
Dalilah.
"Dunia sekarang terlihat kejam untuk seorang gadis seusiamu, Lilah. Semakin kamu tumbuh, semakin kamu indah. Semakin Ayahanda resah memikirkanmu. Dan Ayahanda minta, perhatikan dari segala sisi yang berbeda. Jangan hanya melihat dari peraturan yang Ayahanda berlakukan untukmu."
Ayahanda memelukku, mengelus punggungku. Aku suka, tapi Ayahanda melakukannya di depan Bimo. Pasti dimatanya aku sekarang seperti gadis kecil yang benar-benar harus dilindungi dari segala ancaman yang berbahaya.
"Aku sudah SMA, Ayahanda! Jangan begini. Aku malu!" kataku sambil mendorong Ayahanda. Ayahanda menaikkan salah satu alisnya, "Kenapa? Apa pelukan Ayahanda tak seperti pelukan mas Revi?"
"Apa!?" kataku sambil mengerucutkan bibirku, "Ayahanda lebih kekar dari mas Revi. Tapi mas Revi lebih harum dari Ayahanda!" kataku jujur. Revi memang sering menggunakan parfum yang wanginya bikin Lilah tidak bosan mengendusnya.
Ayahanda melebarkan matanya, memegang kedua bahuku dan mengguncangnya.
"Sadar Lilah! Parfum Ayahanda hanyalah parfum dari kayu Cendana. Bukan parfum import seperti yang mas Revi pakai. Ayahanda lebih natural dalam mencintaimu. Berbeda dengan mas Revi yang penuh dengan siasat!"
Aku berdecih. Ayahanda kenapa sih. Aku semakin malu saat Ayahanda mencium keningku lalu membelai pipiku bekas tamparannya tadi.
"Ayahanda mengalami lebih keras dari yang kamu alami sewaktu kecil. Maafkan Ayahanda, Ayahanda sudah meninggalkan kenangan yang mungkin tidak akan pernah bisa kamu lupakan saat dewasa nanti. Maafkan Ayahanda, Lilah!"
Aku menggerak-gerakkan rahang ku sambil berpikir, apa Ayahanda juga akan terluka kalau aku patah hati?
Aku mendongak, Ayahanda tersenyum sambil mengelus pipiku. Seolah disini hanya ada aku dan Ayahanda. Ibunda dan Bimo tidak kami anggap. Mereka hanya seperti jambangan yang sengaja di pajang untuk memperindah suasana.
"Apa Ayahanda tahu keinginan Lilah yang sebenarnya?"
"Sangat tahu! Dan atas alasan itulah Ayahanda meminta Bimo untuk menjagamu, karena Ayahanda tidak mungkin menyuruh abdi dalem yang biasanya untuk menjagamu. Sekolah akan semakin heboh saat kamu kembali nanti, Lilah." Ayahanda tetap mengelus pipiku dan menatapku lekat.
Aku mengangguk, tersenyum getir. Ayahanda dilawan, mana bisa. Baru ancang-ancang udah mental duluan.
"Apa Ayahanda tidak marah dengan mas Revi?" tanyaku ragu.
"Tidak! Nanti mas Revi dan keluarganya akan datang. Tersenyumlah, itu hadiah untukmu karena sudah melalui hukuman yang Ayahanda berikan."
__ADS_1
Aku hendak bersorak gembira, tapi yang bisa aku lakukan hanya tersenyum tipis.
Untuk Revi mungkin pertemuan pertama setelah satu bulan berpisah itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Tapi esoknya? Semua akan berubah, mungkin mas Revi akan bertanya-tanya kenapa Bimo berada di belakangku sepanjang hari di sekolah. Mungkin mas Revi akan curiga dan membuat semuanya kembali menjadi sepasang orang asing.
Ayahanda melepas pelukannya, mengacak-acaknya rambutku seperti biasanya. Tersenyum ke arah Ibunda dan mengangguk. Bahasa isyarat yang hanya Ayahanda dan Ibunda yang tahu.
"Bicaralah dengan Bimo untuk mempermudah kegiatan kalian disekolah. Ayahanda harus pergi rapat kerja."
Aku cemberut, seperti yang sudah-sudah. Pembicaraan serius, membuat kesepakatan, deal, lalu pergi.
Ibunda menepuk bahuku, "Baik-baik dengan mas Bimo ya Mbak! Dia seperti mas Surya. Diam-diam menghanyutkan!" Ibunda tersenyum, mengikuti Ayahanda.
Kini aku menatap laki-laki yang sedaritadi tidak mengeluarkan suaranya.
"Peraturan dimulai sejak saat ini juga! Nanti Lilah buatkan surat perjanjian kerjasama yang harus Bimo taati! Mengerti?" kataku sambil menatap Bimo tajam.
Bimo mengangguk pelan, "Saya sudah menandatangani perjanjian kerjasama dengan Gusti Kanjeng Sultan. Apalagi yang harus saya tanda tangani?"
"Iya.. Aku dan kamu." Bimo menunduk, ia tersenyum kecil. Aku mengerutkan kening, "Kamu kenapa, Bim?" tanyaku heran.
"Aku dan kamu, biasanya akan menjadi kita."
"Huahahahahaha...." Aku terpingkal-pingkal karena ucapan Bimo. Ya Allah, kenapa dia bisa melucu disaat aku sedang berusaha menguatkan hatiku setelah kekalutan mental yang begitu melingkari dadaku.
"Bim... Bim...!" Aku menggelengkan kepalaku, "Tunggu aku di taman, dekat kolam ikan. Aku mau ambil minum dulu." kataku sambil lalu. Bimo mengiyakan dan beranjak pergi dari ruang tamu.
Selama ini, aku tidak pernah mendengar dia melucu seperti itu. Dia kaku seperti Suryawijaya. Hidupnya datar-datar saja, seperti tidak ada gairahnya. Tapi kenapa tadi malah bilang, aku dan kamu menjadi kita. Kan lucu, mana bisa aku dan Bimo menjadi kita. Kita kan cuma teman, teman biasa dan sekarang justru menjadi the bodyguard and me.
Semesta sepertinya sedang bercanda. Dan bercandanya kebangetan!
Aku tiba di dapur, mengambil dua gelas dan mengisi air putih dingin. Karena Bimo juga harus minum sebab aku ingin mengajaknya ngobrol lama sebelum nanti mas Revi datang.
__ADS_1
Ku bawa dua gelas air putih menuju taman. Kenapa taman? Aku suka suasananya dan Sekar tumbuh di taman, di alam terbuka, seperti namaku. Harusnya aku hidup di alam terbuka, bukan di dalam tembok istana.
"Bim!" panggilku.
"Iya..." jawabnya sambil menoleh.
"Lilah, panggil aku Lilah! Jangan ndoro putri."
"Say... Aku disini hanya sebagai abdi dalem baru yang mengemban tugas menjaga ndoro putri. Tidak baik kalau aku memanggilnya seperti teman."
Aku mendengus, "Kan disekolah, bukan di istana!"
Bimo tetap menggeleng keras kepala.
"Gini aja biar semuanya mudah untuk kita! Disekolah kamu boleh panggil aku Lilah atas persetujuanku. Di istana kamu panggil aku ndoro putri. Pokoknya buat semua ini mudah karena hidupku sudah ribet dengan tetekbengek di istana. Gimana kamu setuju gak?" ujarku menawarkan solusi terbaik.
"Bukankah tadi aku dan kamu tidak akan menjadi kita? Kenapa sekarang ndoro putri menyebutkan bahwa aku dan ndoro putri ini, kita!"
Aku memincingkan mataku, dan menaruh gelas air putih yang embunnya sudah membasahi tanganku sejak tadi ke tangan Bimo.
"Bimo Asmoro Sastrowijoyo, anakne pak Sastrowijoyo sing bagus dewe sak omah... Cukup, gak usah ribet ya! Enjoy your drink!" kataku diiringi dengan helaan nafas panjang.
Bimo... Bimo... Apa yang terjadi dengan dirimu. Ku masih bertanya-tanya kenapa sampai Bimo berkata, "Aku menyetujui untuk menjadi pengawalmu karena aku butuh pekerjaan ini untuk membiayai sekolahku. Dan, selama SMP. Aku harus bersaing dengan siswa berprestasi untuk mendapatkan beasiswa pendidikan. Mohon maaf kalau seandainya dalam masa percobaan nanti, aku akan selalu menjadi yang tidak menyenangkan bagimu atau mas Revi."
Deg... Jantungku melemah. Tenggorokanku tercekat. Aku kehabisan kata-kata untuk membalas setiap ucapan Bimo barusan. Ku tatap Bimo yang mengulum senyum seraya membungkukkan badannya.
Salah apa aku ini. Kenapa harus terjebak dengan situasi yang melibatkan hati, tenggang rasa dan karsa dalam waktu yang sama.
...Happy Reading 🥰...
...Kalau suka dengan Putri Sejagat, Beri dukungannya ya. Like, vote dan komen. Terimakasih banyak 🙏...
__ADS_1
...Maaf masih slow update....