
Revi.
Aku memandangi kedua manusia yang sama-sama rapuh itu dengan prihatin.
Desy yang mengira Devon pergi meninggalkannya ternyata sedang berjuang keras untuk mendapatkan kesembuhan.
Devon yang mengira Desy akan marah ternyata justru menangis di pelukannya.
Sementara aku? Berdiri, jengah, melipat kedua tanganku di depan dada dan berdoa semoga jangan lama-lama bertemunya.
Devon menepuk pundak Desy seraya memintanya untuk duduk di ranjang pasien. Desy ini benar-benar menurut meski malu-malu. Devon tersenyum lebar.
"Sudah belum?" tanyaku.
Devon menggeleng cepat. "Aku mau tahu berapa usia kandungannya!"
Kampret... Dia pikir aku ini siapanya woy... Aku ini cuma relawan yang tidak dibayar, tapi kenapa ia seenaknya menyuruhku. Aku ingin memaki, tapi melihat kedua orang itu yang bahagia.
Aku hanya bisa membuang nafas.
"Ya diingat-ingat saja kapan cewekmu terakhir haid! Gitu aja repot!" ujar ku galak.
"Kapan kamu terakhir haid, Des?" tanya Devon. Desy tampak berpikir. "Satu bulan yang lalu!" ujarnya skeptis.
"Lah kenapa bisa ketahuan hamil, kan masih kempes perutmu?" tanya Devon lagi seraya menyentuh perut Desy.
"Aku muntah-muntah di sekolah, lalu pingsan." jawab Desy lirih.
Devon tersenyum miring, lalu mengecup pipi Desy tanpa malu. "It's oke, nanti bisa kejar paket!"
"Kampret! Jangan mesra-mesraan di depanku!" ujar ku galak. Aku aja gak pernah pamer kemesraan ini malah disuguhi pemandangan yang membuatku iri.
"Kenapa, Rev? Cewekmu gak bisa diajak enak-enakan?" ujar Devon seraya tersenyum lebar.
"Kampret! Jam kerjaku cuma sampai jam tiga sore, jadi puas-puasin ketemunya. Aku mau makan siang!" kataku sambil membuka jendela, membiarkan udara masuk dan menyegarkan suasana. "Kalau emang cewekmu mau cek kandungan, pergi saja ke ruang obygn. Minta tolong perawat yang cek up kondisimu." lanjutku lagi seraya mengembalikan atm-nya.
Desy menunduk malu. Ia bahkan harus uring-uringan dengan bapaknya sebelum sampai ke rumah sakit ini. Belum lagi saat membonceng tadi ia hampir terjungkal karena tidak bisa pegangan. Terpaksa aku menyuruhnya untuk memegang pundakku.
"Aku kesini lagi tiga puluh menit sebelum jam kerjaku berakhir!"
Desy dan Devon mengangguk seraya tersenyum. "Thankyou, Rev!" kata Devon tulus.
Aku berdehem dan melambaikan tangan.
Tiba di pantry khusus pegawai rumah sakit, aku menyandarkan kepalaku setelah memesan makanan dan minuman.
Aku merasa waktuku bersama Lilah akhir-akhir ini berkurang. Princess sibuk berlatih koreografi, aku sibuk berlatih basket.
Kami hanya bertemu saat jam istirahat sekolah dan pulang sekolah. Lebihnya princess lebih sering bersama Bimo.
Adik abal-abal yang ku temui beberapa kali dalam satu Minggu ini.
"Silahkan dinikmati mas Revi." ujar pelayan. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Makasih, Mbak."
__ADS_1
"Hahaha... Kelihatan puyeng mas? Ada masalah dengan pak Dirut?"
Aku mengendikkan bahu. "Biasalah. Aku sedang ingin memindahkan pasien dari rumah sakit lain ke sini, jadi harus kerja keras."
Pelayan ini mengepalkan tangannya seraya diangkat ke udara. "Semangat mas!" ujarnya dengan bersungguh-sungguh. Aku tersenyum lebar seraya mengibaskan tangan.
"Jangan minta tambahan gaji! Daddy sedang repot!" gurauku sebelum menikmati sepotong roti dan segelas jus tomat.
Aku menunggu, dan terus menunggu dua manusia rapuh itu menuntaskan rindunya. Sampai jam yang sudah aku janjikan berdentang jelas di ingatanku.
Aku berjalan dengan gontai menuju ruang inap Devon. Aku gak tahu apa Desy sudah periksa kandungannya atau belum, sedaritadi aku hanya membuang menit demi menit dengan hanya mengirim pesan untuk Dalilah, atau sesekali teleponan dengannya jika princess sedang istirahat.
Ku buka pintu itu sambil membuang nafas. "Kampret kamu, Von! Bisa-bisanya ciuman di rumah sakit."
Desy berangsur mundur seraya menunduk malu. Aku mendesis, pantes aja Devon demen banget sama Desy. Selain dia memang tidak begitu cantik---karena paling cantik hanyalah Dalilah, Desy juga penurut.
"Ganggu aja, Rev! Lagi senang juga." balas Devon seraya membuang nafas. "Des, kamu pulang sama Revi! Minta ke supermarket untuk membeli susu ibu hamil dan apapun yang kamu mau. Jaga anakku baik-baik, kalau bapak minta kamu untuk gugurin kandungan, jangan mau. Aku bakal tanggungjawab!" kata Devon penuh yakin.
Aku mendengus. Benar-benar somplak ini orang. Baru sakit, patah tulang, kepala di perban, bisa-bisanya mengutarakan janji manis.
"Aku pulang dulu, Von! Aku kesini lagi besok pagi." ujar Desy seraya membetulkan posisi selimut Devon. "Aku pasti bakal cepat sembuh kalau kamu yang nemenin aku!"
Kepalaku mendidih. Sumpah, jengkel sekali aku melihat mereka mesra-mesraan dikala aku sedang buru-buru ingin pulang.
"Ayo, Des! Kalau gak, pulang aja pakai ojek online. Bawa juga atmnya Devon! Belanja lah kebutuhanmu sebanyak-banyaknya." kataku lagi memberi ide.
Devon menggeleng cepat. "Aku sudah janji untuk membantumu, Rev! Pulangkan Desy ke rumahnya sekarang kalau gak, sorry to say. Aku juga setengah-setengah bantuin kamunya!" ujarnya seraya mendelikkan mata.
Oh Tuhan, baru kali ini aku mendapatkan pasien yang kurang ajar. Bisa-bisanya menyuruh anak pemilik rumah sakit untuk menjadi tukang ojek sewaan.
Kampret. umpatku sebelum keluar terlebih dahulu, membiarkan Desy dan Devon kembali saling mengecup bibir satu sama lain.
"Kenapa lagi? Belum cukup ketemunya?" tanyaku agak sewot kepadanya.
"Aku malu kalau harus membeli susu ibu hamil sendiri." jawabnya. "Bisakah kamu yang membelinya untukku, Rev?"
Astogeeee... Ibu hamil........!!!
"Naik! Jangan pegang-pegang! Pacarku ningrat bahaya kalau lihat!" ujar ku penuh nada peringatan.
Desy lalu mengerutkan keningnya. "Aku bisa jatuh! Nanti Devon marah kalau aku kenapa-kenapa!" Alasannya.
Dasar bucin!
Desy akhirnya memegang pundakku seperti tadi, sampai kami berdua tiba di supermarket serba ada.
"Butuh apa aja? Bilang yang banyak sekalian!" kataku sambil mendorong troli belanja.
Desy berpikir keras lantas menyebutkan semua kebutuhannya.
Sembako, rokok untuk bapak, susu ibu hamil, buah-buahan, cemilan, sayur-sayuran.
Aku mendesis jengkel. "Kenapa gak beli rumah sekalian? Atau perabotan rumah tangga, kasur, seprai, baskom, panci..." ujarku sambil mendorong troli berkeliling supermarket ini. Desy terkekeh kecil.
"Devon sudah punya apartemen!"
__ADS_1
Aku mendengus dan berhenti di bagian sembako. Desy lantas mengambil beberapa kebutuhannya sedangkan aku memilih untuk mengecek ponselku sambil bergeming.
"Sudah, Rev!"
Aku berdehem seraya mendongkak. Ku dorong troli belanjaan untuk ke rak sebelah. Namun, saat aku membelokkannya, troliku berbenturan dengan troli belanjaan milik orang lain.
Orang itu berbalik dan aku terperangah. Sepasang mata mencermatiku dengan seksama.
"Ibunda..." sapa ku sambil mencium punggung tangannya.
"Eh mas Revi... Belanja juga?" tanya Ibunda seraya tersenyum dan menaruh minyak goreng di trolinya.
Aku mengangguk pelan. Desy yang berdiri di sampingku mengamatiku dan Ibunda secara bergantian. Desy tersenyum kecil seraya mencium punggung tangan Ibunda Ratu.
"Ibunda..." sapa Desy kepada Ibunda Ratu.
Ibunda hanya tersenyum seraya mengelus puncak kepala Desy.
"Kalian hanya berdua?" tanya Ibunda seraya mendorong troli belanjanya. Aku terpaksa mengikuti Ibunda karena aku mau Ibunda tahu aku tidak aneh-aneh dengan Desy.
"Iya, Bun. Bunda hanya sendirian?"
Ibunda Ratu menoleh seraya tersenyum penuh arti. "Bodyguard always with me, mas Revi!" ujar Ibunda seraya menunjuk beberapa bodyguard yang berdiri berpencar di sekitar Ibunda.
Ibunda lantas berhenti di rak berisi susu formula, mengambil beberapa susu formula kesukaan anak-anaknya.
Runyam sudah urusannya saat Desy juga mengambil beberapa susu ibu hamil dengan aneka rasa dan ia masukkan ke dalam troli belanja yang aku bawa.
Ibunda pun mengamati Desy seraya menghampirinya.
"Untuk siapa?" tanya Ibunda dengan dahi berkerut.
Aku membuang nafas kasar saat Desy menjawab untuknya sendiri. Ibunda menatapku curiga, aku menggeleng cepat-cepat.
Ibunda mengelus punggung Desy seraya tersenyum iba. "Sudah periksa?"
Desy mengangguk malu. Ibunda lantas membuang nafas dan melempar tatapan penuh tanda tanya kepadaku.
Desy menggeleng kecil. "Suamiku di rumah sakit, Bun! Bukan dia, dia hanya membantuku untuk belanja." jelas Desy saat aku terus menggeleng.
Ibunda mengangguk percaya, tapi masalahnya belum juga selesai saat di kasir. Ndomas Suryawijaya menghampiri Ibunda seraya membawa makanan ringan di kedua tangannya, ia mengamatiku dan Desy secara bergantian setelah menaruh camilannya ke dalam troli belanjaan.
"Mbak Lilah kamu duakan?" tanyanya dingin seraya membanting kardus susu hamil yang berada di troli belanjaanku. Aku menggeleng kuat-kuat. "Kenal aja enggak, gimana bisa hamil!" sergahku cepat.
Ndomas Suryawijaya masih tidak percaya, ia mengamati Desy yang ketakutan.
"Jangan coba-coba berbohong!" geramnya dengan suara bas.
Desy menggeleng kuat-kuat sambil menarik ujung bajunya. "Dia tidak bohong, suamiku bukan dia. Calon suamiku lebih cakep dari dia!" kata Desy menggebu-gebu.
Aku mengeratkan genggaman tanganku pada troli saat Suryawijaya tersenyum miring dan pergi begitu saja.
Aku menatap Desy yang tersenyum lega.
"Kalian berdua emang pasangan kampret! Udah ditolong juga masih ngeledek! Pret... kampret!" ujarku sewot sambil membanting kardus susu ibu hamil di depan kasir.
__ADS_1
Awas kamu, Von!
...Happy Reading...