ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 77


__ADS_3

Dalilah.


Aku bersorak gembira saat mobil mas Reno berhenti di parkiran sebuah hutan.


"Jangan keluar dulu!"


Mas Reno keluar dari mobil seraya membuka bagasi. Bagasi terbuka dan menutup, lalu mas Reno menyodorkan topi dan kacamata hitam untukku.


"Nih... Dipakai, biar kita gak ketahuan nyulik tuan putri ke hutan pinus sore-sore!" katanya sambil membuka pintu mobil lebih lebar dan bersandar.


Mas Revi yang berada di samp yupsingku terlihat menahan sabar sejak tadi.


"Kamu membuat kami dalam masalah besar, princess!" ujarnya penuh nada gusar.


Aku mengikat rambutku, menurunkan kaca mata hitam di hidungku, lalu sebagai bentuk penyamaran terakhir, aku memasang topi pet hitam di kepalaku.


"Bagaimana?" tanyaku meminta penilaian sembari mengangkat kedua tangan.


"Lumayan! Kamu hanya perlu mengurangi sikap elegan seorang putri kerajaan." kata mas Revi seraya turun dari mobil.


Aku mengikutinya dan pura-pura tersandung batu. Mas Revi menyengir kuda seraya membiarkan aku terjatuh di atas rerumputan.


Aku mendongak dengan wajah menahan gemetar kesal sembari mengerucutkan bibir.


"Salah sendiri iseng!" ujar mas Revi seraya mengulurkan tangannya. Ia membantuku berdiri lalu dengan manis mengusap lututku yang kotor dengan tanah.


"Gak ada yang luka!" ujarnya sambil tersenyum lebar. "It's oke, ayo kita lanjut."


Aku menggandeng tangan mas Revi seraya mengayunkannya. Mas Revi tersenyum menatapku. Ada pancaran bahagia yang tersirat di wajahnya, begitu juga aku.


Senyum puas merekah di wajahku, saat aku benar-benar berada di dalam hutan pinus ini. Udara sejuk langsung terasa begitu kami bertiga berada di bawah tingginya pohon pinus yang menjulang tinggi.


"Yeyyy... Lilah bisa main!" kataku riang seraya memutarkan tangan mas Revi. Lucunya lagi mas Revi malah berputar seperti balerina.


"Let's dance together, mas!" kataku seraya tersenyum saat mas Revi menghidupkan musik dari hpnya.


"Video'in, Ren!" serunya.


Aku terkekeh kecil saat mas Reno menggerutu kesal karena mas Revi merangkulkan tangannya di pundakku seraya ngos-ngosan.


"Capek... kamu gimana, Lil?"


Aku mengusap wajahku yang mengeluarkan cukup banyak keringat.

__ADS_1


"Sama, but i'm so having fun, mas!"


Mas Revi terkekeh geli seraya menghempaskan tubuhnya di atas daun pinus kering yang berjatuhan memenuhi tanah dan mengusap keringatnya.


"Duduk sini! Aku suka joget-joget, sempet jadi artis joget-joget di tok-tok, tapi mommy bilang jogetanku tidak berfaedah. Jadi gak aku lanjutkan." mas Revi menghela nafas.


Aku tersenyum lebar. "Pantes mas Revi luwes banget!" Mas Revi menengadah, menatap pohon pinus yang bergoyang-goyang.


Semilir angin dan senja yang akan datang menambah kesan romantis disini saat aku dan mas Revi duduk berdua. Melupakan protokoler, melupakan tatapan mata dari para paparazi dan hanya mengingat bahwa kami hanyalah sepasang kekasih yang menginginkan waktu untuk berdua.


"Aku bilang bapakmu lho, Rev, Dek!" kata mas Reno dengan nada iri yang begitu dibuat-buat, ia tertawa saat kami hanya menoleh seraya mengusap leher kami secara bersamaan.


"Haus."


"Berasa kambing congek aku disini!" lanjutnya lagi seraya mengulurkan botol mineral.


"Makasih, mas!"


"Thanks, Ren!"


Aku dan mas Revi menenggak langsung air dalam botol. Lalu dengan manis mengembalikan lagi botol itu kepada mas Reno.


"Iye... iye... Kalian berdua putri dan pangerannya sekarang! Aku paham! Tapi gak gini juga kali yee..." sahut mas Reno seraya ikut duduk di atas tanah. Ia membuka camilan dan memakannya sendiri.


"Bagi-bagi napa! Aku bayar nanti semua ongkos jalan-jalannya!" ujar mas Revi sambil menaruh sekantong plastik camilan di depanku.


"Dimakan, yang! Kamu lapar kan?"


Aku langsung mengangguk. "Lilah belum makan siang, jadi nanti kita makan dulu sebelum pulang. Bisa?"


"Jadi tadi jamuan dari walikota belum termasuk makan siang, dek?" tanya mas Reno. Aku menggeleng, "Lilah gak bisa makan banyak-banyak kalau di depan banyak orang. Jadi cuma ganjel perut!"


Mas Reno tertawa. Aku mendengus, bagaimana tidak ganjel perut, orang tadi aku cuma ambil satu centong nasi putih dan soto ayam, sedangkan yang lainnya bebas makan siang dengan banyak menu.


Aku iri dan sungguh iri bagaimana aku menatap mas Revi yang tanpa malu mengambil banyak makanan, menawarkan padaku, lalu aku menggeleng pura-pura tidak mau, dan ujungnya ia makan sendiri semuanya.


"Kenapa?" tanya mas Reno.


"Biasalah, aturan main yang berlaku." kataku sambil terkekeh kecil seraya mengunyah makanan ringan yang kami beli sebelum masuk ke dalam hutan pinus ini.


"Kamu happy?" tanya mas Revi.


Aku mengangguk. "Aku slalu happy saat melakukan sesuatu yang baru." jawabku sambil mengunyah kripik singkong dengan bunyi kres-kres yang begitu nyaring.

__ADS_1


Mas Reno dan mas Revi melihatku. Aku tersenyum malu.


"Apa sih! Gak pernah lihat bidadari turun dari khayangan terus ndeprok di atas tanah?"


Keduanya langsung terkekeh menertawakanku.


"Kalau begini tuh kamu bukan seperti bidadari khayangan, tapi murid begajulan yang kelayapan sepulang sekolah!" Mas Revi dan mas Reno terkekeh kecil sambil menggeleng.


Aku lihat seragamku, seragam mas Revi dan mas Reno sudah berantakan tak beraturan. Apalagi kacamata hitam dan topi ini, aku memang tidak layak disebut bidadari dari khayangan.


Aku tergelak sendiri seraya melanjutkan kegiatan mengunyah camilan ini.


"Apa kamu gak pernah jalan-jalan tanpa seizin orangtuamu dahulu, Dek?" tanya mas Reno.


"Gak pernah! Bukan karena keluargaku slalu membatasi ku untuk jangan pergi ke sana, jangan pergi ke sini, nanti begitu, nanti begini. Bukan karena itu. Tapi karena kalau Lilah mau jalan-jalan kemana saja itu, protokolernya panjang. Apalagi setelah kejadian itu..."


Kedua mas-mas ini mengangguk sambil mengunyah makanan, terdiam dan senja mulai menyusup masuk di celah-celah pepohonan.


Aku membersihkan sampah-sampah yang kita bawa sebelum beranjak. "Pulang yuk! Lilah sudah puas mainnya."


Mas Revi menghela nafas sedih. "Jadi aku ini teman mainmu, bukan pacarmu?"


"Kasian banget kamu, Rev! Cuma dianggap teman main... Hahaha." timpal mas Reno sambil terkekeh-kekeh.


Mas Revi mencegatku, merentangkan kedua tangannya. Aku tersenyum lebar.


"Jawab princess, apa arti aku bagimu?"


"Teman main rasa pacar."


"Buahahaha..."


Mas Reno terbahak lagi. Mas Revi mengacak-acak rambutnya, frustasi.


"Kalau pacar ya pacar, gak perlu teman main rasa pacar. Definisinya beda sayangggg....!!!" katanya sambil mengguncang bahuku. Aku terkekeh, mas Revi benar-benar lucu. Tidak bisa diajak bercanda.


"Kan Lilah memang masih suka main, jadi mas Revi teman main Lilah dalam tanda kutip."


Mas Revi menggeram. "Aku pacarmu juga merangkap teman mainmu, tempat bersandarmu, pokoknya aku paket komplit buat kamu! Gak ada teman main rasa pacar selain aku! Pokoknya cuma aku, Revi Bramasta! Pacar Dalilah seorang!"


"Kalau gitu princess pulang berdua sama kamu aja, Rev! Aku gak ikut-ikutan kalau nanti princess dimarahin sama orangtuanya! Bawa mobilku dan antar aku dulu nanti." ucap mas Reno seraya mengantungkan kunci mobilnya di udara.


Secepat kilat mas Revi menggeleng. "Kamu juga teman main Lilah!" cetusnya sambil membuka pintu mobil untukku, membuatku dan mas Reno tertawa kecil melihat tingkah mas Revi yang gelisah menghadapi orang rumah nanti.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2