ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 6


__ADS_3

Revi.


Aku masih tersenyum kecil saat Dalilah mengusap kepala princess dengan lembut. Terlihat penuh kasih sayang.


Dia benar-benar prospek cerah yang menjanjikan untuk menjadi istriku. Aku mengangguk tanpa sadar.


"Tante, juga main di museum?" tanya princess sambil mendongak, menatap princess sesungguhnya.


Dalilah tergelak, ia melirikku sekilas lalu mengangguk. "Iya, Tante main di sini! Princess juga main ke museum?" tanyanya pura-pura.


Bocil ini mengangguk sambil menunjukku. "Papa yang ajak, pliincess gak suka. Tapi ada Tante, jadi pliincess mau!" jawabnya polos sambil menggoyangkan jemarinya yang mungil.


"Tante kenapa bajunya seperti ini?"


Aku menyunggingkan senyum saat Dalilah melebarkan matanya. Aku ingin mendengar apa alasannya.


Apakah ia bisa membohongi bocil ini?


Dalilah tertawa renyah, ia kembali mengusap kepala princess dengan lembut.


"Karena Tante cantik kalau pakai kebaya!" ujarnya sambil tersenyum. "Tante pinjem tadi di sana, princess juga mau pakai?" tawarnya dengan lembut.


Bocil ini langsung memintaku untuk mendekat. Aku menghela nafas.


"Papa, pliincess mau pakai kebaya sepelti Tante!" izinnya padaku dengan mata berbinar penuh harap.


Ingin sekali aku menggeleng malas karena pasti bocil ini akan bertingkah lebay! Tapi ini ide bagus. Aku juga bisa meminjam baju kejawen dan berdiri di belakang Dalilah untuk foto prewedding. Ckckck.


Berkhayalah Rev, selagi masih waras.


"Boleh, tapi jangan ngompol! Bi..." Aku menoleh ke arah bibi Tutik yang hanya duduk-duduk manis sambil berfoto selfie sendiri.


"Iya mas. Gimana?"


"Pipis!" Aku mendorong princess ke arahnya.


Dalilah tertawa kecil namun langsung menoleh dan menutup bibirnya. Punggungnya bergetar menahan tawa yang nyaris meledak jika ia tidak mengingat kita sedang dimana.


Apanya yang lucu?


Aku mengernyit. "Dimana toiletnya?"


Dalilah mengulum bibirnya sembari menunjuk arah ke toilet. Bibi Tutik dan princess langsung ke sana.


Aku tersenyum kikuk saat membereskan barang bawaan princess. Sementara Dalilah masih bergeming menatapku.


Aku yakin dia sedang bergulat dengan pikirannya sendiri saat ini. Apalagi tanganku sudah luwes banget jika harus membereskan barang bawaan keponakanku.


Aku membuang nafas panjang sebelum berbalik, menyunggingkan senyum patah melengkung.

__ADS_1


Dalilah tersenyum lebar. "Repot?" tanyanya begitu ambigu.


Aku meringis. "Lumayan!" jawabku kikuk. Dalilah tergelak singkat.


"Tujuh tahun sudah banyak yang terjadi di sini ya, Rev!" katanya sembari berjalan dengan anggun di sebelahku.


Aku menyejajarkan langkahnya. Ingin sekali aku mengajak bicara empat mata, mengatakan semuanya. Namun slalu saja ada yang membinasakan rasa percaya diriku jika berada di lingkungan rumahnya.


Dalilah berhenti, ia menatapku. Sorot matanya seperti menyedot ku masuk ke dalamnya. Mengajakku berlari menuju kenangan-kenangan kami yang telah lama mati suri. Dan kini bangkit kembali.


Mengerikan, sungguh mengerikan.


Aku tersenyum samar. Ada banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan, tapi aku menahan diri dan tidak mengatakan apa-apa. Aku tak ingin rasa penasaranku merusak suasana Minggu pagi ini.


"Terlalu banyak, Lil! Aku bahkan tidak jadi kuliah di luar negeri. Aku tafakur disini!" Aku tergelak sendiri, Dalilah melebarkan matanya, seperti penasaran.


Apa aku boleh menjelaskan kenapa? Terlalu banyak yang menyedihkan jika aku ceritakan padanya, bisa-bisa aku hanya menangis dihadapannya, apalagi jika apa yang ia alami juga sama sepertiku.


Ini tidak lucu, lebih baik memang Dalilah tak perlu tahu.


Cukuplah tujuh tahun yang kami lakukan tanpa kabar ini membuat kami sama-sama mendewasakan diri. Kami hanya perlu utuh kembali. Jika memang Tuhan mengizinkan aku dan Lilah kembali bersama, jalan yang akan kami lalui pasti lebih mudah dari sebelumnya.


"Aku sudah lulus pascasarjana, apakah kamu juga sudah menjadi dokter?"


Dalilah masih menatapku, seperti banyak yang ingin ia tahu sekarang.


"Aku masih koas di rumah sakit Daddy!" jawabku sambil tersenyum kaku.


***


Dalilah dengan cekatan memasang jarik di tubuh mungil princess yang mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


Aku tersenyum samar. Princess kecil-ku memang membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Tapi bisakah Dalilah saja yang menjadi ibunya. Karena wajahnya sudah teramat melekat di ingatan princess.


"Yeyyy... sudah cantik!" puji Dalilah sembari merapikan kebaya si bocil. Ia beranjak lantas mendorong pelan princess ke arahku.


"Your princess!"


"Just you! My princess!" ujarku ke arahnya, namun tanganku menangkup wajah princess kecil dan tersenyum.


"Lucunya!"


Dalilah tersenyum kecil. "Jalan-jalan yuk naik becak! Princess pasti belum pernah?" ajaknya sambil memberi kode kepada abdi dalemnya.


Jelas sekali, bocil ini langsung nurut. Aku juga, karena jauh dilubuk hatiku, aku ingin melakukan apa saja agar bisa berdekatan dengan aroma Kamboja-ku lagi.


"Tante beneran gak mau jadi mamaku?" tanya princess sambil menggandeng tangan Dalilah.


Dalilah tetap berjalan dengan anggun meski sesekali ia terkekeh sendiri dengan celetukan princess yang absurd.

__ADS_1


Aku yang merana hanya bisa berjalan di belakangnya. Disamping bibi Tutik yang sedaritadi menatapku dan Dalilah secara bergantian terus-menerus seperti belum menyadari juga kalau Dalilah ini memang pemilik wajah cantik dalam pigura foto di kamarku.


"Sebentar ya." ujar Dalilah, ia mengambil ponselnya dari stagen yang ia kenakan seraya menelepon seseorang.


Aku suka bertanya-tanya, ada berapa banyak penunjang kecantikan yang dimiliki seorang putri mahkota?


Kami menunggu di depan gerbang sekitar sebelas menit sampai tiga becak datang dengan seorang laki-laki menjadi penumpangnya.


Dalilah tersenyum manis seraya menyambutnya. "Terimakasih mas!"


Aku mengernyit bingung kenapa Dalilah memanggilnya mas. Apa mereka?


Oh Tuhan... Jangan!


Bimo membalas dengan senyuman. "Mau kemana?"


"Ke alun-alun selatan!" Bimo berdehem, ia lantas menatapku dan gadis kecil yang sejak tadi menggandeng tangan Dalilah.


Aku tersenyum menyapanya. Tujuh tahun ini kami benar-benar bertransformasi. Bimo berubah, lebih tinggi, tegap, dan kekar.


Sementara tubuhku gini-gini aja, aku jarang nge-gym, basketpun sudah jarang, pol mentok yang aku lakukan untuk olahraga adalah gendong-gendong princess. Itu saja sudah capek.


"Kita bertemu lagi mas!" sapa Bimo sembari mengulurkan tangan. Aku menyambutnya.


"Kita akan slalu ditakdirkan untuk bertemu terus, Bim!" kataku defensif sembari mengeratkan genggaman tanganku.


Bimo tersenyum kecil. "Silahkan naik, ndoro putri jam sepuluh nanti ada kegiatan lain!"


Dalilah mengangguk kecil, menyetujui ucapan Bimo.


Aku langsung mengangkat princess ke atas becak. Dalilah mengulurkan tangan kirinya, satu tangannya menarik jariknya ke atas.


Oh... Jangan naik-naik sayang... Kamu membuatku resah kalau jarik mu tambah naik.


"Maaf, bantuin!"


Aku memegang tangannya, membantunya naiik ke atas becak.


Tangannya masih selembut dulu. Masih terasa sensasinya saat ia menyugar rambutku dengan jemari lentiknya.


"Hati-hati!" kataku, Dalilah membungkuk, memutar tubuhnya lalu duduk dengan anggun di samping princess.


"Biar princess bersamaku!" cetusnya langsung.


Aku bergeming. "Terus aku sama siapa?" tanyaku polos.


Dalilah meringis. "Itu terserah kamu, Rev!"


Bimo menepuk pundakku. "Sama saya mas! Mari..." Bimo mendorongku ke dalam becak satunya disaat aku masih berharap bisa naik becak bertiga dengan mereka.

__ADS_1


Kedua princess ku. Jantung hatiku.


...Happy Reading...


__ADS_2