
Dalilah
...Dulu kita masih remaja...
...Usia anak SMA...
...Di sekolah kita berjumpa...
...Pulang pasti kita berdua...
...Dan kini kamu ada di mana?...
...Dan kini rindu, apa kabarmu?...
...Dan ingin lagi...
...Dan ingin lagi...
...Jumpa...
...Dulu kita masih bersama...
...Asmara anak SMA...
...Aku suka selalu kamu...
...Di atas motor berdua...
...***...
Jika waktu menuntunku kembali kepada seseorang dimasa lalu, mungkinkah itu pertanda bahwa semesta memberitahu bahwa kita sama-sama memiliki sisa rasa yang sama. Mungkinkah?
Ingin sekali aku menebak-nebak apa yang Revi rasakan saat ini. Saat perjumpaan kami lagi ketiga kalinya di bulan Januari.
Aku mencoba tetap berdiri dengan anggun menggunakan Stiletto ini. Tapi kakiku pegal sekali. Stiletto, memang tidak pernah cocok aku gunakan di arena outdoor dengan keramaian yang benar-benar ramai sekali.
Harusnya tadi aku pakai flatshoes, biar tidak salah kostum. Astaga...
"Mau duduk?" tanya Bimo. Aku menggeleng, aku masih ingin berdiri di depan panggung hiburan melihat Revi nge-band dengan teman-temannya semasa SMA.
Masih banyak perempuan yang mengidolakannya ternyata, meski ia sudah menjadi duda.
"Jangan membuatmu susah sendiri, duduklah! Mas Revi sudah tahu kamu ada disini, ia akan menghampirimu kalau sudah selesai!" ujar Bimo dengan nada memperingatkan.
Aku menghembuskan nafas. "Aku tidak yakin dia akan menghampiriku!"
Aku rasa. Dia terlihat melihatku, namun matanya tidak fokus.
Dengan perasaan gamang aku melenggang pergi dari pelataran panggung hiburan. Mencoba menerobos kerumunan yang semakin padat karena aksi band sekolah yang digilai perempuan-perempuan lajang. Adik kelas dan kakak kelas angkatan Revi.
Riuh tepuk tangan dan sorak sorai terdengar memenuhi telinga saat Revi begitu atraktif memainkan gitarnya. Tapi rasanya, aku tetap sepi.
"Ini reuni, Lilah! Bisakah tidak cemberut? Orang-orang akan mengira tuan putri masih patah hati!" celetuk Bimo.
__ADS_1
Aku mengangguk pelan. "Benar ini memang reunian, tapi tujuanku hanyalah mengenang memori bersamanya, dengan teman-teman SMA!" jawabku defensif.
"Jika tujuanmu hanya untuk mengenang masa-masa SMA, kenanglah yang baik-baik dan semangat remaja SMA! Bukan seperti ini!" Bimo tersenyum kecil.
"Senyum!" lanjutnya lagi.
Aku tersenyum kecut dan memperhatikan mereka, berusaha tidak iri.
Beberapa teman sekelas kami sudah ada yang berumah tangga, memiliki anak-anak kecil yang menggemaskan.
Beberapa pula masih sendiri meskipun begitu mereka terlihat bahagia dengan hidupnya.
Mataku menghangat. Siapa kira-kira laki-laki yang akan menjadi suamiku? Siapa yang berani meminta restu kepada Ayahanda untuk meminang ku.
Dan bukan karena aku pemilih. Aku hanya tidak terlalu ingin membuka diri untuk laki-laki lain---selain Revi, karena aku tahu masalahnya akan sama.
Ayahanda, gelar bangsawan, peraturan dan semuanya yang mengikat di nadiku. Seolah menjadi titik nadir mereka yang mendekatiku. Atau aku harus mencoba membuka hatiku untuk laki-laki---selain Revi, agar aku tahu bagaimana laki-laki lain berjuang untukku? Berjuang meluluhkan hati Ayahanda?
Aku menggeleng tanpa sadar. Tapi aku terlalu mengagungkan cinta pertamaku, parahnya lagi aku tidak tahu diri saat dihadapannya.
Aku ingin tahu bagaimana ia menjalani hidupnya selama tujuh tahun ini tanpa aku. Tapi itu terlalu intim dan mencampuri urusan pribadinya.
Aku menghembuskan nafas. Revi begitu membuatku emosional. Aku beranjak. Hatiku kembali tenggelam dalam lautan harapan yang terlihat blur.
"Mau kemana?" tanya Bimo.
Aku mencari-cari alasan untuk meninggalkan tempat ini. Memang seharusnya aku tidak ikut reuni karena Revi pasti sibuk dengan teman-teman SMA-nya. Dia si pengki dan ketua OSIS masih mempunyai banyak penggemar. Dan aku hanyalah perusak suasana hatinya.
"Take me go home!" jawabku.
Tatapan Bimo mencermatiku. "Tidak menemukan keinginanmu dan ingin berlari?"
Aku mengernyit, pura-pura bingung.
Bimo tersenyum penuh pengertian.
"Sebentar lagi senja datang. Duduklah sebentar, Lilah! Ayahanda sudah mengizinkanmu keluar malam sampai jam sembilan! Itu bukankah menyenangkan bagimu?"
Ah, ya... Itu memang terdengar menyenangkan. Tapi jika hanya duduk-duduk sembari menikmati suasana yang gegap gempita ini rasanya tidak seru.
"Ayo kita kulineran! Disini banyak teman-teman yang membuka stand makanan!" ajakku dengan semringah.
Berusaha menepis kenyataan bahwa Revi tidak menghampiriku.
Bimo mengangguk setuju, ia menemaniku memilih-milih makanan dan say hello dengan teman-teman lainnya, kami ngobrol-ngobrol secara bergantian dan kami kembali duduk lagi di kursi panjang yang menghadap ke matahari senja dengan banyak bungkus makanan di tangan kami.
"Cewek tadi yang suka sama kamu kan, Bim?" tanyaku dengan mata berbinar jenaka.
Bimo mendengus dingin. Ia mengeluarkan jajanannya, menggigitnya kuat-kuat, dengan mata penuh emosi.
"Segitunya..." ujarku menahan senyum. Bimo mengeluarkan ponselnya. "Jadilah objek fotoku, ndoro putri!" Aku mengangguk, ia memotret dengan kameranya saat
senja benar-benar merekah sempurna di ufuk barat.
__ADS_1
***
Satu persatu alumni sekolah meninggalkan tempat reuni disaat langit menggelap.
Aku tersenyum lega. Hari ini cukup menyenangkan, cukup banyak cerita yang berbeda-beda dari setiap manusia yang hilir mudik, menyapa dan singgah sebentar di kursi panjang ini.
"Aku mau ke toilet sebentar, Bim! Gak usah di jagain!" cetusku langsung saat jiwa-jiwa pengawalnya membuncah seketika. "Tungguin di mobil aja!" lanjutku sambil berlalu. Bimo mengiyakan dengan pasrah.
Aku mencari toilet dengan kebingungan, sungguh aku kebelet pipis dan Stiletto ini benar-benar tidak bisa diajak berlari.
Aku celingukan sembari berlari kecil diantara temaram lampu taman hingga aku jatuh tak anggun di atas rerumputan.
Aku berdecak kesal. Stiletto ku masuk terlalu dalam di atas tanah yang gembur.
"Kamu masih saja ceroboh!"
Suara itu. Aku mendongak. Nafasku tersangkut. Ini memalukan sekali pikirku, namun ia tidak terbahak menertawakan aku yang masih saja ceroboh ini.
Revi mengulurkan tangan kanannya, senyumnya melengkung di kedua sudut bibirnya.
Aku menjangkau tangannya, mengenggamnya erat agar ia menarik tubuhku.
"Stiletto slalu merepotkan!" kataku cengengesan sembari merapikan gaunku.
Revi mengulum senyum. "Kamu terlihat buru-buru, perlu sesuatu?" tanyanya dengan heran.
"Toilet! Aku mencarinya." jawabku lugas.
Revi tergelak singkat, ia menunjuk ke arah rumah kecil di pojokan. "Itu toiletnya!"
Astaga. Aku bahkan tak kepikiran jika toilet itu slalu ada dipojokkan.
"Terimakasih!" balasku sambil melepas Stiletto ini. "Bye..." ujarku sambil berlari kecil menuju toilet.
Aku tersenyum lega didalam toilet. "Terlalu banyak minum es memang tidak baik!" gumamku sebelum membuka pintu.
Aku nyaris menutup pintu toilet lagi saat Revi bersedekap dan bersandar di dinding bata merah di depan toilet yang aku pakai.
"Mau ke toilet juga?" tanyaku basa-basi sembari memakai Stiletto lagi.
"Aku menunggumu!" Senyum Revi melebar. "Princess ingin bertemu denganmu lagi, bisakah datang ke rumahku besok pagi jika kamu tidak ada pekerjaan? Aku meminta dengan hormat kepadamu ndoro putri!"
"Bisa! Aku pasti bisa!" jawabku langsung tanpa tedeng aling-aling.
Revi terkekeh geli. "Apa bodyguardmu tidak akan mempermasalahkannya?"
Aku menggeleng. "Itu mudah!" Aku melambaikan tangan. "Sampai jumpa besok, Rev! Jangan lupa jamuan untuk tuan putri!"
Revi mengangguk, iapun melambaikan tangannya kepadaku.
Aku bersorak gembira disaat tidak ada yang melihatku dan kembali terjatuh lagi karena dia mengganggu pikiranku.
...Happy Reading...
__ADS_1