
Revi
Aku membolak-balikkan buku diary yang lembarnya sudah terlihat kumal karena sering aku baca.
Aku bahkan tahu dia menyebutku si pengki disaat aku mengganggunya dulu dipertemukan awal kami di kantin sekolah.
Aku bisa tersenyum setiap membaca buku diarynya namun di satu sisi, kusadari banyak ketidakmungkinan diantara kami.
Aku hanya bunga kamboja kuburan, sedangkan kamu adalah bintang yang berpijar terang. Sampai kapanpun akan terus seperti itu, seindah apapun keromantisan kita. Aku dan kamu hanya akan menjadi mimpi.
Aku kehilangannya. Tanpa Dalilah, aku buta, tak punya tujuan, putus asa dan bukan aku yang dulu, yang semangat menjadikan diriku yang terbaik baginya.
Di sudut-sudut sekolah yang sering kami berdua datangi, rasanya kini hampa. Aku menjadi sosok dingin tak terjamah. Penyendiri, pemarah, sering membuat masalah di sekolah.
Hanya karena satu perempuan yang membuatku begini. Dalilah.
Aku belum rela berjauhan dengannya untuk kebahagiaanku. Aku justru tidak bahagia karena ia membawa rasa yang begitu mengikat jiwaku.
Aku hanya tertuju padanya, pada setiap kepolosannya, candanya, dan caranya mencintaiku.
Tiga bulan aku kacau. Aku hanya menghabiskan waktu dengan minum-minuman setiap malam. Dengan begini aku berharap bisa membunuh waktu dan mempercepat pertemuan kita lagi!
Tapi sia-sia, aku tetap memikirkan lebih dalam.
***
Aku mengerang saat botol whisky yang aku minum di tarik paksa seseorang.
Angel...
"Gara-gara dia, Lo jadi goblok, Rev!" pekiknya marah, menepuk-nepuk pipiku seolah memastikan aku masih sadar atau gak.
Aku masih sangat sadar meski aku sudah teler.
"Kowe sing goblok!" umpatku sambil beranjak berdiri. Kepalaku sangat penting dan terasa berat. Aku sempoyongan, namun keberadaan Angel yang kerap disekitarku membuatku jengkel.
Aku berjalan menjauhinya keluar dari cafe.
"Rev! Lo tahu, Lo goblok karena Lo cuma lihat dia seorang! Lo gak pernah lihat gue yang rela tinggal di sini hanya demi Lo! Demi deket sama Lo! Tapi Lo gak pernah anggap gue ada!" teriak Angel mengikutiku dengan suara tercekat.
"Karena dia cinta sama aku, begitu sebaliknya!" gumamku lirih.
Aku hanya perlu waktu membiasakan diri.
__ADS_1
Angel mengumpat, dia menarik tubuhku dan hendak menciumku dengan paksa. Sekonyong-konyong aku mendorong tubuhnya sampai ia jatuh.
"Sampai kapanpun, kamu gak pernah aku lihat! Bukan karena Dalilah, tapi aku gak pernah punya perasaan lain terhadapmu! Dan Lo, sadar itu!"
Aku menggeber motorku, meninggalkan Angel di parkiran cafe yang mengerang frustasi.
Aku kembali memutar ingat ku lagi tentang Dalilah.
Dulu... Aku bisa melepasnya seperti melepas senja karena aku yakin kami akan bertemu lagi.
Dulu, aku terpaksa menciumnya agar aku bisa menjadi yang pertama baginya dalam segala apapun.
Kini aku tahu bunga itu sudah merekah sempurna. Bibirnya pasti semakin ranum , tubuhnya semakin tinggi dan lekuk tubuhnya semakin terlihat.
Aku tersenyum mesum sebelum hilang kendali.
REV, WAKE UP.... ! REV!
Gelap!
***
Mas Revi... Mas bangun dong, Lilah kangen!
Mas bangun ish, Lilah ngambek nih.
Tubuhku sakit semua. Badanku remuk redam seolah habis di hantam sesuatu dengan keras.
"Lil-ah, Lil-ah..."
Aku mengerjap-ngerjap, mencari Dalilah yang sedaritadi memanggilku. Dia mau ngambek kalau aku gak bangun-bangun, dan ngambeknya dia itu sulit di bujuk kecuali aku telepon dulu dan merayunya sampe puas.
"Lil-ah." panggilku lagi tanpa henti.
"Oh, God! Revi..." Aku dipeluk seseorang dengan erat. Tangannya mengelus punggungku pelan-pelan seraya mengecup keningku terus menerus, seolah aku sudah lama pergi dan baru kembali.
"Thankyou, God!" ucapnya berkali-kali dengan ucap syukur kepada Tuhan karena aku sudah kembali.
"Revi, ini mommy! Kamu ingat?"
Aku mengerjapkan mata. Berusaha tersenyum dan mengangguk.
"Mommy." kataku gagu.
__ADS_1
Mommy kembali memelukku erat. Sejurus kemudian, dokter berbondong-bondong datang ke depanku.
Aku menatapnya heran saat semua dokter memeriksa tubuhku. Aku bergerak tak suka, namun rasanya saat aku menggerakkan dengan paksa. Tubuhku sakit semua.
"Mom..." panggilku dengan pandangan bertanya.
Mommy menggeleng pelan. "Nanti!"
Aku kembali diperiksa dan seluruh alat-alat yang menjalari tubuhku dilepas satu persatu. Kini hanya tersisa selang infus dan oksigen.
Aku kembali bertanya aku kenapa, dua jam setelah aku kembali diobservasi.
Mommy menaruh foto-foto motorku yang sudah ringsek dan kondisiku yang berdarah-darah sewaktu kecelakaan satu bulan yang lalu.
Aku terkesiap. Satu bulan aku sudah ninggalin Dalilah tanpa kabar. Dia pasti benar-benar ngambek sekarang.
"Dalilah mana, Mom?" tanyaku lagi. Aku tidak lihat dia disini, padahal ia tadi begitu berminat membuatku bangun. Tapi sepi, hanya ada mommy seorang.
"It's enough, Rev! Dalilah tidak ada disini dan mommy harap lupakan Dalilah yang membuatmu seperti ini!" ucap mommy penuh emosional.
"Bahkan kamu tidak tahu bagaimana mommy dan Daddy mati-matian untuk menyembuhkan kamu! Dan kamu tahu, jika bukan Angel yang menolongmu malam itu waktu kamu mabuk! Kamu gak akan hidup! Kamu gak akan pernah ketemu dengan Dalilah lagi kalau bukan karena Angel!" kata mommy menggebu-gebu.
Angel...
"Mommy harap kamu paham apa yang mommy katakan! Kamu berhutang nyawa kepadanya... Dan mommy sudah janji untuk membuatmu menjadi temannya." Mommy membuang nafas, sebening air mata turun di wajahnya yang kusut dan carut marut.
Aku membuang muka. Masih belum percaya kenapa harus Angel lagi dan lagi. Perempuan yang membuat Dalilah pergi.
"Tapi Dalilah yang membuatku bangun, bukan Angel!" gumamku.
"Dan kita sama-sama tahu kenapa Dalilah memilih pergi ke Australia. Karena dia mau kamu bahagia, bukan seperti ini! Kamu menyedihkan, Rev! Sungguh!" balas mommy dengan punggung bergetar menahan isakan tangis.
"Bahkan kamu tidak peduli dengan ibumu sendiri!"
Aku diam. Aku memang menyedihkan hanya karena Dalilah seorang dan sekarang. Semesta sedang mencaci maki aku, menghukumku atas tindakan keras kepala dan gegabah yang aku lakukan.
"Revi minta maaf!"
"Putuskan Dalilah! Biarkan dia mengejar cita-citanya, begitupun kamu! Karena mommy juga berharap kamu bahagia, seperti yang ia inginkan! Tapi yang paling penting buat mommy adalah kamu tidak menyakiti dirimu sendiri... Mommy sakit, Rev, lihat kamu setiap hari hanya ngelamun, mabuk-mabukan, nungguin hp hanya untuk menunggu Lilah menghubungimu. Kamu lupa tujuanmu, kamu lupa cita-citamu, dan kamu lupa dengan keluargamu. Mommy kecewa!"
Mataku menghangat. Aku ingin menyangkal semua yang mommy katakan, tapi semua itu benar.
"Beri Revi waktu!" kataku lirih.
__ADS_1
"Percayalah, kalaupun kamu dan Lilah berjodoh, kalian akan bertemu lagi. Di suatu hari ketika kalian sama-sama dewasa, sama-sama sudah mengerti bahwa hidup bukan hanya untuk cinta-cintaan dan terpatri pada ambisi!"
...Happy Reading....