ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 41


__ADS_3

Revi.


Sepanjang perjalanan menuju rumah seseorang, aku hanya dibuat kesal karena kedua orangtuaku tidak bilang dimana tujuannya. Mereka hanya bilang ini kejutan dan akan membuatku senang. Sedangkan mataku di tutup dengan kain. Kondisi ini membuatku benar-benar gelisah dan penasaran. Jika ini memang kejutan, lantas apa yang disiapkan kedua orangtuaku?


Mana sebelum ikut permainan ini, aku sudah dibuat kelelahan karena harus mengikuti latihan menembak dan menjadi relawan kesehatan dalam satu hari yang sama. Benar-benar melelahkan.


"Pokoknya kalau sampe jangan pingsan! Daddy gak bawa alat kedokteran, Rev!" ledek Prince, kakakku juga ikut. Tapi bukannya ia menenangkan pikiranku, dia ikut-ikutan mommy meledekku.


"Sudah sampai belum, Mom?" tanyaku dengan nada gusar, "Mom, kita mau kemana sih! Revi ngambek nih, kalau mommy gak jawab!" Ancam ku yang disambut tawa oleh Prince.


"Udah gede masih ngambekan!" cerca Prince cepat, sambil menonyor kepalaku.


"Buat mommy aku masih anak baru gede!" elakku, "Lagian kakak kenapa ikut-ikutan! Cuma bikin darting!"


"Hahaha... Kakak mau lihat cewek cantik kesayangan Revvvvvi..."


Tawa Prince meledak seketika saat aku langsung membuka penutup mataku, mataku mengerjap lalu mengedarkan pandanganku dengan liar.


"Mom..." kataku panik saat mobil yang dikemudikan oleh Daddy sudah berada di belokan sebelum sampai di depan gerbang masuk rumah princess.


"Mom... Kenapa gak bilang dari tadi. Mom!!!" ujarku dengan nada panik nyaris histeris.


"Namanya juga kejutan! Gak seru banget kalau tadi mommy bilang! Gimana rasanya? Panik gak?"


"Panik banget lah!" Aku langsung menyandarkan diriku di sandaran jok mobil.


Jantungku memompa darah lebih cepat, rasanya sudah sudah tak karuan. Aku gugup, panik, tidak fokus dan rindu secara bersamaan. Mendadak aku lemes dan kehilangan akal.


Menemui princess di rumahnya langsung dan ditemani oleh kedua orangtua sekaligus kakak itu seperti seorang pengecut yang membawa teman saat ingin melakukan tawuran.


Beda lagi kalau aku mau melamar princess nanti. Semua keluargaku aku boyong langsung ke rumah princess. Kalau perlu, aku bawa sekalian seluruh anggota Brandles Wolfgang untuk datang, untuk mengamankan keadaan.


"Kita hanya datang untuk memenuhi undangan dari paduka raja. So, don't you worry child!" kata Daddy akhirnya.


"Undangan apa?" tanyaku penasaran sambil mengatur nafas.


"Undangan makan malam bersama keluarga kerajaan." timpal Prince cepat, "Dan, aku ikut karena itu. Hehehe..."


"Kasian banget gak pernah dikasih makan sama ayah! Sampe makan malam aja ikut!" balasku setelah berhasil meraih tenang.

__ADS_1


Prince mendengus lalu menjentikkan jarinya di telingaku, "Aku cuma mau tahu rasanya makan malam dengan anggota kerajaan itu bagaimana! Makanannya enak-enak gak! Gitu aja nyelekit balesnya!"


Mommy menghela nafas panjang setelah berbalik dan melihatku.


"Minta maaf sama kakak! Ayah sedang bangkrut jangan dibahas-bahas! Kasian!" cerca mommy galak.


"Maaf kak." kataku menyesal, "Jangan marah, udah gede! Udah bisa bikin anak!" ledekku sambil menahan tawa


"Sialan!" maki Prince sambil menjitak kepalaku.


Mommy tersenyum, sedangkan daddy menggeleng.


"Akhirnya lolos pemeriksaan tahap awal." kata mommy lega dan tersenyum penuh arti, "Mommy heran sama kamu, Rev. Tiap datang ke rumah princess apa kamu gak bosen di periksa dulu seperti tadi?" tanya mommy penasaran.


"Sudah biasa. Lagian Revi anak baik jadi ya lolos." kataku sombong, "Mommy mau tahu kenapa?" tanyaku iseng.


"Kenapa?"


"Karena Revi mencintai seorang putri yang abdi dalem cintai juga!" kataku semringah.


"Hahaha... Gayamu, Rev! Rev! Baru pacaran belum ada satu tahun aja udah pusing tujuh keliling. Apalagi besoknya. Kakak kasih tahu ya, princess tidak akan semudah dulu lagi untuk ditemui. Orangtuanya pasti akan memberikan penjagaan ketat kepadanya. Jadi, selamat bersenang-senang. Sebelum patah hati menghadang." urai Prince panjang.


"Yang sopan ya kak, Rev. Mommy gak mau nih, dipandang sebelah mata oleh paduka raja. Walaupun mommy tahu kartu ASnya."


"Apa mom?" tanyaku penasaran. Daddy tersenyum sambil menggandeng tanganku, "Itu rahasia dan akan mommy gunakan untuk misi terakhir."


Aku mengernyitkan dahi, bingung dengan maksud daddy.


"Be a good boy!" Daddy menepuk punggungku. Aku mengangguk sambil tetap menunjukkan wajah bingung.


Setelahnya, beberapa abdi dalem menyambut kedatangan kami setelah kami berempat keluar dari mobil.


"Selamat malam... Rasanya sudah lama saya tidak bertemu dengan mas Revi, apa kabar?" tanya sang abdi dalem.


"Saya baik, pak." jawabku jujur.


"Mari... Sudah ditunggu oleh Gusti Kanjeng Sultan Kaysan di ruang keluarga." ujar abdi dalem dengan ramah dan senyum cerah.


Jantungku deg-degan lagi. Sumpah, setiap mendengar kata Gusti Kanjeng Sultan Kaysan, otakku, jantungku langsung bekerja lebih cepat. Benar-benar ekstrim reaksinya.

__ADS_1


Aku dan keluargaku mengikuti langkah kaki abdi dalem tadi. Setibanya di beranda rumah utama. Kami diminta untuk melepas alas kaki.


Bagi Prince, ia sedikit kaget kenapa harus melepas alas kakinya. Aku tersenyum miring dan berbisik kepadanya.


"Tampan iya, bau kaki juga iya! Xixixi." ledekku.


"Aku balas nanti! Lihat saja, Rev!" Ancam Prince sambil mendelikkan matanya.


Aku menahan senyum, dan Prince meminta izin untuk mencuci kakinya di pancuran air.


Mommy dan Daddy hanya menghela nafas dan melempar senyum maklum kepadaku.


"Biar gak bau terasi. Takutnya paduka raja mengira kita bawa oleh-oleh udang rebon segar rasa kaki." kata mommy bercanda, "Padahal kita bawa oleh-oleh paling istimewa bagi putrinya."


"Apa mom? Kan cuma bawa bakpia premium, dan makanan tradisional yang dibuat modern."


"Kamu kan istimewa bagi putri paduka raja. Jadi itu sudah cukup untuk pelipur hati." kata mommy dengan senyum andalannya.


"Aku deg-degan mom. Rasanya mau ngumpet tapi penasaran."


"Jangan salting! Senyum dong yang manis. Mbak Lilah pasti senang bertemu denganmu."


"Ah mommy bikin aku malu. Lagian kenapa kakak lama banget, Mom. Kemana dia?" tanyaku heran, sambil mengedarkan pandang.


"Maaf lama. Tadi harus cari sabun dulu." ujar Prince sambil tersenyum kaku.


"Lain kali ganti kaos kaki tiga hari sekali, tidak satu bulan sekali kak." ujar mommy memperingati.


"Kalau udah nyaman susah ditinggalkan mom." dusta Prince.


"Sudah-sudah... Kita sudah terlambat, paduka raja bisa-bisa tidak senang dengan kedatangan kita." kata Daddy.


Sang abdi dalem tersenyum ramah dan mengangguk.


Hingga akhirnya, aku benar-benar bertatapan langsung dengan Gusti Kanjeng Sultan Kaysan dan Ibunda Ratu yang menyambut kedatangan kami dengan seulas senyum manis yang membuatku senang.


Tapi dimana pacarku? Dimana dia? Kenapa tidak terlihat disini. Apa dia bersembunyi karena takut melihatku.


"Putriku sedang dandan. Jadi masih di kamar!"

__ADS_1


... Happy Reading 🄰...


__ADS_2