.


"Terimakasih." ucapku. Dalilah kembali sibuk dengan alat makeup-nya, namun matanya menatapku dari pantulan cermin.


"Kenapa?" tanyaku heran. Ia menyunggingkan senyum misterius yang membuatku kesal. "Apa sih!"


Dalilah memakai lipstik dan mengecap bibirnya sendiri.


"Astaga..." Aku memegang kedua bahunya dan berbisik di telinganya. "Si cupu yang sok nakal!" cibirku


Dalilah terkekeh kecil, ia pun memakai parfumnya sebelum kembali mematut dirinya di cermin.


Aku berdecak kagum. "Sudah cantik, Lil! Apalagi yang harus di poles?"


Dalilah meringis sambil mengalungkan tangannya di lenganku.


Hari ini masih ada konferensi pers sebelum aku dan Dalilah benar-benar pamit undur diri dari hajatan besar sang Raja untuk kembali memulai aktivitas lagi.


Aku mengatupkan kedua tangan sebelum beramah tamah dengan pers.


Beberapa pertanyaan bisa aku jawab dengan mudah, beberapa terasa penuh kehati-hatian.


Dalilah tersenyum lembut dan mengeratkan genggamannya di bawah taplak meja, mengisyaratkan bahwa aku harus percaya diri, lugas, dan cerdas.


Aku sanggup melakukannya dengan baik berkat peran ketulusan dari Dalilah.


Walau kadang ia suka usil mengejekku.


Aku dan Dalilah melambaikan tangan sebelum mengatupkan kedua tangan seraya berpamitan undur diri, sebagai arti bahwa kami sudah tidak bisa menemui pers lagi.


Aku menggandeng tangannya untuk kembali masuk ke dalam kediaman, diikuti beberapa abdi dalem yang mengikuti kami dan menutup pintu kayu yang menjulang tinggi.


***


"Begini saja, hari Senin sampai Jumat kita tinggal disini, mas! Jumat malam sampai Senin pagi kita tinggal di rumah mas atau rumah Mommy. Gimana?" urai Dalilah saat aku mengajaknya berdiskusi.


Aku langsung mengangguk setuju.


Dalilah menarik koper besarnya sebelum membuka lemari, dahinya berkerut begitu dalam sebelum mengambil pakaian yang mau ia bawa ke rumahku.


"Berat banget hidupmu, Lil! Bawa aja yang biasanya kamu pakai!" kataku seraya menghampirinya.

__ADS_1


Aku penasaran dengan isi lemarinya. Tanganku dengan refleks terulur untuk ikut membolak-balikkan tumpukan bajunya.


Dalilah hanya melirikku dengan sembari memilih pakaiannya.


Sesekali aku tersenyum saat melihat baju-bajunya. Dan mataku tertarik dengan


summer dress yang tergantung di gantungan baju.


"Ini dibawa semua." ujarku seraya mengangkatnya keluar. Dalilah memincingkan mata sambil melihat-lihat summer dress miliknya. Bibirnya langsung tersenyum cerah.


Aku menyipitkan mata, curiga. "Kenapa? Ada kenangan dengan baju ini?"


Dalilah mengangguk dengan ringan. "Summer dress-ku waktu di Melbourne." ucapnya santai.


Aku langsung melebarkan mata. Tak bisa aku membayangkan betapa cantiknya dia memakai summer dress ini dengan langkah anggun yang membuat siapa saja akan terpukau olehnya.


Dalilah melepas hanger summer dress miliknya dan memasukkan ke dalam koper.


Aku menghela nafas panjang. Dan memilih melihatnya tanpa banyak bicara meski aku bertanya-tanya bagaimana kehidupannya disana.


"Kok diem? Kenapa?" tanya Dalilah.


Aku mengangkat bahu. "Kamu punya kekasih saat di Melbourne?"


Dalilah menyengir kuda dan menggeleng ragu-ragu. Cukup aneh dengan gelagatnya, namun aku tak mau merusak momen ini dengan kecurigaan ku yang tak penting.


Aku merapikan rambutku sebelum menarik tas laptopku. Benda yang tidak bisa jauh dariku selain istriku.


"Ayo pamitan." ajaknya. Aku berdehem dan menarik kopernya keluar kamar.


Di ruang keluarga, Ibunda dan seorang bule yang aku tahu sepupu Dalilah duduk berdua sambil terkikik akrab.


"Bunda..." panggil Dalilah.


Ibunda mendesah dan menyunggingkan senyum. "Pengantin anyar..." Ibunda beranjak, mengelus lengan Dalilah dan penepuk bahuku.


"Jadi honeymoon?" tanya beliau.


Dalilah langsung mengangguk kuat-kuat dan menggenggam tanganku.


"Jadi, Bun! Ini mau berangkat."


Sepupu Dalilah melihatnya dan tersenyum miring. "Kalian tidak menyalahi pantangan setelah menikah?" selanya dengan nada sarkasme.


Aku mengamatinya dengan seksama, seolah pernah ada sesuatu hal yang terjadi dengan Dalilah dan sepupunya ini.


"Semua prosesi pernikahan banyak yang sudah di sederhanakan. Begitupun pantangannya!" ucap Dalilah.


Aku mengamati perselisihan antara keduanya dengan diam. Fix, sesuatu memang terjadi pada mereka.


Ibunda memanggil Arkananta dan Dalilah, Ibunda menggeleng perlahan-lahan sembari menunjukku dengan dagunya.


Hmm..., Arkananta. Akan ku ingat.


"Ayahanda sibuk mas. Jadi kita pamitan dengan Ibunda saja." kata Dalilah.


Aku mengatupkan kedua tangannya seraya berjalan menunduk untuk mencium punggung tangan Ibunda.


"Mohon doa restu, Ibunda. Dalilah saya bawa pulang ke rumah saya hari ini."


Ibunda menepuk pundakku. "Hati-hati dijalan."

__ADS_1


Aku mengatupkan kedua tangan dan berjalan mundur. Dalilah ikut beranjak untuk berpamitan dengan Ibunda.


"Salam untuk Ayahanda, Bun! Lilah pulang ke rumah dulu."


Rumah.


Ibunda mengangguk, menyentuh puncak kepala Dalilah. "Arkananta bawa hadiah pernikahan untuk kalian, nanti Ibunda taruh di kamarmu."


Dalilah mengangguk patuh dan kamipun segera pulang ke rumah diantar sopir istana, dikawal oleh pengawal pribadi kami.


***


Sesampainya di rumahku, pengawal pribadi keluargaku masih berjaga-jaga di teras rumah.


Sesuai protokoler, rumahku yang ditempati Dalilah harus dijaga oleh pengawal pribadi yang betul-betul pakem dalam bidangnya. Begitupun pagar yang sudah di pasang teralis besi.


Mereka mengangguk sopan seraya membawa koper milik Dalilah ke dalam rumah.


Aku tersenyum lega, akhirnya aku pulang ke rumahku sendiri. Betapa kebebasan ada disini sepanjang Jumat malam sampai Senin pagi.


Dalilah menghempaskan tubuhnya di sofa seraya memandangi isi rumahku.


Aku meminta pengawalku untuk keluar.


Ku tutup pintu dan menguncinya seraya ikut menghempaskan tubuhku di sofa.


"Ada yang mau kamu ubah, desainnya atau pernak-perniknya? tanyaku padanya.


Dalilah menggeleng pelan. "Aku suka rumahmu, tapi sepi."


Aku tersenyum kecil. "Nanti kalau sesi latihan teknik dasar dikamar udah lancar, dan honeymoon kita sudah terlaksana tanpa kendala, princess akan main disini. Sekarang dia sedang bersenang-senang dengan neneknya." kataku lembut.


Dalilah mengangguk. "Jadi kita beneran honeymoon di rumah aja? Tidak ke luar negeri atau ke Bali? Minimal ke hotel gitu?" pintanya dengan mata kucing menyebalkan.


"Kamu kan belum nyobain kasurku, pasti lebih nyaman dari kasur hotel! Coba gih." seruku sambil menahan kekehan.


Dalilah mengangkat bahu, ia menarik kopernya sendiri masuk ke dalam kamarku. Aku mengikutinya dari belakang, menerka-nerka apa isi hatinya.


Dalilah mengedarkan pandangannya lalu terpaku pada kasurku dengan ukuran single bed.


Dalilah lalu menatapku, melirik kasurku lalu menatapku lagi.


"Mas Jati yakin?"


"Lebih sempit kan lebih intim, Lil!" elak ku.


Dalilah menyunggingkan senyum seraya naik ke atas kasur. Ia mencari-cari posisi nyaman sebelum menarik gulingku dan memeluknya.


"Mau bobok siang!" katanya sambil menguap. Aku mendesis, dan ikut merebahkan diri di atas kasur.


Benar-benar sempit.


"Ini milikku, Lilah!" kataku sambil menarik gulingku dan membuangnya ke lantai. Dalilah mendesah pasrah.


"Peluk aku aja, lebih hangat." kataku sambil menariknya lebih dekat dan merapat. Dalilah melingkarkan tangannya di punggungku sebelum memejamkan matanya. Lima belas menit berlalu, dia mendengkur lembut.


Aku mengusap wajahku dan menggeleng tidak percaya. "Gagal lagi uji cobanya!"


Ish... ish... ish...


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2