ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 62


__ADS_3

Revi.


Aku masih disini setelah makan siang bersama princess dan teman-temannya. Tapi tetap saja aku tak bisa menunjukkan bahwa aku loh pacarnya, aku loh yang menjadi cinta pertamanya di hadapan Derren dan abdi dalem yang melayaninya.


Selepas makan siang yang begitu tenang, tanpa suara-suara obrolan atau candaan seperti di rumahku, princess mengajak kami untuk berjalan-jalan disekitar museum.


Aku mengekori princess, Derren dan Reno kemana saja mereka berjalan-jalan saat mengelilingi museum. Aku mengawasi princess saat ia menjadi guide kami, menjelaskan dengan detail apa saja yang menurut Derren menarik perhatiannya. Sedangkan aku, hmm... Aku seperti mendapat dongeng sebelum tidur siang.


Aku menguap, jujur aku ngantuk setelah makan siang. Apalagi semalaman aku begadang untuk membuat strategi yang tepat untuk mempertahankan posisiku. Berbeda dengan Reno yang asyik-asyik aja mendengar penjelasan princess yang aku yakini ia sama sekali tidak mengerti karena kami ini anak IPA, bukan IPS yang mempelajari pelajaran sejarah.


"Ren..." panggilku pelan saat princess sedang menjelaskan sebuah lukisan dengan fokus.


"Apa?" jawabnya tanpa menoleh.


"Pulang yuk. Besok kesini lagi..." kataku pelan. Reno menolehkan kepalanya seraya menggeleng.


"Sumpah, Rev! Otakku seperti dikasih pencerahan tentang kehidupan masa lalu bangsawan Jawa. Benar-benar lebih mudah dipahami daripada rumus kimia!" seru Reno dengan gamblang.


Aku mendengus. Bocah ini sepertinya juga kena racun kecantikan tuan putri. Seketika alarm tanda bahaya mulai berdenging keras di kepalaku.


Aku menarik lengan Reno dan menajamkan mata saat princess dan Derren sibuk berdiskusi tanpa sadar bahwa aku dan Reno tertinggal jauh dari langkah kakinya.


"Jangan sampai status kita berubah menjadi mantan sahabat, Ren!" kataku penuh penekanan.


Reno mendengus lalu menurunkan tanganku dengan pelan. "Santai sob... Aku ini cuma menjadi penikmat, jadi jangan risau ye..." kelakarnya sembari tersenyum lebar. "Tapi aku kagum sama pacarmu ini. Keren banget... Penjelasannya ringan tapi mudah dimengerti, Ia membunuh rasa dalam dirinya sendiri yang kadang-kadang untuk usia kita malas banget belajar sejarah. Terlalu jadul!" lanjut Reno seraya berdecak kagum.


Aku hanya bisa tersenyum mendengar Reno memuji pacarku. Seperti seharusnya, karena Dalilah memang patut dikagumi banyak orang, khususnya kaum pria. Sepertinya aku harus terbiasa dengan pujian dari laki-laki lain yang mengagumi pacarku. Tapi lagi-lagi aku menguap.


"Ndoro putri..." panggilku pelan seraya mendekatinya saat kami berempat keluar dari museum.


Princess berbalik dan tersenyum. "Ada apa mas Revi?" Derren pun ikut menoleh, menatapku yang sepertinya ia paham, aku terlihat ngantuk.


"Butuh kopi?" tanyanya. Aku menggeleng.


"Kapan kita ke bangsal kencana? Aku juga ingin mendengar gamelan Jawa yang mengiringi para penari. Siapa tahu aku bisa membantu kalian memilih nada yang pas untuk dijadikan backsound koreografi." ujar ku menawarkan.

__ADS_1


"Kebetulan di rumah, mommy punya alat perekam suara dengan kualitas bagus. Itu bisa membantu kalian, atau untuk editing sound efek dan sebagainya yang berhubungan dengan musik di studio ada." kataku lagi seraya menyunggingkan senyum.


Princess mengangguk lalu menatap Derren untuk meminta persetujuan.


Derren tampak berpikir sebelum bertanya. "Rumahmu dimana?"


"Datang aja besok malam Minggu ke studio Brymine. Kita mau kumpul-kumpul untuk merayakan kemenangan basket kemarin." ajakku tulus. "Ndoro ayu juga boleh ikut kalau diizinkan oleh paduka raja." ucapku sambil tersenyum.


Princess mengangguk pelan, dengan senyum yang ia sunggingkan.


"Lilah juga mau malam Minggu lagi sama mas Revi."


Derren mengerutkan keningnya, ia menatapku dan princess secara bergantian lalu mengendikkan bahu seolah tak penasaran dengan kalimat princess yang terang-terangan menyatakan rindu malam mingguan denganku.


"Tapi Lilah tidak sendiri mas. Boleh? Lilah bawa pengawal pribadi!"


"Gak aku jemput aja? Motorku kesepian tanpa kamu, princess."


Princess menggeleng pelan. "Harus bawa pengawal! Kalau gak Ayahanda marah!" ucapnya pelan-pelan mengedarkan pandangannya seakan takut ayahnya mendengar.


Aku mengangguk pasrah, yang penting bisa malam mingguan walaupun gak berduaan. Itu lebih penting karena biar semua orang tahu aku pacaran dengan putri mahkota.


Mendengar kata ndomas Suryawijaya, jantungku langsung deg-degan. Aku lebih takut menghadapinya daripada


Ayahanda yang ramah namun tegas.


Anak SMP itu pasti emosinya masih meledak-ledak. Kalau ngomong bikin syok dan kepikiran. Apalagi wajahnya, sama sekali tidak menunjukkan keakraban. Benar-benar sulit menaklukkan ndomas Suryawijaya.


Di bangsal kencana, sebelum tarian di mulai. Aku ngobrol dengan Derren tentang keahliannya main drum. Aku bilang, aku punya band tapi kurang lengkap karena posisi penabuh drum hanya di isi dengan additional player.


"Kalau gitu kita coba ngeband sekalian aja besok! Terserah kamu mau gabung atau gak setelah itu, yang jelas kita cuma mau bersenang-senang." ujar ku santai.


"Boleh kalau hanya satu dua kali dalam sebulan karena aku ada job lain." balasnya tenang.


Aku mengangguk dan ketika suara gamelan mengalun dengan pelan, pelan. Aku mengamati para penari seusia ndomas Suryawijaya mulai mengisi bangsal kencana.

__ADS_1


Mataku bertemu dengannya hingga langkahnya pun terlihat mendekatiku. Sontak aku bergerak mundur dengan posisi yang masih bersila.


"Tetaplah disini mas Revi!" ucap princess seraya menepuk lantai di sebelahnya. "Ada Lilah. Tidak apa-apa!"


Aku menyengir kuda. Princess tersenyum maklum. Harusnya aku terus terang saja kalau aku takut dengan adiknya. Harusnya aku terus terang saja adiknya benar-benar terlihat galak.


"Sepertinya Mbak kedatangan tamu istimewa, boleh Surya bergabung?" tanyanya sambil bersila di depanku. Aku tersenyum tipis dan berharap ini bocah tidak memahami bahwa aku gerogi.


"Ini tamu, Mbak! Kamu menari saja. Beri pertunjukan yang bagus bagi kami semua." balas princess dengan gaya anggun.


"Sepertinya tamu yang satu ini mengantuk dan butuh bantuan agar tetap terjaga selama pertunjukan berlangsung." sindir Suryawijaya sembari menatapku dengan senyum tipis menakutkan.


Aku tersenyum simpul, menebak-nebak bagaimana bantuan yang akan ndomas Suryawijaya lakukan.


"Ayo ikut saya menari. Itu akan membuatmu terjaga disiang hari. Lagipula laki-laki dewasa tidak tidur siang kan?"


Aku menoleh ke arah princess. Meminta persetujuan meski hanya dari air mukaku. Princess mengangguk pelan.


"Laki-laki di keluarga kami harus bisa menari! Terlepas dari profesi lain yang harus di jalani."


Dengan gerakan cepat, Reno dan Derren berdiri. Aku mendongak, menatap mereka dengan heran. Lebih-lebih lagi pada Reno. Apa dia hendak menjadi laki-laki di keluarga besar ini? Dasar penghianat kambuhan.


"Aku ikut!"


"Aku juga!"


Kata mereka bergantian. Dengan gerakan pelan aku juga berdiri seraya menatap


ndomas Suryawijaya.


"Ayo kita menari bersama-sama ndomas!" kataku pelan.


Suryawijaya tersenyum miring seraya berjalan ke tengah bangsal.


"Hanya ada satu laki-laki yang terpilih sebagai pendamping Mbakyuku. Laki-laki terpilih itu adalah laki-laki yang sanggup menari selama satu - dua jam! Jadi tidak hanya menyiapkan hati yang setia, namun juga fisik dan mental yang kuat! Kalau tidak, menyerahlah... Karena itu saranku sebagai adiknya!"

__ADS_1


Deg.... Deg... Deg... Dredeg... deg... deg...


...Happy Reading...


__ADS_2